<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084</id><updated>2011-12-08T18:12:11.755-08:00</updated><title type='text'>HASANI AHMAD SAID INSTITUTE</title><subtitle type='html'>اقرءباسم ربك الذي خلق

GUBUG ILMU KANG HASAN:
Jl.Pabean, link. Pabean, Kel. Pabean, no.10, Rt.01/01 Kec. Purwakarta, Kota Cilegon, Prov. Banten, 42437</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>75</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-1527684822547745000</id><published>2011-12-08T18:09:00.001-08:00</published><updated>2011-12-08T18:09:58.290-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>PETUNJUK PENULISAN NASKAH 1. Tulisan merupakan karya asli penulis dan belum pernah dipublikasikan atau sedang dalam proses publikasi pada media lain;2. Naskah berupa konseptual, resume hasil penelitian, atau pemikiran tokoh;3. Naskah dapat berbahasa Indonesia, Melayu, Inggris, Arab, atau bahasa internasional lainnya;4. Naskah harus memuat keilmuan dalam bidang syariah;5. Aturan penulisan aadalah sebagai berikut:a. Judul: ditulis dengan huruf capital, maksimum 3 baris diposisikan di tengah (centred);b. Nama penulis: ditulis utuh, tanpa gelar, disertai afiliasi kelembagaan dengan alamat lengkap dan alamat e-mail;c. Abstrak: ditulis dalam bahasa Indonesia untuk naskah yang berbahasa asing dan bahasa Inggris untuk naskah berbahasa Indonesia, antara 100-500 kata;d. Sistematika penulisan: sistematika penulisan naskah konseptual atau pemikiran tokoh sebagai berikut:1. Judul;2. Nama penulis (tanpa gelar akademik), nama dan alamat afiliasi penulis, dan e-mail;3. Abstrak ditulis dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indoensia dan Inggris, antara 100-500 kata;4. Kata-kata kunci: antara 2-5 konsep;5. Pendahuluan;6. Sub judul (sesuai dengan keperluan pembahasan);7. Penutup; dan8. Pustaka acuan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk;Untuk naskah hasil penelitian sebagai berikut:1) Judul;2) Nama penulis (tanpa gelar akademik), nama dan alamat afiliasi penulis, dan e-mail;3) Abstrak: ditulis dalam bahasa Indoensia untuk naskah yang berbahasa asing dan bahasa Inggris untuk naskah yang berbahasa Indonesia, antara 100-500 kata;4) Kata kunci: antara 2-5 konsep;5) Pendahuluan: berisi latar belakang, sedikit tinjauan pustaka, dan tujuan penelitian;6) Metodologi;7) Hasil dan pembahasan;8) Penutup;9) Pustaka acuan (hanya untuk sumber-sumber yang dirujuk).e. Ukuran kertas: kertas yang digunakan adalah kertas HVS 70 gram, ukuran A4, ukuran margin: atas 2,5 cm, bawah 2,5 cm, kiri 3,5 cm, dan kanan 2,5 cm;f. Panjang naskah antara 10 s.d. 15 halaman, spasi 1;g. Pengutipan kalimat: kutipan kalimat dikutip secara langsung apabila lebih dari empat baris ke bawah dan di integrasikan dalam teks, dengan tanda apostrof ganda di awal dan di akhir kutipan. Setiap kutipan diberi nomor; system pengutipan adalah footnote (bukan bodynote atau endnote). Penulisan footnote menggunakan system turabian. Setiap artikel, buku, dan sumber lainnya yang dikutip harus tercantum dalam pustaka acuan;h. Pengutipan ayat Alquran dan hadis: ayat yang dikutip menyertakan keterangan ayat dalam kurung, dengan menyebut nama surah, nomor surah, dan nomor ayat, seperti (Q.s. al-Baqarah [2]: 183). Pengutipan Hadis menyebutkan nama perawi (H.r. al-Bukhâri dan Muslim) ditambah referensi versi cetak kitab Hadis yang dikutip. Hadis harus dikutip dari kitab-kitab Hadis standar (kutub al-tis‘ah).i. Cara pembuatan footnote: footnote ditulis dengan font times new roman, 10, untuk pelbagai sumber, antara lain:1) Buku: nama utuh penulis (tanpa gelar), judul buku (tempat terbit: penerbit, tahun terbit), halaman. Contoh: Hasani Ahmad Said, Diskursus Munasabah Alquran (Jakarta: Puspita Press, 2011), h. 19;2) Buku terjemahan, contoh: Howard M. Federspiel, Kajian al-Quran di Indonesia Dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab, diterjemahkan oleh Tajul Arifin (Bandung: Mizan, 1996), h. 82;3) Jurnal: contoh: Hasani Ahmad Said, “Metodologi Penafsiran Alquran Kontemporer: Telaah atas Pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd dan Muhammad Arkoun,” dalam Suhuf Jurnal Kajian Al- Qur’an dan Kebudayaan, Vol. 4, No. 1, 2011;4) Artikel sebagai bagian dari buku (antologi), contoh: Abdullahi Ahmad An-Naim, “Syariah dan Isu-isu HAM” dalam Charles Kurzman (ed.), Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global (Jakarta: Paramadina, 2003), h. 21;5) Artikel dari internet, contoh: Hasani Ahmad Said, “Hijrah Melawan Koruptor” dalam http://hasanibanten.blogspot.com di unduh pada 21 Pebruari 2011;6) Makalah dalam seminar, contoh: Hasani Ahmad Said, “Sejarah Alquran”, Makalah disampaikan dalam Pengantar Studi Tafsir dan Ulumul Quran, diselenggarakan oleh Kajian Nun Center dan al-Wasatiyah Mesir, Sekretariat IKPM, Cab. Kairo, Kairo-Mesir, 07 Mei 2011;7) Artikel dari majalah, contoh: Haidar Bagir, “Kebangkitan Industri Kreatif Muslim”, dalam Gatra, No. 40-43 Tahun XVII, 25 Agustus-7 September 2011.j. Pustaka acuan: daftar pustaka acuan ditulis sesuai urutan abjad, nama akhir penulis pertama. Contoh:1) Buku:Said, Hasani Ahmad, Diskursus Munasabah Alquran, Jakarta: Puspita Press, 20112) Buku terjemahan:Federspiel, Howard M., Kajian al-Quran di Indonesia Dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab, diterjemahkan oleh Tajul Arifin, Bandung: Mizan, 19963) Jurnal:Khairuddin, “Metode Penemuan Hukum Islam” dalam al-Adalah Jurnal Kajian Hukum, Vol. 8, No. 1 (Juni 2009);4) Artikel sebagai bagian dari buku An-Naim, Abdullahi Ahmad, “Syariah dan Isu-isu HAM” dalam Charles Kurzman (ed.), Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global, Jakarta: Paramadina, 2003;5) Artikel yang dikutip dari internetSaid, Hasani Ahmad, “Hijrah Melawan Koruptor” dalam http://hasanibanten.blogspot.com di unduh pada 21 Pebruari 2011;6) Makalah dalam seminarSaid, Hasani Ahmad, “Sejarah Alquran: dari Proses Turun, Kodifikasi Hingga Penyebarannya,” Makalah disampaikan dalam Seminar Alquran, Training Kader (TRIK), diselenggarakan oleh Himpunan Qari-Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 09 Oktober 2011;7) MajalahBagir, Haidar, “Kebangkitan Industri Kreatif Muslim”, dalam Gatra, No. 40-43 Tahun XVII, 25 Agustus-7 September 2011.6. Pedoman transliterasi: ketentuan transliterasi (dari tulisan Arab ke tulisan latin) adalah sebagai berikut:KonsonanArab Latin Arab Latinء Tidak dilambangkan ض dhب B ط thت T ظ zhث Ts ع ‘ج J غ ghح H ف fخ Kh ق qد D ك kذ Dz ل lر R م mز Z ن nس S و wش Sy ه hص Sh ي yVokal Pendek Vokal Panjang Diftong PembauranArab Latin Arab Latin Arab Latin Arab Latin__َ__ a أ â أو aw ال al__ِ__ i ي î اي ay الش al-sy_ُ___ u و û أو aw وال wa al-7. Istilah keislaman (Syariah): ditulis dengan berpedoman kepada kamus Besar Bahasa Indonesia. Berikut beberapa contohnya:NO Transliterasi Asal Dalam KBBI1 Al-Qur’ân Alquran2 Al-Hadîts Hadis3 Sunnah Sunah4 Fiqh Fikih5 Shalât Salat6 Thalaq Talak7 Nash Nas8 Thalaq TalakDan lain-lain (lihat KBBI)8. Penutup: artikel ditutup dengan kesimpulan;9. Biografi singkat: biografi penulis mengandung unsure nama (lengkap dengan gelar akademik), tempat tugas, riwayat pendidikan formal (S1, S2, S3) bidang keahlian akademik;10. Naskah sudah diserahkan ke penyunting pelaksana, selambat-lambatnya dua bulan sebelum waktu penerbitan dengan menyertakan soft copy dan hard copy;11. Penyunting berhak melakukan penyuntingan naskah tanpa mengubah substansi dan makna naskah;12. Isi naskah di luar tanggung jawab penyunting.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-1527684822547745000?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/1527684822547745000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=1527684822547745000' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1527684822547745000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1527684822547745000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2011/12/petunjuk-penulisan-naskah-1.html' title=''/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3606069968189044598</id><published>2011-11-20T15:27:00.001-08:00</published><updated>2011-11-20T15:27:55.760-08:00</updated><title type='text'>Dr. Hasani Raih Doktor Muda; Tholabul Ilmi dari UIN Jakarta Hingga Kairo, Mesir</title><content type='html'>Dr. Hasani Raih Doktor Muda; Tholabul Ilmi dari UIN Jakarta Hingga Kairo, Mesir. Hasani Ahmad Said adalah Doktor terbaik, termuda dan tercepat pada Wisuda ke 83 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu 16 April 2011 yang lalu. Ia lahir di Pabean, Cilegon, Banten, 21 Februari 1982 dari anak pasangan Ahmad Samsuri bin H. Said dan Sunariyah binti H. Surya yang kedua-duanya berprofesi sebagai petani dan ibu rumah tangga.Dari kecil, Hasani dikenal ulet dan tekun oleh keluarganya, berawal dari sekolah madrasah (MI, SD, MTs dan Aliyah al-Khairiyah Karangtengah serta Pondok Pesantren Banu al-Qamar yang mendidik, mengkader dan sekaligus membentuk karakter yang tangguh hingga 6 tahun, di sini Hasani banyak bersentuhan dan berkenalan dengan guru-guru penuh keikhlasan yang nota bene guru yang ditempa dengan kesulitan ekonomi yang dengan itu mereka berhasil menggondol Sarjana S-1.Cerita pahit dari pengalaman beberapa gurunya itu ternyata membangkitkan semangat juang yang tinggi hingga berniat dan mengantarkan Hasani menjejaki Perguruan Tinggai Islam yang bergengsi di IAIN, kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarat. Yang menarik, Hasani kecil, telah memprogramkan masuk S-1 dengan biaya yang dikumpulkannya sendiri dari dia mengajar ngaji di komplek Panggung Rawi beberapa kilo dari rumahnya. Hasani kecil mempunyai satu kelebihan yakni dengan suaranya yang merdu, sehingga tak jarang berbagai undangan mengajaipun berdatangan.Berbekal uang masuk yang sudah dikantongi ini, Hasani memohon restu kepada orang tua dan keluarga untuk menuntut ilmu ke Jakarta. Satu hal yang tidak bisa dilupakan, kuliah di Jakarta menjadi sesuatu yang aneh, asing, bahkan tidak pernah terbayangkan oleh beberapa orang tua di kampungnya. Namun Hasani, terus mendesak dan memohon restu, hingga akhirnya mengantongi restu dan doa orang tuanya untuk berangkat kuliah ke Jakarta. Kata dan petuah orang tuanya yang hingga kini terus terngiang-ngiang yag mengiri keberangkatan untuk kuliah di Jakarta ketika itu dengan bahasa Cilegon “Aje maning sawah, idep ge ning laku mah tak dol ari gena kuliahme” (jangankan sawah, bulu mata juga kalau laku saya jual kalau untuk kuliah).Petuah ini seolah cambuk yang mengejutkan semangat juang Hasani dalam dunia pendidikan. Di tahun 2001 Hasani, memasuki bangku kuliah di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir Hadis di UIN Jakarta. Dengan planning yang matang, Hasani bisa cepat selesai dalam waktu 3 tahun 4 bulan pada tahun 2005, menulis Skripsi tentang Historisitas Hadis tentang Adzan; Kajian atas Kutub al-Sittah. Ketika menjadi Sarjana, Hasani mulai berfikir lagi untuk pulang kampung atau melanjutkan kuliah. Pulang kampung berarti siap-siap jadi guru di madrasah dekat rumahnya, sedang melanjutkan kuliah dengan biaya yang cukup besar. Namun dengan kebulatan tekad, Hasani memilih melanjutkan kuliah. Sehingga di tahun yang sama dan perguruan tinggi yang sama mulai menapaki menjadi mahasiswa Pascasarjana konsentrasi Tafsir Hadis, dan pada tahun 2007 dapat diselesaikan 2 tahun 1 bulan, menulis tesis berjudul “Corak Pemikiran Kalam Tafsir Fath al-Qadir: Telaah Atas Pemikiran al-Syaukani Bidang Teologi Islam”.Semasa dan selepas S-2 inilah Hasani mulai terbentuk pola fikir untuk menjadi pendidik di perguruan tingggi. Dengan bekal ijazah S-2 dan silaturahmi, di usia 26 tahun, Hasani sudah menjadi asisten professor di 3 fakultas, yaitu Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Fakultas Syariah dan Hukum serta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan di UIN Jakarta. Mulai dari bekal pengalaman mengajar di perguruan tinggi dan banyak bertemu dengan beberapa orang Professor inilah, kembali memantapkan Hasani untuk tidak berhenti menuntut ilmu, sehingga di tahun 2008, Hasani masuk program strata 3 (Dr.) di perguruan tinggi dan jurusan yang sama.Pada usianya yang masih belia dan bahkan ketika menjejaki program S-3, Hasani belum mempunyai pendapatan tetap, namun dengan keyakinan yang kuat bisa menyelesaikan doktor, sedang rizki semuanya telah diatur oleh sang Maha mempunyai rizki. Pada tahun 2008 ada kesempatan mengikuti pendaftaran CPNS dosen, dan dengan kuasa dan izin-Nya, Hasani, diperkenankan doanya menjadi dosen tetap di IAIN Raden Intan Lampung.Keinginan kuat meraih doktor kini sedikit teringankan setelah menjadi PNS Dosen, dan juga tidak membuat terlena semangat juangnya. Hasani berkeyakinan mampu menggondol gelar doktor secara cepat dalam usia muda. Dan Alhamdulillah, image gelar doktor yang harus punya jabatan, dirah pada usia relative tua dan mapan, kini terbantahkan oleh Hasani yang meraih gelar Doktor terbaik, tercepat dan termuda bidang Tafsir al-Qur’an dari Sekolah pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, selesai 2 tahun 6 bulan, di usia 29 tahun, menulis disertasi bertajuk “Diskursus Munasabah al-Qur’an: Kajian Atas Tafsir al-Mishbah”.Dan yang tidak kalah pentingnya, berbekal doa restua kedua orang tua dan keluarga, dari keluarga yang tidak mampu, dapat menyelesaikan S-1, S-2, dan S-3 dengan biaya sendiri. Berbekal suara emas di bidang nagm al-Qur’an, Hasani sempat tinggal di Masjid dan menjadi muadzin, dan bahkan hingga kini masih menjadi Imam Masjid Fathullah UIN Jakarta, selain juga menjadi penceramah, khotib, dan pembaca al-Quran, dari kampung, Hotel, TV Swasta, hingga istana Negara.Bahkan, pada tahun 2007 dapat ke tanah suci berkat al-Quran. Kesempatan inilah menjadi curahan hati untuk berdoa kepada sang Khaliq, salah satu doanya adalah ingin belajar di dunia Timur Tengah, baik Arab Saudi, maupun Kairo Mesir. Meskipun belum bisa menuntut ilmu secara formal di Timur Tengah, khususnya Kairo, namun kini, setelah menyelesaikan doktornya, dua hari setelah diwisuda, tanggal 18 April 2011, demi memantapkan keilmuannya di bidang tafsir, Hasani berangkat ke Kairo, Mesir mengikuti Sandwich Program atas beasiswa dari Pusat Studi al-Qur’an ke Kairo, Mesir selama 2 bulan setelah sebelumnya menimba ilmu melalui program Pendidikan Kader Mufassir di PSQ Jakarta yang diikuti dan terseleksi sebanyak 18 orang yang terdiri dari dosen-dosen tafsir, peneliti, dan calon magister dan doktor se-Indonesia.Setelah menempa kuliah dan bimbingan selama 6 bulan di Pendidikan Kader Mufassir, Pusat Studi al-Quran, diseleksi kembali menjadi enam terbaik dari 18 orang, untuk dikirim ke Mesir, dan dari enam orang disaring kembali menjadi dua orang yang ditetapkan sebagai peserta terbaik yang di kirim ke Kairo, Mesir untk melakukan research lanjutan, dan satu di antara dua itu adalah Hasani Ahmad said. Dan hingga kini, Hasani masih melakukan penelitian di Kairo, Mesir dalam bidang Tafsir dan Ulumul Quran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3606069968189044598?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3606069968189044598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3606069968189044598' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3606069968189044598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3606069968189044598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2011/11/dr-hasani-raih-doktor-muda-tholabul.html' title='Dr. Hasani Raih Doktor Muda; Tholabul Ilmi dari UIN Jakarta Hingga Kairo, Mesir'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-1391325364444310119</id><published>2011-10-22T21:45:00.000-07:00</published><updated>2011-10-22T21:45:24.995-07:00</updated><title type='text'>JUAL BELI IJON DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM</title><content type='html'>JUAL BELI IJON DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAMMakalah Ini Untuk Memenuhi Tugas “ Hadist Ahkam Ekonomi”DISUSUN OLEH :HISTI RUKOMAH ( 921030016 )Dosen Pembimbing : DR. Hasani Ahmad Said, M. AJURUSAN MUAMALAH FAKULTAS SYARIAHINSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) RADEN INTANLAMPUNGT.A 2011/1432HKATA PENGANTARAssalamu’alaikum Wr.Wb. Alhamdulillah puji syukur bagi Allah SWT, berkata rahmat dan nikmat-Nya serta hidayah dan inayah-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan Tugas makalah yang sederhana ini. Dalam mata kuliah “Hadist Ahkam Ekonomi”, yang membahas tentang “Jual Beli Ijon Dalam Perspektif Hukum Islam” . Pada prodi Mu’amalah semester V (Lima) Institut Agama Islam Negeri Raden Intan. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari kesempurnaan, sehubungan dengan hal tersebut maka saya mengharapakan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca, guna kesempurnaan tugas kami. Atas selesainya tugas ini saya  menyampaikan rasa terima kasih yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik moral ataupun materil. Semoga amal baik yang telah diberikan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Akhir kata saya berharap semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi para pihak yang membaca, terima kasih.Wassalamu’alaikum Wr. WbBandar Lampung, 09 Oktober 2011Penulis   DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL iKATA PENGANTAR iiDAFTAR ISI iiiBAB I PENDAHULUAN 1A. Latar Belakang 1B. Rumusan Masalah 2BAB II PEMBAHASAN 3A. Jual Beli 3B. Hukum jual beli 5C. Rukun dan syarat jual beli 6D. Macam-macam jual beli 8E. Jual beli yang dilarang oleh syara tapi sah hukumnya 10F. Jual Beli sistem Ijon 14G. Pendapat Para Fuqaha 15H. Hikmah Larangan Menjual Buah Yang Masih Hijau 17BAB III PENUTUP 19Kesimpulan 19DAFTAR PUSTAKA BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangDi dalam kehidupan manusia, jual beli merupakan kebutuhan dhoruri yaitu kebutuhan yang tidak mungkin ditinggalkan, sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa kegiatan jual beli. Jual beli juga merupakan sarana tolong menolong antara sesama manusia, sehingga Islam menetapkan kebolehannya sebagaimana dalam banyak keterangan al-Qur’an dan Hadits Nabi, diantaranya, yaitu :وَاَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَمَ الرِّبَا (البقراه : 275)“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.Sejalan dengan perkembangan zaman, persoalan jual beli yang terjadi dalam masyarakat semakin meluas, salah satunya adalah adanya praktek jual beli ijon (jual beli tanaman, buah atau biji yang belum siap untuk di panen). Praktek ini bukan hanya terjadi pada saat ini, akan tetapi sudah ada sejak zaman Rasulullah.Permasalahan ijin ini secara hukum sudah tertera jelas dalilnya, akan tetapi permasalahan ini tetap dibahas oleh para fuqaha mengingat di dalam jual beli ijon sendiri, Ada terdapat banyak permasalahan baik dari perluasan hukum yang sudah ada maupun adanya ijon dalam bentuk lain dari ijon pada zaman Nabi.Jual beli ijon ini masih sangat kerap kita temui pada masyarakat pedesaan. Praktek seperti ini lebih banyak berlaku pada buah-buahan, untuk biji dan tanaman lain ada, akan tetapi tidak sebanyak pada buah-buahan.B. Rumusan masalahBerdasarkan penjelasan diatas, maka penulis memaparkan berbagai permasalahan, yaitu sebagai berikut:1. Apa pengertian, rukun dan syarat jual beli?2. Apakah jual beli ijon dapat dijalankan dan bagaimana pendapat para fuqaha mengenai masalah jual beli ijon ini?BAB IIPEMBAHASANA. Jual BeliSecara etimologis jual beli berarti pertukaran mutlak. Berasal dari bahasa arab al-ba’i ”jual” dan asy syira “beli” penggunaanya disamakan antara keduanya. Dua kata tersebut memiliki pengertian lafadz yang sama dan pengertian yang berbeda. Menurut sayyid sabiq jual beli adalah pertukaran harta terntu dengan harta lain berdasarkan keridhaan antara keduanya. Dalam bukunya al jaziri dikatakan bahwa menjual berarti mempertukarkan sesuatu dengan sesuatu. Menukarkan barang dengan barang –secara bahasa- disebut menjual, sebagaimana menukarkan barang dengan uang. Jual beli menurut hukum syariat, memiliki pengertian tukar-menukar harta dengan harta, dengan tujuan memindahkan kepemilikan, dengan menggunakan ucapan ataupun perbuatan yang menunjukkan terjadinya transaksi jual beli. Berdasarkan pengertian di atas, transaksi jual beli sangat berhubungan dengan harta (hal yang memiliki nilai ekonomis). Dalam Islam, harta itu mencakup tiga kategori:  Pertama: Benda, baik berupa aktiva tetap, misalnya: tanah dan rumah, ataupun aktiva bergerak, misalnya: buku, sepeda motor, dan mobil. Kedua: Hak, misalnya: jual beli hak cetak buku dan jual beli merek dagang. Ketiga: Manfaat, yaitu jual beli kewenangan untuk memanfaatkan barang milik orang lain. Kata-kata yang digunakan dalam transaksi jual beli itu, boleh jadi kata-kata yang secara bahasa menunjukkan makna jual beli; semisal ucapan penjual, “Saya jual barang ini dengan harga sekian rupiah,” lalu pembeli mengatakan, “Ya, saya beli barang tersebut dengan harga yang tadi Anda sampaikan.”Bisa juga, transaksi jual beli menggunakan perbuatan tanpa ucapan, satu patah kata pun. Misalnya: Seseorang yang membeli suatu barang di swalayan. Boleh jadi, sejak masuk ke swalayan sampai keluar, tidak ada satu patah kata pun yang dia ucapkan, namun perbuatannya menunjukkan bahwa dia mengadakan transaksi jual beli dengan pramuniaga yang ada.istilah jual beli sama dengan perdagangan yang berarti al ba’i at tijarah, dan al mubadalah, sebagaiaman firman allah surta fathir 29: •                   Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,Menurut istilah ada beberapa pendapat menurut para fuqaha:1. Menukar barang dengan barang atau barang dengan uangdengan jalan melepaskan hak milik dari satu keapda yang lain atas dasar saling merelakan.2. Pemilikan harta benda dengan jalan tukar menukar yang sesuai denagn atuaran syara’3. Saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola dengan ijab qobul dengan cara yang sesuai dnegan syaraq’4. tukar menukar benda dengan benda lain dengan cara yang khusus (dibolehkan)5. penukaran benda dengan benda lain dengan jalan saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan ada penggantinya dengan cara yang dibolehkan.6. aqad yang tegak atas dasar penukaran harta dengan harta maka jadilah penukaran hak milik secara tetap. Dari beberapa definis diatas dapat dipahami bahwa inti jual beli adlah suatu perjanjian tukar menukar barang atau benda yang memiliki nilai secara sukarela diantara keduabelah pihak yang satu menerima benda-benda dan pihak lainnya menerima sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati. Yang dimaksud dengan ketetapan hukum aldah memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukun dan hal lainya yang ada kaitannya dengan jual beli. Jika tidaks esuai makan tidak memnuhi kehendak syara’. Sedang yang dimaksud dengan benda adalah dapat mencakup pada pengertian barang atau uang. Dan sifat benda tersebut harus dapat dinilai. Jual beli benda yang tidak sesuai maka jual beli itu fasid.B. Hukum jual beliAyat-ayat ini jelas mengisyarakat bolehnya jual beli walaupun dikaitkan dengan tujuan yang lain:Dalam hadits Nabi SAW dinyatakan:Seorang yang mengambil tali lalu membawa seikat kayu bakar diatas penggungnay lalu menjualnya sehingga dirinya tidak memintaminta, lebih baik daripada mengemis kepda orangorang, mereka memberi atau tidak (HR bukhori)Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jawajwut dengan dengan jawawut, tamar dengan tamar, garam dengan garam dengan ukuran sama dan timbangan yang sama. Barang siapa melebihkan atau meminta tambah berarati ia melakukan riba. Jika berbeda jenis, maka juallah sekehendakmu. (HR. Imam muslim)C. Rukun dan syarat jual beliRukun jual beli ada tiga yaitu; shighoh, pelaku akad, dan objek akad.1. Pelaku akad, syaratnya adalah:a. berakal, agar dia tidak terkecoh. Orang gila atau bodoh tidak sah jual belinyab. kehendak pribadi. Maksudnya bukan atas paksaan orang lain sesuai dengan surat an nisa ayat 29                     •        29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu[287]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.c. tidak mubadzir, sebab harta orang yang mubadzir itu ditangan walinya.d. Baligh. Anak kecil tidaksah jual belinya. Adapun anak yang belum berumnur tapi sudah mengerti menurut sebagian ulama diperbolehkan.2. objek akada. Suci, barang najis tidak sah diperjual belikan dan tidak boleh dijadikan uang untuk dibelikan seperti kulit binatang ayng belum dsamakb. Ada manfaatnya. Tidak boleh menjual barang yang tidak ada manfatnya.c. Barang dapat diserahkan. Tidak sah menjual barang yang tidak dapat diserahkan kepada pembeli seperti ikan yang masih ada dilaut.d. Milik penuh. e. Barang tersebut diketahui oleh kedua belah pihak.f. Tidak dibatasi waktu. Seperti kujual motor ini kepada tuan selam setahun.maka penjualan tersebut tidak sahg. Tidak ditaklitkan pada yang lain seperti kujual motor ini jika ayahku pergi kejakarta.3. ShighotIjab adalah perkataan penjual seperti contohnya saya jual barang ini sekian. Qabul adlah ucapan pembeli saay terima barang tersebut dengan harga sekian. Menurut ulam lafaz tersebut harus memenuhi syarat sebagai berikut:a. keadaan ijab dan qabul berhubungan. Artinya salah satu dari keduanya pantas menjadi jawaban dari yang lain.b. Makna keduanya adalah mufakatc. Tidak ber0sangkutan dengan yang laind. Tidak berwaktu, artinya tidak ada yang memisahkan antar keduanyaD. Macam-macam jual beliJual beli dapat ditinjau dari beberapa segi, ditinjau dari hukumnya, jual beli ada dua macam jual beli yang sah menurut hukum dan batal menurut hukum. Dilihat dari segi objeknya dan dari segi pelaku jual beli. Ditinjau dari segi objeknya jual beli dapat dibagi jadi tiga sebagiaman menurut imam taqiyuddin dalam buku kifarat al akhyar hal 329. a. jual beli benda kelihatan ialah pada waktu melakukan aqad jual beli benda atau barnag yang diperjualbelikan ada didepan penjual dan pembeli. Seperti jual beli beras dipasarb. Jual beli yang disebut sifat sifanya ialah jual beli pesanan (salam) atau tidak kontan.c. Jual beli benda yang tidak ada ialah jual beli yang dilarang oleh syara’karena barang tersebut masih gelap dan tidak tentumasing dari tiga hal tersebut terdiri dari dua bagian. Pelaku akad terdiri dari penjual dan pembeli. Objeknya terdiri harga dan barang. Shighoh terdiri dari ijab dan qobul.• Ditinjau dari aqad jual beli terbagi dalam tiga kategori:a. akad dengan lisan, ialah akad yang dialakukan oleh kebaynakan orang, abgi orang bisu diganti dengan isyarat.b. Akad jual beli melalui utusan, perantara, tulisan atu surat menyurat jual beli smahalnya dengan ijab qabul dengan ucapan.c. Jual beli dengan perbuatan, atau dikenal dengan istilah mu’athah yaitu mengambil dan memberikan barang tanpa ijab dan kabul. Seperti kita membeli barang di alfamart yang mana barang tersebut sudah ada label/bandrol harganya dankemudian membayarkan kepada kasir.• Ditinjau dari jual beli terlarang dan sahSelain dari yang diatas ada jual beli yang dilarang juga ada yang batal dan ada pula yang terlarang tapi sahJual beli yang dilarang dan batal hukumnya adalah sebagai berikut:a. barang-barang yang dihukumi najis oleh agama/syara’ seperti anjing berhala bangkai binatang, khmar. Sabda rosulullah : dari jahir RA rosulullah SAW sesungguhnya allah dan rosulnya telah mnegkharamkan menjual arak, bankai babi dan berhala (HR bukhari muslim)b. Jual beli Madhamin ialah menjual sperma hewan, di mana si Penjual membawa hewan pejantan kepada hewan betina untuk dikawinkan. Anak hewan dari hasil perkawinan itu menjadi milik pembelic. Jual beli Malaqih, Menjual janin hewan yang masih dalam kandungand. Jual beli habl hbalah yaitu jual beli anak onta yang masih dalam kandungan. Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw telah melarang penjualan sesuatu (anak onta) yang masih dalam kandungan induknya (H.R.Bukhari Muslim)e. Yaitu jual beli barang yang tidak diketahui kualitas, jenis, merek atau kuantitasnya. Seperti jual beli murabahah HP Nokia yang tidak dijelaskan tipenya. Jual beli radio yang tidak dijelaskan merknya. Jual beli ini dilarang karena mengandung gharar (tidak jelas, tidak pasti yang mana produk yang mau dibeli) Jual beli majhul yang dilarang adalah jual beli yang dapat menimbulkan pertentangan (munaza’ah) antara pembeli dan penjual. Hukum jual belinya fasid. Apabila tingkat majhulnya kecil sehingga tidak menyebabkan pertentangan, maka jual beli sah (tidak fasid), karena ketidaktahuan ini tidak menghalangi penyerahan dan penerimaan barang, sehingga tercapailah maksud jual beli.f. Jual beli muhaqallah yaitu jual tanaman yang masih diladang atau sawah hal ini dilarang karena adanya sangkaan ribag. Jual beli mukhadharah, yaitu jual beli buah-buahan yang belum pantas unuk dipanen. Seperti jual beli ijon.h. Jual beli mulamasah yaitu jual beli yang dilakukan dnegan sentuh menyentuh barang yang diijual. Contoh anda dating kepasar kemudian menyentuh kain maka anda harus membeli kain itu karena anda telah menyentuhnya.i. Jual beli munabadzah, yaitu jual beli dengan cara lempar melempar. Seperti lemparkan kepada apa yang ada padamu nanti aku juga akan melemparkan yang ada padaku. Jira dilakukan maka terjadilah jual belai. Jual beli ini dilarnag karena terdapat maysir dan gharar.j. Jual beli zabanah, yaitu jual beli buah yang masih basah dengan buah yang sudah kering. Seperti mensual padi kering dengan padi yang maíz basah.k. Jual beli two in one yaitu jual beli dengan menentukan dua harga unuk satu barang l. Jual beli bersyarat yaitu jual beli dimana barang akan dijual apabila ada hal lain sebagi syarat. Seperti saya jual barang ini padamu jira kamu jual jammu padaku.E. Jual beli yang dilarang oleh syara tapi sah hukumnya1. hadar libad: yaitu menemui orang orang desa sebelum mereka masuk pasar, dan membeli benda bendanya dengan harga yang semurah-murahnya sebelum mereka tahu harga psaran, kemudian mensual anegan harga yang setinggi tingginya. Perbuatan ini sering terjadi dipsar yang berlokasi diperbatasan daerah. Rosulullah SAW bersabda: tidak boeh menjual orang hadir barang orang dusun (HR bukhari muslim)2. talaqqi rubban Praktek ini adalah sebuah perbuatan seseorang dimana dia mencegat orang-orang yang membawa barang dari desa dan membeli barang itu sebelum tiba di pasar. Rasulullah SAW melarang praktek semacam ini dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kenaikan harga. Rasulullah memerintahkan suplay barang-barang hendaknya dibawa langsung ke pasar hingga para penyuplai barang dan para konsumen bisa mengambil manfaat dari adanya harga yang sesuai dan alami.sabda nabi: Janganlah kalian menemui para kafilah di jalan (untuk membeli barang-barang mereka dengan niat membiarkan mereka tidak tahu harga yang berlaku di pasar), seorang penduduk kota tidak diperbolehkan menemui penjual di desa. Dikatakan kepada Ibnu Abbas : “apa yang dimaksud dengan larangan itu?” Ia menjawab:”Tidak menjadi makelar mereka”. (HR.Imam Muslim, Shahih Muslim, Bab Buyu’, Riyadh, Darus Salam, 1998. No hadits 15213. menawar barang yang sedang ditawar oleh orang lain. Seperti orang berkata toilklah harga tawaran itu nanti aku yang membeli dengan harga tyang lebih mahal. Sabda Nabi : tidak boleh menawar diatas tawaran saudaranya (HR bukhari dan muslim)4. jual beli najasy yaitu seseorang menambahkan harga temannya dengan maksud memancing mancing orang agar orang aitua membeli barang kawannya, hal ini dilarang syara’ sabda nabi Rosululllah SAW melrang melakukan jual beli dengan najsy (hR Bukhari muslim)5. Jual beli hashah (kerikil) ialah jual beli dimana pembeli menggunakan krikil dalam jual beli. Kerikil tersebut dilemparkan kepada berbagai macam barang penjual. Barang yang mengenai suatu barang akan dibeli dan kerika itu terjadilah jual beli. Dari sabda nabi: Dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah saw melarang jual beli hashah dan jual beli gharar. Jual beli hashah ini juga termasuk gharar, karena sifatnya spekulatif. Praktek ini di zaman sekarang banyak terdapat di pusat hiburan.• Ditinjau dari cara bayarnya:Jual beli sah menurut syafi’iyah;a. jual beli barang yang nyata dilihatb. Jual beli barang dengan menyebutkan sifat-sifatnya dalam jaminan yang disbut dengan salam. c. Jual beli sharf yaitu jual uang dengan satu sama lainnya baik sejenis atau bukan. Jika sejenis syaratnya adalah langsung tunia timbnagan sama dan sama barnag yang ditukarnyaaaaaa. Bila tidak sejenis berlaku dua syarat langsung dan timbngan sama.d. Jual beli murabahah yaitu jual beli barang seprti harga sal dengan keuntungan tertentue. Jual beli isyrak yaitu jual beli bersama. Seperti saya berbagi denganmu dalam akad ini, sepertiga apa yang saya beli.f. Jual beli muhathah yaitu jual beli dengan harga asli dan ditambah diskon. Seperti saya jual ini seperti harga aslinya dan saya turunkan harganya satu dirham unuk setiap sepuluhnya.g. Jual beli tawliyah yaitu jual beli tidak untung dan tidak rugi dan keduanya tahu harga asli. Seperti saya jual ini kepadamu seperti harga beli.h. Jual beli barter.i. Jual beli dengan syarat dan khiyar. Akan dijelaskan nantij. Jual beli dengan syarat bebas cacat.• Khiyar dalam jual beliDalam jual beli menurut agama islam dibolehkan memilih, apakah akan meneruskan jaul beli atau membatalkannya. Disebabkan terjadinya sesuatu: ada tiga khiyar yaitu:a. khiyar majelis; yaitu penjual dan pembeli boleh memilih akan meneruskan jual beli atau membatalkannya selama keduanya masih ada dalam satu tempat. Khiyar majelis boleh dilakukan dalam jual beli sesuai dengan sabda nabi: Penjual dan pembeli boleh khiyar selama belum berpisah (HR bukhari muslim). Bila keduanya telah berpisah dari teampta akad maka khiyar majelis tidak berlaku lagi.b. Khiyar syarat; yaitu penjualan yang didalamnnya disyaratkan sesuautu baik oleh penjual atau pembeli. Seperti seseoarnag berkata: saya jual harga rumah ini seharga 100.000.000. dengan syarat khiyar tiga hari. Sabda Nabi; kamu boleh berkhiyar pad setiap ebnda yang telah dibeli selama tiga malam (HR baihaqi)c. Khiyar aib; yaitu dalam jual beli ini disyaratkan kesempurnaan benda-benda yang dibeli. Seperti : saya beli mobil itu dengan seharga sekian bila mobil cacat akan saya kembalikan. • Berselisih dalam jual beliPenjual dan pembeli melakukan jual beli hendaknya berlaku jujur, terus terang, dan mengatakan yang sbenarnya, maka jangan berdusta dan jangan bersumpah dusta. Sebab bisa menghilangkan berkah jual beli. Pedagang yang jujur dan benar sesuai dengan ajaran nabi akan didekatkan dengan para nabi, para sahabat dan orang orang mati syahid pada hari kiamat. Bila antar apenjual dan pembeli berselisih pendapat dalm suatu benda yang diperjualbelikan, maka yang dibenarkan adalah kata-kata yang punya barang. Bila keduanya tiodak ada saksi dan bukti lainnya. Sabda nabi : bila penjual dan pembeli berselisih antara keduanya tak ada saksi maka yang dibenarkan adlah perkataan yang punya barang atau dibatalkan (HR. Abu Dawud)• Badan perantara (samsarah)Badan perantara dalam jual beli disbut dnegan simsar yaitu seseorang yang menjualkan barang oarang lain atas dasar bahwa seseoarnag itu akan diberi upah oleh yang punya barang sesuai dengan usahanya, dalam satu keteangan dijelskan:Dari ibnu abbas RA dalam perkara simsaria bekata: tidak apa apa kaalu seseorang berkata; juallah ini dengan harga sekian, lebih dari penjualan harga itu adalah untuk rngkau ( HR bukhari)Kelebihan yang dinyatakan dalam keteangan diatas adalah harga yang lebih dari harga yang telah ditetapkan penjual barang itu, dan kelebihan barang setelah dijual menurut harga yang telah ditentukan oleh yang punya barang tersebut. Orang yang menjadi simsar dinamakan komisioner, makelar, agen tergantung persyaratan persyaratan menurut hukum dagang yang berlakudewas ini.Berdagang dengan simsar dibolehkan dalam agama selama tidak mengandung gharar dari satu terhadapa yangn alinnya. F. Jual Beli sistem IjonIjon atau dalam bahasa Arab dinamakan mukhadlaroh, yaitu memperjual belikan buah-buahan atau biji-bijian yang masih hijau. Atau dalam buku lain dinamakan al-Muhaqalah yaitu menjual hasil pertanian sebelum tampak atau menjualnya ketika masih kecil.Dari pengertian di atas tampak adanya pembedaan antara menjual buah atau biji-bijian yang masih di dahan tetapi sudah tampak wujud baiknya dan menjual buah atau biji-bijian yang belum dapat dipastikan kebaikannya karena belum kelihatan secara jelas wujud matang atau kerasnya.G.  Pendapat Para FuqahaSebelum madzhab sepakat bahwasanya jual beli buah-buahan atau hasil pertanian yang masih hijau, belum nyata baiknya dan belum dapat dimakan adalah salah satu diantara barang-barang yang terlarang untuk diperjual-belikan. Hal ini merujuk pada Hadits Nabi yang disampaikan oleh Anas ra :نَهى رَسُوْلُ اللهِ ص. م عَنِِِ الْمُحَا قَلَةِ وَاْلمُخَا ضَرَةِ وَاْلمُلاَ مَسَةِ وَاْلمُنَا بَزَةِ وَاْلمُزَابَنَةِ (رواه البخارى)“Rasulullah Saw melarang muhaqalah, mukhadlarah (ijonan), mulamasah, munabazah, dan muzabanah”. (HR. Bukhari)Ibnu Umar juga memberitakan :نَهى رَسُوْلُ اللهِ ص. م عَنْ بَيْعَ الثِّمَارِحَتَّى يَبْدُ وَصَلاَ حُهَانَهَىالبَا ئِعَ وَاْلمُبْتَاعَ (متفق عليه)“Rasulullah Saw telah melarang buah-buahan sebelum nyata jadinya. Ia larang penjual dan pembeli ”. (Muttafaq alaih) Para fuqaha berbeda pendapat mengenai jual beli di atas pohon dan hasil pertanian di dalam bumi. Hal ini karena adanya kemungkinan bentuk ijon yang didasarkan pada adanya perjanjian tertentu sebelum akad.Imam Abu Hanifah atau fuqaha Hanafiyah membedakan menjadi tiga alternatif hukum sebagai berikut :a. Jika akadnya mensyaratkan harus di petik maka sah dan pihak pembeli wajib segera memetiknya sesaat setelah berlangsungnya akad, kecuali ada izin dari pihak penjual.b. Jika akadnya tidak disertai persyaratan apapun, maka boleh.c. Jika akadnya mempersyaratkan buah tersebut tidak dipetik (tetap dipanen) sampai masak-masak, maka akadnya fasad. Sedang para ulama berpendapat bahwa mereka membolehkan menjualnya sebelum bercahaya dengan syarat dipetik. Hal ini didasarkan pada hadits nabi yang melarang menjual buah-buahan sehingga tampak kebaikannya. Para ulama tidak mengartikan larangan tersebut kepada kemutlakannya, yakni larangan menjual beli sebelum bercahaya. Kebanyakan ulama malah berpendapat bahwa makna larangan tersebut adalah menjualnya dengan syarat tetap di pohon hingga bercahaya.Jumhur (Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah) berpendapat, jika buah tersebut belum layak petik, maka apabila disyaratkan harus segera dipetik sah. Karena menurut mereka, sesungguhnya yang menjadi halangan keabsahannya adalah gugurnya buah atau ada serangan hama. Kekhawatiran seperti ini tidak terjadi jika langsung dipetik. Sedang jual beli yang belum pantas (masih hijau) secara mutlak tanpa persyaratan apapun adalah batal.Pendapat-pendapat ini berlaku pula untuk tanaman lain yang diperjual belikan dalam bentuk ijon, seperti halnya yang biasa terjadi di masyarakat kita yaitu penjualan padi yang belum nyata keras dan dipetik atau tetap dipohon, kiranya sama-sama berpangkal pada prinsip menjauhi kesamaran dengan segala akibat buruknya. Namun analisa hukumnya berbeda.Menurut hemat penulis, penulis sepakat dengan jual beli sistem ijon, dengan alasan bahwa tidak semua yang masih samar itu terlarang. Sebagian barang ada yang tidak dapat dilepaskan dari kesamaran.H.  Hikmah Larangan Menjual Buah Yang Masih HijauLatar belakang timbulnya larangan menjual buah yang belum nyata baiknya adalah adanya hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabil r.a “adalah di masa Rasulullah Saw, manusia menjual beli buah-buahan sebelum tampak kebaikannya. Apabila manusia telah bersungguh-sungguh dan tiba saatnya pemutusan perkara mereka, maka berkatalah si pembeli “masa telah menimpa buah-buahan, telah menimpanya apa yang merusakannya”. Mereka menyebutkan cacat-cacat berupa kotoran dan penyakit ketika mereka semakin banyak bertengkar dihadapan Nabi Saw, maka beliau pun berkata “janganlah kamu menjual kurma sehingga tampak kebaikannya (matang)”. Apabila kita perhatikan latar belakang larangan tersebut, maka hikmah yang dapat kita ambil adalah :1. Mencegah timbulnya pertengkaran (mukhashamah) akibat kesamaran.2. Melindungi pihak pembeli, jangan sampai menderita kerugian akibat pembelian buah-buahan yang rusak sebelum matang.3. Memelihara pihak penjual jangan sampai memakan harta orang lain dengan cara yang bathil, sehubungan dengan pesan Rasulullah Saw :لَوْبِعْتَ مِنْ اَحِيْكَ ثَمَرًا فَأَ صَابَتْهُ حَائِجَةٌ, فَلاَ يَحِلُّ لَكَ أَنْ تَأْ خُذَ مِنْهُ شَيْأً, بِمَا تَاءْ خُذُ مَالَ اضَحِيْكَ بِغَيْرِ حَقٍّ ؟ (رواه مسلم)Jika engkau jual kepada saudaramu buah lalu ditimpa bahaya, maka tidak boleh engkau ambil daripadanya sesuatu. Dengan jalan apa engkau mengambil harta saudaramu degan tidak benar?”. (HR. Muslim)4.  Menghindarkan penyesalan dan kekecewaan pihak penjual jika ternyata buah muda yang di jual dengan harga murah itu memberikan keuntungan besar kepada pembeli setelah buah itu matang dengan sempurna.Hukum yang telah ditetapkan oleh fuqaha ini, tidak berlaku untuk buah atau tanaman yang memang bisa dimanfaatkan atau di makan ketika masih hijau seperti misalnya : jagung, mangga, pepaya, dan tanaman lain yag masanya di petik sesudah matang, tetapi bisa juga di petik waktu muda untuk dinikmati dengan cara-cara tertentu. Jika buah ini memang dimaksudkan dengan jelas untuk di makan selagi muda, tidak mengandung kesamaran (gharar) tidak ada unsur penipuan yang mengandung pertengkaran dikemudian hari, serta tidak mengakibatkan resiko, sehingga tidak memakan harta orang lain dengan cara yang bathil, hukumnya sama dengan buah yang sudah nampak baiknya.BAB IIIKESIMPULANPada intinya penjual ijon dalam seluruh madzhab adalah tidak diperbolehkan, karena pada dasarnya permasalahan ini sudah jelas nass hukum yang berupa hadits Rasulullah Saw. Hal ini karena permasalahan jual beli ijon sudah ada sejak zaman Rasulullah dan bukan masalah kontemporer meskipun prakteknya masih terus berlaku sampai sekarang.Perbedaan pendapat yang terjadi pada para fuqaha, sebenarnya berpangkal pada prinsip yang sama, yaitu sama-sama menjauhi kesamaran dengan segala akibat buruknya. Namun analisa hukumnya yang berbeda.Abu Hanifah atau Imam hanafiyah membolehkan menjual buah-buahan yang masih hijau dengan syarat dipetik, dan tidak membolehkan yang tetap berada di pohon dengan alasan karena penjualan mengharuskan diserahkan.Sedang jumhur dan ulama membolehkan dengan syarat dipetik dengan alasan menghilangkan dari adanya kerusakan atau adanya serangan hama yang biasanya terjadi pada buah-buahan sebelum buah bercahaya. Pada intinya pelarangan jual beli ijon yang tetap berada di pohon adalah menghindarkan kesamaran (gharar), menghilangkan penipuan yang mengandung pertengkaran dikemudian hari, serta tidak mengakibatkan resiko sehingga terhindar dari memakan harta orang lain dengan cara bathil.DAFTAR PUSTAKAhttp://luqmannomic.wordpress.com/2008/05/22/jual-beli-islami/,tgl 09 oktober 2011http://makalah-ibnu.blogspot.com/2008/10/jual-beli-ijon-secara-syari.html, 09 oktober 2011http://pengusahamuslim.com/baca/artikel/1056/pengertian-jual-beli-//,tgl 09 oktober 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-1391325364444310119?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/1391325364444310119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=1391325364444310119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1391325364444310119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1391325364444310119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2011/10/jual-beli-ijon-dalam-perspektif-hukum.html' title='JUAL BELI IJON DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-2611015739571300682</id><published>2010-12-15T19:56:00.000-08:00</published><updated>2010-12-15T19:56:21.046-08:00</updated><title type='text'>Hijrah Melawan Koruptor</title><content type='html'>Hijrah Melawan Koruptor&lt;br /&gt;Wacana Publik, Radar Banten, Jumat, 10-Desember-2010&lt;br /&gt;Oleh: Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi`i, anutan mazhab terbesar di Indonesia, menulis syair yang bagus tentang ini Sâfir tajid ‘iwadl-an ‘an man tufâriq-uhu, fa inn-a ‘l-‘ûd bâkî fî ardl-ihi min al-hathâbi (Pergilah maka kamu akan mendapatkan ganti dari yang kamu tinggalkan, lihatlah kayu yang wangi itu [cendana] di tempatnya sendiri cuma sebangsa kayu bakar saja).&lt;br /&gt;Maksudnya, banyak orang yang mungkin tidak berharga kalau masih berada di tempatnya sendiri, dia akan berharga kalau pindah ke tempat lain. Banyak orang yang bisa membuat kreativitas dan karya-karya besar setelah mereka pindah. Sebaliknya, jarang sekali orang yang bisa menjadi besar di tempatnya sendiri, karena terinkografik dari masyarakatnya.&lt;br /&gt;Jadi Hijrah itu merupakan suatu cara untuk memperoleh pelajaran dari Allah dengan memperhatikan masyarakat-masyarakat yang jauh. Itulah sebabnya mengapa umat Islam dulu sangat dinamis; mereka mengembara ke seluruh muka bumi, dan menemukan berbagai hal yang kemudian dirangkum untuk menjadi ramuan dari peradaban Islam. Peradaban Islam adalah peradaban yang sangat kosmopolit, dalam arti bahwa unsur-unsurnya diambil dari seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;Tanpa disengaja peringatan Hari Anti Korupsi 9 Desember 2010 kali ini, bertepatan dengan tahun baru Islam, bulan Muharram. Rasanya bukan satu hal kebetulan di tengah goncangan dan gejolak pemberitaan yang merobek hati nurani bangsa mulai kasus Century hingga kasus pajak Gayus, Hari Anti Korupsi tahun 2010 tahun ini bertepatan dengan semangat menggeloranya nilai-nilai hijrah.&lt;br /&gt; Ada hal apa yang menarik dari nilai hijrah yang dijalankan oleh Rasulullah Saw. yang pernah menggugah dari keadaan yang lemah (dh a’if) menuju kondisi yang kuat (qawiy/ superioritas).&lt;br /&gt; L Stoddard dalam The Rising Tide of Colours (Bangkitnya Bangsa-Bangsa Berwarna) mengatakan bahwa Nabi Muhammad seolah-olah telah mengubah padang pasir Timur Tengah menjadi mesiu yang dia sulut dari Madinah dan meledaklah seluruh Timur Tengah. Sebab tidak lama setelah Rasulullah pindah ke Madinah, dalam tempo 10 tahun beliau wafat. Dan beliau menjadi tokoh sejarah yang paling sukses dalam sejarah umat manusia.&lt;br /&gt; Pandangan di atas, tidak jauh berbeda dengan Michael Hart, seorang wartawan Amerika yang menulis buku tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh di dalam sejarah umat manusia, dengan jujur mengakui bahwa di antara 100 tokoh itu, kalau dilihat efeknya, maka Muhammad-lah yang paling berpengaruh di dalam sejarah umat manusia.&lt;br /&gt; Menilik perjalanan hijrah, kemudian saya akan mencoba memaknai untuk kemudian mencari titik terang kesepahaman nilai hijrah merubah dan menggugah kesadaran kehidupan sosial yang baik. Hijrah artinya secara bahasa berarti pindah. Dalam bahasa Inggris, hijrah lebih tepat sepadan dengan kata migration.&lt;br /&gt; Dalam beberapa literature, orang-orang Barat menerjemahkan hijrah dengan flight, padahal flight itu artinya melarikan diri. Dengan bermigrasi dari Makkah ke Madinah, Nabi Muhammad tidak bermaksud melarikan diri, akan tetapi memang pindah, dan kepindahannya bukan atas kemauan sendiri melainkan atas petunjuk dari Allah swt.&lt;br /&gt; Madinah dalam bahasa Arab sama dengan polis dalam bahasa Yunani. Maka ada Konstantinopolis, Miniapolis, Indianapolis, Parsipolis, dan lain-lain. Seandainya Rasulullah dulu berbahasa Yunani, maka Madinah itu akan memperoleh nama Prophetopolis, kota Nabi. Dari polis inilah kemudian terambil kata-kata politik; jadi perkataan politik itu sendiri sudah menunjuk kepada konsep kehidupan teratur dalam sebuah kota. Maka tidak heran bahwa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah mendirikan negara (Madinah).&lt;br /&gt; Negara yang didirikan Nabi itu mula-mula adalah sebuah negara kota (city state), kemudian diperluas meliputi seluruh Jazirah Arabia. Kelak bahkan diperluas lagi oleh para sahabat menjadi suatu imperium dunia, yang jauh lebih luas daripada kekaisaran Romawi atau kekaisaran Byzantium pada zaman keemasannya.&lt;br /&gt; Secara sosiologis historis memang ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hijrah Nabi, yaitu antara lain didahului dengan adanya baiat (janji setia) yang diikuti oleh orang-orang dari Madinah (waktu itu namanya Yatsrib, yang dalam naskah-naskah Yunani kuna dikenal sebagai Yathroba).&lt;br /&gt; Tidak banyak yang diketahui oleh orang-orang luar mengenai Arabia, karena Arabia memang merupakan daerah yang tidak begitu menarik bagi bangsa-bangsa lain. Karena itu tidak ada usaha untuk, misalnya, menaklukkan daerah tersebut. Orang Arab sendiri menyadari hal itu, karenanya disebut jazirah. Dalam bahasa Arab, jazirah itu bukan semenanjung, tetapi pulau.&lt;br /&gt; Di zaman Rasulullah Muhammad SAW, pernah terjadi suatu fase di mana moral beberapa sahabat mengalami penurunan. Ketika itu kemenangan demi kemenangan di medan peperangan berhasil diraih pasukan Islam. Rampasan perang sangat melimpah berupa berbagai macam barang berharga. Segelintir oknum sahabat ada yang tergoda melakukan tindak korupsi dengan mengambil barang pampasan perang sesukanya sendiri tanpa seizin Rasulullah.&lt;br /&gt; Atas tindakan melanggar hukum itu, Allah segera menurunkan peringatan keras seperti yang bisa kita baca dalam surah Ali Imran. Barangsiapa yang berkhianat (korupsi?) dalam urusan harta rampasan perang, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianati itu. (QS 3:161).&lt;br /&gt; Peringatan Allah yang keras itu kemudian dijabarkan lebih jauh oleh hadis, seperti yang disabdakan Nabi Muhammad. Maka demi zat yang diri Muhammad di dalam genggaman-Nya, tidaklah tindakan khianat/korupsi salah seorang dari kalian atas sesuatu, kecuali dia akan datang pada hari kiamat nanti dengan membawa di lehernya. Kalau yang dikorupsi itu adalah unta, maka ia akan datang dengan melenguh. (HR Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt; Korupsi adalah kejahatan pengambilan kekayaan dan hak orang lain secara tidak sah untuk memperkaya diri sendiri. Oleh karenanya, Islam mengharamkan tindak korupsi termasuk memakan hasil dari tindak korupsi.&lt;br /&gt; Beberapa ulama berpendapat, Islam mengkategorikan tindak pidana korupsi dalam beberapa jenis perbuatan, yaitu; sariqah (pencurian), ikhtilaf (menjambret), khiyanah (menggelapkan), ikhtilas (mencopet), al-nahb (merampas), dan al-ghasb (menggunakan tanpa seizin).&lt;br /&gt; Dalam batasan pengertian korupsi sebagai tindak kejahatan sariqah (pencurian dan suap), Allah SWT tegas sekali mengutuk perbuatan tersebut, seperti firman-Nya dalam surah Al-Anfal (harta pampasan perang). Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS 8:27).&lt;br /&gt; Rasulullah SAW mengingatkan kita lewat sabdanya, Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap, dan yang menjadi perantara. (HR Ahmad dan Hakim). Korupsi dalam batasan pengertian sebagai tindak penggelapan (khiyanah), dan merampas harta dan hak orang lain (al-nahb). Rasulullah SAW memperjelas dalam sabdanya, Barangsiapa yang kami pekerjakan pada suatu jabatan, kemudian kami beri gaji, malahan yang diambilnya selebih dari itu, berarti suatu penipuan. (HR Abu Daud).&lt;br /&gt; Dari penegasan Allah SWT dan Nabi Muhammad tersebut maka jelas, bahwa agama Islam melarang tindak korupsi-suap dalam berbagai batasan tersebut di atas, dan mengategorikannya dalam tindakan yang haram. Islam juga memandang bahwa tindak pidana korupsi telah merendahkan martabat manusia di mata Allah. Oleh karenanya kita dilarang mendekatinya, apalagi melakukannya.&lt;br /&gt; Apa yang diingatkan oleh Allah SWT tentang korupsi seperti termaktub dalam ayat-ayat Al-Quran di surah Harta Pampasan Perang (Al-Anfal), sesungguhnya sebuah isyarat bahwa manusia memang cenderung berlaku korup. Korupsi merupakan penyakit masyarakat dari bangsa apapun. Maka, pantaslah bila secara mondial kita memperingati Hari Anti Korupsi yang jatuh pada tanggal 9 Demseber yang lalu.&lt;br /&gt;Era Reformasi mengamanatkan perang terhadap korupsi. Genderang perang itu kemudian dituangkan dalam KUHP maupun UU Nomor 31 tahun 1999 jo UU nomor 20 tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi. Namun, secara kasat mata, kita melihat bahwa praktik korupsi kian menjadi-jadi di negeri ini.&lt;br /&gt;Tahun 2003 dan 2004, China ditetapkan sebagai negara paling korup di dunia disusul kemudian Indonesia, India, Brasil dan Peru. Peringkat Indonesia dalam bidang negara terkorup terkoreksi di tahun 2009 ini. Menurut lembaga riset Transparency International Indonesia (TII) di Jakarta, kini Indonesia berada di peringkat ke-79 negara terkorup di dunia. Memang ada kemajuan.&lt;br /&gt;Memang, betapa malunya kita atas predikat menjadi negara yang tergolong terkorup di seluruh dunia. Di luar sana, bangsa-bangsa lain juga sudah lama membicarakan bangsa kita yang mayoritasnya beragam Islam, tetapi kenapa tingkat tindak sariqah-nya (korupsi dan suap) tergolong tinggi. Rasanya bangsa lain itu hendaknya kita jadikan bahan introspeksi diri. Dan, sebaiknya marilah kita mulai dari diri kita sendiri masing-masing untuk patuh dan taat kepada ajaran Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW untuk tidak melakukan tindak korupsi dalam bentuk apapun sekecil apapun. Karena yang demikian itu sesungguhnya adalah ukuran dan indikator dari salah satu takwa yang berkualitas.&lt;br /&gt;Beberapa upaya telah ditempuh untuk memberantas korupsi, saat ini dilakukan oleh beberapa institusi: Tim Tastipikor (Tindak Pidana Korupsi), KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Kepolisian, Kejaksaan, BPKP, Lembaga non-pemerintah: Media massa Organisasi massa (mis: ICW).&lt;br /&gt;Sesungguhnya bila dibandingkan dengan era Orde Baru, pada zaman reformasi ini pemberantasan korupsi di Indonesia sudah sangat berkembang, namun hingga kini hasilnya belum menunjukkan titik terang, mungkin karena sumber oknum korupsi justru berada di dalam institusi penegak hukum (Kepolisian dan Kejaksaan). Hal itu yang membikin pemberantasan korupsi susah diuraikan. Mungkin yang paling tepat pemberantasan korupsi itu dimulai dari diri sendiri.&lt;br /&gt;Tanggal 9 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Anti Korupsi se-Dunia. Sebagai orang muslim harus menanggapi sebagai aksi gerakan moral yang cukup baik untuk memulai mengetuk pada diri sendiri, dan terus menjaga kebenciannya terhadap korupsi. Maka, momen hijrah sejatinya bukan hanya bermakna pindah belaka, akan tepai lebih jauh dari itu, hijrah yang actual sesungguhnya mampu mereformasi keberpindahan dari yang tidak baik menuju kebaikan.&lt;br /&gt;Semoga tulisan ini menjadi penyadaran akan pentingnya berhijrah untuk kebaikan, hijrah untuk kemaslahatan dan hijrah untuk kepentingan bersama yang hanya dirasakan untuk kepentingan pribadi atau golongan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Raden Intan, Lampung, Alumni Pendidikan Kader Mufassir &amp; Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-2611015739571300682?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=60284' title='Hijrah Melawan Koruptor'/><link rel='enclosure' type='' href='http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=60284' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/2611015739571300682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=2611015739571300682' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2611015739571300682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2611015739571300682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/12/hijrah-melawan-koruptor.html' title='Hijrah Melawan Koruptor'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-1963235429813463078</id><published>2010-11-26T03:27:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T03:27:36.003-08:00</updated><title type='text'>Reformulasi Ritual Haji</title><content type='html'>Reformulasi Ritual Haji&lt;br /&gt;Oleh Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;*Tulisan dimuat di Wacana Publik, Radar Banten, Jumat, 19-November-2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas F Oídea (1990), seorang sosiolog mecirikan dan memaknai agama sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublim; sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu; sebagai sesuatu yang memuliakan dan yang membuat manusia beradab.&lt;br /&gt;Setiap agama memiliki sistem ritual dan sistem nilai, tak terkecuali Islam. Haji merupakan salah satu sistem ritual dalam Islam dan menjadi rukun dalam Islam. Pelaksanaan haji tanpa menyelami nilai-nilai haji hanya akan menjadikan haji sebagai tamasya biasa, sehingga tidak memberikan pengaruh apa-apa yang kuat sepulang haji kepada pelaku haji tersebut.&lt;br /&gt;Janganlah heran jika banyak orang yang sudah haji, tetapi masih melakukan korupsi, masih membuat keputusan yang tidak adil, masih suka mendzalimi dan lain-lain. Itu semua akibat dari tidak adanya penghayatan terhadap nilai-nilai yang ada di dalam ritual haji.&lt;br /&gt;Haji merupakan satu di antara lima pilar Islam. Allah berfirman: “Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS al-Hajj [22]: 27).&lt;br /&gt;Dalam ayat ini, Allah menyeru untuk mengerjakan haji, meskipun dengan bersusah payah yang disebut oleh ayat di atas, meskipun berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus. Tujuan diwajibkan haji adalah memenuhi panggilan Allah untuk memperingati serangkaian kegiatan yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim sebagai penggagas syariat Islam seperti tergambar dalam Q.S. Ibrahim ayat 37. Keinginan Ibrahim ditanggapi Allah dengan menyuruh orang-orang untuk menziarahi tempat Nabi Ibrahim tersebut, seperti tergambar pada ayat di atas.&lt;br /&gt;Setiap tahun, pada bulan Dzulhijjah, jutaan kaum Muslim mendatangi Baitullah di kota Makkah. Mereka rela bepergian meskipun Baitullah amat jauh jaraknya dari negeri tempat mereka tinggal dan iklim di kota Makkah sangat berbeda dengan iklim di negeri mereka hidup. Mereka bersedia meninggalkan keluarga, karib-kerabat, kesibukan, dan pekerjaannya untuk memenuhi panggilan Allah.&lt;br /&gt;Satu di antara do’a yang sering dipanjatkan adalah “Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu-Mu. Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan. Dan semua kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada ada sekutu bagi-Mu. Do’a ini akan selalu berkumandang pada secara serempak dilantunkan ditengah terik padang pasir. Lantunannya seakan menjadikan tanah Arab menjadi dingin serta hati para Hujjaj lelap dalam ritual warisan Ibrahim.&lt;br /&gt;Tingginya animo masyarakat dari tahun ke tahun untuk melaksanakan ibadah haji secara statistik menunjukkan tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Sehingga membuat tabungan untuk berhaji dilakukan dengan berbagai cara, seperti dipaksakan untuk menabung setiap bulan, mengadakan arisan haji, membuat investasi di mana-mana, baik tanah, emas, sawah, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Bahkan, kuota haji untuk lima tahun ke depan sudah terisi secara penuh. Sehingga bagi yang berniat mendaftarkan diri berangkat seketika tentu tidak akan mungkin dengan sistem komputerisasi yang sulit untuk dimainkan mengingat data setiap calon haji sudah sesuai dengan urutan pendaftaran dan pelunasan ONH-nya. Kecuali jika terjadi emergency dari salah seorang calon haji sehingga digantikan oleh urutan di bawahnya.&lt;br /&gt;Farid Esack dalam On Being a Muslim, di dalam haji (perjalanan ke Makah), terdapat pertemuan akar umat Islam yakni akar geneologis, akar religius dan akar spiritual. Akar geneologis karena Adam dan Hawa bertemu di padang Arafah, yang dilambangkan oleh pasak yang menjulang di atas Jabal Rahmah yang terletak di Makah, setelah perpisahan mereka dengan surga. Lalu, akar religius karena Gua Hira, tempat pertama kali Nabi Muhammad menerima wahyu, merupakan aspek fisik permulaan Islam sebagai agama. Dan terakhir akar spiritual karena Ka’bah merupakan simbol kehadiran Allah.&lt;br /&gt;Dengan demikian, ketika ritual haji sudah dilaksanakan sesuai tuntunan agama, maka seorang jamaah pun berhak menyandang predikat haji saat wukuf di Arafah tepat pukul 12 siang (setelah salat dan mendengarkan khutbah). Dan pada saat itu gelar haji akan dimiliki. Namun yang lebih penting lagi adalah makna haji yang harus melekat dalam diri pelakunya setelah kembali ke kampung halaman masing-masing. Dan harapan menjadi haji mabrur akan dapat disandang jika seorang haji taat menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya berdasarkan pada Alquran dan as-Sunnah.&lt;br /&gt;Ibadah haji memiliki keistimewaan tersendiri, sebab haji merupakan paduan antara ibadah jasmaniah dan maliyah (harta). Ini menunjukan seolah-olah haji merangkum dari semua rukun Islam. Lebih jauh, haji sendiri secara terminologi mempunyai arti menuju Baitullah guna menunaikan perbuatan yang diwajibkan, seperti tawaf dan wukuf di Arafah dalam keadaan ihram disertai dengan niat haji.&lt;br /&gt;Di antara simbol-simbol haji yang perlu dimaknai, paling tidak, adalah ka’bah, ihram, sa’i, dan wukuf di ‘Arafah. Ihram adalah menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan lembaran kain putih tak berjahit. Menanggalkan pakaian biasa berarti menanggalkan segala macam perbedaan dan menghapus keangkuhan yang ditimbulkan oleh status sosial. Mengenakan pakaian ihram melambangkan persamaan derajat kemanusiaan serta menimbulkan pengaruh psikologis bahwa yang seperti itulah dan dalam keadaan demikianlah seseorang menghadap Tuhan pada saat kematiannya. Tak heran ada yang menyebut haji sebagai gladi resik kematian.&lt;br /&gt;Apa sebenarnya makna pakaian ihram yang berwarna putih itu? Para pelaku haji (hujjaj) adalah tamu-tamu Allah (duyufullah). Mereka mendatangi baitullah (Rumah Allah) dengan berpakaian putih. Putih adalah simbol kesucian yang utuh. Oleh karena itu, menghadap kepada-Nya harus dilandasi kesucian hati dan niat, sehingga tidak ada tendensi apapun kecuali hanya memenuhi panggilan Allah.&lt;br /&gt;Di dalam berpakaian ihram, para jamaah hajipun dikenai peraturan yang ketat, misalnya, tidak boleh membunuh hewan, tidak boleh memotong atau mencabut tanam-tanaman, tidak boleh menggunakan parfum, tidak boleh bersetubuh, tidak boleh melakukan kekerasan dan lain-lain (wala rafatsa wala fusuqa wala jidala fil hajj). Larangan-larangan itu pada hakikatnya mengajarkan hujjaj tentang pembatasan konsumsi, pengekangan hawa nafsu dan menjauhi tamak. Sebab kata ihram itu sendiri memiliki makna batas, larangan atau tabu.&lt;br /&gt;Kemudian ritual sa’i (lari-lari kecil di antara bukti Safa dan Marwa) merupakan dinamika hidup, yakni sebuah usaha tak kenal lelah demi mempertahankan hidup, sebagaimana Hajar ketika kehauasan dan tidak menemukan adanya tanda-tanda air di sekitarnya. Dia tidak hanya duduk diam menunggu mukjizat datang, namun dia berlari-lari dari bukit Safa ke Marwa hingga akhirnya mendapatkan sumber mata air.&lt;br /&gt;Sa’i dilakukan secara bolak-balik hingga tujuh kali dimulai dari bukit Safa. Safa artinya cinta kasih kepada sesama dan diakhiri di bukit Marwa (Muruwwah), yang berarti bentuk ideal kemanusiaan. Sehingga pada hakikatnya Sa’i mengajarkan manusia untuk mencintai dan menyanyangi sesama hingga muncullah kedamaian kemanusiaan yang ideal.&lt;br /&gt;Simbol penting lainnya adalah wukuf di Arafah. Seperti yang diungkapkan oleh Ali Syariati, pada saat di padang Arafah (wukuf), semua orang berkumpul melepaskan atribut-atribut dan status sosial yang disandang. Semuanya dibungkus dengan kain putih yang sama dan di tempat yang sama pula berbaur satu sama lain melakukan penyembahan pada Allah Yang Maha Esa. Tidak ada perbedaan sama sekali, yang ada, persamaan dari sisi kemanusiaan, persaudaraan, rasa solidaritas, dan kepekaan yang tinggi terhadap sesama.&lt;br /&gt;Di Arafah, hujjaj dianjurkan untuk berdoa seharian penuh pada hari ke sembilan bulan Dzulhijjah. Arafah berarti pengetahuan (ma’rifah). Saat wukuf di Arafah adalah saat musyahadah atau ma’rifah, yakni suatu kondisi keimanan yang sempurna dan kehangatan cinta yang membara kepada-Nya. Dengan keterbakaran cinta, Hujjaj dalam bahasa tasawwuf akan mengalami fana’ (lebur dirinya dan hilang sama sekali) sehingga tidak ada yang disaksikannya kecuali siapa yang dicintainya.&lt;br /&gt;Hujjaj akan iri kepada segala sesuatu walaupun kepada matanya sendiri. Berangkat menuju Arafah berarti berangkat menuju keasyikan berdialog dengan Allah. di sinilah komunikasi terbangun antara hujjah dan Allah sehingga hujjaj bisa mengetahui ‘kehendak-kehendak’ Allah yang kemudian dijalankan di muka bumi.&lt;br /&gt;Makna ritual haji yang begitu dalam yang telah diurai di atas bukan sekedar ritual belaka tanpa makna. Namun ritual haji yang disyariatkan oleh Nabi Ibrahim yang kemudian dijalankan oleh jutaan umat manusia itu adalah ritual dan simbol haji yang erat kaitannya dengan dimensi sosial. Dengan kata lain, haji mabruru adalah haji yang mampu mensinergikan amalan ibadah dengan amaliyah. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Dosen IAIN Raden Intan &amp; Kandidat Doktor UIN Jakarta, Alumni MA. Al-Khairiyah Karang Tengah, Tinggal di Pabean.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-1963235429813463078?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/1963235429813463078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=1963235429813463078' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1963235429813463078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1963235429813463078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/11/reformulasi-ritual-haji.html' title='Reformulasi Ritual Haji'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-977755570837742650</id><published>2010-11-15T15:59:00.000-08:00</published><updated>2010-11-15T15:59:22.112-08:00</updated><title type='text'>Pemilukada, Harapan Baru Warga Tangsel</title><content type='html'>Pemilukada, Harapan Baru Warga Tangsel&lt;br /&gt;Oleh Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;*Dimuat di kolom Wacan Publik, Radar Banten, Sabtu, 13-November-2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah Indonesia yang sedang diselimuti musibah, di balik semaraknya pemberitaan kedatangan Barack Husein Obama dan sesaat lagi akan tiba Hari Raya Idul Adha 1431 H, masyarakat Tangerang Selatan akan menggelar pemungutan suara Pemilukada hari ini.&lt;br /&gt; Dari sekian banyak warga Tangerang Selatan, telah terpilih menjadi kandidat Walikota dan Wakil Walikota yang telah terkukuhkan menjadi empat pasangan kandidat. Sebagaimana dimaklumi, Komisi Pemilihan Umum Kota Tangerang Selatan telah menetapkan empat pasangan calon walikota dan wakil walikota Tangerang Selatan yang akan bertarung dalam pemilihan Walikota Tangerang Selatan ini. Keempat bakal calon itu adalah Airin Rahmi Diany-Benyamin Davnie, Arsid-Andre Taulany, Yayat Sudrajat-Moch Norodom Soekarno dan Rodiyah Najibah-Sulaiman Yasir. &lt;br /&gt;Ibarat laga permainan sepak bola, empat tim inilah yang baru masuk dan dipastikan untuk dipilih. Dari empat kandidat ini pula, nantinya tentu akan ada yang masuk ke babak semi final, final dan menjadi sang juara (the champion). Dan kalau dicermati, para tim sepak bola itu, menarik untuk dicermati dari sekian banyak peserta yang berguguran adalah mereka itu semua menjunjung tinggi nilai sportivitas.&lt;br /&gt;Kajian ini menarik untuk dikupas sekaligus dijadikan bahan analisa dalam laga politik kita yang kian hari kian menunjukkan keberingasannya. Terlebih, maraknya, pilkada di beberapa daerah yang menyisakan banyak persoalan dan persengketaan yang belum terselesaikan. Sehingga, beritanya terus seru dan sayang untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;Kerusuhan yang berbuntut saling menyerang yang dikabarkan terjadi akibat kurang puasnya dengan layanan publik dan tatanan yang berlaku. Belum lagi politik uang (money politics) yang mewabah dan menggejala, yang mengakibatkan mati surinya demokrasi, seolah-olah suara hanya milik orang yang ber-uang.&lt;br /&gt;Dengan meletakkan sportivitas, maka daya tarik dan pikat kepada pemilihnya mestinya akan mencuat. Sekarang bukan zaman lagi dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan semata. Daya pikat dan daya tawar masyarakat mestinya sudah mengacu kepada kekuatan program-program unggulan dari apa yang ditawarkan. Tentunya program yang sesuai dengan pro-rakyat dan lebih mengedepankan pencerdasan masyarakat dibanding program yang hanya membikin ”bodoh” publik.&lt;br /&gt;Analisis ini bisa saja dituangkan oleh para kandidat yang akan berlaga di ranah politik praktis menuju kursi kepemimpinan. Kalau sudah demikian paradigm dan pola pikirnya, harapan mencipyakan pemerintah yang baik (good governance) agar segera terlaksana. Dimulai dari perekrutan sampai kemudian terpilih dengan nilai kualifikasi yang baik dan membanggakan di mata masyarakat. Bukan hanya kebahagiaan ”sesaat” yang dirasahan masyarakat.&lt;br /&gt;Di sinilah peran panwas, KPU, sampai di tingkat KPPS mempunyai iktikad baik dalam menegakkan dan menciptakan pemeritah yang baik. Dalam mewujudkan ini semua memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi paling tidak adanya keinginan yang kuat dari masing-masing pemilih akan menegaakkan cita-cita mulia itu.&lt;br /&gt;Tidak jarang tujuan pragmatis dari oknum yang tidak bertanggung jawab bisa menjungkirbalikkan fakta di masyarakat. Kalupun demikian, dibutuhkan kesadaran yang tinggi untuk menjunjung tinggi nilai demokratisasi, bukan malah memangkas demokrasi demi kepentingan pribadi dan golongan. Maka semboyan jujur dan adil dalam setiap pemilu senantiasa didengung-dengungkan. Reformasi yang telah selama ini diperjuangkan menuntut adanya keterbukaan dalam lini apa pun. Keterbukaan mengeluarkan pendapat, keterbukaan informasi yang pada akhirnya melerai persengketaan menuju kesepahaman.&lt;br /&gt;Harus diakui keragaman suku, bangsa dan agama di Indonesia, terkadang memicu dan memacu perselisihan dan gesekan antar sesama. Namun para pejuang setengah abad yang lalu telah merumuskan bahwa keragaman tapi satu jua (Bhineka Tunggal Ika). Kita harus akui pula, bahwa setiap warga Negara mempunyai kedudukan yang untuk memilih dan dipilih. Tetapi bukan berarti memilih yang asal-asalan. &lt;br /&gt;Memilih juga harus mempunyai seni, dilihat dari kemampuan dan keikhlasan yang dipilih. Begitupun sebaliknya bukan berarti semuanya boleh maju tanpa memiliki kapabilitas di bidangnya, akan tetapi yang berhak dipilih adalah orang-orang pilihan yang memiliki kredibilitas dan skill yang cukup. Maka, dari pemahaman itu, terlahir jiwa-jiwa yang handal, bukan jiwa yang kerdil.&lt;br /&gt;Setelah memenuhi persyaratan di atas, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah wujudkan dan junjung nilai sportivitas . Hal ini penting, ternyata jiwa ksatria dalam berlaga di kancah politik adalah siap kalah dan siap menang. Kalau belum siap kalah, maka tidak usah mencalonkan diri. Sikap inilah yang bisa jadi selama ini menimbulkan pengakhiran yang tidak baik. Sehingga, rusuh di mana-mana, pembakaran karena calonnya tidak masuk verifikasi calon, dan bermacam-macam alasannya, selain karena boleh cerdasnya masyarakat dalam berpolitik. Buktinya mudah tersulut dengan emosi. Yang dikedepankan adalah otot, bukan otak. Demikianlah halnya pendewasaan pola pikir.&lt;br /&gt;Saya kira pembelajaran perpolitikan di negeri kita semakin lama semakin pula baik dan dewasa. Misalnya, belum lama ini sudah digelar debat kandidat yang disiarkan langsung oleh televisi swasta yang bisa pula dilihat dan diakses oleh warga Tangerang Selatan, atau bahkan Indonesia. Sehingga, dari pembelajaran yang baik ini, masyarakat tidak kembali “membeli kucing dalam karung”, akan tetapi masyarakat bisa melihat kualitas kandidat pemimpinnya yang akan dicoblos.&lt;br /&gt;Menyimak secara serius debat kandidat calon Walikota dan wakil walikota Tangerang selatan selasa malam 9 November 2010 kemarin di Metro TV, ada yang menarik dari peryataan para kandidat pemimpin Tangerang Selatan ketika menyampaikan visi dan misinya, hampir semua kandidat mempunyai sikap legowo untuk siap menang dan siap kalah. Nah, sikap ini sebagaimana dicatat sebagai janji kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Sebagaimana di awal telah disinggung bahwa perlagaan Pemilukada laksana perhelatan sepak bola yang setiap timnya akan berguguran, dan pada akhirnya akan menemukan dan terpilih satu tim yang menjadi sang juara. Begitupun dengan pada pemilukada, maka, mau tidak mau harus siap kalah dan siap pula menang. Kalau di awal sudah memiliki tekad demikian, diharapkan tidak ada lagi kisruh sebagai buntut dari Pemilukada.&lt;br /&gt;Rasanya sudah saatnya, setiap pemilukada di mana dan kapanpun lebih mengedepankan Pemilu yang aman, tanpa di akhiri dengan kisruh. Kalaupun ada masalah, maka salurkanlah melalui aturan UU yang telah berlaku. Para kandidat diharapkan dapat dan mampu meredam amarah sesaat para pendukungnya. Nah, aman atau tidaknya Pemilukada, tergantung pada masyarakat dan kandidatnya.&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, tujuan akhir dari sebuah perlagaan adalah diawali dengan yang baik, maka diharapkan peng-akhirannyapun dengan baik pula. Demikian tatakrama dalam berbangsa dan bernegara. Pendek kata, sportivitas ini diperlukan dalam hal apa pun. Dalam berpolitik, dalam berkarir, berkarya, dan lain-lain. Tanpa sportivitas, maka akan terjadi sikut-sikutan. Karena sudah tidak ada teposaliro. Pemimpin kedepan butuh pemimpin yang menjunjung tinggi sportivitas, salah dibilang salah, benar dibilang benar, kalah menjunjung tinggi yang menang, dan yang menang merangkul yang kalah.&lt;br /&gt;Kita berharap semua sebagai warga Tangerang Selatan khususnya, dan warga Banten pada umumnya, semoga pemilukada Tangsel berjalan dengan aman dan lancar tanpa kendala apa pun. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said &lt;br /&gt;Kandidat Doktor UIN Jakarta dan Dosen IAIN Raden Intan Lampung, Tinggal di Komplek Dosen UIN, Ciputat Timur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-977755570837742650?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=60170' title='Pemilukada, Harapan Baru Warga Tangsel'/><link rel='enclosure' type='' href='http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=60170' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/977755570837742650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=977755570837742650' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/977755570837742650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/977755570837742650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/11/pemilukada-harapan-baru-warga-tangsel.html' title='Pemilukada, Harapan Baru Warga Tangsel'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-2709739416403804266</id><published>2010-11-06T02:48:00.000-07:00</published><updated>2010-11-06T02:48:39.012-07:00</updated><title type='text'>Menakar Musibah di Indonesia</title><content type='html'>Menakar Musibah di Indonesia&lt;br /&gt;Oleh Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Wacana Publik, Radar Banten, Sabtu, 06-November-2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dewasa ini, kita sungguh prihatin menyaksikan bagaimana musibah beruntun terjadi di Indonesia, negeri berpenduduk muslim terpadat di dunia.&lt;br /&gt;Tercatat dari tahun 2007 terjadi beberapa bencana besar, misalnya Kapal Senopati karam di Perairan Mandalika, Jawa Tengah, kecelakaan pesawat Adam Air KL 574. Musibahnya ini mulai dari bulan Desember 2006 sampai dengan bulan Januari 2007. &lt;br /&gt;Bisa disebut juga sebagai pembuka tahun 2007, dimulai dengan berita hilangnya pesawat Adam Air di sekitar daerah Sulawesi. Kecelakaan Kapal Levina. Kapal Motor Levina terbakar di perairan kepulauan Seribu, Jakarta, sekitar 200 orang lebih dapat diselamatkan. 15 orang diperkirakan meninggal, dan 20 orang lebih menghilang. &lt;br /&gt;Gempa skala 5,8 di Sumatera Barat. Gempa di Sumatera Barat, Padang ini terjadi pada pagi hari, dengan kekuatan 5,8 SR. Gempa ini merenggut 79 korban jiwa. Gempa ini membuat beberapa tempat umum terganggu aktivitasnya, bahkan bangunan -bangunan pun rusak. Gempa ini juga terasa di negara tetangga kita, yaitu Singapura dan Malaysia. &lt;br /&gt;Belum lagi misalnya mengutip pendapat Kementerian ESDM. ”Catatan kita ada 18 gunung yang berstatus waspada, 2 siaga dan 1 berstatus awas,” kata Kepala Sub-Bidang Pengamatan Gunung Berapi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM,) Agus Budianto.&lt;br /&gt;18 Gunung yang berstatus waspada itu adalah: Gunung Sinabung (Karo, Sumut), Gunung Talang (Solok, Sumbar), Gunung Kaba (Bengkulu), Gunung Kerinci (Jambi), Gunung Anak Krakatau (Lampung), Gunung Papandayan (Garut, Jabar), Gunung Slamet (Jateng), Gunung Bromo (Jatim), Gunung Semeru (Lumajang, Jatim), Gunung Batur (Bali), Gunung Rinjani (Lombok, NTB), Gunung Sangeang Api (Bima, NTB), Gunung Rokatenda (Flores, NTT), Gunung Egon (Sikka, NTT), Gunung Soputan (Minahasa Selatan, Sulut), Gunung Lokon (Tomohon, Sulut), Gunung Gamalama (Ternate, Maluku Utara), Gunung Dukono (Halmahera Utara, Maluku Utara). &lt;br /&gt;Sedangkan 2 Gunung yang berstatus siaga adalah : Gunung Karangetang (Sulut), Gunung Ibu (Halmahera Barat, Maluku Utara) dan 1 Gunung bersatus awas yakni Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta.&lt;br /&gt;Belum selesai mengurus musibah, dua kecelakaan kereta api sekaligus di awal Oktober, tiba-tiba muncul banjir bandang di Wasior, Irian. Kemudian gempa berkekuatan 7,2 skala richter diikuti tsunami hebat di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. &lt;br /&gt;Dari analisa US Geological Survey dan juga BMKG, sebagaimana Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam, Andi Arief, dalam rilisnya, Rabu (27/10/2010). “Gempa ini disebabkan oleh pergerakan patahan pada Sunda megathrust, yaitu pada bidang batas tumbukan Lempeng Hindia-Australia terhadap Lempeng Sunda.” &lt;br /&gt;Pada 15 Oktober 2009, Direktur EOS, Prof Dr Kerry Sieh menyatakan, gempa bumi kolosal (sangat besar) diperkirakan akan menghantam Pulau Sumatera dalam waktu 30 tahun ke depan. Ahli ilmu bumi memperingatkan bahwa tsunami besar dan gempa bumi mematikan yang terjadi sebelumnya merupakan suatu peringatan. ”Kami memperkirakan akan terjadi dengan kekuatan 8,8 SR, kurang atau lebihnya sekitar 0,1 poin,” ujarnya. &lt;br /&gt;Belakangan ini media berusaha membangun opini masyarakat bahwa perilaku salah seorang yang telah menjadi korban tewas di saat meletusnya Gunung Merapi merupakan tokoh yang patut diteladani. Dialah sang “juru kunci” Gunung Merapi. Ia patut diteladani karena kegigihannya menjalankan tugas sebagai kuncen Gunung Merapi hingga saat terakhir sehingga rela mengorbankan nyawanya demi menjalankan tugas tersebut. &lt;br /&gt;Menyikapi musibah beruntun yang menimpa bangsa, kita niscaya mengedepankan kearifan dan kekritisan. Alam memberikan pelajaran kepada kita untuk tidak bersikap angkuh baik terhadap alam maupun kepada sesama, apalagi kepada Tuhan. Terbukti, di hadapan alam manusia nyaris tidak berdaya. Manusia dengan segala atribut yang disandangnya tidak berkuasa menolak sunnatullah, hukum alam. &lt;br /&gt;Kita perlu sepakat, bencana adalah bencana, yang dapat menimpa siapa saja dan kelompok apa pun. Karena itu komunikasi yang setara, solidaritas dan kerjasama adalah dari dan untuk siapa saja, tanpa harus memilahnya dengan atau untuk kelompok ini atau umat agama tertentu, termasuk juga dengan alam. Oleh karena bencana bagian dari kehidupan, sikap dan pola semacam itu pula yang perlu kita tumbuh-kembangkan dalam menyikapi kehidupan saat ini dan seterusnya. &lt;br /&gt;Sebagai orang yang percaya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, tetap memandang apapun gejala alam ini dengan kacamata syari’ah. Sebab apapun yang terjadi tidak luput dari kehendak Allah SWT. &lt;br /&gt;Salah satu doa yang Nabi Muhammad ajarkan kepada kita ialah sebuah doa panjang yang di dalamnya menyebutkan persoalan musibah. Dan sangat menarik untuk dicatat bahwa ternyata jenis musibah yang Nabi Muhammad shollalahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan Allah dalam menghadapinya ialah musibah yang menyangkut urusan dien (agama). “Dan janganlah Engkau (Ya Allah) jadikan musibah kami pada agama kami”. (HR. Tirmidzi). &lt;br /&gt;Sungguh, hidup di negeri Indonesia dewasa ini kita sangat perlu mencamkan pesan Allah berikut ini: Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raf [7] : 99). &lt;br /&gt;Allah mengajarkan kepada kita bahwa perilaku alam sangat berkaitan dengan perilaku kumpulan manusia yang tinggal di lingkungan alam tersebut. Bila masyarakatnya baik di mata Allah, yakni beriman dan bertaqwa, maka Allah akan limpahkan banyak keberkahan kepada masyarakat tersebut dari langit maupun bumi. Tapi sebaliknya, bila mereka mendustakan ayat-ayat Allah, maka Allah akan timpakan hukumanNya kepada mereka melalui beragam bencana yang bisa datang di waktu siang maupun malam hari. &lt;br /&gt;Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? (QS. Al-A’raf [7] : 96-98). &lt;br /&gt;Dalam dimensi lain, Allah mengingatkan dengan firman-Nya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3). &lt;br /&gt;Dalam perspektif itu kita juga perlu memaknai bencana alam sebagai petanda tentang urgensi melakukan komunikasi yang lebih intens, berkelanjutan dan bersahabat dengan alam, Tuhan dan sesama. Pengembangan komunikasi yang dilandasai dengan kerendahatian dan kesabaran akan mengantarkan bangsa untuk memahami karakteristik kehidupan yang tidak dapat dilepaskan dari keragaman dan perbedaan, sekaligus harmonisasi antara unsur yang saling berbeda tersebut akan berkembang subur. &lt;br /&gt;Sejalan dengan itu, bangsa ini akan lebih bersahabat dengan alam, sehingga bencana alam akibat ulah manusia dapat ditekan seminim mungkin. Demikian pula kita akan lebih memahami dan menghormasti atas sesama –terlepas dari perbedaan yang ada –yang dapat memberikan peluang besar untuk membangun solidaritas sosial yang lebih langgeng dan kerjasama antar-sesama yang lebih kokoh dan lestari. (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said &lt;br /&gt;Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-2709739416403804266?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=59976' title='Menakar Musibah di Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/2709739416403804266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=2709739416403804266' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2709739416403804266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2709739416403804266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/11/menakar-musibah-di-indonesia.html' title='Menakar Musibah di Indonesia'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-7155592843929008663</id><published>2010-11-06T02:37:00.000-07:00</published><updated>2010-11-06T02:37:53.941-07:00</updated><title type='text'>Musibah dan Kepekaan Sosial</title><content type='html'>Musibah dan Kepekaan Sosial&lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Dosen Syariah IAIN Lampung, kandidat doktor UIN Jakarta&lt;br /&gt;Opini, Lampung Post, Sabtu, 6 Nov 2010&lt;br /&gt;Beberapa tahun belakangan ini, Indonesia diguyur musibah beruntun yang tak henti-hentinya. Bencana besar kembali datang menegur bangsa. Dimulai sejak tsunami Desember 2004 lalu yang menghantam Aceh, nyaris setiap tahun Indonesia mengalami bencana alam. Pada 2010 ini kembali banjir bandang menimpa Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, dengan korban jiwa 100 orang lebih.&lt;br /&gt;Beberapa pekan terakhir, tidak henti-hentinya berita tentang musibah dan bencana dalam skala besar, mulai dari banjir bah di Wasior, Gunung Merapi meletus, gempa dan tsunami di Mentawai dan tampaknya bencana seperti ini tidak ada henti-hentinya.&lt;br /&gt;Ini semakin membuktikan ada yang salah dengan bangsa ini, jujur rakyat sudah begitu penat melihat dagelan atau panggung sandiwara para elite politik. Sepertinya, inilah para elite politik terburuk yang pernah ada di Indonesia, ya mereka ternyata sudah buta dan peka terhadap apa yang menjadi keinginan masyarakat serta dalam mengayominya.&lt;br /&gt;Sebagian besar masyarakat kita berduka atas semua kejadian yang terus-terusan beruntun menimpa kita, entah apa yang salah. Di saat kita mulai berbenah atas kejadian sebelumnya ternyata Tuhan sudah memperingatkan kita kembali dengan musibah lainnya.&lt;br /&gt;Pelajaran itu sangat signifikan untuk diangkat karena fenomena yang menggejala akhir-akhir ini memperlihatkan kecenderungan menguatnya sikap arogan dan egois pada beberapa elemen bangsa. Mereka terjebak ke dalam keangkuhan untuk menundukkan orang dan kelompok lain di bawah keinginan dan kepentingan kita sendiri. Dalam bingkai itu, mereka menentukan kebenaran dan kebatilan berdasarkan kriteria subjektivitas yang mereka bangun.&lt;br /&gt;Wajar dan bersyukurlah kita melihat begitu banyaknya pihak yang bersegera mengulurkan tangan dengan memberikan aneka bentuk bantuan. Dan sudah barang tentu bantuan yang paling minim tetapi sekaligus paling bermakna ialah bantuan doa.&lt;br /&gt;Dari bencana kita harus belajar banyak. Selain belajar bersabar, tidak bersikap angkuh dan mengedepankan keberingasan, serta mementingkan diri dan kelompok sendiri, kita dituntut membangun solidaritas sosial yang kokoh. Kekerasan—dilihat dari perspektif mana pun tidak akan pernah menyelesaikan persoalan karena ia bagian dari persoalan.&lt;br /&gt;Sekilas melongok dogma agama, ada yang bisa dipetik dari berbagai kejadian yang selama ini menimpa. Pertama, menjadi ujian kesabaran seorang mukmin karena di saat musibah datang terlihat sekali sikap seorang hamba yang sebenarnya, apakah berbaik sangka atau justru sebaliknya berburuk sangka atau bahkan menyalahkan dan mencaci maki Allah swt. (baca: Q.S. Al Baqarah: 214).&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis Shahihain dikatakan: "Tidak beriman seseorang di antara kamu, sebelum mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (H.R. Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;Musibah yang kian terus terjadi, justru diharapkan dapat meningkatkan gravitasi langit sekaligus mengurangi gravitasi bumi. Pada gilirannya orang yang merasakan maupun yang menyaksikannya dilatih menumbuhkan sikap empati terhadap penderitaan orang lain, sehingga lahirlah sikap kedermawanan dalam dirinya, karena ia menyadari bahwa dalam harta yang dimilikinya, ada hak fakir miskin dan orang-orang lain yang wajib dikeluarkan.&lt;br /&gt;Kedua, masyarakat kita dituntut memiliki kepekaan dan rasa tanggung jawab sosial di mana pun berada. Kepedulian sosial tersebut penting diwujudkan sebagai bentuk pengabdian terhadap umat. Sejatinya, kepekaan sosial itulah intisari perubahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat kita menyaksikan saudara yang lain tertimpa musibah.&lt;br /&gt;Dengan kepekaan sosial, kita akan mampu menyumbang sebagai agen perubahan. Peka berarti tanggap atas kebutuhan masyarakat. Dengan kepekaan sosial, masyarakat mampu menciptakan strategi perubahan sebagai jawaban atas perubahan masyarakat. Bagaimana pun anak bangsa dituntut untuk ikut andil mengatasinya.&lt;br /&gt;Maka, dalam kondisi sekarang yang paling penting diingatkan kepada siapa pun, terlebih khusus korban bencana, ialah agar bersabar menghadapi musibah kehilangan berbagai harta dunia sambil mengokohkan iman dan takwa mereka. Sebab, iman dan takwa merupakan harta utama yang tidak boleh sampai lepas betapa pun telah lepasnya berbagai harta dunia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-7155592843929008663?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/7155592843929008663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=7155592843929008663' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7155592843929008663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7155592843929008663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/11/musibah-dan-kepekaan-sosial.html' title='Musibah dan Kepekaan Sosial'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-4884215445545523455</id><published>2010-11-06T02:29:00.001-07:00</published><updated>2010-11-06T02:29:28.145-07:00</updated><title type='text'>Quo Vadis Pilkada Tangsel?</title><content type='html'>Quo Vadis Pilkada Tangsel?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Hasani Ahmad said&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Tulisan ini dimuat di kolom Opini Radar Banten, Selasa, 19-Oktober-2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak lama lagi Pemlukada Kota Tangerang Selatan akan digelar. Perhelatan akbar itu akan digelar serentak di beberapa kecamatan yang ada si bawah wilayah Tangsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah simbol yang sifatnya seremonial akan tetapi dampaknya sangat berpengaruh terhadap lancarnya roda pemerintahan, dan tentunya akan menentukan arah ke mana warga Tangsel dibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, Pemilukada menjadai barometer terhadap kesejahteraan rakyat daerah 5 tahun mendatang. Banyak pengamat mengutarakan opini dan gagasannya baik melalui media cetak maupun dalam ceramahnya. Namun demikian, masih sangat sedikit untuk mengatakan tidak ada penulis maupun pengamat yang mengantar prospek pemimpin ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya, memberikan sumbangan pemikiran yang mengarah kepada menjadikan Kota Tangasel madani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana tugas KPU, Panwas, PPK mengantar Pemilukada aman? Ada dua jawaban yang saya akan angkat di tulisan ini. Pertama, secara de facto dan de jure tugas mereka tinggal menghitung hari akan segera ditunaikan. Kedua, tugas yang paling mahaberat sesungguhnya adalah bagaimana pemimpin terpilih bisa amanah menjalankan kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak kalah pentingnya adalah pertanyaan mendasar adalah mampukah membawa kesejahteraan masyarakat dalam 5 tahun yang akan datang sesuai dengan amanat undang-undang yang mensejahterakan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratn Keadilan, dan pada pamungkasnya adalah Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika belum mampu menjawab pertanyaan ini semua, lebih baik instropeksi diri untuk menjadi pemimpin ke depan. Pemimpin terpilih bukan hanya berhenti pada janji politiknya saja, tetapi yang lebih penting dari itu adalah aplikasi program yang telah dikampanyekan. Kalau sudah demikian adanya, maka akan lahir pemimpin seperti kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pemilih, jika “jagoan” yang dipilihnya terpilih menjadi pemimpin. Akan tetapi pertanyaannya kemudian adalah apakah tokoh yang dipilih sudah mewakili suara rakyat? Sudahkah sesuai dengan aspirasi dan hati nurani kita? Bukan karena “kenikmataan sesaat”, suara yang mestinya menjadi keterwakilan aspirasi kita dalam hitungan detik tergadaikan? Ada sebuah ibarat bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Ingat, jangan bohongi hati nurani. Siapakah calon pemimpin yang amanah? Siapakah calon pemimpin yang mengedepankan kepentingan rakyat? Siapakah pemimpin yang ketika menjabat kelak bukan politik “balas budi” atau yang hanya dipikirkan bagaimana mengembalikan modal kampanye? Jawaban semua ini terletak pada hati nurani. Maka, satukan gerak dan langkah perbuatan sesuai dengan batin nurani kita. Pertanyaan ini hendaknya telah pandani dijawab oleh kandidat yang terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini dan kedepan sudah semestinya yang hanya kita pikirkan adalah bagaimana mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance), bukan hanya diwacanakan tetapi saatnya diaplikasikan bersama. Pemerintahan yang baik (good governance) tidak akan terwujud dengan sempurna tanpa sumber daya manusia (SDM) yang memadai, kemudian diimbangi oleh menjunjung tinggi nilai kejujuran. Kejadian yang negatif dikabarkan di beberapa media cetak maupun elektronik selama ini terjadi akibat setiap orang merasa paling benar akibat ketidakjujuran dan matinya hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilustrasikan permainan bola, maka, jadilah pemain dan penonton yang baik, boleh mendukung kepada salah satu peserta, ketika terjadi gol, maka boleh bersorak sorak merayakan kemenangan saat terjadi pertandingan itu, tetapi di hari berikutnya sudah lupa lagi dengan masuknya peserta turnamen yang lain. Rasanya begitupun dengan Pemilukada yang telah kita laksanakan, yang kalah mestinya legowo menerima kekalahannya dan penuh kesatria menyampaikan ucapan selamat bahkan menyalami kepada peserta pemenang, begitupun peserta yang menang tidak serta merta sombong dan lupa diri dengan kemenangannya, yang harus diingat adalah kemenangannya adalah kemenangan rakyat, dan kemenangan dia adalah kemenangan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat Rakyat: Quo Vadis Pemilukada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak muluk-muluk permintaan rakyat hanya pada nilai normatifitas. Misalnya dipermudah pengurusan bikin KTP, dan mengurus surat-surat yang lain, akses jalan bagus, masyarakat pinggiran dan miskin terperhatikan, biaya pendidikan murah bahkan kalau bisa gratis, mudah cari kerja, dan lain-lain. Dalam pengamatan saya, sudah terjadi peralihan paradigma masyarakat, dari masyarakat yang berfikir praktis misalnya asal ada duit, maka saya akan pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ranah ini, masyarakat sudah mulai bosan dengan janji-janji palsu dari para kandidat, kandidat yang bermodal tampang, ternyata dalam pengamatan saya, paradigma yang tidak baik sedikit demi sedikit mulai terkikis dengan realita di masyarakat dan dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Meskipun pengamatan ini tidak selamanya benar. Bagaimanapun kecerdasan lebih dipentingkan dibanding dengan program yang muluk-muluk tanpa dibarengi dengan sumber daya manusia yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini masyarakat mulai “melek” terhadap dampak ketidaknyamanan mereka terhadap realitas yang menimpanya selama ini. Belajar dari pengalaman semuanya akan menjadi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kuncinya adalah pada pucuk pimpinan yang seantiasa mendengar keluh kesah warganya. Kalau sudah demikian, maka tidak mustahil pemerintah sekarang dan akan datang akan segera mewujudkan masyarakat yang reigius, amanah, mensejahterakan rakyat, berbuat demi kepentingan rakyat. Hal ini gambaran masyarakat madani (civil society). (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Hasani Ahmad Said, Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen Fakultas Syariah IAIN Lampung. Tinggal di Pabean, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-4884215445545523455?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/4884215445545523455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=4884215445545523455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/4884215445545523455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/4884215445545523455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/11/quo-vadis-pilkada-tangsel.html' title='Quo Vadis Pilkada Tangsel?'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-6562661358702523778</id><published>2010-10-27T17:20:00.000-07:00</published><updated>2010-10-27T17:20:02.231-07:00</updated><title type='text'>MENYOAL KETAHANAN PANGAN</title><content type='html'>MENYOAL KETAHANAN PANGAN &lt;br /&gt;Oleh: Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;(Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Pengajar Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Lampung)&lt;br /&gt;*Tulisan ini dimuat di Koran Banten Raya Post (Baraya Post), Jum’at, 22 Oktober 2010&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Slogan “One day no rice” (satu hari tanpa nasi) yang diusung pemerintah, seolah meneguhkan sekaligus memberi “Lampu kuning” yang menginformasikan  bahwa beberapa tahun ke depan, Indonesia akan kehabisan stok pangannya. Dan bisa jadi, tidak banyak yang tahu, bahwa tanggal 16 Oktober adalah Hari Pangan Dunia. &lt;br /&gt;Telisik tulisan ini akan menyorot bagaimana Indonesia yang nota bene manganut Negara agraris, kini, “termangsa” oleh kejamnya “Tangan-tangan” manusia, yang menggunduli hutan, pembalakan liar, bahkan merampas hak para petani. Sejatinya petani sejahtera, rakyat makan beras sendiri bukan impor. Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi di beberap daerah, tanah yang dulu tumbuh subur, kini telah berganti dengan bangunan pencakar langit, mall, swalayan dan lain-lain. Sehingga posisi petani kian termakan zaman oleh kebijakan pejabat yang “Menggendutkan” sepihak. &lt;br /&gt;Kalaupun masih ada sawah dan ladang, bisa dipastikan hasil panennya tidak sesuai dengan ongkosnya, seperti yang terjadi di perkampungan, tepatnya di Kelurahan Pabean, kelahiran penulis. Hal ini tentu ironis, bahkan sangat menyedihkan ditengah para “Penghisap” uang para petani dengan mega proyek pebrik yang siap menggerus bahkan secara perlahan “Mem-PHK/Pensiunkan” para petani di wilayahnya sendiri.&lt;br /&gt;Ungkapan RA. Kartini “Habis gelap terbitlah terang”, seolah tidak berlaku lagi bagi Negara tercinta ini, bahkan malah terbalik menjadi “Habis terang terbitlah gelap”. Ironis, Negara yang dikenal dulu dengan ketahan pangan, di karuniai keberkahan sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah, bahkan ada ungkapan indah “Tongkat saja bisa jadi ditanaman”. &lt;br /&gt;Dalam Buku World In Figure, 2003, Penerbit The Economist, seperti yang dikutip PPT Migas menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah Negara terluas no 15 didunia, berpenduduk terbanyak nomor empat di dunia, penghasil biji-bijian terbesar nomor enam, penghasil teh terbesar nomor enam, penghasil kopi nomor empat, penghasil cokelat nomor tiga, penghasil minyak sawit (cpo) nomor dua, penghasil natural gas nomor enam, lng nomor satu, penghasil lada putih nomor satu. lada hitam nomor dua, penghasil puli dari buah pala nomor satu, penghasil karet alam nomor dua,karet sintetik nomor empat, penghasil kayu lapis nomor satu, penghasil ikan nomor enam, penghasil timah nomor dua, penghasil batu bara nomor sembilan, penghasil tembaga nomor tiga, penghasil minyak bumi nomor sebelas, dan juga termasuk 10 besar negara penghasil SDA di dunia yang memiliki 325.350 jenis flora &amp; fauna.&lt;br /&gt; Analisa ini memungkinkan untuk dijadikan pengambilan kebijakan untuk selanjutnya. Bukan malah mempolitisasi untuk menenangkan masyarakat bawah sejenak agar tidak terjadi gejolak sesaat. Dan hasilnya memang cukup efektif, lepas dari sorotan para pengkritik pemerintah. Namun mestinya tidak demikian, kontrol terhadap kebijakan pemerintah juga perlu untuk melihat lajunya kepemimpinan saat ini agar pengambilan kebijakan tepat waktu dan sasaran. Selama ini, income masyarakat jauh di atas negara-negara lain, bahkan negara tetangga sekalipun, akan tetapi kebijakannya ingin memosisikan dan mensejajarkan dengan negara lain. &lt;br /&gt;Para intelektual sering mengungkapkan, seandainya pengelolaan sumber daya alam di Indonesia ini dilakukan secara baik dan benar, maka mestinya tidak akan ada berita kekurangan pasokan listrik, dan berita lain yang mengkerdilkan negaranya sendiri. Para ahli mestinya saling bahu membahu dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat dari SDA yang dimiliki, bukan malah mengekploitasi alam.  Sungguhpun demikian keadaannya, sejatinya harus adanya kesadaran dari masing-masing pribadi sebagai warga Negara untuk menjaga dan meningkatkan kualitas serta memikirkan bangsa ke depan sampai anak cucu generasi penerus selanjutnya.&lt;br /&gt; Akan tetapi pertanyaannya kemudian, mengapa Negara yang dikenal dengan slogan “Gemah ripah loh jinawi” menjadi Negara yang tidak atau belum mampu mengoptimalkan SDA yang dibarengi dengan SDM yang baik? Ada yang salahkah? Jawabannya tentu ada dalam benak masing-masing hati kita. Memang tidak mudah laksana mudahnya membalikkan telapak tangan, tentunya perlu ada keseriusan dari masing-masing insane bangsa, selain tidak bisa ditawar-tawar lagi keinginan kuat atas kebijakan pemerintah dari level bawah sampai presiden.   &lt;br /&gt; Kita saksikan kabar terbaru beberapa hari ini, baik dimedia masa, elektronik, maupun cetak ramai diberitakan bahwa kebutuhan pokok harganya kian melambung bahkan mencekik masyarakat bawah, sehingga seolah tidak ada artinya uang 50.000. Padahal, untuk mendapatkan uang sebanyak itu rakyat kecil harus banting tulang. Ini artinya “Besar pasak daripada tiangnya”. Tidak adakah sikap mental yang tidak membebani masyarakat lagi? Tidak adakah upaya pengelolaan SDA yang melimpah ruah yang terhampar di hampir di setiap daerah? Yang kita saksikan justru pengekploitasi SDA yang dilakukan oleh anak bangsa sendiri, yang lebih menyedihkan sekaligus memilukan hampir pengerukan SDA baik nikel, tambang, timah, emas, minyak bumi, dilakukan oleh Negara raksasa dan adi daya, Negara hanya pengekor yang hanya menerima “uang bersih” sebagai uang upeti “membantu” pengelolaan sekaligus “pengeboran “ yang membabi buta.&lt;br /&gt; Disadari atau tidak imbas beratnya harga itu, tentu akan semakin memusingkan para pelaku pasar tradisional, kususnya Usaha Kecil Menengah. Pada gilirannya, yang dikhawatirkan adalah pengurangan hasil produksi dan lebih dari itu, pada gilirannya akan ada PHK yang akan menambah lagi pengangguran. Walaupun belum sampai pada dampak yang signifikan, kejadian itu bisa saja akan terjadi pada ranah paling gawat bagi pelaku usaha kecil menengah. Kekhawatiran ini sesuatu hal yang wajar, bagaimana tidak, hal yang tidak pernah dialami oleh para pengambil kebijakan atau dalam hal ini pemerintah pusat pemegang kebijakan. &lt;br /&gt;Hal yang menarik dari beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan anggota DPR RI dan menteri terjun langsung ke pasar tradisional yang memulai dialog dan melakukan sidak langsung ke pasar induk Jakarta. Mestinya, hal ini tidak hanya dalam waktu tertentu atau sesaat saja, tapi bisa dirancang berkelanjutan. Karena dengan begitu pemerintah langsung menyaksikan bagaimana jeritan dan penderitaan rakyat bawah.&lt;br /&gt; Pertanyaan besarnya kemudian mengapa negara kaya raya rakyatnya miskin, tertinggal dan terpuruk? Memang tidak saatnya lagi mencari kesalahan, atau siapa yang salah? Kesadaranlah yang akan mampu membangkitkan kembali nilai kebangsaan yang dulu sudah dibangun baik oleh para pejuang pendahulu kita. Ternyata tidak semudah yang kita bayangkan, menukar kemerdekaan yang pernah dikuasai dan terkungkung dalam kuasa Belanda dan Jepang. Ada pengorbanan dari insan Indonesia yang menginginkan dan merindukan kemerdekaan. Bentuk harta, bahkan nyawa siap mereka pertaruhkan kemerdekaan bangsa yang berdaulat tanpa penindasan dari bangsa lain.&lt;br /&gt; Masyarakat dulu terjajah telah mengamanatkan kepada generasi penerusnya untuk senantiasa mengisi kemerdekaan yang bertujuan mensejahterakan rakyat. Separuh abad sudah Negara berjalan, dari mulai terseok-seok, terjajah, Negara disegani, sampai detik hari ini yang kian hari kian terpuruk. Rupanya makna kemerdekaan yang di peringati belum mampu disaring dan diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini bukan pesimistis, tetapi lebih kepada mengingatkan akan makna kemerdekaan bangsa, membuka mata, mengurai tabir, menuju pencerdasan baik secara konseptual maupun tatanan aplikasi.&lt;br /&gt;Bukan hal yang kebetulan, tetapi memiliki nilai dan symbol yang kuat untuk mengenang sekaligus menjalankan amanat kemerdekaan. Tidak ada kata terlambat, untuk memperbaiki bangsa ini. Mulailah dari diri, keluarga, sampai kemudian sampai pada tataran tertinggi. Tancapkan kembali nilai patriotisme. Semoga kembali akan menggapai “Habis terang kemudian tambah terang”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; *Penulis adalah Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Dosen Tetap IAIN Raden Intan, Lampung. Tinggal di Pabean, Purwakarta, Cilegon Banten. No. rekening Bank Muamalat 921 4414599 / Bank BCA 6090204376 a.n. Hasani Ahmad&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-6562661358702523778?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/6562661358702523778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=6562661358702523778' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6562661358702523778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6562661358702523778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/10/menyoal-ketahanan-pangan.html' title='MENYOAL KETAHANAN PANGAN'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-8073007212195527456</id><published>2010-10-27T15:53:00.001-07:00</published><updated>2010-10-27T15:53:52.304-07:00</updated><title type='text'>Quo Vadis Pilkada Tangsel?</title><content type='html'>Quo Vadis Pilkada Tangsel?&lt;br /&gt;Oleh Hasani Ahmad said&lt;br /&gt;*Tulisan ini dimuat di kolom Opini Radar Banten, Selasa, 19-Oktober-2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama lagi Pemlukada Kota Tangerang Selatan akan digelar. Perhelatan akbar itu akan digelar serentak di beberapa kecamatan yang ada si bawah wilayah Tangsel. &lt;br /&gt;Sebuah simbol yang sifatnya seremonial akan tetapi dampaknya sangat berpengaruh terhadap lancarnya roda pemerintahan, dan tentunya akan menentukan arah ke mana warga Tangsel dibawa.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, Pemilukada menjadai barometer terhadap kesejahteraan rakyat daerah 5 tahun mendatang. Banyak pengamat mengutarakan opini dan gagasannya baik melalui media cetak maupun dalam ceramahnya. Namun demikian, masih sangat sedikit untuk mengatakan tidak ada penulis maupun pengamat yang mengantar prospek pemimpin ke depan. &lt;br /&gt;Termasuk di dalamnya, memberikan sumbangan pemikiran yang mengarah kepada menjadikan Kota Tangasel madani.&lt;br /&gt;Persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana tugas KPU, Panwas, PPK mengantar Pemilukada aman? Ada dua jawaban yang saya akan angkat di tulisan ini. Pertama, secara de facto dan de jure tugas mereka tinggal menghitung hari akan segera ditunaikan. Kedua, tugas yang paling mahaberat sesungguhnya adalah bagaimana pemimpin terpilih bisa amanah menjalankan kepemimpinannya.&lt;br /&gt;Dan tidak kalah pentingnya adalah pertanyaan mendasar adalah mampukah membawa kesejahteraan masyarakat dalam 5 tahun yang akan datang sesuai dengan amanat undang-undang yang mensejahterakan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratn Keadilan, dan pada pamungkasnya adalah Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. &lt;br /&gt;Maka, ketika belum mampu menjawab pertanyaan ini semua, lebih baik instropeksi diri untuk menjadi pemimpin ke depan. Pemimpin terpilih bukan hanya berhenti pada janji politiknya saja, tetapi yang lebih penting dari itu adalah aplikasi program yang telah dikampanyekan. Kalau sudah demikian adanya, maka akan lahir pemimpin seperti kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. &lt;br /&gt;Kemenangan Rakyat&lt;br /&gt;Menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pemilih, jika “jagoan” yang dipilihnya terpilih menjadi pemimpin. Akan tetapi pertanyaannya kemudian adalah apakah tokoh yang dipilih sudah mewakili suara rakyat? Sudahkah sesuai dengan aspirasi dan hati nurani kita? Bukan karena “kenikmataan sesaat”, suara yang mestinya menjadi keterwakilan aspirasi kita dalam hitungan detik tergadaikan? &lt;br /&gt;Ada sebuah ibarat bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Ingat, jangan bohongi hati nurani. Siapakah calon pemimpin yang amanah? Siapakah calon pemimpin yang mengedepankan kepentingan rakyat? Siapakah pemimpin yang ketika menjabat kelak bukan politik “balas budi” atau yang hanya dipikirkan bagaimana mengembalikan modal kampanye? Jawaban semua ini terletak pada hati nurani. Maka, satukan gerak dan langkah perbuatan sesuai dengan batin nurani kita. Pertanyaan ini hendaknya telah pandani dijawab oleh kandidat yang terpilih.&lt;br /&gt;Saat ini dan kedepan sudah semestinya yang hanya kita pikirkan adalah bagaimana mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance), bukan hanya diwacanakan tetapi saatnya diaplikasikan bersama. Pemerintahan yang baik (good governance) tidak akan terwujud dengan sempurna tanpa sumber daya manusia (SDM) yang memadai, kemudian diimbangi oleh menjunjung tinggi nilai kejujuran. Kejadian yang negatif dikabarkan di beberapa media cetak maupun elektronik selama ini terjadi akibat setiap orang merasa paling benar akibat ketidakjujuran dan matinya hati nurani. &lt;br /&gt;Kalau dilustrasikan permainan bola, maka, jadilah pemain dan penonton yang baik, boleh mendukung kepada salah satu peserta, ketika terjadi gol, maka boleh bersorak sorak merayakan kemenangan saat terjadi pertandingan itu, tetapi di hari berikutnya sudah lupa lagi dengan masuknya peserta turnamen yang lain. &lt;br /&gt;Rasanya begitupun dengan Pemilukada yang telah kita laksanakan, yang kalah mestinya legowo menerima kekalahannya dan penuh kesatria menyampaikan ucapan selamat bahkan menyalami kepada peserta pemenang, begitupun peserta yang menang tidak serta merta sombong dan lupa diri dengan kemenangannya, yang harus diingat adalah kemenangannya adalah kemenangan rakyat, dan kemenangan dia adalah kemenangan bersama. &lt;br /&gt;Amanat Rakyat: Quo Vadis Pemilukada&lt;br /&gt;Tidak muluk-muluk permintaan rakyat hanya pada nilai normatifitas. Misalnya dipermudah pengurusan bikin KTP, dan mengurus surat-surat yang lain, akses jalan bagus, masyarakat pinggiran dan miskin terperhatikan, biaya pendidikan murah bahkan kalau bisa gratis, mudah cari kerja, dan lain-lain. Dalam pengamatan saya, sudah terjadi peralihan paradigma masyarakat, dari masyarakat yang berfikir praktis misalnya asal ada duit, maka saya akan pilih.&lt;br /&gt;Pada ranah ini, masyarakat sudah mulai bosan dengan janji-janji palsu dari para kandidat, kandidat yang bermodal tampang, ternyata dalam pengamatan saya, paradigma yang tidak baik sedikit demi sedikit mulai terkikis dengan realita di masyarakat dan dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Meskipun pengamatan ini tidak selamanya benar. Bagaimanapun kecerdasan lebih dipentingkan dibanding dengan program yang muluk-muluk tanpa dibarengi dengan sumber daya manusia yang memadai.&lt;br /&gt;Dalam hal ini masyarakat mulai “melek” terhadap dampak ketidaknyamanan mereka terhadap realitas yang menimpanya selama ini. Belajar dari pengalaman semuanya akan menjadi baik. &lt;br /&gt;Maka kuncinya adalah pada pucuk pimpinan yang seantiasa mendengar keluh kesah warganya. Kalau sudah demikian, maka tidak mustahil pemerintah sekarang dan akan datang akan segera mewujudkan masyarakat yang reigius, amanah, mensejahterakan rakyat, berbuat demi kepentingan rakyat. Hal ini gambaran masyarakat madani (civil society). (*) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Hasani Ahmad Said, Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen Fakultas Syariah IAIN Lampung. Tinggal di Pabean, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-8073007212195527456?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/8073007212195527456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=8073007212195527456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8073007212195527456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8073007212195527456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/10/quo-vadis-pilkada-tangsel.html' title='Quo Vadis Pilkada Tangsel?'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-4862739947444497046</id><published>2010-10-24T22:08:00.000-07:00</published><updated>2010-10-24T22:08:04.264-07:00</updated><title type='text'>MENGENANG 1000 HARI PAK HARTO</title><content type='html'>MENGENANG 1000 HARI PAK HARTO &lt;br /&gt;Oleh: Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;(Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen Syariah IAIN Lampung)&lt;br /&gt;*Tulisan ini dimuat di Opini Kabar Banten, Senin, 25 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pak Harto dikenal dengan gaya senyumnya yang khas, dimana dan kapanpun dia selalu menyapa rakyatnya. Pada satu kesempatan, tahun 2005, penulis ketika diundang ke kediamannya, di jalan Cendana untuk bertugas memimpin gema takbir, tahmid, dan tahlil sekaligus Shalat Idul Fithri, sosok Soeharto, meskipun dalam keadaan sakit dengan dipapah, dia masih menyempatkan untuk menyapa dan melambaikan tangan dengan gaya senyumannya yang menyejukkan. &lt;br /&gt;Tidak terasa, seolah waktu begitu cepat, sehingga, sepekan ini media kita kembali dihiasi oleh pemberitaan mengenang 1000 hari bapak HM. Soeharto, mantan Presiden RI ke 2 yang berkuasa selama 32 tahun. Sosok ramah diwarnai dengan senyum yang mengembang dan kharismatik ini, bukan hanya dipuja oleh pendukungnya, tapi disegani oleh beberapa lawan politiknya. Pada peringatan 1000 hari wafatnya pak Harto yang diadakan di tiga tempat yang berbeda, terlihat mulai dari tokoh politik, pejabat, ulama hingga masyarakat kecil, banyak menyesaki tempat penyelenggaraannya. &lt;br /&gt;Meskipun demikian, pro-kontra menyoal layak tidaknya pak Harto menyandang gelar pahlawan terus bergulir bak bola salju yang siap menggelinding dan terus membesar.  Anhar Gonggong, pakar sejarah, menilai pak Harto “Sebagai bapak pembangunan yang digulirkan melalui program pelita”. Politisi senior, Akbar Tanjung, mengungkapkan bahwa “Pak Harto telah merubah Negara dari paham komunis menuju paham pancasila”. Ketua umum Hanura, Wiranto, mengatakan bahwa “Setiap orang mempunyai jasa kepada Negara”. Ungkapan bijak juga terlontar dari pakar tafsir, HM. Quraish Shihab, dengan mengatakan “Soal pemberian gelar pahlawan, biarlah diserahkan kepada tim penilai gelar nasional”.&lt;br /&gt;Sebagaimana kita tahu, rencana penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada mantan Presiden kedua RI, (alm) HM Soeharto, mendapat kritik. Soeharto dinilai tak pantas dijadikan pahlawan nasional mengingat segala pelanggaran dan kasus korupsi selama 32 tahun masa kepemimpinan beliau. Pada sisi lain, ada sekelompok orang yang “ngotot” pula untuk mengusung beliau sebagai pahlawan nasional. Tentu, pro-kontra ini butuh penyegaran akan penyelesaiannya, agar tidak terjadi kesalahpahaman pencernaan informasi masyarakat.&lt;br /&gt;Ibarat pepatah ”Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”. Ungkapan ini tepat kirannya untuk menakar arah kebijakan apakah layak tidaknya Soeharto menyandang gelar pahlawan. Dalam UU nomor 20 Tahun 2009, pasal 15 dan 26 tentang syarat-syarat umum dan syarat khusus, pencalonan pahlawan nasional. Syarat umum dan khususnya itu adalah sebagai berikut: Warga Negara Indonesia (WNI) atau mereka yang berjuang di wilayah yang sekarang disebut NKRI, sedang syarat khususnya adalah berjuang jelas untuk melawan penjajah baik dalam perjuangan politik, pendidikan dan lainnya. &lt;br /&gt;Menilik syarat umum dan khusus di atas, rasanya HM. Soeharto memenuhi kriteria tersebut. Sebagian kalangan menilai, bisa diusung sebagai pahlawan nasional, namun selesaikan dulu kasus-kasusnya. Kalau begitu adanya, secara undang-undang, pengusulannya menjadi salah satu pahlawan nasional sejatinya tidak terus diperdebatkan. Analisis ini memungkinkan meredam polemic yang selama ini terus bergulir. Dengan kata lain, pengusulan menjadi pahlawan nasional secara undang-undang sangat kuat.&lt;br /&gt;Pada sisi lain, para penentangnya juga sama-sama mempunyai dasar yang kuat. Fadjroel Rachman, Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan, mengungkapkan dalam salah satu stasiun televise swasta bahwa “Gelar itu menghina akal sehat dan hati nurani". &lt;br /&gt;Alasan penolakan ini bisa jadi lantaran keberadaan penetapan terhadap Soeharto sebagai koruptor nomor satu dunia berdasarkan program Global Stolen Asset Recovery Initiative di Markas Besar PBB, New York, pada 17 September 2005. Soeharto disebut-sebut sebagai pemimpin terkorup nomor satu di dunia dengan harta senilai 15 miliar dollar AS-35 miliar dollar AS. Sedang di urutan kedua adalah Ferdinand E Marcos (Filipina) dan terakhir Josep Estrada (Filipina).&lt;br /&gt;Kalau melihat data ini, memang sungguh mecengangkan, sangat ironis bahkan menyedihkan. Selain dugaan di atas, Soeharto banyak terlibat pelanggaran HAM berat, seperti beberapa tahun lalu banyak diusung dan disoal melalui pengadilan. Sisi inilah menjadi titik berat bagi yang mengatasnamakan pengusung dan penegak keadilan. Di balik segudang persoalan yang di angkat, ternyata Soeharto memiliki sejuta kebaikan pula. Kalau mau diungkap kebaikannya satu persatu, maka tentu akan menghabiskan berjilid-jilid buku, begitupun sebaliknya. &lt;br /&gt;Bisa jadi, pro-kontra antara tarik ulur mungkinkah presiden ke-2 ini, menyandang gelar pahlawan dijegal oleh korban-korban akibat pelanggaran HAM pada zamannya. Harus diakui bahwa meninggalnya mantan Presiden Soeharto membuat kita mencoba merefleksikan ulang, bahwa negeri ini pernah berada pada titik puncak keberhasilan pembangunan. Jujur kita katakan bahwa di jamannya memerintah, bangsa kita pernah menikmati betapa mudahnya hidup kala itu. Bisa dibayangkan bagaimana para eranya, ada masa-masa indah berkebangsaan.&lt;br /&gt;Meskipun tidak selamanya demikian, akan tetapi bagi sebagian masyarakat, di zaman Soeharto, kehidupan memang tidak sesulit sekarang seperti banyak dikeluhkan oleh banyak kalangan terkhusus masyarakat lapisan bawah. Sekilas melongok kondisi saat ini, misalnya kebutuhan pokok amat mahal. Seraya flash back antara tahun 80-an sampai 90-an dampak kemakmuran kian terasa. Belum lagi, pada masa itu pemerintah terlihat mampu untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi yang berimbas secara jelas, misalnya, masyarakat bisa membeli segala sesuatu dengan murah dan inflasi berhasil dikendalikan. &lt;br /&gt;Selain hal ini, yang terlihat kental pada masanya adalah menerapkan pertumbuhan ekonomi melalui hadirnya berbagai unit usaha bagi masyarakat kecil, sebagian besar masyarakat di pedesaan memang menikmati hasilnya. Keberhasilan yang tidak bisa dilupakan selain jasa-jasa di tahun 80-an di atas adalah bagaimana dia mampu membawa Indonesia berhasil mengubah diri dari negara terbesar dalam mengimpor beras, akhirnya menjadi negara berswasembada pangan. Lebih dari 3 juta ton padi dihasilkan setiap tahunnya. &lt;br /&gt;Dari sisi ini cukup fantastis, kalau membincangkan kesuksesan dalam memimpin. Memang tidak tepat sekiranya membandingkan dengan sekarang yang justru defisit lebih dari 1 juta ton setiap tahun. Yang menarik justru, Soeharto dalam menakhodai rakyatnya mempunyai perhatian lebih terhadap pertanian dan pembangunan di daerah-daerah. Dia nampaknya menyadari akan keberadaan awal bangsa Indonesia yang berada di wilayah yang nota bene agraris. Maka, atas dasar itu, seolah ingin mengembalikan pada kodrat Negara sebagai “Lumbung padi” terbesar di dunia, yang bukan hanya mencukupi kebutuhan negerinya, akan tetapi mampu pula menjadi Negara yang berswawembada.&lt;br /&gt;Maka tidak heran, dulu sangat sering pak Harto berada di sawah dengan topi pak tani yang khas. Tidak hanya petani, yang diperhatikan, para nelayan juga dipompa untuk selalu meningkatkan hasil tangkapannya. Pendek kata, pak Harto sangat identik dengan kedekatan rakyatnya, atau dalam bahasa lain Presiden yang merakyat. Keadaan ini, tidak justru membuat rendah sebagai pemimpin Negara, tapi justru dalam beberapa kesempatan dia mengenalkan pada rakyatnya bahwa dia adalah lahir dari anak petani.&lt;br /&gt;Dalam bidang lain, adalah dalam bidang kesehatan dan KB. Sebagaimana telah banyak diketahui, Indonesia termasuk berpenduduk terbesar di dunia, sehingga laju pertumbuhan jiwa meningkat pesat. Akan tetapi pada masanya, dengan program KB seolah menjadi rem cakram yang menyadarkan \warganya untuk menahan laju pertumbuhan penduduk. Meskipun pada awalnya program ini tidak lepas dari pro dan kontra. Namun, pada akhirnya program ini dianggap telah berhasil menahan laju pertumbuhan penduduk yang makin membludak.&lt;br /&gt;Dalam bidang kesehatan, rasanya melekat kata Posyandu (Pos pelayanan terpadu), ya kata itu begitu pupuler yang memasarkan akan pentingnya kesehatan bagi masyarakat bawah sekalipun. Program ini sesungguhnya berupaya mengintegrasikan antara program pemerintah dengan kemandirian masyarakat. Hasilnya, banyak ibu yang peduli akan kesehatan dan kecerdasan anak-naknya. Di bidang pendidikan, dikenal pula istilah Wajar (Wajib belajar), sehingga mendengar kata wajib seolah masyarakat berbondong-bondong untuk memasukkan anaknya paling tidak ketingkat sekolah dasar, sampai pula wajib belajar Sembilan tahun, yakni dari SD-SMP.&lt;br /&gt;Di bidang pertahanan keamanan, rasanya tidak sempat terdengar bagaimana Negara tetangga berani mengambil lahan atau mengakui produk budaya Negara kita. Hal ini dikarenakan Negara kita masih sejajar dengan Negara berkembang lainnya. Sehingga, setidaknya Negara lain tidak berani menginjak-injak hak dan martabat bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;Keberhasilan yang sederet ini, memang tidak terbantahkan, meskipun pada akhirnya pada era 90-an pemerintahan Soeharto meski ditumbangkan pula karena keserakahannya dalam berkuasa. Era reformasi merupakan babak baru sekaligus babak akhir bagi pemerintahan pak Harto. Banyak orang yang menyayangkan maju kembalinya pak Harto menjadi calon Presiden, dari semua itu ternyata harus dibayar mahal olehnya. &lt;br /&gt;Dengan bergulirnya era reformasi, ternyata sedikit demi sedikit kejahatannya kian terkuat, dan yang lebih menyakitkannya, kejahatan yang telah lama itu, ternyata seolah telah menghapus segudang kebaikannya pula. Tapi, kini sang tokoh kharismatik yang dianggap oleh sebagian orang sebagai pemimpin otoriter itu telah tiada. Sikap yang baik adalah memaafkannya. Sehingga, kalau menimbang baik dan buruknya, hanya kita yang bisa menjawabnya? &lt;br /&gt;Dari berbagai tinjauan di atas, pertanyaan yang mesti dimunculkan adalah sanggupkah pemerintah sekarang mengembalikan masa kejayaan seperti dulu? Pertanyaan inilah yang seharusnya dijawab oleh para pengemban kebijakan dalam hal ini pemerintah saat ini? Intinya belajar mengejar yang baik, dan meninggalkan yang buruk. Selamat jalan pak Harto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Syariah IAIN Raden Intan, Lampung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-4862739947444497046?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/4862739947444497046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=4862739947444497046' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/4862739947444497046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/4862739947444497046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/10/mengenang-1000-hari-pak-harto.html' title='MENGENANG 1000 HARI PAK HARTO'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-671832648450482297</id><published>2010-10-24T06:15:00.000-07:00</published><updated>2010-10-24T06:15:21.957-07:00</updated><title type='text'>Kemenag Buka Penerimaan CPNS 2010</title><content type='html'>Kemenag Buka Penerimaan CPNS 2010    &lt;br /&gt;       Hari ini Senin 25 Oktober 2010 adalah dibukanya pendaftaran penerimaan CPNS 2010 yang diselenggarakan Kementerian Agama di unit kerja seluruh indonesia. Untuk lebih jelasnya dibawah ini kami lampirkan pengumuman resmi dari kemenag termasuk Persyaratan Pendaftaran. Pendaftaran ditutup tanggal 03 November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGUMUMAN&lt;br /&gt;Nomor : BII/I-a/Kp.00.3/15774/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL&lt;br /&gt;DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN AGAMA&lt;br /&gt;TAHUN 2010&lt;br /&gt;Kementerian Agama Republik Indonesia membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), dengan ketentuan dan persyaratan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA MENDAFTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Pendaftaran CPNS dilaksanakan berdasarkan domisili KTP setempat untuk pelamar pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN), Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN), Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN), dan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN), kecuali pelamar pada Unit Eselon I Pusat, Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).&lt;br /&gt;    * Pengumuman dan pendaftaran CPNS di lingkungan Kementerian Agama secara on-line melalui internet/website dengan alamat www.kemenag.go.id dengan subdomain cpns.kemenag.go.id.&lt;br /&gt;    * Bagi pelamar yang kesulitan menggunakan aplikasi internet/website dapat melakukan pendaftaran/registrasi yang ditujukan langsung kepada panitia pengadaan CPNS masing-masing melalui kantor pos tanpa melampirkan print out entry data pendaftaran.&lt;br /&gt;    * Lamaran ditulis oleh tangan sendiri dengan tinta hitam dan ditandatangani oleh pelamar disertai dengan:&lt;br /&gt;    * Print out entry data pendaftar;&lt;br /&gt;    * Foto copy sah ijazah yang telah dilegalisir sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan;&lt;br /&gt;    * Pas photo ukuran 4 x 6 cm sebanyak dua lembar;&lt;br /&gt;    * Foto copy KTP yang masih berlaku.&lt;br /&gt;    * Surat lamaran dikirim melalui jasa pos, ditujukan kepada panitia Panitia Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil CPNS Pusat/Panitia Pengadaan CPNS Unit Eselon I/Panitia Pengadaan CPNS Daerah dan stempel pos terakhir tanggal 3 November 2010;&lt;br /&gt;    * Pelamar wajib melampirkan amplop balasan yang telah ditempel perangko kilat dengan menuliskan nama dan alamat serta kode pos, bagi pelamar yang tidak melampirkan amplop balasan dinyatakan gugur sebagai peserta.&lt;br /&gt;    * Pada amplop lamaran agar dicantumkan satuan kerja yang dituju dan pekerjaan yang dilamar pada sudut kiri atas contoh terlampir.&lt;br /&gt;    * Lamaran dibuat menurut contoh terlampir. (Download dokumen)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Warga Negara Indonesia;&lt;br /&gt;   2. Berusia serendah-rendahnya 18 Tahun dan setinggi-tingginya 35 tahun (pada tanggal 1 Januari  2011).&lt;br /&gt;   3. Bagi pelamar yang berusia lebih dari 35 Tahun sampai dengan 40 Tahun agar melampirkan bukti wiyata bakti sampai dengan tanggal 1 Januari 2011 minimal 13 Tahun 9 bulan secara terus menerus dan tidak terputus pada instansi pemerintah atau yayasan yang berbadan hukum;&lt;br /&gt;   4. Bagi pelamar lulusan Perguruan Tinggi Swasta yang belum terakreditasi sebelum berlakunya Keputusan Mendiknas Nomor 184/U/2001 tanggal 23 November 2001 harus sudah disahkan oleh Kopertis /Kopertais;&lt;br /&gt;   5. Bagi pelamar lulusan Perguruan Tinggi Luar Negeri atau Lembaga Pendidikan Luar Negeri, harus melampirkan Surat Keputusan Penetapan dan Penyetaraan hasil penilaian ijazah lulusan Perguruan Tinggi Luar Negeri dari Ditjen Pendidikan Tinggi /Ditjen Pendidikan Agama Islam;&lt;br /&gt;   6. Foto copy ijazah Universitas /Institut dilegalisir oleh Rektor, Dekan atau Pembantu Dekan Bidang Akademik, sedangkan foto copy ijazah Sekolah Tinggi dilegalisir Ketua atau Pembantu Ketua Bidang Akademik;&lt;br /&gt;   7. Tanggal penetapan ijazah harus sebelum tanggal pelamaran, sedangkan surat keterangan atau pernyataan lulus tidak diperkenankan;&lt;br /&gt;   8. Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap;&lt;br /&gt;   9. Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil /PegawaiSwasta;&lt;br /&gt;  10. Tidak berkedudukan sebagai Calon Pegawai Negeri /Pegawai Negeri;&lt;br /&gt;  11. Bersedia ditempatkan di seluruh Republik Indonesia atau negara lain yang ditentukan oleh P emerintah;&lt;br /&gt;  12. Tidak menjadi anggota /pengurus PARPOL;&lt;br /&gt;  13. Bersedia memenuhi peraturan /ketentuan yang berlaku dalam lingkungan Kementerian Agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU PENDAFTARAN&lt;br /&gt;Waktu pendaftaran pelamar melalui website/internet tanggal 25 Oktober 2010 sampai dengan tanggal 3 November 2010.&lt;br /&gt;KETENTUAN LAIN&lt;br /&gt;Penerimaan pendaftaran dilaksanakan pada unit kerja sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Sekretariat Jenderal&lt;br /&gt;    * Inspektorat Jenderal&lt;br /&gt;    * Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah&lt;br /&gt;    * Ditjen Pendidikan Islam&lt;br /&gt;    * Ditjen Bimas Islam&lt;br /&gt;    * Ditjen Bimas Kristen&lt;br /&gt;    * Ditjen Bimas Katolik&lt;br /&gt;    * Ditjen Bimas Hindu&lt;br /&gt;    * Ditjen Bimas Buddha&lt;br /&gt;    * Badan Litbang dan Diklat&lt;br /&gt;    * Kanwil Kementerian Agama Provinsi seluruh Indonesia&lt;br /&gt;    * Universitas Islam Negeri (UIN) seluruh Indonesia&lt;br /&gt;    * Institut Agama Islam Negeri (IAIN) seluruh Indonesia&lt;br /&gt;    * Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar&lt;br /&gt;    * Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) seluruh Indonesia&lt;br /&gt;    * Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKN)&lt;br /&gt;    * Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 22 Oktober 2010&lt;br /&gt;PANITIA PENGADAAN CPNS&lt;br /&gt;KEMENTERIAN AGAMA RI&lt;br /&gt;K E T U A,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;..................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Kemenag RI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-671832648450482297?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/671832648450482297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=671832648450482297' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/671832648450482297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/671832648450482297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/10/kemenag-buka-penerimaan-cpns-2010.html' title='Kemenag Buka Penerimaan CPNS 2010'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-6251277825714200677</id><published>2010-10-20T21:07:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T21:07:14.414-07:00</updated><title type='text'>Cermin Carut Marutnya Bangsa</title><content type='html'>Cermin Carut Marutnya Bangsa&lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said, M.A.&lt;br /&gt;(Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen Syariah IAIN Raden Intan Lampung)&lt;br /&gt;*Tulisan ini dimuat di kolom Opini koran Kabar Banten, Selasa, 19 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Imam Ali RA berpesan “Jadikanlah dirimu neraca dalam hubunganmu dengan orang lain. Sukailah orang lain sebagaimana engkau menyukai dirimu, dan sebaliknya. Jangan menganiaya sebagaimana engkau enggan dianiaya. berbuat baiklah sebagaimana engkau suka orang berbuat baik kepadamu. Jangan berucap satu katapun yang engkau tidak sukai kata itu diucapkan padamu”.&lt;br /&gt;     Dalam konteks berbangsa dan bernegara, pesan moral ini bisa saja dijadikan ‘ibrah bahwa jadikanlah negaramu menjadi neraca dalam hubungan dengan Negara lain. Dalam arti kata lain, kemampuan Negara lain mengelola kekayaan Negara yang berimbas pada kesejahteraan rakyatnya, sejatinya menjadi contoh untuk memajukan Negara ini. Kalau mau jujur, problematika kekinian Negara kita kian hari kian menunjukkan kerapuhannya.&lt;br /&gt;     Mulai dari kasus adegan banjir, gunung meletus, tabung meledak, perjudian dan prostitusi, kemiskinan, ancaman keretakan bangsa (disintegrasi), mengguritanya korupsi, janda pahlawan melawan pemerintah, penculikan anak, eksploitasi infotaimen, eksploitasi dan penjualan bayi, dan seabreg rapot merah lainnya, yang satu persatu permasalahannya bukan terselesaikan, malah kasusnya tenggelam digerus oleh silihberganti pemberitaan.&lt;br /&gt;     Ada sisi yang terlupakan dalam pengurusan bangsa ini yakni pentingnya generasi penerus. Generasi ini bisa terdiri dari anak, pemuda, dan generasi penerus lainnya. Kalau ada pengistilahan “Shubbanul yaum rijalul Ghadd” (pemudia hari ini adalah cermin pemuda masa akan dating), kalau pemuda hari ini di kasih “amunisi/gizi” baik dengan wawsan yang memadai, maka seperti itulah generasi 10 atau 50 tahun yang akan datang.&lt;br /&gt;     Satu sisi misalnya, di Indonesia, peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap tanggal 23 Juli ternyata berbeda-beda pada tiap negara. Hari anak yang benar-benar dirayakan oleh seluruh dunia adalah pada tanggal 20 November. Tanggal tersebut diumumkan oleh PBB sebagai hari anak-anak sedunia. Organisasi anak di bawah PBB, yaitu UNICEF untuk pertama kali menyelenggarakan peringatan hari anak sedunia pada bulan Oktober tahun 1953. Tanggal 14 Desember 1954, Majelis Umum PBB lewat sebuah resolusi mengumumkan satu hari tertentu dalam setahun sebagai hari anak se-dunia yaitu pada tanggal 20 November.&lt;br /&gt;     Sejarah hari nasional bermula dari gagasan di era Soeharto yang melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa, sehingga mulai tahun 1984 berdasarkan Keputusan Presiden RI No 44 tahun 1984, ditetapkanlah setiap tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional. Kegiatan Hari Anak Nasional (HAN) dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, hingga daerah, bahkan di luar negeri juga. Namun, belakangan ini berita hari-hari yang diperingati semisal hari anak nasional, telah tertutupi oleh pemberitaan media, baik politik, kompor gas meledak, berita perselingkuhan, dan seabreg berita lainnya. Semestinya diselenggarakan kegiatan bermacam-macam, mulai dari Seminar, lomba penelitian, Kongres anak, Perayaan Puncak HAN, lomba kreativitas, pameran, hingga pemecahan rekor melukis harapan anak.&lt;br /&gt;     Beberapa pekan ini, mungkin belum lama dalam ingatan kita nama Ridho ramai diberitakan di media. Ridho adalah potret masyarakat yang tidak mampu yang sedang memperjuangkan haknya sebagai warga Negara. Yang dituntut satu agar warga kelas bawah diperhatikan, jeritannya ini ternyata membuat nekad ibunya untuk membawa Ridho sampai ke istana Negara. Alasan kedatangan Ridho, mungkin sebagian “pejabat” kita menganggap sepele yaitu akibat terkena tabung gas yang meledak, tapi sesungguhnya dampaknya sangat besar terhadap keberlangsungan Ridho ke depan.&lt;br /&gt;     Inilah potret anak bangsa yang sedang memperjuangkan nasibnya. Padahal, di antara hak-hak asasi manusia adalah hak untuk memperoleh kesejahteraan, kebebasan, keadilan dan kedamaian di dunia. Dalam hal ini, anak-anak lebih memerlukan perhatian, dukungan dan keamanan di banding kelompok umur yang lain. Masa depan dunia yang lebih baik memerlukan dukungan kesehatan mental dan keamanan anak-anak. Berkenaan dengan ini, Majelis Umum PBB mengesahkan sebuah piagam yang disebutnya sebagai Konvensi Hak Anak-anak Se-Dunia. Seluruh negara di dunia selain Amerika dan Somalia ikut dalam konvensi tersebut.&lt;br /&gt;     UNICEF dengan pengesahan piagam tersebut berarti telah mengambil tindakan penyamaan seluruh anak di dunia dengan berbagai ragam ras dan etnisnya. Unicef menegaskan, tanpa diskriminasi apapun, anak-anak di dunia harus diberi perlindungan khusus oleh seluruh negara di dunia. Meskipun pengesahan piagam tersebut, merupakan langkah yang cukup berarti dalam merealisasikan hak anak-anak, akan tetapi para pemimpin dunia masih merasa perlu untuk menandatangani kesepakatan mengenai perbaikan kondisi anak-anak dunia dalam sidang tahun 1991.&lt;br /&gt;     Namun demikian, sampai awal milineum ketiga ini, kondisi kehidupan anak-anak dunia masih belum menunjukkan perbaikan yang memuaskan termasuk potret Ridho. Sebelum ini, masyarakat dunia telah menjanjikan akan menjadikan dekade pertama awal abad 21, sebagai dasawarsa budaya perdamaian dunia dan menolak kekerasan terhadap anak-anak. Namun, justru pada dasawarsa ini setiap harinya terdengar berita perang dan kekerasan yang memakan korban anak-anak. Perang-perang yang meletus akibat dendam dan permusuhan itu telah merampas rasa aman, penghormatan, kasih sayang dan perhatian dari anak-anak.&lt;br /&gt;     Sangat memiriskan hati, semestinya Undang-undang yang telah mengatur yang menjamin terjamin dan terlindunginya anak dari eksploitasi yang selama ini kita saksikan, sejatinya tidak terjadi lagi di Negara yang terkenal dengan keramahan dan melimpahnya kekayaan alamnya, justru malah memelintir kebijak tersebut dengan berbagai macam alas an. Belum lagi dengan sibuknya anggota dewan, wakil rakyat itu yang memperjuangkan pribadi dan kelompoknya membuat kepekaan terhadap masyarakat bawah semakin terpinggirkan. Sosok Ridho, sejatinya bisa dijadikan pelajaran, bahwa masih banyak Ridho-ridho lain yang saya kira nasibnya lebih tragis, bisa jadi akibat kebijakan pemerintah yang kurang populis.&lt;br /&gt;     Anak-anak merupakan penerus bangsa, pengganti para pemimpin sekarang, seandaainya salah dalam pengurusannya, maka generasi berikutnya akan terpangkas dan tidak akan menutup kemungkinan, sepuluh tahun yan g akan datang, atau bisa jadi pulhan tahun ke depan Negara kita tinggal namanay saja. Maka, kegelisahan ini bisa saja beralasa, dengan era globalisasi yang tidak bisa dibendung, teknologi yang kian membunuh karakter anak bnagsa karena salah mengurusnya.&lt;br /&gt;     Pada posisi ini, terletak pada orang tuanyalah pundak mereka ketika di rumah, tugas gurunyalah ketika berada di sekolah. Semoga dengan pengurusan yang baik, akan lahir kader-kader tangguh, cerdah, benar, yang dibarengi keimanan dan ketakwaan. Semoga anak Indonesia maju terus.!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Penulis adalah Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen IAIN Raden Intan Lampung. Tinggal di Pabean, Purwakarta, Cilegon, Banten.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-6251277825714200677?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/6251277825714200677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=6251277825714200677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6251277825714200677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6251277825714200677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/10/cermin-carut-marutnya-bangsa.html' title='Cermin Carut Marutnya Bangsa'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-2179584955112103264</id><published>2010-10-15T23:39:00.000-07:00</published><updated>2010-10-15T23:39:52.095-07:00</updated><title type='text'>CV: Mengenal Lebih Dekat</title><content type='html'>CURICULUM VITTAE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Identitas Diri&lt;br /&gt;Nama   : Hasani Ahmad Syamsuri, S.Th.I., M.A.&lt;br /&gt;Jenis Kelamin  : laki-laki&lt;br /&gt;Tempat/Tgl Lahir : Pulomerak, Cilegon, 21 Februari 1982&lt;br /&gt;Alamat   : Jl. Pabean, Link. Pabean, Kel. Pabean No 10 Rt/Rw 01/01, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon, Prop. Banten, 42437&lt;br /&gt;Agama   : Islam&lt;br /&gt;E-mail   : elhasan_ahsyamsun@yahoo.co.id &lt;br /&gt;     hasani_banten@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pendidikan Formal&lt;br /&gt;1. 2008- sekarang    : Mahasiswa Program Doktor / Kandidat Doktor Islamic &lt;br /&gt;                              Studies Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah    &lt;br /&gt;                              Jakarta; Sedang dalam Penulisan Disertasi.&lt;br /&gt;2. 2005-2007     : S-2 Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah &lt;br /&gt;                              Jakarta, Program Studi Kajian Islam, Konsentrasi Tafsir     &lt;br /&gt;                              Hadis;&lt;br /&gt;3. 2005-2007     : Setara S-2 Mahasiswa Pendidikan Kader Ulama  (PKU) &lt;br /&gt;                              Angkatan Ke VIII, MUI (Majlis Ulama Indonesia) DKI  &lt;br /&gt;                              Jakarta;&lt;br /&gt;4. 2001-2005     : S-1 UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah &lt;br /&gt;                              Jakarta, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir Hadis;&lt;br /&gt;5. 1998-2001     : MA (Madrasah Aliyah) al-Khairiyah Karangtengah, &lt;br /&gt;                              Cilegon Banten;&lt;br /&gt;6. 1995-1998           : MTs (Madrasah Tsanawiyah) al-Khairiyah Karangtengah, &lt;br /&gt;                              Cilegon Banten;&lt;br /&gt;7. 1989-1995          : SDN (Sekolah Dasar Negeri) Pecinan Cilegon, Banten;&lt;br /&gt;8. 1989-1995     : MI (Madrasah Ibtidaiyah) al-Khairiyah Karangtengah &lt;br /&gt;                             Cilegon, Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pendidikan Non Formal&lt;br /&gt;1. 1995-2000 : Pondok Pesantren Salafi Banu al-Qamar Cilegon Banten;&lt;br /&gt;2. 2002  : Kursus Komputer dan Internet INMADA Jakarta;&lt;br /&gt;3. 2003  : Kursus computer semua program di Computer Café Jakarta&lt;br /&gt;4. 2005                : Kursus Bahasa Inggris di Oxford Cours Indonesia.&lt;br /&gt;5. 2007-2008 : Kursus Bahasa di Pusat Bahasa dan Budaya UIN Syarif      Hidayatullah Jakarta;&lt;br /&gt;6. 2010  : Pendidikan Kader Mufassir (PKM), Pusat Studi Alquran,      Jakarta.&lt;br /&gt;D. Pelatihan, Seminar, dan Lokakarya&lt;br /&gt;1. 2010 : Peserta Seminar Nasional: “Terorisme Vs Penegakan Syariah di Indonesia;    Akar Masalah dan Opini Publik &amp; Integrasi Keilmuan di Lingkungan    UIN Syarif Hidayatullah Jakarta” Milad ke-43 dan Bulan Syariah      Fakultad Syariah dan Hukum UIN Jakarta, 4-5 Mei 2010;&lt;br /&gt;2. 2010 : peserta Liqâ Markaz al-Dirâsât al-Qur’âniyyah ma’a al-Ustâdz al-Duktûr    ‘Abd  al-Hay Husain  al-Farmâwî, Ustâdz bi Jâmi’ah al-Azhhar bi al-     Qâhirah, Jakarta, Pusat Studi Alquran, April 2010;&lt;br /&gt;3. 2010 : Panitia Seminar Pendidikan dan Pengembangan Karir Islami, Fakultas    Syariah dan Hukum UIN Jakarta, 10 Maret 2010;&lt;br /&gt;4. 2010 : Peserta Seminar Hukum dan Ekonomi Syariah, Fakultas Syariah dan    Hukum UIN Jakarta dengan MGMP se DKI Jakarta, 2010;&lt;br /&gt;5. 2010 : Peserta One Day Seminar ‘A Conversation with Modernity,        Auditorium SPs UIN Jakarta, March 30, 2010;&lt;br /&gt;6. 2009 : peserta International Conference Islamic Law in The Modern World,    Faculty Sharia and Law, Syarif Hidayatullah, State Islamic University    (UIN), Jakarta, December, 18-20 2009 M./ Muharram 01-03 1431 H.;&lt;br /&gt;7. 2009 : Peserta International Seminar, Urgency of Solidarity and Unity in The Islamic    World, Jakarta, 19-20 December 2009, PBNU, Sultan Hotel;&lt;br /&gt;8. 2009 : Peserta Pelatihan Penulisan karya Ilmiah Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden     Intan Lampung, 1 Desember 2009;&lt;br /&gt;9. 2009 : Peserta Pembibitan/Pembekalan Calon Dosen dilingkungan IAIN       Raden Intan Lampung, 26-27 Oktober, 2009;&lt;br /&gt;10. 2008 : Peserta international conference Freedom and Right of Return; Palestina    and 60 Yerars of Ethnic Cleansing, VOP (Voice of Palestina,        International NGO’s Union for Supporting Palistinians Right, dan      Universitas of Indonesia Centre for Midle East and Islamic Studies, di    Makara Hotel UI Depok;&lt;br /&gt;11. 2008 : peserta Pelatihan Training ESQ Ekskutif angkatan 73, di Menara 165 &lt;br /&gt;              Jakarta;&lt;br /&gt;12. 2006 : Peserta Seminar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, “Menggali       Potensi Anak Usia Dini dalam Perspektif Pendidikan Islam, IAIA al-      Aqidah Jakarta, Aula masjid Istiqlal, 25 Mei 2006;&lt;br /&gt;13. 2006 : Peserta Seminar  dan Launcing Buku Fiqih Aborsi “Wacana Penguatan    Hak Reproduksi Perempuan;&lt;br /&gt;14. 2006 : Peserta Sarasehan Ulama Jabodetabek dengan Tema “Ekonomi Syariah dan Perbangkan Syariah”, Wisma Tugu Jakarta, PKES, Muamalah Institut, dan MUI;&lt;br /&gt;15. 2005 : Panitia Pelatihan Training Menejemen Organisasi Himpunan Qari’   dan Qori’ah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatulah Jakarta;&lt;br /&gt;16. 2004 : Peserta Dialog Publik “Penyatu Peradilan Upaya Penegakan Supremasi &lt;br /&gt;              Hukum di Indonesia”, BEMJ Peradilan Agama UIN Jakarta;&lt;br /&gt;17. 2004 : Peserta Seminar Nasional “Mengembangkan Wacana Tafsir        Kontemporer Hermeneutika Sebagai Metodologi;&lt;br /&gt;18. 2004 : Peserta Seminar Nasional Islam dan Politik “Peluang Partai dan Politisi &lt;br /&gt;              Islam di Tengah Hegemoni Nasional dalam Pemilu 2004”;&lt;br /&gt;19. 2003 : Peserta Seminar Tafsir “Menggagas Tafsir Emansipatoris: Antara       Doktrin dan Realitas”;&lt;br /&gt;20. 2003 : Peserta Semiloka dan Mukernas “Rekonstruktualisasi Al-Quran di       Indonesia, Sebuah Gagasan Menuju Masyarakat Transformatif”;&lt;br /&gt;21. 2003 : Peserta Aliansi Solidaritas Perempuan Indonesia “Damailah Acehku,    Damai Sejahtera Indonesia”;&lt;br /&gt;22. 2003 : Peserta Seminar Nasional “Mengurai Benang Kusut Relasi Jender,       Antara Nature dan Nurture”;&lt;br /&gt;23. 2003 : Peserta Semiloka Kurikulum dan Silabi Ekonomi Islam;&lt;br /&gt;24. 2003 : Panitia Pelatihan Training Menejemen Organisasi Lembaga Tahfidz    dan Ta’lim al-Qur’an;&lt;br /&gt;25. 2003 : Peserta Seminar Nasional “Tafsir Misoginis Dalam Kajian Tekstual dan&lt;br /&gt;              Kontekstual”;&lt;br /&gt;26. 2003 : Peserta Seminar Hukum “Upaya Membangun Masyarakat Tentram dan&lt;br /&gt;         Tertib” (Mengkaji Ulang Perda DKI no 11/1998 Tentang &lt;br /&gt;              Kamtibnas);&lt;br /&gt;27. 2003 : Peserta Seminar Peringatan Hari Kartini “Perempuan Dalam       Tantangan dan Perubahan”;&lt;br /&gt;28. 2003 : Peserta Diskusi Publik “Membincang Pergolakan Pemikiran Ahmad    Wahib”;&lt;br /&gt;29. 2003 : Peserta Seminar dan Bedah Buku “Huru-Hara Akhir Zaman”;&lt;br /&gt;30. 2003 : Peserta Kongres V dan Dialog Nasional “Humanisme dalam Islam” &lt;br /&gt;              FORMASI (Forum Mahasiswa Syariah Se-Indonesia);&lt;br /&gt;31. 2003 : Peserta Milad III LTTQ “Menyoal Dimensi Spiritual al-Quran dalam &lt;br /&gt;              Keilmuan”;&lt;br /&gt;32. 2002 : Peserta Seminar Nasional “Telaah Pendidikan Agama dalam RUU &lt;br /&gt;              Sisdiknas”, BEM FITK, FAJAR, dan JIL, UIN Jakarta;&lt;br /&gt;33. 2002 : Peserta Pelatihan Jurnalitik PMII KOMFAKSYA HUM, Cab. Ciputat,    UIN Jakarta;&lt;br /&gt;34. 2002 : Peserta Seminar Nasional “Penegakan HAM dan Gencatan Senjati di    Aceh, BEM UIN Syahid”;&lt;br /&gt;35. 2002 : Peserta Seminar Perguruan Tinggi Se-Jakarta “Membedah Pemikiran Fiqih Sosial KH.Ali Yafie” Pencarian Wacana Baru Fiqih Kontekstual, Solusi Problematika Kekinian;&lt;br /&gt;36. 2002 : Peserta Seminar Nasional “Menggagas Teologi Perdamaian: Upaya &lt;br /&gt;              Rekonstruksi Pemahaman Keagamaan Berperadaban”;&lt;br /&gt;37. 2001 : Peserta Pelatihan Training Kader “Membangun Etos Intelektual dan &lt;br /&gt;              Spiritualitas, Melalui Pengembangan Potensi dan Kreatifitas Seni Islami Berdasarkan Paradigma al-Quran” Himpunan Qori’ dan Qori’ah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;&lt;br /&gt;38. 2001 : Peserta Pelatihan Kader HMI (LK I) HMI Cabang Ciputat;&lt;br /&gt;39. 2001 : Peserta Masa Orientasi Anggota Baru “Menjamah Bahasa,         Menggenggam Dunia” Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bahasa UIN    Syarif Hidayatullah Jakarta;&lt;br /&gt;40. 2001 : Peserta Training Manjemen Organisasi “Improfisasi Profesionalistis       dalam Berorganisasi” HIQMA UIN Jakarta;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Pengalaman Organisasi&lt;br /&gt;1. 1998-1999   : Ketua OSIS MA Al-Khairiyah Karang Tengah;&lt;br /&gt;2. 2003-2004   : Ketua I Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Quran;&lt;br /&gt;3. 2003-2004   : Ketua koordinator bidang Tilawah al-Qur’an Himpunan Qori’dan Qori’ah Mahasiswa UIN Jakarta&lt;br /&gt;4. 2004-2005   : Ketua koordinator divisi Tahsin al-Qur’an Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qura’an Masjid Fathullah UIN Syahid Jakarta&lt;br /&gt;5. 2004-2005   : Pengurus Cabang HMI Ciputat;&lt;br /&gt;6. 2004-2005   : Wakil Ketua HIQMA UIN Syahid Jakarta&lt;br /&gt;7. 2003-Sekarang   : Sekretaris Forum Silaturrahmi Jama’ah Masjid (FOSMA) Fathullah UIN Syahid Jakarta&lt;br /&gt;8. 2005-Sekarang : Dewan Alumni HIQMA UIN Syahid Jakarta dan Dewan Pertimbangan Organisasi HIQMA UIN Jakarta;&lt;br /&gt;9. 2006-2007      : Dewan Pertimbangan Organisasi pada LTTQ (Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an) Masjid Fathullah UIN Jakarta;&lt;br /&gt;10. 2007-2008  : Direktur Public Relation pada LTTQ (Lembaha Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an) Masjid Fathullah UIN Jakarta;&lt;br /&gt;11. 2008- sekarang  : Instruktur tahsin Lembaga Tahfidz dan Ta’lim al-Qur’an &lt;br /&gt;                            UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Prestasi-Prestasi&lt;br /&gt;1. 1999 : Juara III MTQ Tingkat Kecamatan Pulo Merak Cilegon Banten&lt;br /&gt;2. 2003 : Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi&lt;br /&gt;3. 2004 : Juara I MTQ Tingkat Nasional Oxford Cours Indonesia bekerjasama &lt;br /&gt;              dengan DEPAG RI&lt;br /&gt;4. 2004 : Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi&lt;br /&gt;5. 2004 : Juara II MSQ PIONIR Tingkat Nasional antar Mahasiswa se-IAIN &lt;br /&gt;              dan PTAIN di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung&lt;br /&gt;6. 2004 : Juara I MTQ se-UIN BEMJ PBA UIN Syahid Jakarta&lt;br /&gt;7. 2004 : Juara I MTQ GEBYAR HIQMA se-Jabodetabek&lt;br /&gt;8. 2004 : Juara I MTQ se-Jabodetabek di Masjid al-Azhar&lt;br /&gt;9. 2004 : Juara III MTQ se-Jabodetabek di Masjid Sunda Kelapa &lt;br /&gt;              memperebutkan Piala Menteri Agama RI, DEPAG RI&lt;br /&gt;10. 2004 : Juara III MSQ Tingkat Kabupaten Tangerang&lt;br /&gt;11. 2005 : Juara II MSQ Tingkat Kota Tangerang&lt;br /&gt;12. 2005 : Juara I MSQ Tingkat Kabupaten Bekasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Pengalaman Mengajar dan Pengabdian Masyarakat&lt;br /&gt;1. 2009- sekarang : Dosen Tetap Fakultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung ;&lt;br /&gt;2. 2008- sekarang : Asisten Profesor di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;&lt;br /&gt;3. 2008- sekarang : Asisten Profesor di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;&lt;br /&gt;4. 2008-sekarang : Dosen di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;&lt;br /&gt;5. 2008-sekarang : Koordiator Laboratorium Ibadah dan Fatwa di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ;&lt;br /&gt;6. 2007  : Pengajar pelatihan seni baca al-Qur’an di  di Yayasan Pesantren Nurul Iman, Pondok Aren, Tangerang, Banten.&lt;br /&gt;7. 2005-sekarang : Pengajar Tilawah al-Qur’an di HIQMA (Himpunan Qari’ dan Qari’ah Mahasiswa) UIN Syahid Jakarta;&lt;br /&gt;8. 2005-2006 : Pengajar Pelatihan Seni Baca al-qur’an di YPI al-Khairiyah Kebon Jeruk Jakarta;&lt;br /&gt;9. 2004-2005 : Pengajar Tilawah al-Qur’an di SMP 87 Pondok Pinang  Jaksel;&lt;br /&gt;10. 2002- sekarang : Imam tetap Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah  Jakarta ;&lt;br /&gt;11. 2001  :Tenaga Pengajar Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ;&lt;br /&gt;12. 2000-sekarang :Tenaga Pengajar Pendidikan Agama, Tilawah Al-Qur’an dan Tafsir ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Karya-Karya Ilmiah&lt;br /&gt;1. Eksistensi Manusia Perspektif al-Qur’an dan Hadis, Paper Madrasah Aliyah al-Khairiyah Cilegon, Banten, tahun 2001&lt;br /&gt;2. Hadis tentang Azan Ditinjau dari Segi Sejarah; Kajian Masalah Azan Subuh dan Jumat, 2005, Skripsi S1 UIN Jakarta ;&lt;br /&gt;3. Amstal dalam al-Qur’an, Makalah, makalah diseminarkan pada PPs S2 UIN Jakarta, 2006,;&lt;br /&gt;4. Kajian Deskriptif terhadap Tafsir al-Hijri Karya K.H. Didin Hafiduddin, makalah diseminarkan pada PPs S2 UIN Jakarta, 2006;&lt;br /&gt;5. Embriologi dalam al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Moderen, 2007;&lt;br /&gt;6. Wawasan al-Qur’an tentang Musibah, 2007;&lt;br /&gt;7. Wanita dalam al-Qur’an, makalah PKU MUI DKI Jakarta, 2006;&lt;br /&gt;8. Makna Tahun Baru Hijriah, makalah disampaikan pada Studium General di MA al-Khairiyah, Cilegon, Prop. Banten, 2006; &lt;br /&gt;9. Corak Pemikiran Kalâm Tafsîr Fath al-Qâdîr; Telaah Atas Pemikiran al-Syaukânî Bidang Teologi Islam., Tesis S-2 SPs UIN Jakarta, 2007;&lt;br /&gt;10. Syair-syair Cinta: Kajian tahlil terhadap Corak Kasidah Burdah karya al-Bushiri, Editor, Jakarta: Puspita Press, 2009;&lt;br /&gt;11. Kepribadian Qur’ani, Editor, Jakarta: WNI, 2009;&lt;br /&gt;1. Caknur di Mata Anak Muda, Kontributor Tulisan,  Jakarta: Paramadina, 2008; Menimbang Perbankkan Syari’ah di Indonesia, Jurnal Bimas Islam, Vol. 2 no. 3, Tahun 2009;&lt;br /&gt;2. Kesetaraan Jender dalam Perspektif Hukum Waris, Jurnal Bimas Islam, Tahun 2010;&lt;br /&gt;3. Dimensi Ruhani Manusia dalam Al-Qur’an dan Tasawuf, Jurnal Bimas Islam, Tahun 2010;&lt;br /&gt;12. Diskursus Munasah Alquran dalam Tafsir al-Mishbah: Upaya Kontekstualisasi Penafsiran Alquran di Indonesia, disertasi UIN Jakarta sedang dalam penggarapan, 2010- sekarang;&lt;br /&gt;13. Sportifitas Politik; Berlaga di Kancah Pilkada, opini Radar Lampung, 30 Juni 10;&lt;br /&gt;14. Kisruh Meledaknya Tabung Gas, Opini Radar Banten, 7 Juli 10;&lt;br /&gt;15. Meledaknya Tabung Gas, Opini Lampung Post, 8 Juli 10;&lt;br /&gt;16. Meninjau Ulang Kenaikan TDL, Opini lamung Post, 20 Juli 10;&lt;br /&gt;17. Bom Waktu Tabung Gas, Opini Kabar Banten, 26 Juli 10;&lt;br /&gt;18. Ramadhan dan Renungan Kematian, Opini Kabar Banten, Agustus 2010;&lt;br /&gt;19. Ramadan dan Tabir Kehidupan, Opini lampung Post, Jum'at, 20 Agustus 2010;&lt;br /&gt;20. Tradisi Pulang Kampung, Opini Kabar Banten, 7 September 2010;&lt;br /&gt;21. Halal Bihalal; Pribumisasi Ajaran Islam, Opini Kabar Banten, Sabtu 18 September 2010;&lt;br /&gt;22. Halalbihalal Meneguhkan Pluralisme, Opini Lampung Post, Senin 20 September 2010;&lt;br /&gt;23. Banten “Primadona Ibu Kota RI, Opini Kabar Banten, Rabu, 22 September 2010;&lt;br /&gt;24. Meluruskan Makna Jihad (1), Opini Radar Banten, Sabtu 25 September 10;&lt;br /&gt;25. Meluruskan Makna Jihad (2), Opini, Kabar Banten, 25 September 10;&lt;br /&gt;26. Memaknai Fungsi Masjid, Opini Kabar Banten, Jumat 31 September 2010;&lt;br /&gt;27. Masjid, Simbol Peradaban Islam, Opini, Lampung Post, Jum'at, 8 Oktober 2010;&lt;br /&gt;28. Dimensi Ruhani Manusia, Opini Kabar Banten, Sabtu, 9 Oktober 10.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-2179584955112103264?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/2179584955112103264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=2179584955112103264' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2179584955112103264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2179584955112103264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/10/cv-mengenal-lebih-dekat.html' title='CV: Mengenal Lebih Dekat'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3702966174809431916</id><published>2010-10-15T17:48:00.000-07:00</published><updated>2010-10-15T17:48:53.561-07:00</updated><title type='text'>Menghidupkan Filologi di Banten</title><content type='html'>Menghidupkan Filologi di Banten&lt;br /&gt;Oleh: Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;(Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen IAIN Raden Intan Lampung, Tinggal di Pabean, Cilegon)&lt;br /&gt;*Tulisan ini dimuat di kolom Opini Kabar Banten, Kamis, 14 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pekan ini, mulai marak pemberitaan yang mulai melongok situs bersejarah, tempat ziarah yang berkedudukan di Banten Lama, yang kian hari kian tidak terurus dan bahkan memprihatinkan keadaannya. &lt;br /&gt;Bukan itu saja, di daerah pemakaman yang sudah tidak asing lagi bagi awak media Televisi yang selalu mengabadikan situs-situs sejarah. Kini, pemandangan sehasri-hari disesaki dengan para pengemis dan Gepeng yang terkadang “Memaksa” sedekah, atau sekedar menawarkan jasa kantong plastik. &lt;br /&gt;Situs sejarah selalu akan bersentuhan dengan kajian arkeologi dan filologi. Saat ini, kajian filologi belum banyak di minati oleh beberapa kalangan, bahkan peneliti sekalipun, termasuk di Banten. Meskipun ilmu ini, tidak dikatan baru, tetapi gaungnya belum terasa, bisa jadi di beberapa perguruan tinggi belum memasukkan studi filologi dalam sebuah silabus untuk diajarkan paling tidak setingkat mahasiswa, termasuk di dalamnya di Banten. &lt;br /&gt;Sekilas meninjau sejarah Banten, secara geografis maupun teritorial, Banten telah lama bersentuhan sekaligus bersinggungan dengan masuknya kerajaan besar Islam, budaya Hindu, Budha, mistisime, dan lain sebagainya. Terlihat misalnya terpampang dengan jelas terdapat benteng bekas kerajaan Islam dengan relif ukiran-ukiran kaligrafi Arab, batu nisan, peninggalan “Batu Qur’an” yang bernuansa artistic. &lt;br /&gt;Ini artinya, peninggalan itu bukan barang mati belaka, sesungguhnya peninggalan itu bisa dihidupkan dengan kajian pernaskahan (filologi).  &lt;br /&gt; Seminar sehari tentang “Filologi dan penguatan kajian Islam Indonesia” yang pernah diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama Puslitbang Lektur Keagamaan Balai Diklat Kementerian Agama RI pada beberapa pecan yang lalu perlu disambut dengan baik. &lt;br /&gt;Dalam seminar ini menghadirkan beberapa pembicara. Di antaranya, Prof. Azyumardi Azra, sebagai keynot speech, Prof. Atho Mudzhar, Prof. Hendri-Chambert Loir, Dr. Oman Fathurrahman, dan Dr. Fuad Jabali. Yang menarik dari seminar ini berupaya untuk menghidangkan sekaligus menjelaskan kajian naskah (filologi) bukan terbatas pada sumber-sumber sejarah, sastra dan tasawuf, akan tetapi bukan hanya berhenti pada tataran itu saja bisa juga dalam karya lain semisal sumber fiqih, syariah (hukum Islam), tafsir, bahkan tidak jarang ditemukan juga naskah-naskah kuno yang bersumber dari budaya. &lt;br /&gt; Penekanannya pada bagaimana mengupayakan penemuan sumber primer yang dianjurkan kepada para pengajar, peneliti, dan praktisi pendidikan melalui seminar, kuliah dan kajian ilmiah lainnya. Bila merujuk ke belakang, tradisi tulis menulis telah lama berjalan dalam kancah wacana lokal Islam (Islamic local discourse) di Indonesia. &lt;br /&gt;Banyak faktor pendukung yang menjadi media, bukan hanya pada media kertas saja, tetapi sudah dilakukan pula pada batu, kulit binatang, tulang, bahkan daun. Kajian pernaskahan nusantara di bilang masih awal di Indonesia. Dalam kajian awal, Prof. Azyumardi Azra mengatakan bahwa kajian pernaskahan di nusantara telah di mulai dari tahun 80-an. &lt;br /&gt;Di antara para pengkaji adalah Prof. Peunoh Dali yang mengkaji teks naskah “Mir’ah al-thullâb”, selanjutnya pernah dilakukan oleh Prof. Salman Harun yang mengkaji teks “Tafsir Tarjuman al-Mustafid” keduanya karya Syaikh Abdurrauf Singkel, Prof. Moh. Ardani membahas kajian teks-teks jawa, yang menarik mereka tidak dikatakan atau tidak bergelar filolog. &lt;br /&gt; Selanjutnya, kajian filologi secara khusus di dalami oleh Prof. Nabilah Lubis sebagai peletak awal pengembangan filologi di IAIN kemudian sampai berubah menjadi UIN Jakarta. Salah satu muridnya adalah Dr. Oman Fathurrahman, dialah kemudian yang melanjutkan estafet pelanjut kajian ini dengan mengambil program S-3 dengan mengambil konsentrasi Filologi di UI. &lt;br /&gt;Ilmu filologi yang selama ini mungkin dianggap sebagai kajian yang sukar, sudah mulai bergeliat menjadi reformulasi keilmuan. Bahkan saat ini, di SPs UIN Jakarta sendiri sudah membuka program khusus kajian filologi, atas kerjasama Puslitbang Lektur Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag RI.&lt;br /&gt; Bahkan sebelum kajian di atas, Syekh Imam Nawawi Banten (w. 1314 H./ 1897 M.) memiliki banyak kitab baik dalam bentuk manuskrip maupun yang telah naik cetak yang sayangnya tidak sampai ke Indonesia, apalagi tidak ada kesadaran dari masyarakat Banten untuk melestarikan, atau dalam bahasa lain, karya-karyanya adalah kekayaan intelektual karya asli wong Banten. &lt;br /&gt;Sehingga generasi penerusnya, tidak tahu karya asli tersebut, atau bisa jadi sebagian masyarakat Banten mengenalpun tidak sosok Nawawi. Forum kajian Kitab Kuning (FK3) menyebutkan beliau menulis 100 kitab lebih dalam berbagai bidang. Di antara sekian banyak karya Syekh Nawai yang dikenal dan terlacak adalah Tijan al-Durar, Nûr al-Dhalam, Fath al-Majid, Tafsir al-Munir, Qami’ al-Tughyan, Tanqih al-Qaul, Sullam al-Munajat, Nihayah al-Zain, kasyifah al-Syaja’, nashaih al-‘Ibad, Minhaj al-Raghibun, dan Uqud al-Lujain fi bayan Huquq al-Jauzayn. &lt;br /&gt;Kalau mau melacak, tidak menutup kemungkinan banyaknya pesantren di Banten, juga melahirkan banayk manuskrip yang terserak di beberapa Ponpes, yang hanya dinikmati oleh pesantren dan santri setempat saja sebagai benda “pusaka dan keramat”.&lt;br /&gt; Ada sebuah catatan penting meminjam bahasa Edwar Said seorang orientalis Kristen berkebangsaan Palestina “from with in” bahwa dalam menjelaskan dan mengkaji Islam, kita harus mengkaji dari dalam, bukan sebaliknya “from with out”.  Maksudnya adalah mengkaji tentang Islam sejatinya belajar dari diri dan dari penulis para pengkaji Islam sendiri, bukan dari non Islam. &lt;br /&gt;Hal ini dimungkinkan dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman tentang kajian tersebut, atau paling tidak akan terjaga keobjektifitasan dari pengkaji. Begitupula dalam mengkaji naskah-naskah Islam. Walupun teori ini bisa saja dipatahkan dan di kritik, agar tidak terjadi pengungkapan terhadap pola pikir dan paradigma.&lt;br /&gt; Pendek kata, naskah yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah makhtûthât merupakan budaya dan warisan intelektual yang merefleksikan keadaan ketika itu, baik dari sisi sosial, keagamaan, pemikiran, dan termasuk kemajuan dari peradaban masyarakat lokal sekitar. &lt;br /&gt;Kalau demikian halnya, kajian atas pernaskahan menjadi sebuah keniscayaan dan kajian ini menjadi penting. Di beberapa daerah masih banyak terdapat aksara pegon yang bertuliskan Arab, atau tepatnya aksara Arab. Bahkan bisa dimungkin naskah yang ada di nusantara ada ketekaitan dengan Belanda dan Jepang yang pernah menjajah Indonesia. Dan Banten menjadi salah satu Provinsi yang bersentuhan dengan kesejarahan itu.&lt;br /&gt; Saya kira masih sangat banyak naskah yang belum tergarap, baik naskah Jawi, Banten, Sunda, Melayu, Bugis, dan lain-lain. Selain itu, seperti telah disinggung di pembahasan awal, bahwa pernaskahan bukan hanya ditulis di atas kertas saja, akan tetapi banyak juga media naskah termasuk yang tertulis di tembok bahkan nisan-nisan. &lt;br /&gt;Memang filologi terpaku pada kerumitan pembacaan teks, tetapi bukan berarti kerumitan ini akan menenggelamkan semangat keingintahuan kajian terhadap teks. Belum lagi dengan problem sejarah lampau nusantara yang banyak merelakan naskah-naskah nusantara yang banyak diboyong ke Negara lain. &lt;br /&gt;Selain banyak pula karya manuskrip (makhtûthât) yang masih dianggap sakral oleh beberapa kalangan yang ada di beberapa tempat semisal keraton dan tempat-tempat suci lainnya. Problem yang lain adalah banyak karya naskah karya ulama Indonesia yang tinggal di Negara lain. Dan pada intinya kajian ini merefleksikan kembali dalam rangka menghidupkan khazanah intelektual bangsa yang kian ditinggalkan peminatnya.&lt;br /&gt; Pada akhirnya, kajian filologi atas pernaskahan nusantara sejatinya mulai digagas untuk dimasukkan dalam kurikulum perguruan tinggi, agar penyebarannya lebih meluas pada tataran masyarakat luas, seperti kajian keislaman lainnya seperti kajian fikih, syariah, ushuluddin, dan lain-lain. Bahkan sejatinya menjadi tanggung jawab pemerintah juga untuk melestarikan dan menjada kekayaan intelektual yang tidak ternilai harganya. Kalau bukan kita siapa lagi.!!!.[Wallâhu a’lam bi al-shawâb]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; *Penulis adalah kandidat Doktor Islamic Studies Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen IAIN Fakultas Syariah Raden Intan, Lampung, tinggal di kel. Pabean, Kec. Purwakarta, Cilegon, Banten. Email: elhasan_ahsyamsun@yahoo.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3702966174809431916?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3702966174809431916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3702966174809431916' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3702966174809431916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3702966174809431916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/10/menghidupkan-filologi-di-banten.html' title='Menghidupkan Filologi di Banten'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-2205467083003786198</id><published>2010-10-10T10:34:00.000-07:00</published><updated>2010-10-10T10:34:08.893-07:00</updated><title type='text'>DIMENSI RUHANI MANUSIA</title><content type='html'>DIMENSI RUHANI MANUSIA&lt;br /&gt;Oleh: Hasani Ahmad Said*&lt;br /&gt;*Tulisan ini pernah dimuat di Opini Koran Kabar Banten,Sabtu,9 Okt 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia secara fisik tak ubahnya seperti belalang kecil yang hinggap di pohon-pohon. Tetapi dalam diri yang kecil itu terdapat arsy Tuhan, yang luasnya lebih luas dari bumi dan langit, demikian ungkapan Jalaludin Rumi.&lt;br /&gt;Manusia pada hakikatnya terdiri atas dua dimensi. Dimensi jasmani dan ruhani. Dua dimensi itu selayaknya harus tersentuh proses pembelajaran dalam hidup manusia. Dimensi ruhani ada dan terdapat dalam qalbu, ruh, nafs, dan aqal yang pada gilirannya membawa ketentraman baik jiwa manusia di tengah kegelisahan kehidupan dunia modern sekarang, atau malah sebaliknya. &lt;br /&gt;Baiklah coba satu persatu diuraikan dalam tulisan ini untuk menemukan eksistensi manusia sesungguhnya sebagai manusia yang diposiskan sesempurnanya ciptaan. Pertama  Qalb yang bermakna membalik, kembali, maju-mundur, naik turun, berubah-ubah. Kata ini digunakan untuk menamai bagian dalam dari manusia yang menjadi sentral diri manusia itu sendiri, yang kita terjemahkan dengan hati. &lt;br /&gt;Qalb yang suci bagaikan bola lampu kristal yang jernih dan tampak titik apinya, tempat bertemunya minyak dan api, dari luarnya diterangi oleh cahaya iman sedangkan di dalamnya diterangi cahaya ruh suci; sehingga terberkatilah dua rumah: rumah jiwa dan rumah jasad oleh cahaya-cahaya tersebut&lt;br /&gt; Al-Ghazali (w. 505 H.), dari kalangan sufi, mencoba menjelaskan pengertian qalb dengan terlebih dahulu membuat kategori yakni qalb dalam pengertian fisik, yaitu segumpal daging sebagian organ tubuh yang terletak pada bagian kiri ronga dada, dan merupakan sentral peredaran darah; di mana darah itu yang membawa kepada kehidupan. Al-Ghazali mengatakan, hati dalam kategori ini adalah hati biologis yang menjadi obyek kajian para ahli kesehatan.&lt;br /&gt; Kedua adalah ruh, kata ruh berasal dari akar kata r w h. Dalam hal ini, makna resmi kata tersebut yang berarti nyawa yang menggerakkan makhluk hidup, dapat dipahami secara intuitif sebagai udara yang menggerakkan jasad manusia. Karena udara tidak dapat dilihat, maka demikian pula ruh, yang hanya dapat dirasakan keberadaannya yang seperti angin itu.&lt;br /&gt; Ruh mengantar pada ilahi, jasad membawa pada keduniawian. Ruhani adalah yang mengendalikan, memberikan visi dan nilai-nilai bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani dan insani. Ruh kita sesungguhnya perwujudan arsy Tuhan. Jangkauannya lebih luas dari bumi. &lt;br /&gt;Jadi, kalau kita mencintai dunia berarti kita memenjarakan ruh kita di sangkar yang kecil. Mana mungkin burung elang itu bisa bahagia di dalam sangkar yang kecil. Bebaskan ruh kita dari sangkar dunia.&lt;br /&gt; Dalam kalangan sufi, ruh tidak mereka definisikan, tetapi mereka melihatnya dari sisi bahwa ruh adalah alat bagi manusia dalam berhubungan dengan Tuhan. Ruh iru erat hubungannya dengan jantung, di mana ia beredar bersama peredaran darah, sehingga kalau detak jantung sudah berhenti, maka berakhir pulalah ruh itu. &lt;br /&gt;Akan tetapi, ruh yang menjadi sasaran tasawuf adalah ruh lathifah al-‘Alimah al-mudrikah min al-insan (sesuatu yang halus, yang mengetahui dan mempersepsi, yang terdapat dalam diri manusia), atau sama pengertiannya hati dalam kategori kedua di atas. &lt;br /&gt; Ketiga, nafs, istilah nafs dalam al-Qur’an yang jama’nya anfus dan nufus diartikan jiwa (soul), pribadi (person), diri (self atau selves), hidup (life), hati (heart), atau pikiran (mind), di samping juga dipakai untuk beberapa arti lainnya.&lt;br /&gt;Mengungkap tentang al-nafs tidak dapat dipisahkan dengan ruh; sejatinya keduanya harus didudukkan sapu paket. Ruh itu dari Allah (Qul al-ruhu min amri Rabbi), sedangkan Allah itu maha suci dan immateri. Maka ruh itupun bersifat immateri dan suci.&lt;br /&gt;Nurcholis Madjid menjelaskan bahwa nafs atau nafsu, emosi, memiliki kecenderungan terhadap kejelekan. Namun demikian, emosi yang ada pada manusia ibarat pisau bermata dua, emosi dapat membawa bencana, tetapi juga mendorong manusia mencapai puncak keilmuan yang sangat tinggi.  &lt;br /&gt;Nafsu menempati bagian jantung manusia, sedang akal menempati otak manusia. &lt;br /&gt;Al-Qur’an juga menyebut “Fakasauna al-idzama lahma” lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging (Q.S. Al Mu’minun [23]:14). Tatkala usia kandungan sembilan puluh hari proses pembentukan tubuh mulai berlangsung. &lt;br /&gt;Maka nafs (jiwa), sebaiknya dipahami sebagai totalitas daya-daya ruhani berikut interaksinya dan aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Quraish Shihab cenderung memahami nafs sebagai sesuatu yang merupakan hasil perpaduan jasmani dan ruhani manusia. Perpaduan yang kemudian menjadikan yang bersangkutan mengenal perasaan, emosi, dan pengetahuan serta dikenal dan dibedakan dengan manusia-manusia lainnya.&lt;br /&gt;Keempat, ‘Aql yang berarti ikatan, batasan, atau menahan.  Al-Ghazali meng-kategorikan akal atas dua pengertian. Pertama akal dikaitkan dengan pengetahuan tentang suatu realitas, kedua akal diartikan sama dengan kalbu. Jadi hati tak berbeda dengan akal. Meski demikian, kaum sufi menempatkan akal identik dengan dzawk (perasaan batin). Oleh karena itu, mereka berkeyakinan bahwa akal yang mampu mempersepsi sesuatu, sehingga menjadi sebuah konsep. &lt;br /&gt; Dari uraian di atas, bisa dikatakan bahwa manusia tidak terlepas dari empat dimensi di atas. Kemudian, hati, ruh, nafsu, dan akal akan membawa kepada manusia yang sesungguhnya. Dalam artian bahwa dengan empat dimensi itu, manusia akan menjadi posisi/kedudukan  yang terhormat, juga sebaliknya, bisa juga dalam posisi tersungkur atau hina. &lt;br /&gt;Alquran menggambarkan mengenai penciptaan manusia sebaik-baik ciptaan (fî ahsani taqwîm). Akan tetapi posisi yang Allah berikan dalam posisi terbaik itu, bisa juga berbalik 180 derajat karena ulah manusia, yang kemudian digambarkan oleh Alquran sebagai sehina-hinanya manusia. Bahkan, manusia akan terlempar ke dasar kerak neraka. &lt;br /&gt;Tepatlah kiranya, dua potensi yang Allah gambarkan dalam Q.S. al-Syams yakni Allah mengilhamkan kejelekan dan ketakwaan. Pertanyaannya tinggal pilih yang mana? Maka, dalam hal ini keempat dimensi di atas yang akan membawa manusia kelembah ke-takwaan atau kejelekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah Dosen tetap Fakultas Syari’ah IAIN Raden Intan, Lampung &amp; Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini tinggal di Pabean, Purwakarta, Cilegon, Banten.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-2205467083003786198?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/2205467083003786198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=2205467083003786198' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2205467083003786198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2205467083003786198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/10/dimensi-ruhani-manusia.html' title='DIMENSI RUHANI MANUSIA'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-857284759041294122</id><published>2010-10-10T10:31:00.000-07:00</published><updated>2010-10-10T10:31:35.299-07:00</updated><title type='text'>Masjid, Simbol Peradaban Islam</title><content type='html'>Masjid, Simbol Peradaban Islam&lt;br /&gt;Oleh: Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Syariah, IAIN Bandar Lampung&lt;br /&gt;*Tulisan ini dimuat di kolom Opini Lampung Post, Jum'at, 8 Oktober 2010  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menengok sejarah klasik Islam, masjid yang pertama kali dibangun adalah Masjid Nabawi pascahijrah. Dikisahkan, sesampainya rombongan Nabi saat hijrah dari Mekah menuju Madinah, setelah unta tunggangan Rasulullah saw. berhenti di suatu tempat di Madinah, maka kaum muslimin menjadikannya sebagai tempat untuk menunaikan salat.&lt;br /&gt;Tempat itu merupakan tempat penjemuran kurma milik Suhail dan Sahl, dua anak yatim dari Bani Najjor, yang berada dalam pemeliharaan As’ad bin Zurarah.&lt;br /&gt;Babak hijrah tersebut ditandai oleh sebuah gagasan untuk membangun masjid, yang kelak akan menjadi saksi bisu tentang gemerlapnya peradaban Islam. Masjid menjadi sebuah magnet bagi peradaban Islam saat itu dan di situlah Rasulullah mampu membangun sebuah episentrum sebuah peradaban.&lt;br /&gt;Konsep masjid pusat peradaban tersebut menjadikan masjid lebih dari sekadar tempat sujud. Secara leksikologi, seperti akar kata masjid terambil dari kata Sajada-yasjudu-Sajdan yang kesemuanya mengandung arti bersujud, patuh, taat, serta tunduk penuh hormat dan takzim. Sedangkan untuk menunjukan suatu tempat kata Sajada menjadi kata masjidun (Isim makan) yang artinya tempat sujud menyembah Allah swt.&lt;br /&gt;Allah berfirman: "Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (At Taubah (9): 18)&lt;br /&gt;Ayat ke-18 ini dapat dipahami dari dua sudut pandang yang berbeda tentang pelaku pemberdayaan masjid. Pertama, yang benar-benar memberdayakan masjid dalam arti memakmurkannya hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Kedua, jaminan Allah bagi para pelaku pemberdayaan masjid bahwa mereka adalah orang-orang yang akan senantiasa dijaga keimanannya oleh Allah.&lt;br /&gt;Masjid Agung Banten, termasuk The oldest mosques in Indonesia 10 masjid tertua di Indonesia. Sepuluh masjid tua itu adalah Masjid Tua Palopo (1604), Masjid Al Hilal Katangka (1603), Masjid Mantingan (1559 AD), Masjid Agung Banten (1552-1570), Masjid Menara Kudus (1537), Masjid Sultan Suriansyah (1526), Masjid Agung Demak (1474), Masjid Ampel (1421), Masjid Wapauwe (1414), Masjid Saka Tunggal (1288).&lt;br /&gt;Masjid Agung Banten didirikan oleh Sultan pertama Kasultanan Demak Maulana Hasanuddin ketika menjabat sebagai Sultan Banten pada 1552—1570. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati.&lt;br /&gt;Melihat dari sisi ini, Banten tentunya memiliki nilai sejarah tersendiri dalam penyebaran agama Islam di Banten. Selain itu, Masjid Agung Banten merupakan salah satu peninggalan kebudayaan terbesar di antara manuskrip-manuskrip lain.&lt;br /&gt;Masjid bagi sebagian kalangan masih menjadi masjid yang disakralkan. Terlihat misalnya pada tanggal 12 Maulud sudah menjadi tradisi selalu diadakan peringatan maulid (kelahiran) Nabi di Masjid Agung Banten. Saat inilah biasanya, jemaah membludah “ngalap” berkah. Masjid Agung Banten hingga kini masih berdiri kokoh, oleh karena itu tak heran Masjid Agung Banten memiliki nilai historis yang cukup tinggi, khususnya dalam proses penyebaran Islam di Tanah Banten. Di beberapa kota/kabupaten juga berdiri tegak Masjid Agung yang menjadi simbol peradaban sekaligus kebanggaan daerahnya.&lt;br /&gt;Kalau berkaca pada zaman Rasulullah, seperti telah diungkapkan di atas, pada zaman Rasul di masjid tempat menyusun strategi perang dan pembangunan ekonomi umat. Maka, masjid pada zaman sekarang, sejatinya bukan hanya dijadikan tempat ibadah semata, melainkan tepatnya masjid sudah mempunyai peranan yang multifungsi atau yang dikenal sekarang sebagai pusat Islam (Islamic center/markaz al-islam) seperti tempat menuntut ilmu, pembinaan jemaah, pusat dakwah dan kebudayaan Islam, pusat pengaderan dan basis kebangkitan Islam.&lt;br /&gt;Tidak terelakkan lagi, di mana ada pusat pendidikan, perkantoran, perbelanjaan, pembinaan ummat, di situ pula ada masjid megah yang menjadi payung dari semua aktivitas semua itu. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pembinaan remaja masjid yang akan menjadi pilar pengganti para generasi tua yang didasari dan dilandasi dengan akidah dan akhlak yang kokoh.&lt;br /&gt;Kalau semua sudah berangkat dari masjid, sebelum kerja melakukan salat duha dulu, saatnya menjelang azan zuhur atau asar segala aktivitas dihentikan untuk salat berjemaah, dan selalu menjaga silaturahmi melalui berjamaan. Maka, insya Allah negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan terlaksana. Semoga. n&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-857284759041294122?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/857284759041294122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=857284759041294122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/857284759041294122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/857284759041294122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/10/masjid-simbol-peradaban-islam.html' title='Masjid, Simbol Peradaban Islam'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-8671619732696746355</id><published>2010-09-28T21:31:00.000-07:00</published><updated>2010-09-28T21:31:09.557-07:00</updated><title type='text'>Meluruskan Makna Jihad Bag. 2</title><content type='html'>Oleh: Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;(Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen Syariah IAIN Lampung)&lt;br /&gt;*Tulisan ini pernah dimuat di kolom Opini Koran Harian Kabar Banten, Sabtu, 25 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jihad adalah sebuah istilah yang diperdebatkan (debatable) dan multitafsir (interpretable). Jihad memiliki makna yang beragam, baik makna eksoterik maupun esoterik. Jihad eksoterik biasanya dimaknai sebagai perang suci (the holy war). &lt;br /&gt;Jihad dalam arti perang suci oleh sebagian pakar dipandang sebagai suatu pemaknaan yang terpengaruh oleh konsep Kristen (Perang Salib). Namun, jihad jelas berbeda dengan perang. Maka dalam Alquran banyak redaksi yang mengunkan istilah model ini. Antara lain jiha&gt;d, al-qita&gt;l, dan al-h}arb. Dan kesemuanya itu memiliki arti yang berbeda-beda. Kalaupun ada ayat yang memerintahkan untuk berperang, itu pasti konteksnya adalah mempertahankan diri dari gangguan dan penganiayaan pihak kafir. &lt;br /&gt;Sedang makna esoterik, lebih kepada pemaknaan jihad atau lebih tepatnya muja&gt;hadah yang mempunyai arti suatu upaya sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebagian orang memahami jihad dengan pemahaman yang sangat sempit. Jika disebut jihad, maka yag terbayang di dalam benak adalah peperangan, senjata, darah, dan kematian. &lt;br /&gt;Kewajiban berjihad dimaknai sebagai kewajiban memerangi orang-orang kafir dan munafik hingga mereka masuk Islam. Pemahaman seperti itu jelas tidaklah tepat, karena jihad tidak hanya berperang secara fisik dengan mengangkat senjata, tetapi jihad di sini mempunyai arti yang sangat luas. Kalau ada makna perang, itu adalah salah satu atau sebagian kecil dari bentuk jihad yang dilakukan dalam wujud konkrit, yang dilakukan dalam kondisi tertentu.&lt;br /&gt;Yu&gt;suf Qard{a&gt;wi&gt; dalam buku Fiqh al-Jiha&gt;d, ketika memaknai jihad dalam arti perang dalam Islam, ia membedakan menjadi dua tujuan. Pertama, tujuan jihad defensif (ahda&gt;f jiha&gt;d al-daf‘) dan ofensif (ahda&gt;f jiha&gt;d al-t}alab). Jihad defensif yaitu melawan musuh apabila mereka melakukan agresi terhadap negeri Islam. Maksud jihad defensif adalah jihad perlawanan terhadap musuh-musuh yang melakukan pendudukan terhadap negeri Islam. &lt;br /&gt;Dalam kondisi seperti ini, para ulama fikih mengategorikan jihad model ini sebagai fard} ’ayn. Sedang jihad ofensif adalah jihad yang dilakukan terhadap musuh yang berada di negerinya, tetapi kaum muslim mencari dan memerangi mereka di negeri mereka sendiri.&lt;br /&gt; Lebih lanjut, Qard}a&gt;wi&gt; mengartikan jihad adalah mencurahan usaha (badhl al-juhd), kemampuan dan tenaga, yakni berarti menanggung kesulitan (al-mushaqah) yang terambl dari bentuk mas}da&gt;r dari kata ja&gt;hada-yuja&gt;hidu-jiha&gt;dan-muja&gt;hadah. &lt;br /&gt; Misalnya dengan mengutip pendapat Ibn al-Qayyim yang telah membagi jihad ke dalam tiga belas tingkatan. Ada jihad hawa nafsu, jihad dakwah dan penjelasannya, dan jihad sabar yang dalam bahasa Qard}a&gt;wi&gt; disebut sebagai jihad sipil (al-jiha&gt;d al-madani&gt;). Kalaupun ada jihad yang diartikan peperangan, sayangnya menurut Qard}awi banyak orang yang mereduksi makna jihad dengan makna peperangan saja. &lt;br /&gt;Selain makna-makna di atas, banyak persepsi mengenai makna jihad. Di antaranya jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, jihad menghadapi orang-orang yang senang berbuat maksiat dan orang-orang yang menyimpang dari kalangan mukmin, jihad melawan orang-orang munafik, dan jihad melawan orang-orang kafir.&lt;br /&gt;Pada pembagian di atas, urutan pertama adalah jihad melawan nafsu. Jihad ini merupakan perjuangan yang dianggap amat besar dan berat, dalam bahasa Hadis disebut jiha&gt;d al-akbar dan kendalinya adalah dengan puasa.  Dengan demikian, dapat dikatakan pangkal segala jihad adalah terletak pada bagaimana upaya melawan dan menunduukan hawa nafsu. Maka, ketika sudah mampu menundukkan nafsu, maka itulah upaya yang sesunguhnya dalam berjihad.&lt;br /&gt;Selajutnya, jihad kedua adalah melawan setan. setan sebagaimana diketahui, dari penciptaannya sampai hari kiamat akan senantiasa kekal dan peranannya hanya mengganggu dan menjadi musuh manusia. Bahkan, dalam Alquran Q.S. al-A‘raf/7: 17, ditegaskan setan akan mengganggu manusia dari seluruh penjuru arah untuk menjerumuskan manusia agar menjadi makhluk yang tidak taat pada Tuhannya. &lt;br /&gt;Ketiga jihad menghadapi orang durhaka. Dalam istilah Alquran dan hadis dikenal dengan amar ma‘ruf nahy munkar, tentunya dengan melihat objek dakwah dan menggunakan pendekatan-pendekatan yang lebih mengedepankan hikmah, mau‘idhat al-h}asanah, dan muja&gt;dalah dengan cara terbaik.&lt;br /&gt;Keempat, jihad melawan orang munafik. Kata muna&gt;fiq yang berasal dari na&gt;faqa, jamaknyamuna&gt;fiqu&gt;n dan mas}dar-nya nifa&gt;q mempunyai arti keluar dari keimanan secara diam-diam. &lt;br /&gt;Kelima, jihad melawan orang kafir. Ka&gt;fir merupakan isi fa&gt;‘il (pelaku) dari kafara-yakfuru-kufran yang mengandung banyak makna. Di antaranya: menurutup (Q.S. Ibra&gt;hi&gt;m/14: 7), melepaskan diri (Q.S. Ibra&gt;hi&gt;m/14: 22), para petani atau kuffa&gt;r (Q.S. al-H}adi&gt;d/57: 20), menghapus (Q.S. al-Baqarah/2: 271, al-Anfa&gt;l/8: 29), denda (kaffa&gt;rah) karena melanggar salah satu ketentuan Allah (Q.S. al-Ma&gt;’idah/5: 89 dan 95), kelopak yang menutup buah, tetapi di dalam Alquran juga berarti lain, yakni mata air yang bening, harum, dan gurih di surga (Q.S. al-Insa&gt;n/76: 5). Akan tetapi dalam konteks ini, arti yang mendekati adalah kafir berarti menutupi dan menyembunyikan. &lt;br /&gt;Dari beberapa keterangan di atas, dapat pula diambil benang merah bahwa terlihat sekali nuansa pluralistik makna jihad. Sehingga, kalau dikelompokkan bisa jadi lima pembagian itu masuk dalam dua kategori yakni jihad secara fisik dan jihad non fisik. Empat pengelompokkan masuk ke dalam jihad non fisik dan satu masuk dalam kategori jihad fisik memerangi orang kafir.&lt;br /&gt;Menurut Azyumardi Azra, kesalahpahaman terhadap pengertian jihad terjadi pada berbagai kalangan, dari pengamat Barat (orientalis) ataupun kalangan muslim sendiri. Para orientais mengumandangkan bahwa Isam disebaran dengan pedang. &lt;br /&gt;Bagi mereka, ketika mendengar ungkapan jihad, maka akan muncul dalam ingatan mereka adalah angkatan perang muslim yang menyerbu ke berbagai wilayah dengan tujuan memaksa non muslim untuk memeluk Islam. Pemahaman jihad sebagai perang (konfrontasi fisik) melawan non muslim sampai mereka masuk Islam, juga didapati pada kalanagn para penulis muslim. Dalam pemahaman ini, jihad diidentikkan dengan perang suci (holy war).&lt;br /&gt;Dari beberapa pengertian di atas, makna kata jihad, baik yang berasal dari jahd ataupun juhd, semuanya menggambarkan upaya maksial seseorang dalam menghadapi musuh, baik musuh scara hakiki maupun majazi. Sehingga, berjihad berarti bekerha keras tanpa pamrih, dan untuk menghadapi musuh dan mencapai tujuan maksimal, maka seseorang harus bersungguh-sungguh. &lt;br /&gt;Orang yang bersungguh-sunggh inilah yang masuk dalam kategori jihad. Tepatlah kiranya ungkapan Wahbah Zuhayli yang lebih bersepakat bahwa jihad dalam Islam mengandung pengertian umum. Sehingga, Wahbah Zuhayli&gt; dalam al-Fiqh al-Isla&gt;mi&gt; wa Adillatuh cenderung lebih mengusulkan definisi jihad yang lebih toleran yakni mengerahkan kemampuan dan kekuatan dalam memerangi dan melawan orang-orang kafir dengan jiwa, harta dan lisan.&lt;br /&gt;Pada perkembangan selanjutnya, dari berbagai makna yang telah diungkapkan di atas, paling tidak ada enam makna jihad dalam Islam. Pertama, jihad bermakna perjuangan individual dalam menghadapi kondisi yang sulit karena perbuatan musuh, seperti pada fase Mekah (610-622) dan juga tergambar dalam Q.S. al-Ma‘a&gt;rij/70: 5; kedua, jihad berkembang menjadi perjuangan individual dan komunal (al-muka&gt;fahah al-dha&gt;tiyah wa jama&gt;’iyah) terhadap kaum musyrik Mekah seperti jihad mengorbankan harta dalam Q.S. al-tawbah/9: 41); ketiga, jihad bermakna perang seperti makna jihad pasca Hijra; keempat, jihad berarti perang mewan kaum musyrikin sampai ia bersyahadat; kelima, jihad bermakna memerangi orang-orang yang mengingkari ajaran agama dari Ahl al-kita&gt;b dan orang yang berkhianat dan melanggar janji; dan keenam, jihad berarti perjuangan spiritual dan moral terhadap kesulitan dan kesukaran.&lt;br /&gt;Uraian di atas sangat jelas, stigma teror yang mengatas namakan agama itu jelas keliru karena jihad bukan hanya bermakna perang, tetapi sangat luas seperti yang digambarkan di atas. Kejadian selama ini yang kita saksikan seolah meligitimasi kebenaran makna jihad padahal itu sangat salah besar. Jadi siapa saja yang masih terbius dengan pengungkpan makna yang ekslusif, sadarlah karena pemahaman yang sempit akan menyempitkan pula pemhaman ajaran agam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah Dosen fak. syariah IAIN Raden Intan &amp; Kandidat Doktor UIN Jakarta. Saat Tinggal di Kel. Pabean, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-8671619732696746355?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/8671619732696746355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=8671619732696746355' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8671619732696746355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8671619732696746355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/meluruskan-makna-jihad-bag-2.html' title='Meluruskan Makna Jihad Bag. 2'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3677611620171809942</id><published>2010-09-28T21:29:00.001-07:00</published><updated>2010-09-28T21:29:56.266-07:00</updated><title type='text'>Meluruskan Makna Jihad Bag. 1</title><content type='html'>Oleh Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;(Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen Syariah IAIN Lampung)&lt;br /&gt;*Tulisan ini pernah dimuat di kolom Opini Koran Harian Radar Banten, Sabtu, 25 September 2010. &lt;br /&gt;Diunduh dari http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=58652&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari segi bahasa, term jihad dalam Alquran berasal dari kata jahd dan juhd. Kata jahd biasanya diterjemahkan dengan sungguh-sungguh atau kesungguhan, letih atau sukar dan sekuat-kuatnya. Adapun kata juhd biasa diterjemahkan dengan kemampuan, kesanggupan, daya upaya, dan kekuatan.&lt;br /&gt; Salah satu konsep ajaran Islam yang dianggap menumbuhsuburkan kekerasan adalah jihad. M Quraish Shihab menyatakan bahwa banyak para pakar yang menilai Islam sebagai ”misunderstood religion”, agama yang disalahpahami. Kesalahpahaman itu bukan saja terjadi pada non-muslim, melainkan juga oleh sementara kaum muslim. &lt;br /&gt; Persoalan yang disalahpahami pun beragam. Penyebabnya dapat bermacam-macam.Yang disepakati untuk segera diluruskan adalah seputar isu kekerasan denganmerujuk kepada ayat Alquran atau hadis yang memerintahkan berjihad danberperang. Persoalan ini tidak jarang mengantar musuh-musuh Islam menamai sebagai agama yang merestui dan menyebarkan teror apalagi ada sementara umat Islam dengan sikap mereka yang keras–melampaui–batas–dijadikan bukti pendukung penilaian yang tidak berdasar itu. &lt;br /&gt; Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jihad diartikan tiga persepsi. Pertama,jihad adalah usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan; kedua, jihad adalah usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa dan raga; dan ketiga jihad mengandung arti perang suci melawan orangkafir untuk mempertahankan agama Islam. Berjihad berarti berperang di jalan Allah. Dari pengertian ini dipahami bahwa jihad membutuhkan kekuaan, baik tenaga,pikiran maupun harta. Pada sisi lain, dipahami bahwa jihad pada umunya mengandung risiko kesulitan dan kelelahan di dalam pelaksanaannya. &lt;br /&gt; Istilah ijtihad merupakan terminologi dalam ilmu fiqih yang berarti mencurahkan pikiran untuk menetapkan hukum agama tentang sesuatu kasus yang tidak terdapathukumnya secara jelas dalam Alquran dan hadis. Sedang mujahadah merupakan istilah dalam ilmu tasawuf yang berarti perjuangan melawan hawa nafsu dengntujuan mendekatkan diri kepada Allah. &lt;br /&gt; Sedang, dalam terminologi Islam, kata jihad diartikan sebagai perjuangan sungguh-sungguh mengerahkan segala potensi dan kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan, khususnya dalam mempertahankan kebenaran, kebaikan dan keluhuran.Tetapi istilah jihad yang berarti perjuangan tidak selalu atau tidak semuanya berjuang di jalan Allah karena banyak ayat pula yang berarti berjuang dan berusaha seoptimal mungkin untuk mencapai tujuan. Misalnya, Q.S. al-Ankabut/29:8 dan Luqman/31: 15, yang masing-masingnya berbicara tentang konteks hubunganantara anak yang beriman dan orang tuanya yang kafir, dalam hal ini juga menggunakan term jihad.&lt;br /&gt; Jihad yang mengandung pengertian berjuang di jalan Allah, ditemukan pada 33 ayat: 13 kali di dalam bentuk fi’il madi (kata kerja bentuk lampau), limakali di dalam bentuk fi’il mudari’ (kata kerja bentuk bentuk sekarang atau yang akan datang), tujuh kali dalam bentuk fi’il amr (kata kerja perintah), empat kalidalam bentuk mas dar,dan isim fa’il (kata benda yang menunjukkan pelaku). Banyaknya bentuk ini mengindikasikan bahwa begitu luasnya dan beraneka ragam makna jihad, yakni perjuangan secara total yang meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk juga di dalamnya perang fisik atau mengangat senjata terhadap para pembangkang atau terhadap musuh. &lt;br /&gt; Dengan demikian, tidak tepatlah kiranya hanya memaknai jihad sebagai jihad yang mengandung pengertian berjuang di jalan Allah atau dalam bahasa lain tidak selalu jihad berkonotasi perang fisik. Apalagi seperti yang telah sedikit diulas di atas, kalau membincangkan ayat jihad tidak serta merta hanya turun pascahijrahnya Nabi, akan tetapi ayat-ayat yang berbicara tentang jihad juga ternyata turun di Mekah. &lt;br /&gt; Sehingga, kalau melihat sejarah ayat-ayat yang turun di Mekah masih berbicara seputar penanaman akidah dan keimanan. Misalnya, Q.S. al-Ankabut/29: 6 dan 69. Patron kata yang digunakan ayat ini menggambarkan adanya upaya sungguh-sungguh,atau tepatnya jihad di sini bermakna mujahadah. Jihad yang dimaksudkan adalah mencurahkan segala kemampuan yang dimiliki untuk mencapai ridha Allah. Karena itu, orang yang berjihad di jalan Allah tidak mengenal putus asa.&lt;br /&gt; Dengan demikian, jihad yang dimaksud di sini, bukan bukan dalamDengan demikian, jihad yang dimaksud di sini, bukan bukan dalam arti mengangkat senjata, karena berperang dan mengangkat senjata baru diizinkan setelah Nabi berada di Madinah, sedang ayat ini bahkan surah ini turun sebelum Nabi berhijrah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3677611620171809942?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3677611620171809942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3677611620171809942' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3677611620171809942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3677611620171809942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/meluruskan-makna-jihad-bag-1.html' title='Meluruskan Makna Jihad Bag. 1'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3305314138590820186</id><published>2010-09-28T21:27:00.000-07:00</published><updated>2010-09-28T21:27:34.992-07:00</updated><title type='text'>Halalbihalal Meneguhkan Pluralisme</title><content type='html'>________________________________________&lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan, kandidat doktor UIN Jakarta&lt;br /&gt;*Pernah dimuat di kolom Opini Koran Lampung Post, Senin, 20 September 2010  &lt;br /&gt; Kita kembali diramaikan dengan pemberitaan, mulai dari isu pembakaran Alquran dan pendirian masjid di negara adidaya, Amerika Serikat sampai penusukan pendeta akibat buntut dari perseteruan pendirian gereja di Bekasi yang dialami jemaat HKBP. Jelas, ini sangat menodai Idulfitri dan halalbihalal.&lt;br /&gt; Meskipun halalbihalal ini berasal dari bahasa Arab, di kalangan masyarakat Arab kata ini tidak terlalu populer. Istilah ini hemat saya lahir dari hasil kreativitas bangsa. Halalbihalal adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt; Pengistilahan halalbihalal, biasa dipakai untuk pertemuan setelah Lebaran. Diisi dengan saling bersalaman, silaturahmi, dan bisa koneksi/relasi jabatan, bisnis dan lain-lain setelah beberapa pekan tidak bertemu.&lt;br /&gt; Dalam pengertian yang lebih luas, halalbihalal adalah acara maaf-memaafkan pada hari dan pasca-Lebaran. Lebaran merupakan suatu pesta kemenangan umat Islam yang selama bulan Ramadhan telah berhasil melawan berbagai nafsu hewani. Dalam konteks sempit, pesta kemenangan Lebaran ini untuk umat Islam yang telah berpuasa dan puasa mereka dilandasi dengan keimanan.&lt;br /&gt; Dalam Alquran, setidaknya ada nilai-nilai yang mengajarkan halalbihalal. Perhatikan Q.S. Ali Imron ayat 134-135. Ayat ini bertalian dengan nasihat pada waktu peristiwa Perang Uhud. Akibat keinginan memperoleh harta rampasan perang. Kemudian, karena akibat Perang Uhud itu, banyak orang yang gugur di medan perang yang mengundang banyak penyesalan, bahkan kemarahan. Maka, nasihat petama adalah ajakan berinfak baik di waktu lapang maupun sempit. Nasihat kedua dari ayat di atas, imbauan menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.&lt;br /&gt; Ada tiga tingkatan manusia dalam menghadapi kesalahan orang lain menurut ayat di atas. Pertama, mampu menahan amarah (al-kodzimîn al-ghaidz); kedua, menghapus bekas-bekas luka, seolah tidak pernah terjadi apa-apa; dan ketiga, Allah kembali mengingatkan bukan hanya menahan amarah, atau hanya sekedar memaafkan, tetapi yang lebih disukai oleh Allah adalah berbuat kebaikan kepada orang yang pernah melakukan kesalahan.&lt;br /&gt; Ada terapi pada ayat berikutnya (135), yaitu siapa yang sengaja atau tidak melakukan perbuatn keji, baik itu berbuat dosa besar seperti korupsi, membunuh, berzina atau pelanggaran apapun, hendaklah mengingat Allah (dzakarullah) dan memohon ampunan atas dosa-dosa serta bertekat sekuat tenaga untuk tidak mengulanginya.&lt;br /&gt; Ada makna yang sangat dalam, dari dua ayat di atas, berangkat dari makna halalbihalal seperti tersebut di atas, yang ingin ditonjolkan oleh dua ayat di atas adalah pesan universal Islam untuk selalu berbuat baik dan mudah memaafkan orang lain. Sikap inilah yang mestinya menjadi warna masyarakat muslim Indonesia dan di negara-negara rumpun lainnya.&lt;br /&gt; Ketika sudah melalui proses sesuai dengan bimbingan ayat di atas, baru kemudian masuk ke tahap berikutnya yang kemudian dikenal dengan istilah Idulfitri. Id artinya kembali, fitri berasal dari bahasa Arab yakni fitrah yang mempunyai arti suci/bersih. Sehingga, idulfitri berarti kembalinya manusia kepada keadaan suci, atau keterbebasan manusia dari segala dosa dan noda sehingga dengan demikian ia berada dalam kesucian.&lt;br /&gt; Kesadaran akan semua kesalahan manusia, akan membawa kedekatan kepada Allah. Ketika manusia sudah bertaubat, itu artinya manusia kembali suci tanpa noda. Sehingga tidak ada pembatas atas makhluk dan Tuhan. Inilah makna Q.S. Al Baqarah: 186, "Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat, dan memperkenankan permohonan jika mereka bermohon kepada-Ku."&lt;br /&gt; Dalam hadis Qudsi Allah berfirman: "Apabila hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Bila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang menemuinya dengan berlari." (H.R. Bukhari dari Anas bin Malik).&lt;br /&gt; Gelar setelah proses di atas, yang kembali disandangkan adalah yang dikenal dengan istilah minal aidzin wal faizin. Kata-kata minal aidin wal faizin adalah penggalan dari doa panjang yang diucapkan ketika kita selesai menunaikan ibadah puasa, yakni “taqabbalallâhu minna wa minkum wa ja'alanallahu minal aidzin wal faizin" (Semoga Allah menerima (amalan-amalan) yang telah aku dan kalian lakukan dan semoga Allah menjadikan kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) keberuntungan (kemenangan).&lt;br /&gt; Dari uraian di atas dapat ditarik natijah bahwa halalbihalal, Idulfltri, dan minal aidzin wal faizin mengandung pesan agar yang merayakannya mewujudkan kedekatan kepada Allah dan sesama manusia. Kedekatan tersebut diperoleh dengan kesadaran terhadap kesalahan yang telah diperbuat.&lt;br /&gt; Sekilas menengok persoalan bangsa kita, di tengah gencatan polemik bangsa yang tidak kunjung usai, belum lagi Malaysia yang selalu berulah, lambannya penangan kasus-kasus nasional seperti hilangnya berita kasus Bank Century, pajak, dan masih banyak PR lain yang melanda bangsa kita. Belum lagi, negara kita kembali diuji dengan letusan gunung berapi, kebebasan beragama kian terusik. Kuncinya adalah lakukan perbaikan (muhsinin), tahan amarah jangan mudah terprovokasi, dan maafkanlah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3305314138590820186?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3305314138590820186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3305314138590820186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3305314138590820186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3305314138590820186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/halalbihalal-meneguhkan-pluralisme.html' title='Halalbihalal Meneguhkan Pluralisme'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3232315025867744151</id><published>2010-09-28T21:25:00.001-07:00</published><updated>2010-09-28T21:25:41.056-07:00</updated><title type='text'>Banten Primadona Ibukota RI</title><content type='html'>Oleh Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;(Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta &amp; Dosen FS IAIN, Lampung)&lt;br /&gt;*Tulisan pernah dimuat di Koran harian Kabar Banten, Rabu, 22 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wacana pengalihan ibu kota terus mengalir deras, bak “Air mengalir sampai jauh” begitu ungkap Gesang dalam satu bait syair lagunya. Setidaknya Koran Kabar Banten melansir isu ini dengan menjadikan berita penting dua hari berturut-turut; pertama, Jum’at, 17 September 2010 dengan memuat opini H. Andika Hazrumy (anggota DPD RI) yang bertajuk Banten Layak Jadi Ibukota RI; kedua, menjadikan headline dengan judul Banten Siap Jadi Ibukota, Sabtu, 18 September 2010.&lt;br /&gt; Hazrumi memberi dua alasan kenapa Banten layak menjadi “primadona” yang perlu dipertimbangkan menjadi Ibukota Negara? Pertama, dari sisi historis antara Banten dan Jakarta (dulu Jayakarta) memiliki keterkaitan erat; kedua, dari sisi ekonomi, lebih efektif dan efisien dibanding memindahkan Ibukota Negara ke Palangkaraya (Kabar Banten, 17 Sep, hal. 8). &lt;br /&gt; Sementara H.M. Masduki menyatakan “Kami tunggu keseriusan pemerintah pusat dulu. Jika memang Banten termasuk daerah yang tepat untuk jadi ibu kota Negara RI, tentu secra pribadi saya akan sambut baik (Kabar Banten, 18 Sep, hal. 1). &lt;br /&gt; Jika dilihat dari potensi,  Banten memiliki daerah dan lahan yang sangat luas yang akan memudahkan terhadap penataan daerah Ibu kota, selain juga memiliki Bandara Internasional. Ubaidillah, staf ahli Gubernur Banten mengatakan, ibu kota Negara pindah ke Provinsi Banten dapat mempercepat pembangunan di Banten (Kabar Banten, 18 Sep, hal. 13).&lt;br /&gt; Isu pengalihan Ibu kota Negara pertama kali dirilis oleh Presiden SBY saat membuka Rakernas Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), 2 Desember 2009 di Palangkaraya. Isu ini terus berhembus hingga beberapa bulan belakangan ini, akibat kemacetan di Ibukota Negara (Jakarta). Ternyata, bila menelaah sejarah lebih jauh, hembusan usulan Ibukota Negara pernah terjadi juga pada masa Soekarno dengan mengusulkan Kalimantan Tengah sebagai Ibu kota Negara dan era Soeharto yang menawarkan Jonggol, Jawa Barat sebagai Ibu kota Negara RI.&lt;br /&gt; Dalam usulan SBY, paling tidak ada tiga opsi yang dibeberkan; pertama, dengan melakukan pembenahan Jakarta; kedua, usulan pemindahan Ibu kota Negara di luar dari Jakarta; dan ketiga, dengan melakukan pembangunan ibu kota baru.&lt;br /&gt; Kita coba kaji satu persatu, semoga menemukan solusi yang terbaik, untuk selanjutnya menjadi pertimbangan kuat dalam mengambil kebijakan ke depan. Usulan pertama melakukan pembenahan Jakarta. Mencermati kata-kata ini, kembali kita teringat terhadap jargon salah satu kandidat Gubernur Jakarta kala itu dengan ungkapan “Ayo benahi Jakarta”, tetapi jargon ini nampaknya tidak mampu mendongkrak suara salah satu kandidat Gubernur ketika itu. Malah yang menarikan adalah, justru yang masih mengembankan kepercayaan amanah rakyat adalah yang berjargon “Serahkan Jakarta pada ahlinya”.&lt;br /&gt; Upaya pembenahan Jakarta, pernah dilakukan oleh Sutiyoso dengan melakukan melakukan mega proyek Bus Way dan membangun jalur kereta Mono Reil. Namun, banyak pengamat mengatakan proyek ini justru menambah beban kemacetan Jakarta. Kalaupun memiliki imbas positif, akan tetapi imbasnya tidak terlalu signifikan dibanding dengan biaya yang dikeluarkan. Namun demikian, upaya ini perlu juga diapresiasi dalam rangka mewujudkan Jakarta yang bebas macet. Belum lagi dengan Banjir setiap tahunnya, membuat Jakarta semakin di kepung dengan segudang persoalan.&lt;br /&gt; “Serahkan pada ahlinya”, dalam salah satu TV swasta, Foke (panggilan Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta) menafsirkan bahwa maksud dari kata itu adalah menyerahkan kepada ahlinya, bukan hanya pribadinya sebagai Gubernur, akan tetapi menyerahkan kepada ahli sesuai dengan bidang dan keahliannya masing-masing. Pendek kata, segala langkah telah diupayakan untuk mengatasi dengan mengatasnamakan pembenahan Jakarta, namun hasilnya masih perlu upaya keras nampaknya. Dari mulai Bus way samau usulan 17 langkag terobosan (jalur ganda kereta api, electronic road pricing, penambahan jalur tol, dll.) ternyata memang Jakarta masih menjadi “Primadona urbanisasi” yang mengakibatkan membludaknya jumlah warga, alih-alih meninggalkan kesan ketidakstabilan antara jumlah penduduk dan luas wilayah.&lt;br /&gt; Opsi kedua dan ketiga pemindahan pusat pemerintahan ke luar Jakarta dan pembangunan ibu kota baru. Kabar yang up to date dan santer, pemerintahan Ibu kota Negara akan dilakukan di Palangkaraya. Secara wilayah territorial, Palangkaraya letaknya sangat jauh dari posisi ibu kota Jakarta. Menanggapi opsi ketiga, kalau pembangunan ibu kota baru tentu menjadi opsi terakhir yang bisa dilakukan apabila opsi pertama dan kedua sudah tidak mempu lagi di tangani. &lt;br /&gt; Sejatinya, yang menjadi pertimbangan dalam mengambil arah kemanakah yang lebih tepat pengalihan ibu kota Negara adalah: pertama, letaknya tidak terlalu jauh dari Jakarta, sehingga memudahkan akses pemindahan dan bisa jadi tidak terlalu kesulitan untuk pemindahan dan lain-lain; kedua, memiliki potensi wilayah yang akan mengundang investor; ketiga, memiliki SDA dan SDM mumpuni dalam pengembangan menjadi Negara maju dan kaya; dan keempat yang tidak kalah pentingnya, mempunyai nilai historisitas atas bangsa.&lt;br /&gt; Di atas telah dijelaskan bahwa Banten adalah menjadi salah satu Provinsi “Primadona” yang layak dipertimbangkan menjadi Ibu kota Negara RI. Ada beberapa pertimbangan kenapa Banten menjadi “Primadona” yang patut “Dilamar” menjadi Ibu kota Negara RI. Pertama, dari segi infrastruktur yang ada sekarang, Banten, melalui kota Cilegon telah lama dikenal di mancanegara sebagai kota baja terbesar di Dunia. Hal ini tentunya menguntungkan akan datangnya investor. Aat Syafaat (Wali kota Cilegon demisioner) dan Tb. Iman Ariyadi (Walikota Cilegon) dalam beberapa kesempatan menyampaikan akan pentingnya hal ini. Selain itu, Banten memiliki Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang dan Pelabuhan Internasional di Bojonegara, Kab. Serang, yang akan memudahkan akses baik local, regional maupun internasional yang akan langsung bersentuhan dengan banten sebagai Ibu kota. &lt;br /&gt; Kedua, Banten memiliki nilai historis, kedekatan bahkan kota “jiran” (tetangga) dengan Jakarta. Hal ini akan memudahkan akses percepatan pemindahan dan pembangunan. Bahkan, boleh dibilang antara Banten dan Jakarta tidak ada jarak pemisah antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lainnya. Bagaimana tidak, perbatasan antara Banten-Jakarta sudah menyatu, kecuali ditandai dengan pembatas-pembatas yang mengatasnamakn wilayah masing-masing. Misalnya, perbatasan antara Banten, dalam hal ini Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan di batasi dengan gerbang pembatas yang terpampang dan bertuliskan “Perbatasan Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta” antara Ciputat dan Pasar Jumat.&lt;br /&gt; Ketiga, sejak dulu Banten sudah dikenal oleh dunia luar melalui jalur perdagangannya. Prof. Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulawan Nusantara Abad XVII dan XVII mencatat bahwa pada tahun 1048/1638 penguasa Banten, ‘Abd al-Qadir (berkuasa 1037-63/1626-51), mendapat gelar sultan dari Syarif Makkah sebagai hasil missi khusus yang dikirimkannya ke tanah suci. Sultan Banten ini juga menerima Bendera dan Pakaian suci dan apa yang dipercayai sebagai bekas jejak kaki Nabi dari penguasa Haramayn. Semua pemberian Syarif Mekkah ini terus berlangsung melui pertukaran surat menyurat dan hadiah di antara istana banten dan penguasa haramayn hingga menjelang akhir abad ke-17.&lt;br /&gt; Bahkan, al-Makassari (w. 1111/1699) yang dilahirkan di Sulawesi sebagai perintis kerajaan Aceh memulai karirnya di kesultanan Banten (Bantam) dalam rangka menyebarkan pembaruan jaringan ulama di kepulauan Nusantara. Selain itu, nama-nama besar yang telah mengharumkan Banten di kalangan internasional misalnya, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang menetapkan sebagai kesultanan pada tahun 1552 M., yang dipimpin pertama kali oleh Adipati Hasanuddin Syarif Hidayatullah dan pada satu tahun kemudian Sunda Kelapa dimasukkan dalam adiminstrasi pemerintahan kesultanan Banten.&lt;br /&gt; Selanjutnya, Sultan Ageng Tirtayasa (1053-96/1652-83 ketika itu orang-orang Banten sudah berniaga dengan para pedagang dari Inggris, Denmark, Cina, Indo-Cina, India, Persia, Filipina, dan Jepang. Kapal-kapal kesultanan Banten berlayar di banyak perairan Nusantara, mewakili kekuatan dagang terakhir dari kerajaan-kerajaan Melayu-Indonesia. Dan yang yang tidak boleh dilewatkan adalah peranan Syekh Muhammad Nawâwî al-Jawî al-Bantâni (1815 M./ 1230 H.- 1314 H./ 1897 M), yang bergelar ulama Hijâz (Master of the teachers  of the Hijâz) sebagai symbol kecerdasan warga Banten yang dikenal bukan hanya di Indonesia atau Negara rumpun Melayu lainnya, tetapi dikenal juga sebagai ulama Internasional. Karya monumental sebagai magnum opus yang dikenal dan dinikmati hingga sekarang yaitu Tafsir Marâh Labîd Li Kashfi Ma‘nâ Qur’ân Majîd. (Hasani Ahmad Said, Disertasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, hal. 57-62).&lt;br /&gt; Dari hasil analisis di atas, tentu hasilnya, Banten menjadi lebih dikenal bukan hanya sebagai salah satu pusat Islam penting di Jawa pada masanya, selain itu juga ternyata Banten pernah menjadi pusat pemerintahan di Negara yang dikenal Republik Indonesia sekarang. Pada akhirnya, sangat mungkin, Banten menjadi “Primadona” Ibu kota Negara RI yang akan “Dipinang” menjadi Ibu kota Negara RI, tinggal bagaimana pemerintah provinsi Banten yang dibantu oleh Bupati dan Walikota mempersiapakn dengan matang lamaran tersebut. [*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Kandidat Doktor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta &amp; Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung. Tinggal di Link. Pabean, Kel. Pabean, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon-Banten.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3232315025867744151?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3232315025867744151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3232315025867744151' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3232315025867744151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3232315025867744151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/banten-primadona-ibukota-ri.html' title='Banten Primadona Ibukota RI'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-8917178617300179333</id><published>2010-09-28T21:04:00.000-07:00</published><updated>2010-09-28T21:04:25.136-07:00</updated><title type='text'>Tradisi Pulang Kampung</title><content type='html'>Oleh: Hasani Ahmad Said, M.A.&lt;br /&gt;(Kandidat Doktor UIN Jakarta, Dosen Syariah IAIN Raden Intan, Lampung &amp; Kader Mufassir, Pusat Studi Alquran Jakarta)&lt;br /&gt;*Pernah dimuat di kolom opini Kabar Banten, Selasa, 07 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik lebaran ibarat rihlah spiritual pasca proses tarbiyah Ramadhan memberikan kesan damai, penghancur amarah, pelebur dosa dan pembangkit semangat ruhani. Nah, nilai inilah sebagai oleh-oleh terbesar dan terindah untuk ditradisikan di kampong tanah tinggal kita masing-masing.&lt;br /&gt;Tradisi pulang kampung bagi sebagian besar bangsa Indonesia, menjadi satu keharusan dan tentunya memiliki kenikmatannya tersendiri. Banyak cara orang meluapkan sehingga tradisi ini dianggap sesuatu yang bila ditinggalkan seolah ada yang tidak lengkap dalam setiap kali datangnya lebaran. Maka, ada sebagian kecil yang beranggapan belum lebaran kalau belum pulang kampung, atau ada lagi ungkapan belum lebaran kalau belum punya baju baru. &lt;br /&gt;Hirup pikuk dan sesaknya kota tempat kerja mereka, seolah lengang, bebas macet karena penghuninya telah meninggalkan sejenak tempat mata pencaharianya. Ada yang mengapresiasikan keberhasilannya hijrah dari kampungnya dengan membawa sera merta hasil kerja selama dalam tanah rantau. &lt;br /&gt;Kenikmatan yang tidak bisa terbayarkan adalah ketika bertemu dengan sanak saudara yang bisa jadi selama berbulan-bulan tidak bertemu, atau bisa jadi tidak bertemu dalam urutan tahun.&lt;br /&gt;Menarik untuk diulas sekaligus menjadi studi penelitian dan pengamatan kecil-kecilan. Paling tidak ada tiga tujuan orang berbondong-bondong pulang kampung. Pertama, melepaskan kangen; kedua, menunjukkan kepada khal layak akan harta perniagaan yang selama ini telah dihasilkan selama satu tahun; dan ketiga, hanya sekedar berlebaran di kampung sekaligus ajang liburan. &lt;br /&gt;Dari ketiga tujuan di atas, yang jelas pulang kampung memiliki keunikan tersendiri, sehingga sulit untuk digambarkan oleh kata-kata, saking memuncaknya rasa kebahagiaan yang dirasakan oleh pelakunya. &lt;br /&gt;Para pakar Psikologi Agama, banyak menggambarkan pulangkampung, disamakan dengan proses menjemput kematian yang husnul khatimah. Perumpamaan ini tidaklah berlebihan, bagaimana tidak kematian pasti akan menghampiri setiap jiwa yang hidup sebagaimana penggalan Alquran “Kullu nafsin daiqatul maut” (setiap jiwa akan menemui mati). &lt;br /&gt;Komaruddin Hidayat dalam buku Psikologi Kematian menulis bahwa kematian ibarat pulang kampung. Maksud di sini adalah bukan berarti orang yang pulang kampung sedang menjemput maut, akan tetapi maknanya adalah bagaimana kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Akan tetapi kematian itu, sejatinya kita yang hendak pulang menuju kampung asal kita. &lt;br /&gt;Sesungguhnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah (Inna lillah wa inna ilaihi rajiun). Kalau sudah demikian, bukan kita yang takut mati, tapi kita sudah ingin dijemput oleh malaikat maut.&lt;br /&gt;Gambaran ini tentu memerlukan persiapan dan bekal yang baik laksana orang yang hendak pulang kampung yang menyiapkan harta bendanya sekian tahun untuk dibawa ke kampung. Kemudian, istilah pulang kampung identik dengan lebaran, terutama Idul Fithri. Bekal apakah yang terbaik?&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana gambaran Alquran tentang lebaran. Alquran dalam Q.S. al-Baqarah/2 ayat 185 menggambarkan nilai-nilai lebaran dengan ungkapan “…Wa litukabbirullaha ‘ala ma hadakum wa la’allakum tasykurun” (Dan Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersykur). &lt;br /&gt;Isyarat ayat ini menunjukkan anjuran untuk berucap takbir, sebagai ungkapan rasa syukur. Nilai itulah yang diyakini sebagai indikasi untuk berlebaran atau dalam bahasa orang Indonesia biasa dikenal dengan takbiran. Sebelumnya, potongan ayat ini berbicara tentang perintah wajibnya puasa yang akan membentuk karakter manusia yang nurut/patuh (taqwa) (ayat 183). &lt;br /&gt;Setelah diketahui siapa yang wajib berpuasa dan yang diberi izin untuk tidak melaksanakannya, dijelasknan tentang masa puasa yang sebelum ini dinyatakan bahwa hanya pada hari-hari tertentu 29 atau 30 hari saja selama bulan Ramadhan. Nah, bulan ini diangap mulia dan istimewa karena di dalamnya diturunkan Alquran yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas dan pembeda antara yang hak dan batil&lt;br /&gt;Setelah jelas hari-hari tertentu yang harus diisi dengan puasa, maka ada perintah untuk mencukupkan bilangannya, baru kemudian diperintahkan untuk mengagungkan Allah melalui lantunan tasbih, tahmid dan takbir. Dengan kata lain takbiran atau lebaran. Hal itulah yang dianggap sebagai bukti rasa syukur kepada Allah Swt. &lt;br /&gt;Memang terkesan tidak ada keserasian antara lebaran dan pulang kampung, akan tetapi bagi bangsa Indonesia, tradisi pulang kampung memiliki nilai tersendiri. Sehingga, bisa jadi memiliki nilai besar sebagai bentuk rasa syukur atas begitu banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Sehingga dengan kesadaran seperti ini, wujud syukurnya di implementasikan dengan berbagi dengan sanak, family, dan tetangga di kampung. &lt;br /&gt;Ternyata wujud inilah yang membuat setiap orang yang selama ini tinggal di luar kampung halamannya, berlomba-lomba menunjukkan kearifn dan kebjikannya untuk saling berbagi.&lt;br /&gt;Dalam bahasa agama istilah berbagi dikenal dengan zakat, infak dan shadaqah. Tentunya, berinfak dan shadaqah kepada orang yang tepat untuk berbagi. Semoga tulisan ini akan memberikan efek bagi para perantau, bahwa dalam harta anda ada hak orang lain. Maka, saatnyalah berbagi dengan sesame, mulailah deri yang terdekat (dzawil qurba), yatim (yatama), dan fakir miskin. &lt;br /&gt;Infak dan shaqadh inilah sebagagai bentuk impelmentasi taqwa hasil didikan ramadhan seperti isyarat Q.S. al-Baqarah/2 ayat 3. Jadi, begitu serasinya satu ayat dengan ayat yang lain, laksana sebuah bangunan yang kokoh. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Dosen Faultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung, Kader Mufasir, Pusat Studi Alquran, Jakarta &amp; Kandidat Doktor UIN Jakarta. Tinggal di Kel. Pabean, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon-Banten.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-8917178617300179333?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/8917178617300179333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=8917178617300179333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8917178617300179333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8917178617300179333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/tradisi-pulang-kampung_28.html' title='Tradisi Pulang Kampung'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3092914667071919537</id><published>2010-09-07T23:49:00.000-07:00</published><updated>2010-09-07T23:49:15.475-07:00</updated><title type='text'>Ramadhan dan Renungan Kematian</title><content type='html'>Ramadhan dan Renungan Kematian&lt;br /&gt;Oleh Hasani Ahmad Said, M.A.&lt;br /&gt;Kader Mufassir Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) &amp; Kandidat Doktor UIN Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Ramadhan tiba, tidak terasa bulan Ramadhan telah mengampiri kita. &lt;br /&gt;Suka cita dan gegap gempita setiap muslim dan muslimah menyambut bulan yang &lt;br /&gt;penuh dengan berkah, rahmat dan ampunan ini. &lt;br /&gt; Ekspresi ini bisa jadi terilhami oleh teks hadis yang terdapat dalam &lt;br /&gt;kitab Durrat al-Nâsihîn karya Utsman al-Kubbani yang berbunyi “Siapa yang &lt;br /&gt;bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan haramkan jasadnya masuk neraka”. Hadis ini tidak ditemukan siapa perawi (penyampai) hadis dan apa kualitasnya, sehingga bisa terkategorikan hadisnya bermasalah.&lt;br /&gt; Bahkan jauh-jauh sebelum Ramadhan tiba Rasul mengajarkan doa &lt;br /&gt;Allâhumma bâriklana fî Rahab wa Sya’bân wa ballighnâ Ramadhân (Ya allah berilah keberkahan kepada kami di bulan rajab dan Sya’ban, dan sampikanlah kami (menuju) bulan Ramadhan). &lt;br /&gt; Meskipun demikian, keberkahan Ramadhan yang begitu besar, ternyata &lt;br /&gt;tidak semua orang mampu menikmati keberkahan itu. Satu hari yang lalu, saya &lt;br /&gt;mendapatkan sms yang berbunyi “Inna lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn, ayahanda si &lt;br /&gt;Fulan di panggil oleh Allah, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah”.&lt;br /&gt;            Pada kesempatan malam harinya, bertepatan dengan 5 Ramadhan, saya &lt;br /&gt;menyampaikan kultum di sebuah jamaah tarawih yang bertemakan “Keberkahan &lt;br /&gt;Ramadhan kaitannya dengan kesempatan hidup di dunia”. Di dalam isi kultum itu &lt;br /&gt;saya sampaikan bahwa betapa keberkahan Ramadhan itu sangat kita rasakan. Akan tetapi tidak semua orang mereguk manisnya keberkahan Ramadhan. &lt;br /&gt; Bisa jadi, hari ini kita masih puasa, tetapi tidak ada satu &lt;br /&gt;makhlukpun yang bisa menjamin esok harinya kita masih bisa berpuasa kembali. &lt;br /&gt;Terbukti, pagi harinya, saya kembali menerima sms yang berbunyi “Kepada Yth &lt;br /&gt;Bapak dosen, telah meninggal dunia mahasiswi UIN yang bernama si fulanah, mhn dimaafkan kesalahannya dan semoga diterima amal ibadahnya”, belum selesai membaca sms, di masjid Fathullah dan sekitarnya terdengar pengumuman meninggal dunia, suami dari ibu fulanah, karyawan masjid Fathullah.&lt;br /&gt; Dari beberapa kisah di atas kemudian timbul pertanyaan siapa yang &lt;br /&gt;mampu mengetahui rahasia kematian itu? dan kapan akan menghampiri kita? Pasti jawabannya adalah tidak ada seorangpun yang mengetahui. Kalau demikian, mengapa kita masih melakukan hal yang dilarang Allah? Pintu taubat akan selalu terbuka. Maka, dibulan Ramadhan 1431 H kali ini, sejatinya dimanfaatkan sebaik dan semanfaat mungkin. Kuncinya, banyak berdzikir, sedekah, baca Qur’an, dan amalan shalih lainnya. Saatnya kita mereformasi keburukan kita dengan kebaikan.&lt;br /&gt; Tepalah kiranya untuk dijadikan perumpamaan, bahwa dunia itu adalah &lt;br /&gt;lading akhirat (al-Dunyâ mazra’at al-âkhirah), begitu sabda Rasul. Maka, &lt;br /&gt;tanamilah ladang dunia ini dengan biji kebajikan, maka kelak engkau akan menuai &lt;br /&gt;kebajikan. Sebaliknya, jika menanam biji keburukan, maka siap-siap pula memanen kaburukannya. Ramadhan merupakan bulan pelipatgandaan pahala, maka jangan sia-siakan Ramadhan tanpa amal shaleh.&lt;br /&gt; Allah juga menegaskan dalam Q.S. al-Isra (17) ayat 8: “Jika kamu &lt;br /&gt;berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu &lt;br /&gt;berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri… (In &lt;br /&gt;ahsantumahsantun lianfusikum wa in as’tum falaha…).&lt;br /&gt; Atas dasar hal di atas, sejatinya Ramadhan 1431 H yang sedang kita &lt;br /&gt;lalui ini, dijalankan dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, agar kita &lt;br /&gt;mampu menuai indahnya bersama Ramadhan. Bukan untuk saat ini saja, tetapi akan memberikan efek juga pada saat yang akan datang seperti sabda Rasul “Siapa berpuasa di bulan Ramadhan yang didasari dengan keimanan dan mengharap (ridha Allah), maka akan diampuni dosa yang telah lalu dan yang akan datang”.&lt;br /&gt; Tepat pulalah kiranya Allah memanjakan bagi orang-orang yang &lt;br /&gt;berpuasa yang diundang atas seruan keimanan, dengan menggunakan redaksi wahai orang yang beriman (Yâ ayyuha al-ladzina âmanû..), seperti difirmankan dalam Q.S. al-Baqarah (2): 183 “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibakan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertakwa”.&lt;br /&gt; Terlihat dengan jelas dari ayat di atas, bahwa tujuan akhir dari &lt;br /&gt;puasa adalah membentuk manusia yang mempunyai karakter takwa. Dalam artian &lt;br /&gt;menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang Allah.  &lt;br /&gt;Ketakwaan di sini sifatnya kontinyu. Ketakwaan yang bukan hanya di bulan &lt;br /&gt;Ramadhan, tetapi jauh dari itu, ketakwaan juga di implementasikan dalam  &lt;br /&gt;bulan-bulan selain Ramadhan. (Wallâhu a’lam bi al-shawâb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penulis adalah Kader Mufassir Pusat Studi al-Quran, Jakarta, Dosen IAIN Raden Intan &amp; Kandidat Doktor UIN Jakarta&lt;br /&gt;* Tulisan ini pernah dimuat di koran harian KABAR BANTEN.&lt;br /&gt;Jakarta, 15 Agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3092914667071919537?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3092914667071919537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3092914667071919537' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3092914667071919537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3092914667071919537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/ramadhan-dan-renungan-kematian.html' title='Ramadhan dan Renungan Kematian'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-7805856020792165424</id><published>2010-09-07T23:30:00.000-07:00</published><updated>2010-09-07T23:30:45.075-07:00</updated><title type='text'>Efek Ramadhan Sampai Masa Depan</title><content type='html'>Efek Ramadhan Sampai Masa Depan&lt;br /&gt;Oleh Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh sebelum Ramadhan tiba, Rasul mengajarkan doa: Allâhumma bâriklana fî Rajab wa Sya’bân wa ballighnâ Ramadhân (Ya allah berilah keberkahan kepada kami di bulan rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami (menuju) bulan Ramadhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, keberkahan Ramadhan yang begitu besar, mungkin tidak semua orang mampu menikmati keberkahan itu.  Bisa jadi, hari ini kita masih puasa, entahlah kalau esok hari.   Tidak ada satu makhlukpun yang bisa menjamin esok harinya kita masih bisa berpuasa kembali. Secara tiba-tiba, terkadang kita mendapat berita duka bahwa orang-orang terdekat meninggal dunia saat bulan Ramadhan.  Timbul pertanyaan, siapa yang mampu mengetahui rahasia kematian itu? dan kapan akan menghampiri kita? Pasti jawabannya adalah tidak ada seorangpun yang mengetahui. Kalau demikian, mengapa kita masih melakukan hal yang dilarang Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu taubat akan selalu terbuka. Maka, bulan Ramadhan kali ini, sejatinya kita bisa memanfaatkannya  sebaik mungkin. Kuncinya, banyak berdzikir, sedekah, membaca al-Qur’an, dan amalan shalih lainnya. Saatnya kita mereformasi keburukan kita dengan kebaikan. Tepalah kiranya hal ini dijadikan perumpamaan, bahwa dunia itu adalah ladang akhirat (al-Dunyâ mazra’at al-âkhirah), begitu sabda Rasul. Maka, tanamilah ladang dunia ini dengan biji kebajikan, maka kelak engkau akan menuai kebajikan. Sebaliknya, jika menanam biji keburukan, maka siap-siap pula memanen kaburukannya. Karena Ramadhan merupakan bulan pelipatgandaan pahala, maka jangan sia-siakan bulan suci ini tanpa amal shaleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga menegaskan dalam Q.S. al-Isra (17) ayat 8: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri… (In ahsantumahsantun lianfusikum wa in as’tum falaha…)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar hal tersebut , sejatinya kita menjalankan Ramadhan ini dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, agar kita mampu menuai keindahan dan keberkahannya. Manfaat ramadhan tidak hanya berlaku pada momen ramadhan itu sendiri, tetapi juga bisa memberikan efek juga pada saat yang akan datang, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Abu Hirairah, bahwasannya Rasul sabda “Siapa berpuasa di bulan Ramadhan yang didasari dengan keimanan dan mengharap (ridha Allah), maka akan diampuni dosa yang telah lalu dan yang akan datang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu,  tak mengherankan  Allah memanjakan bagi orang-orang yang berpuasa yang diundang atas seruan keimanan, dengan menggunakan redaksi wahai orang yang beriman (Yâ ayyuha al-ladzina âmanû..), seperti difirmankan dalam Q.S. al-Baqarah (2): 183 “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibakan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertakwa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat dengan jelas dari ayat tersebut , bahwa tujuan akhir dari puasa adalah membentuk manusia yang mempunyai karakter takwa yang berkesinambungan. Ketakwaan yang bukan hanya di bulan Ramadhan. Lebih dari itu, ketakwaan sejatinya  diimplementasikan dalam bulan-bulan selain Ramadhan. Wallâhu a’lam bi al-shawâb. (Hasani Ahmad Said, M.A./ Kader Mufassir Pusat Studi al-Qur’an (PSQ) &amp; Kandidat Doktor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Foto:pactradio.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Facebook&lt;br /&gt;    * Google Gmail&lt;br /&gt;    * Google Buzz&lt;br /&gt;    * Twitter&lt;br /&gt;    * Yahoo Messenger&lt;br /&gt;    * Share&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Responses to “Efek Ramadhan Sampai Masa Depan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;      arifromdhoni says:&lt;br /&gt;      19/08/2010 at 12:01 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Efek Ramadhan seharusnya terasa hingga setelah Ramadhan berakhir, bahkan hingga akhir hayat. Karena sebaik-baik amalan adalah yang meningkat kualitasnya setiap harinya. Termasuk orang yang merugi apabila amalannya sama seperti hari sebelumnya. Bahkan termasuk orang yang celaka bila amalannya lebih buruk daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Namun, berapa banyak orang yang berpuasa tidak beroleh apapun kecuali lapar dan dahaga? Semoga kita termasuk yang senantiasa meningkat kualitas ketaqwaannya. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bertaqwa.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;      cool_ramdan says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:07 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ramadhan adalah bulan tarbiyah.. Bulan Ramadhan dengan segala kelebihan dan keutamaannya adalah proses tarbiyah yang datangnya langsung dari Allah SWT. Hasil dari proses tarbiyah tersebut adalah lahirnya pribadi mukmin yang bertaqwa. Jika kita sukses menjalani tarbiyah selama bulan Ramadhan, maka dijamin kita akan sukses menjalani kehidupan hingga akhir masa..&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;      Noviana Indah Mustikaningtyas says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:08 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tujuan akhir dari puasa adalah membentuk manusia yang mempunyai karakter takwa yang berkesinambungan. Ketakwaan yang bukan hanya di bulan Ramadhan. Lebih dari itu, ketakwaan sejatinya diimplementasikan dalam bulan-bulan selain Ramadhan —&gt; semoga saya bisa mencapai tujuan tersebut. Saya pun tak hentinya berdoa ya Allah, jadikanlah puasaku sebagai puasa orang-orang yang benar-benar berpuasa. Amiin…&lt;br /&gt;      Trims, artikelnya. Makin terlecut saya.&lt;br /&gt;   4.&lt;br /&gt;      Wacy Notalia says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:10 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Berkah buLan ramadhan yg dirasakan pastinya berbeda..&lt;br /&gt;      Perbaiki diri sendiri saja..renungkan setelah ramadhan berlalu apa yg harus dilakukan.kembali mengotori diri atau berjalan dijaLan ALLAH.. Semoga qt semua bs jd makhluk ALLAH yg lbh baik. Amien..&lt;br /&gt;   5.&lt;br /&gt;      INDRA ALAM says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:17 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Atagfirullohhaladzim. merinding aq membaca artikel di atas. aku menyadari aq banyak melakukan khilaf dan salah selama ini. aq hanya manusia daif dan tanpa daya, terlalu banyak dosa dan maksiat yang telat aku lakukan, maka dari itu di bulan Ramadhan ini aq coba perbaiki diri aku dengan baik dengan memohon ampunan kpd Allah SWT. Hanya Allah yang berhak menilai usaha setiap mahluknya yg ingin berubah. Semoga masih ada pintu Taubat bagi saya dan kita semua. Kita FULL kan ibadah kita di bulan ini, kesempatan bagi kita yang msh diberi panjang umur sampai Ramadhan ini. Lembutkan hati dan sebarkan berkah Ramadhan. iringi perintah wajib dengan yang sunnah. Semoga Allah memberkahi dan meridhoi amalan kita semua. Amien&lt;br /&gt;   6.&lt;br /&gt;      Alih Rinaldy says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:22 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ramadhan merupakan bulan mulia dimana setiap manusia diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menjadi individu yang lebih baik secara lahir maupun bathin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Maka dari itu bulan ini sering dinanti-nanti oleh setiap orang karena mereka ingin melakukan perubahan sebesar-besarnya terhadap diri mereka sendiri. Baik dalam beribadah kepada Allah, cara bersikap terhadap orang lain dan memperbanyak rasa Cinta terhadap keluarga dan orang-orang terkasih. Tentu saja semua dilakukan secara Islami. Dan ini menjadi kebiasaan selama Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Tentu saja perubahan-perubahan ini akan menjadi acuan kita dalam menjalani kehidupan di masa depan. Kehidupan kita selain di bulan Ramadhan. Ramadhan mengajarkan kita bagaimana cara menjalani kehidupan secara seimbang dan semua itu harus di dukung oleh niatan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan. Semoga kita menjadi orang-orang yang belajar dari Ramadhan. Amin :D&lt;br /&gt;   7.&lt;br /&gt;      ainun says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:24 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Efek ramadhan memang harus berlangsung lama.bagai lingkaran bola salju,semakin berputar semakin membesar dimana ramadhan menjadi Awal kita menjadi seorang yang lebih Baik,amalan yang lebih meningkat,ilmu yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;      Jika ramadhan Ini kita mulai dengan niat baik,coba kita belajar menjadi malaikat yang mencatat amalan,kita ingat amalan kita setiap hari,kita perbaiki kekurangan hari kemarin,kita perbaiki hari Ini.begitu seterusnya. Sampai pada akhirnya kita menjalani kehidupan kita SEMakin baik setiap harinya. Itulah makna ramadhan,dimana bukan ramadhan bulan untuk bertobat,tapi ramadhan Awal langkah&lt;br /&gt;   8.&lt;br /&gt;      Harnadi says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:25 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bulan ramadhan memang tempat buat kita memperbaiki diri agar lebih dekat dengan tuhan, tapi setelah selepas dari bulan ramadhan kita harus tetap beribadah jgn cuma bulan ramadhan aja kita shalat berjamaah dimasjid &amp; rajin mengaji tapi jadikan bulan ramadhan sebagai awal kita mendekatkan diri pada ALLAH&lt;br /&gt;   9.&lt;br /&gt;      nurulhayat says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:28 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      artikel ini mengingatkan saya untuk memaknai kmbali niat saya beribadah di bulan ini, semoga apa yang saya tanam di bulan ini, segala ibadah yang pastinya berniat baik, akan menuai kebaikan bukan hanya pada kehidupan saya sesudah ramadhan tapi juga untuk kehidupan saya dunia dan akhirat…amin…amin…amin…ya robbal alamin,,,&lt;br /&gt;  10.&lt;br /&gt;      danny brahmantyo says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:31 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      -Kita sampai karena kita berjalan atau berhenti? Kita sampai karena kita berjalan dan berhenti-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Seperti oase di tengah perjalanan melintasi padang tandus.. itulah Ramadhan bagi saya, pemberhentian sejenak dr penat kehidupan.&lt;br /&gt;      Beberapa tahun terakhir membuat saya belajar banyak untuk dapat menghayati makna Ramadhan yg lebih dari sekedar ibadah wajib.&lt;br /&gt;      Saya jd lbh memahami kasih sayang Allah pada kita, salah satunya adlh dgn diberikannya kita kesempatan bertemu dgn Ramadhan-bulan penuh ampunan dan penuh berkah-sekali lagi.&lt;br /&gt;      Ada perasaan nyaman dan tenteram yg tdk dpt diungkapkan saat jiwa dan raga ini memasuki Ramadhan. Seakan semesta berkolaborasi menciptakan suasana demikian.&lt;br /&gt;      Benar adanya kata ulama, bahwa ibadah di bulan Ramadhan adlh pendidikan spiritual yg melembutkan hati; dan hal ini berarti bukan hanya masalah personal antara saya kepada Tuhan, namun jg antara saya dgn sekitar.&lt;br /&gt;      Semoga hal tersebut bs mjd bekal melanjutkan perjalanan yg sementara ini.&lt;br /&gt;  11.&lt;br /&gt;      Muhammad Ibnul Zikri says:&lt;br /&gt;      22/08/2010 at 12:34 pm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dari 12 bulan yg ada hanya Bulan Ramadhan yg di nantikan umat islam, karena di bulan tersebut oleh ALLAH swt di bukakan pintu maaf dan di lipat gandakan pahala yang kita kerjakan selama bulan Ramadhan tersebut. Oleh karena itu janganlah kita sia-siakan waktu kita di bulan Ramadhan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri komentar&lt;br /&gt;Click here to cancel reply.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di http://www.alifmagz.com/2010/08/18/efek-ramadhan-sampai-masa-depan/, tanggal 18 Agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-7805856020792165424?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/7805856020792165424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=7805856020792165424' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7805856020792165424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7805856020792165424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/efek-ramadhan-sampai-masa-depan.html' title='Efek Ramadhan Sampai Masa Depan'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-1788683691105741473</id><published>2010-09-07T23:17:00.000-07:00</published><updated>2010-09-07T23:17:18.781-07:00</updated><title type='text'>Ramadan dan Tabir Kehidupan</title><content type='html'>Ramadan dan Tabir Kehidupan&lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Kader Mufassir Pusat Studi Alquran (PSQ), kandidat Doktor UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa bulan Ramadan telah menghampiri kita. Sukacita dan gegap gempita setiap muslim dan muslimah menyambut bulan yang penuh dengan berkah, rahmat, dan ampunan ini.&lt;br /&gt;Ekspresi ini bisa jadi terilhami oleh teks Hadis yang terdapat dalam kitab Durrat al-Nasih karya Utsman al-Kubbani yang berbunyi "Siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan haramkan jasadnya masuk neraka." Pada Hadis ini tidak ditemukan siapa perawi (penyampai) dan apa kualitasnya, sehingga bisa terkategorikan Hadis bermasalah.&lt;br /&gt;Bahkan, jauh-jauh sebelum Ramadan tiba, Rasul mengajarkan doa Allahumma bariklana fi Rajab wa Sya'ban wa ballighna Ramadhana (Ya allah berilah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Syakban, dan sampaikanlah kami (menuju) bulan Ramadan).&lt;br /&gt;Meskipun demikian, keberkahan Ramadan yang begitu besar, ternyata tidak semua orang mampu menikmati keberkahan itu. Satu hari yang lalu, saya mendapatkan pesan pendek yang berbunyi: Inna lillah wa inna ilaihi rajiun, ayahanda si Fulan di panggil oleh Allah, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah."&lt;br /&gt;Pada kesempatan malam harinya, bertepatan dengan 5 Ramadan, saya menyampaikan kultum di sebuah jemaah tarawih yang bertemakan Keberkahan Ramadan kaitannya dengan kesempatan hidup di dunia. Di dalam isi kultum itu saya sampaikan betapa keberkahan Ramadan itu sangat kita rasakan. Akan tetapi tidak semua orang mereguk manisnya keberkahan Ramadan.&lt;br /&gt;Bisa jadi, hari ini kita masih puasa, tetapi tidak ada satu makhluk pun yang bisa menjamin esok harinya kita masih bisa berpuasa kembali.&lt;br /&gt;Terbukti, pagi harinya, saya kembali menerima sms yang berbunyi: Kepada Yth. Bapak Dosen, telah meninggal dunia mahasiswi UIN yang bernama si fulanah, mhn dimaafkan kesalahannya dan semoga diterima amal ibadahnya. Belum selesai membaca pasan pendek, di Masjid Fathullah dan sekitarnya terdengar pengumuman meninggal dunia, suami dari ibu fulanah, karyawan Masjid Fathullah.&lt;br /&gt;Dari beberapa kisah di atas kemudian timbul pertanyaan siapa yang mampu mengetahui rahasia kematian itu? Kapan akan menghampiri kita? Pasti jawabannya adalah tidak ada seorang pun yang mengetahui. Kalau demikian, mengapa kita masih melakukan hal yang dilarang Allah? Pintu taubat akan selalu terbuka. Maka, di bulan Ramadan 1431 H kali ini, sejatinya dimanfaatkan sebaik dan semanfaat mungkin. Kuncinya, banyak berzikir, sedekah, membaca Alquran, dan amalan salih lainnya. Saatnya kita mereformasi keburukan kita dengan kebaikan.&lt;br /&gt;Tepatlah kiranya untuk dijadikan perumpamaan, bahwa dunia itu adalah ladang akhirat (al-Dunya mazra'at al-akhirah), begitu sabda Rasul. Maka, tanamilah ladang dunia ini dengan biji kebajikan, kelak engkau akan menuai kebajikan. Sebaliknya, jika menanam biji keburukan, siap-siap pula memanen kaburukannya. Ramadan merupakan bulan pelipatgandaan pahala, jangan sia-siakan Ramadan tanpa amal saleh.&lt;br /&gt;Allah juga menegaskan dalam Q.S. Al Isra (17) Ayat (8): "Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri (In ahsantumahsantun lianfusikum wa in as’tum falaha…).&lt;br /&gt;Atas dasar hal di atas, sejatinya Ramadan 1431 H yang sedang kita lalui ini dijalankan dengan penuh keimanan dan mengharap rida Allah, agar kita mampu menuai indahnya bersama Ramadan. Bukan untuk saat ini saja, melainkan memberikan efek juga pada saat yang akan datang. Seperti Hadis dari Abu Hirairah, bahwasannya Rasulullah bersabda "Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan yang didasari dengan keimanan dan mengharap (rida Allah), akan diampuni dosa yang telah lalu dan yang akan datang."&lt;br /&gt;Tepat pulalah kiranya Allah memanjakan bagi orang-orang yang berpuasa yang diundang atas seruan keimanan, dengan menggunakan redaksi: Wahai orang yang beriman (Ya ayyuha al-ladzina amanu..), seperti difirmankan dalam Q.S. Al Baqarah (2) Ayat (183): "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibakan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertakwa."&lt;br /&gt;Terlihat dengan jelas dari ayat di atas, bahwa tujuan akhir dari puasa adalah membentuk manusia yang mempunyai karakter takwa. Dalam artian, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang Allah. Ketakwaan di sini sifatnya kontinu. Ketakwaan yang bukan hanya di bulan Ramadan, melainkan jauh dari itu, ketakwaan juga di implementasikan dalam bulan-bulan selain Ramadan. Wallahualam bissawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di kolom opini koran harian Lampung Post, Jum'at, 20 Agustus 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-1788683691105741473?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/1788683691105741473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=1788683691105741473' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1788683691105741473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1788683691105741473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/ramadan-dan-tabir-kehidupan.html' title='Ramadan dan Tabir Kehidupan'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-5408742871275886790</id><published>2010-09-07T23:14:00.001-07:00</published><updated>2010-09-07T23:14:21.826-07:00</updated><title type='text'>Tradisi Pulang Kampung</title><content type='html'>Tradisi Pulang Kampung&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh: Hasani Ahmad Said, M.A.&lt;br /&gt;(Dosen Syariah IAIN Raden Intan, Lampung &amp; Kader Mufassir, Pusat Studi Alquran Jakarta)&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di harian koran KABAR BANTEN, Senin, 7 Sep 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi pulang kampung bagi sebagian besar bangsa Indonesia, menjadi satu keharusan dan tentunya memiliki kenikmatannya tersendiri. Banyak cara orang meluapkan sehingga tradisi ini dianggap sesuatu yang bila ditinggalkan seolah ada yang tidak lengkap dalam setiap kali datangnya lebaran. Maka, ada sebagian kecil yang beranggapan belum lebaran kalau belum pulang kampung, atau ada lagi ungkapan belum lebaran kalau belum punya baju baru. &lt;br /&gt;Hirup pikuk dan sesaknya kota tempat kerja mereka, seolah lengang, bebas macet karena penghuninya telah meninggalkan sejenak tempat mata pencaharianya. Ada yang mengapresiasikan keberhasilannya hijrah dari kampungnya dengan membawa sera merta hasil kerja selama dalam tanah rantau. Dan kenikmatan yang tidak bisa terbayarkan adalah ketika bertemu dengan sanak saudara yang bisa jadi selama berbulan-bulan tidak bertemu, atau bisa jadi tidak bertemu dalam urutan tahun.&lt;br /&gt;Menarik untuk diulas sekaligus menjadi studi penelitian dan pengamatan kecil-kecilan. Paling tidak ada tiga tujuan orang berbondong-bondong pulang kampung. Pertama, melepaskan kangen; kedua, menunjukkan kepada khal layak akan harta perniagaan yang selama ini telah dihasilkan selama satu tahun; dan ketiga, hanya sekedar berlebaran di kampung sekaligus ajang liburan. &lt;br /&gt;Dari ketiga tujuan di atas, yang jelas pulang kampung memiliki keunikan tersendiri, sehingga sulit untuk digambarkan oleh kata-kata, saking memuncaknya rasa kebahagiaan yang dirasakan oleh pelakunya. &lt;br /&gt;Para pakar Psikologi Agama, banyak menggambarkan pulangkampung, disamakan dengan proses menjemput kematian yang husnul khatimah. Perumpamaan ini tidaklah berlebihan, bagaimana tidak kematian pasti akan menghampiri setiap jiwa yang hidup sebagaimana penggalan Alquran “Kullu nafsin daiqatul maut” (setiap jiwa akan menemui mati). &lt;br /&gt;Komaruddin Hidayat dalam buku Psikologi Kematian menulis bahwa kematian ibarat pulang kampung. Maksud di sini adalah bukan berarti orang yang pulang kampung sedang menjemput maut, akan tetapi maknanya adalah bagaimana kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Akan tetapi kematian itu, sejatinya kita yang hendak pulang menuju kampung asal kita. Sesungguhnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah (Inna lillah wa inna ilaihi rajiun). Kalau sudah demikian, bukan kita yang takut mati, tapi kita sudah ingin dijemput oleh malaikat maut.&lt;br /&gt;Gambaran ini tentu memerlukan persiapan dan bekal yang baik laksana orang yang hendak pulang kampung yang menyiapkan harta bendanya sekian tahun untuk dibawa ke kampung. Kemudian, istilah pulang kampung identik dengan lebaran, terutama Idul Fithri. Bekal apakah yang terbaik?&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana gambaran Alquran tentang lebaran. Alquran dalam Q.S. al-Baqarah/2 ayat 185 menggambarkan nilai-nilai lebaran dengan ungkapan “…Wa litukabbirullaha ‘ala ma hadakum wa la’allakum tasykurun” (Dan Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersykur). Isyarat ayat ini menunjukkan anjuran untuk berucap takbir, sebagai ungkapan rasa syukur. Nilai itulah yang diyakini sebagai indikasi untuk berlebaran atau dalam bahasa orang Indonesia biasa dikenal dengan takbiran.&lt;br /&gt;sebelumnya, potongan ayat ini berbicara tentang perintah wajibnya puasa yang akan membentuk karakter manusia yang nurut/patuh (taqwa) (ayat 183). Setelah diketahui siapa yang wajib berpuasa dan yang diberi izin untuk tidak melaksanakannya, dijelasknan tentang masa puasa yang sebelum ini dinyatakan bahwa hanya pada hari-hari tertentu 29 atau 30 hari saja selama bulan Ramadhan. Nah, bulan ini diangap mulia dan istimewa karena di dalamnya diturunkan Alquran yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas dan pembeda antara yang hak dan batil&lt;br /&gt;Setelah jelas hari-hari tertentu yang harus diisi dengan puasa, maka ada perintah untuk mencukupkan bilangannya, baru kemudian diperintahkan untuk mengagungkan Allah melalui lantunan tasbih, tahmid dan takbir. Dengan kata lain takbiran atau lebaran. Hal itulah yang dianggap sebagai bukti rasa syukur kepada Allah Swt. &lt;br /&gt;Memang terkesan tidak ada keserasian antara lebaran dan pulang kampung, akan tetapi bagi bangsa Indonesia, tradisi pulang kampung memiliki nilai tersendiri. Sehingga, bisa jadi memiliki nilai besar sebagai bentuk rasa syukur atas begitu banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Sehingga dengan kesadaran seperti ini, wujud syukurnya di implementasikan dengan berbagi dengan sanak, family, dan tetangga di kampung. Ternyata wujud inilah yang membuat setiap orang yang selama ini tinggal di luar kampung halamannya, berlomba-lomba menunjukkan kearifn dan kebjikannya untuk saling berbagi.&lt;br /&gt;Dalam bahasa agama istilah berbagi dikenal dengan zakat, infak dan shadaqah. Tentunya, berinfak dan shadaqah kepada orang yang tepat untuk berbagi. Semoga tulisan ini akan memberikan efek bagi para perantau, bahwa dalam harta anda ada hak orang lain. Maka, saatnyalah berbagi dengan sesame, mulailah deri yang terdekat (dzawil qurba), yatim (yatama), dan fakir miskin. Infak dan shaqadh inilah sebagagai bentuk impelmentasi taqwa hasil didikan ramadhan seperti isyarat Q.S. al-Baqarah/2 ayat 3. Jadi, begitu serasinya satu ayat dengan ayat yang lain, laksana sebuah bangunan yang kokoh. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Dosen Faultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung, Kader Mufasir, Pusat Studi Alquran, Jakarta &amp; Kandidat Doktor UIN Jakarta. Tinggal di Kel. Pabean, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon-Banten. &lt;br /&gt;Email hasani_banten@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-5408742871275886790?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/5408742871275886790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=5408742871275886790' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/5408742871275886790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/5408742871275886790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/tradisi-pulang-kampung_07.html' title='Tradisi Pulang Kampung'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-8010319195354990199</id><published>2010-09-07T23:11:00.001-07:00</published><updated>2010-09-07T23:11:38.898-07:00</updated><title type='text'>Tradisi Pulang Kampung</title><content type='html'>Tradisi Pulang Kampung&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh: Hasani Ahmad Said, M.A.&lt;br /&gt;(Dosen Syariah IAIN Raden Intan, Lampung &amp; Kader Mufassir, Pusat Studi Alquran Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi pulang kampung bagi sebagian besar bangsa Indonesia, menjadi satu keharusan dan tentunya memiliki kenikmatannya tersendiri. Banyak cara orang meluapkan sehingga tradisi ini dianggap sesuatu yang bila ditinggalkan seolah ada yang tidak lengkap dalam setiap kali datangnya lebaran. Maka, ada sebagian kecil yang beranggapan belum lebaran kalau belum pulang kampung, atau ada lagi ungkapan belum lebaran kalau belum punya baju baru. &lt;br /&gt;Hirup pikuk dan sesaknya kota tempat kerja mereka, seolah lengang, bebas macet karena penghuninya telah meninggalkan sejenak tempat mata pencaharianya. Ada yang mengapresiasikan keberhasilannya hijrah dari kampungnya dengan membawa sera merta hasil kerja selama dalam tanah rantau. Dan kenikmatan yang tidak bisa terbayarkan adalah ketika bertemu dengan sanak saudara yang bisa jadi selama berbulan-bulan tidak bertemu, atau bisa jadi tidak bertemu dalam urutan tahun.&lt;br /&gt;Menarik untuk diulas sekaligus menjadi studi penelitian dan pengamatan kecil-kecilan. Paling tidak ada tiga tujuan orang berbondong-bondong pulang kampung. Pertama, melepaskan kangen; kedua, menunjukkan kepada khal layak akan harta perniagaan yang selama ini telah dihasilkan selama satu tahun; dan ketiga, hanya sekedar berlebaran di kampung sekaligus ajang liburan. &lt;br /&gt;Dari ketiga tujuan di atas, yang jelas pulang kampung memiliki keunikan tersendiri, sehingga sulit untuk digambarkan oleh kata-kata, saking memuncaknya rasa kebahagiaan yang dirasakan oleh pelakunya. &lt;br /&gt;Para pakar Psikologi Agama, banyak menggambarkan pulangkampung, disamakan dengan proses menjemput kematian yang husnul khatimah. Perumpamaan ini tidaklah berlebihan, bagaimana tidak kematian pasti akan menghampiri setiap jiwa yang hidup sebagaimana penggalan Alquran “Kullu nafsin daiqatul maut” (setiap jiwa akan menemui mati). &lt;br /&gt;Komaruddin Hidayat dalam buku Psikologi Kematian menulis bahwa kematian ibarat pulang kampung. Maksud di sini adalah bukan berarti orang yang pulang kampung sedang menjemput maut, akan tetapi maknanya adalah bagaimana kematian bukan sesuatu yang menakutkan. Akan tetapi kematian itu, sejatinya kita yang hendak pulang menuju kampung asal kita. Sesungguhnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah (Inna lillah wa inna ilaihi rajiun). Kalau sudah demikian, bukan kita yang takut mati, tapi kita sudah ingin dijemput oleh malaikat maut.&lt;br /&gt;Gambaran ini tentu memerlukan persiapan dan bekal yang baik laksana orang yang hendak pulang kampung yang menyiapkan harta bendanya sekian tahun untuk dibawa ke kampung. Kemudian, istilah pulang kampung identik dengan lebaran, terutama Idul Fithri. Bekal apakah yang terbaik?&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana gambaran Alquran tentang lebaran. Alquran dalam Q.S. al-Baqarah/2 ayat 185 menggambarkan nilai-nilai lebaran dengan ungkapan “…Wa litukabbirullaha ‘ala ma hadakum wa la’allakum tasykurun” (Dan Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersykur). Isyarat ayat ini menunjukkan anjuran untuk berucap takbir, sebagai ungkapan rasa syukur. Nilai itulah yang diyakini sebagai indikasi untuk berlebaran atau dalam bahasa orang Indonesia biasa dikenal dengan takbiran.&lt;br /&gt;sebelumnya, potongan ayat ini berbicara tentang perintah wajibnya puasa yang akan membentuk karakter manusia yang nurut/patuh (taqwa) (ayat 183). Setelah diketahui siapa yang wajib berpuasa dan yang diberi izin untuk tidak melaksanakannya, dijelasknan tentang masa puasa yang sebelum ini dinyatakan bahwa hanya pada hari-hari tertentu 29 atau 30 hari saja selama bulan Ramadhan. Nah, bulan ini diangap mulia dan istimewa karena di dalamnya diturunkan Alquran yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas dan pembeda antara yang hak dan batil&lt;br /&gt;Setelah jelas hari-hari tertentu yang harus diisi dengan puasa, maka ada perintah untuk mencukupkan bilangannya, baru kemudian diperintahkan untuk mengagungkan Allah melalui lantunan tasbih, tahmid dan takbir. Dengan kata lain takbiran atau lebaran. Hal itulah yang dianggap sebagai bukti rasa syukur kepada Allah Swt. &lt;br /&gt;Memang terkesan tidak ada keserasian antara lebaran dan pulang kampung, akan tetapi bagi bangsa Indonesia, tradisi pulang kampung memiliki nilai tersendiri. Sehingga, bisa jadi memiliki nilai besar sebagai bentuk rasa syukur atas begitu banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Sehingga dengan kesadaran seperti ini, wujud syukurnya di implementasikan dengan berbagi dengan sanak, family, dan tetangga di kampung. Ternyata wujud inilah yang membuat setiap orang yang selama ini tinggal di luar kampung halamannya, berlomba-lomba menunjukkan kearifn dan kebjikannya untuk saling berbagi.&lt;br /&gt;Dalam bahasa agama istilah berbagi dikenal dengan zakat, infak dan shadaqah. Tentunya, berinfak dan shadaqah kepada orang yang tepat untuk berbagi. Semoga tulisan ini akan memberikan efek bagi para perantau, bahwa dalam harta anda ada hak orang lain. Maka, saatnyalah berbagi dengan sesame, mulailah deri yang terdekat (dzawil qurba), yatim (yatama), dan fakir miskin. Infak dan shaqadh inilah sebagagai bentuk impelmentasi taqwa hasil didikan ramadhan seperti isyarat Q.S. al-Baqarah/2 ayat 3. Jadi, begitu serasinya satu ayat dengan ayat yang lain, laksana sebuah bangunan yang kokoh. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah Dosen Faultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung, Kader Mufasir, Pusat Studi Alquran, Jakarta &amp; Kandidat Doktor UIN Jakarta. Tinggal di Kel. Pabean, Kec. Purwakarta, Kota Cilegon-Banten. &lt;br /&gt;Email hasani_banten@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-8010319195354990199?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/8010319195354990199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=8010319195354990199' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8010319195354990199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8010319195354990199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/09/tradisi-pulang-kampung.html' title='Tradisi Pulang Kampung'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3274009948622912329</id><published>2010-07-29T21:21:00.000-07:00</published><updated>2010-07-29T21:21:50.233-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kisruh Meledaknya Tabung Gas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By redaksi&lt;br /&gt;diakses dari http://www.radarbanten.com/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=56740&lt;br /&gt;Rabu, 07-Juli-2010, 08:04:22  73 clicks  Send this story to a friend  Printable Version&lt;br /&gt;Subsidi pemerintah lewat konversi minyak tanah ke gas sejatinya menjadi solusi terhadap penghematan anggaran pemerintah, selain lebih memudahkan masyarakat terhadap urusan “dapur”-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Tapi ironis, hampir setiap hari menyaksikan terjadinya kebakaran akibat tabung gas, yang kian hari korbannya kian bertambah. Pertanyaannya kemudian adalah ini salah siapa? Pemerintahkah sebagai pengambil tampuk kebijakan? Atau terjadinya akibat human error?&lt;br /&gt;Memang tidak tepat kiranya hanya mencari “kambing hitam” yang lebh bijak adalah barangkali sama-sama melakukan introspeksi diri demi perbaikan sekarang dan yang akan datang. Gambaran masyarakat yang kita saksikan selama ini adalah saling menuding mencari siapa yang salah tanpa mengambil solusi yang terbaik. Memang kebijakan pemerintah yang baik, tanpa dilakukan sosialisasi yang tepat dalam artian sosialisasi sampai pada masyarakat di tingkat pedesaan, maka kebijakan yang baik itu akan terhapus dengan kejadian-kejadian merajalelanya gas meledak yang terjadi beberapa kali di beberapa tempat.&lt;br /&gt;Kepala Pusat Laboratorium dan Forensik Brigjenpol Budiono memberikan analisa bahwa ada beberapa indikasi terjadinya meledaknya tabung gas. Pertama, perangkat tabung banyak yang rusak, kerusakan pada karet perekat udara, dan peralatan logam rusak.&lt;br /&gt;Penemuan Puslabfor ini sangat memiriskan hati, betapa tidak di tengah gencarnya subsidi tabung gas. Sementara itu, tanpa dikomando minyak tadinya yang sudah lekat dengan masyaraka kecil dan mudah untuk mendapatkannya, tiba-tiba menghilang ditelan bumi dan sulit untuk didapat.&lt;br /&gt;Meskipun ada, namun harganya sangat mahal dan sangat terbatas sehingga, masyarakat enggan untuk membeli, dan seolah “dipaksa” beralih ke gas. Bagai “bom waktu”, tanpa diprediksi leih awal ternyata peralihan minyak tanah ke gas menyisakan banyak persoalan. Mulai dari kebakaran rumah, sampai memakan korban nyawa. Yang terjadi sekarang adalah masyarakat mulai “fobia” terhadap penggunaan gas elpiji. Lebih miris lagi kebanyakan korbannya adalah masyarakat kecil sebagai pemakai gas, tanpa diikuti dengan pengetahuan yang cukup tentang perawatan dan pemakaian gas secara baik dan benar.&lt;br /&gt;Hal senada juga diungkapkan oleh Husna Zahir, salah seorang anggota YLKI bahwa kejadian meledaknya tabung gas lebih kepada banyak perangkat paket tabung tidak memenuhi standar. Bagaimana mungkin program nasional yang melibatknan seluruh lapisan masyarakat kecil bisa terjadi salah setting?&lt;br /&gt;Sekali lagi, tidak terlalu penting mencari siapa yang salah, tetapi lebih penting lagi saat ini bagaimana menciptakan dan melakukan inovasi baru dalam menanggulangi problem sosial yang sudah banyak menelan banyak korban.&lt;br /&gt;Gagasan dan terobosan baru inilah yang sedang dilakukan oleh Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT). Arya Rezavidi, Direktur Teknologi BPPT mengkritisi desain kompor dan tabung gas yang dirancang oleh pemerintah dalam hal ini Pertamina. Dia menganggap bahwa desain yang dilakukan pemerintah antara komponen yang satu denga komponen yang lain dilakukan terpisah-pisah, dalam artian tabung, kompor gas, dan selang penghubung antara keduanya terpisah.&lt;br /&gt;Model seperti inilah disinyalir oleh BPPT sebagai salah satu pemicu terjadi peledakan tabung gas. Belum lagi minimnya pengetahuan masyarakat akan tabung dan kompor gas. Idealnya, perangkat yang menghubungkan semisal selang, karet perekat dalam tabung diganti secara berkala dan senantiasa dalam pengawasan.&lt;br /&gt;Sedang inovasi yang dilakukan BPPT lebih kepada menyatukan ketiga komponen desain yang disebut tadi yaitu tabung, kompor langsung terhubung/terpasang disertai pula dengan penutup tabung dan kompor. Sehingga, pola ini dianggap oleh BPPT, sebagai pola aman bagi para konsumen.&lt;br /&gt;Bahkan, sebelum BPPT melakukan inovasi seperti itu, banyak inovasi-inovasi yang aman karena lebih memanfaatkan alam. Sebut misalnya kotoran hewan disulap dan diulah menjadi gas. Penyelarasan antara sumber daya manusia dan upaya inovasi baru sangat dibutuhkan agar mencegah atau paling tidak mengurangi korban dan kecemasan masyarakat.&lt;br /&gt;Selanjutnya, bagi pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah, kalau memang konversi minyak tanah ke gas itu lebih ekonomis, sejatinya dilakukan dengan keterbukaan dan sertai dengan standarisasi keamanan. Tidak usah misalnya begitu sosialisasi program yang “dicap” ekonomis, tidak serta merta memberangus program yang sudah ada kalau memang pemanfaatannya masih dibutuhkan.&lt;br /&gt;Meskipun program konversi minyak tanah ke gas lebih baik, maka kekurangan-kekurangan yang selama ini dikeluhkan masyarakat, sebaiknya cepat ditangani. Bukan justru malah sebaliknya, seolah-olah tidak ada orang yang bertanggung jawab atas semua ini.&lt;br /&gt;Saatnya pemeritah tegas memberantas mavia-mavia pengoplos gas, pengurangan takaran dalam tabung, sampai kepada permainan harga yang tidak menentu, dan yang tak kalah penting adalah lebih ditingkan lagi fungsi pengawasan dan selalu dilakukan evaluasi. Bukan malah bagaimana menaikkan harga gas, BBM ataupun TDL, dengan dalih pemerintah merugi.&lt;br /&gt;Saatnya pemerintah memulihkan stigma miring tentang kabar meledaknya gas saat ini dan masa yang akan datang. Satu contoh misalnya, di Nunukan, Kaltim, tengah menggunakan gas Petronas produk Negara Jiran, Malaysia. Gas ini dianggap oleh penggunanya sebagai produk gas yang aman dan mudah didapat di daerah tersebut.&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, pemerintah juga yang rugi atas ketidakpercayaan masyarakat. Memang tidak cukup hanya pemerintah saja yang memulai tanpa didukung dengan kesadaran masyarakat.&lt;br /&gt;Bagi pemerintah dan masyarakat sebaiknya bahu membahu memperbaiki pola pengurusannya, dan bagi masyarakat sebagai konsumen harus mawas diri sebelum datang musibah. Pendek kata, dari unsur pengambil kebijakan sampai konsumen di tingkat bawah tidak ada problem, kecuali ada pemecahannya. Semoga tidak akan ada lagi korban berjatuhan berikutnya akibat buruknya desain tabung dan lemahnya kesadaran pengguna tabung gas. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Penulis adalah kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan dosen IAIN Raden Intan Lampung, tinggal di Kelurahan Pabean, Kota Cilegon.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3274009948622912329?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3274009948622912329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3274009948622912329' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3274009948622912329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3274009948622912329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/07/kisruh-meledaknya-tabung-gas-by-redaksi.html' title=''/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-1279156282698847002</id><published>2010-07-29T01:36:00.000-07:00</published><updated>2010-07-29T01:36:43.595-07:00</updated><title type='text'>Peran Strategis Pengelolaan Zakat: Upaya Pengentasan dan Penanggulangan Kemiskinan</title><content type='html'>PERAN STRATEGIS PENGELOLAAN ZAKAT: UPAYA PENGENTASAN DAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN &lt;br /&gt;Oleh Hasani Ahmad Said, MA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Zakat adalah salah satu ibadah pokok yang menjadi kewajiban bagi setiap individu (Mukallaf) yang memiliki harta untuk mengeluarkan harta tersebut sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dalam zakat itu sendiri. Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga setelah Syahadat dan Shalat, sehingga merupakan ajaran yang sangat penting bagi kaum muslimin. Bila saat ini kaum muslimin sudah sangat faham tentang kewajiban shalat dan manfaatnya dalam membentuk keshalehan pribadi. Namun tidak demikian pemahamaannya terhadap kewajiban terhadap zakat yang berfungsi untuk membentuk keshalehan sosial. Implikasi keshalehan sosial ini sangat luas, kalau saja kaum muslimin memahami tentang hal tersebut. Pemahaman shalat sudah merata dikalangan kaum muslimin, namun belum demikian terhadap zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epistemologi Zakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Zakat menurut etimologi berarti, berkah, bersih, berkembang dan baik. Dinamakan zakat karena, dapat mengembangkan dan menjauhkan harta yang telah diambil zakatnya dari bahaya. Menurut Ibnu Taimiah, hati dan harta orang yang membayar zakat tersebut menjadi suci dan bersih serta berkembang secara maknawi. Zakat menurut terminologi berarti, sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah swt. untuk diberikan kepada para mustahik yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Atau bisa juga berarti sejumlah tertentu dari harta tertentu yang diberikan untuk orang tertentu. Lafal zakat dapat juga berarti sejumlah harta yang diambil dari harta orang yang berzakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Zakat dalam Al-Qur’an dan hadis kadang-kadang disebut dengan sedekah, seperti firman Allah swt. yang berarti, "Ambillah zakat (sedekah) dari harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah buat mereka, karena doamu itu akan menjadi ketenteraman buat mereka." (Q.S. At Taubah, 103). Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah saw. ketika memberangkatkan Muaz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda, "Beritahulah mereka, bahwa Allah mewajibkan membayar zakat (sedekah) dari harta orang kaya yang akan diberikan kepada fakir miskin di kalangan mereka." (Hadis ini diketengahkan oleh banyak perawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan Strategis Pendayagunaan dan Pengelolaan Zakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pengumpulan sumber zakat adalah lewat zakat mal dan zakat fitrah. Al-Qur'an dan Hadits telah memberikan nash-nash secara tafshily tentang sumber-sumber zakat. Sementara sumber-sumber ijmaly memungkinkan kita untuk melakukan kajian dan pengembangan terhadap objek dan sumber zakat. Keberhasilan zakat tergantung kepada pendayagunaan dan pemanfaatannya. Walaupun seorang wajib zakat (muzakki) mengetahui dan mampu memperkirakan jumlah zakat yang akan ia keluarkan, tidak dibenarkan ia menyerahkannya kepada sembarang orang yang ia sukai. Zakat harus diberikan kepada yang berhak (mustahik) yang sudah ditentukan menurut agama. Penyerahan yang benar adalah melalui badan amil zakat. Walaupun demikian, kepada badan amil zakat manapun tetap terpikul kewajiban untuk mengefektifkan pendayagunaannya. Pendayagunaan yang efektif ialah efektif manfaatnya (sesuai dengan tujuan) dan jatuh pada yang berhak (sesuai dengan nas) secara tepat guna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam pengelolaan zakat, Al-Qur'an menyebutkan kata ’amilin dalam salah satu ashnaf yang berhak menerima dana zakat (QS. Al-Taubah : 60).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Al-Qurtubi menafsirkan kata amilin sebagai orang-orang yang ditugaskan (oleh imam/pemerintah) untuk mengambil, menuliskan, menghitung dana zakat yang diambil dari muzakki untuk kemudian diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya. Hal ini dipertegas lagi dengan adanya perintah (mandat) yang diberikan kepada penguasa untuk memungut zakat dari harta orang-orang yang wajib zakat, sebagaimana dijelaskan dalam surat At Taubah ayat 103:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Keberadaan amilin ini didukung oleh fakta historis bahwa Rasulullah pernah mengutus Ibnu Lutaibah untuk mengurus zakat Bani Sulaim, juga mengutus Mu'adz ibn Jabal untuk memungut zakat dari penduduk Yaman. Pertanyaannya, apa makna strategis Al Qur'an dan praktik Nabi saw (Al-Hadis) berkaitan dengan keberadaan amil zakat di atas? Secara tersirat, Al-Qur'an ingin menunjukkan bahwa keberadaan amil dalam mengelola zakat memiliki peran yang sangat strategis. Artinya, amil diharapkan mampu mewujudkan cita-cita zakat sebagai salah satu instrumen dalam Islam (Sistem ekonomi Islam) dalam rangka menciptakan pemerataan ekonomi dan harmonisasi antarumat. Dalam konteks ini, para amil zakat tidak hanya sekedar mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, tetapi juga dituntut untuk mampu menciptakan pemerataan ekonomi umat sehingga kekayaan tidak hanya berputar pada satu golongan atau satu kelompok orang saja. Sebagaimana ditegaskan dalam surat Al-Hasyr : 7 Artinya: supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Para amil harus mampu memilih dan memilah agar penyaluran zakat tepat sasaran dan jangan sampai diberikan kepada orang yang tidak berhak, Allah swt memperingatkan bahwa ada orang yang tidak pantas menerima zakat tetapi ingin mendapatkan bagiannya lalu orang tersebut mencela Nabi Muhammad Saw. mengenai masalah pembagian harta zakat, surat At Taubah : 58 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Artinya: Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Amil zakat harus mampu menciptakan dan merumuskan strategi pemanfaatan zakat yang berdaya guna dan berhasil guna. Amil zakat juga harus mampu mengeksplorasi berbagai potensi umat sehingga dapat diberdayakan secara optimal. Dengan demikian, zakat menjadi lebih produktif dan tidak hanya sekedar memiliki fungsi karitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Secara lebih jelas, Yusuf Al-Qardhawi menyebutkan urgensi keberadaan amil, yaitu: pertama, jaminan terlaksananya syariat zakat (bukankah ada saja manusia-manusia yang berusaha menghindar bila tidak diawasi oleh penguasa?).      Kedua, pemerataan (karena dengan keterlibatan satu tangan, diharapkan seseorang tidak akan memperoleh dua kali dari dua sumber, dan diharapkan pula semua mustahiq akan memperoleh bagiannya). Ketiga,memelihara air muka para mustahiq, karena mereka tidak perlu berhadapan langsun dengan para muzakki, dan mereka tidak harus pula datang meminta. Keempat, sektor (ashnaf yang harus menerima) zakat, tidak terbatas pada individu, tetapi juga untuk kemaslahatan umum, dan sektor ini hanya dapat ditangani oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zakat dan Orientasi Pembangunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Nabi Muhaminad SAW pernah memberikan shadakah kepada seorang fakir sebanyak dua dirham, sambil mernberi anjuran agar mempergunakan uang itu satu dirham untuk makan dan satu dirham lagi untuk membeli kampak dan bekerja dengan kampak itu. Lima belas hari kemudian orang ini datang lagi kepada Nabi SAW dan menyampaikan bahwa ia telah bekerja dan berhasil mendapat sepuluh dirham. Separuh uangnya dipergunakan untuk makan dan separuhnya lagi untuk membeli pakaian. Zakat diberikan tidak sekedar sampai pada fakir, sunnah Nabi menyarankan agar zakat dapat membebaskan seorang fakir dari kefakirannya. Nabi pun dicerca orang yang tidak mendapat bagian zakat atau dipuji karena seseorang mendapat sesuai dengan yang diingininya. Padahal Nabi menentukan mustahik atas dasar tepatnya sasaran. Apabila tidak ada lagi mustahik maka dana zakat dikirimkan ke luar daerah atau untuk dimasukkan ke dalam dana baitul maal seperti dilakukan oleh Mu'az pada zaman Khalifah Umar. Tiga kali Gubernur Yaman mengirimkan zakat kepada Umar, dan tiga kali Umar menolak, bahwa ia tidak menyuruh Mu'az memungut upeti. Tetapi Mu'az menerangkan bahwa ia tidak lagi mendapatkan mustahik zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik Mustahik menjadi Muzakki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di dalam Al Qur'an disebutkan mustahik adalah 8 asnaf. Pengertian tentang kedelapan asnaf berkembang sesuai dengan berubahnya kondisi sosial ekonomi di atas dasar yang tetap. Sesungguhnya zakat- zakat itu, hanyalah untuk orang orang fakir, orang orang miskin, pengurus pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS At Taubah 60).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dari delapan asnaf yang disebutkan di atas, yang terpenting adalah bagaimana mendidik mereka tidak hanya sebatas hanya penerima zakat. Akan tetapi bagaiamana kemudian, dari zakat yang diterima bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang produktif, yang pada gilirannya akan membawa kepada makna zakat itu sendiri yakni tumbuh dan berkembang. Kalau sudah demikian paradigmanya, bisa jadi tahun ini sebagai penerima zakat, dan tidak menutup kemungkinan tahun yanga akan dating sudah meraih reting selanjutnya yaitu menjadi muzakki. Inilah kurang lebih pesan moral dari pemberian dan pendistribusian zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintisan Zakat Menuju Mengentaskan Kemiskinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dengan mengubah orientasi, tetapi tetap berpegang kepada nas mustahik seperti tersebut di atas, dilakukan proyek rintisan untuk mengembangkan pendayagunaan zakat untuk mencapai efektif manfaat yang maksimal. Proyek rintisan pada dasarnya memerlukan dana yang besar. Hal ini perlu mendapat perhatian dan meminta kesadaran para muzakki. Memang dengan konsentrasi dana semacam ini dapat menimbulkan pengaruh yang dianggap kurang memperhatikan kepentingan para asnaf secara langsung. Namun untuk mengatasi hal tersebut setiap proyek rintisan diprogramkan secara matang dengan mempertimbangkan kepentingan para asnaf (sesuai nas). Di samping itu penanganan proyek tentu sudah dilakukan pula lembaga-]embaga sosial lainnya. Dana yang dikumpulkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan lahir batin masyarakat, meliputi : a). Bidang Sarana Ibadah, b). Bidang Pendidikan, c). Bidang Kesehatan, d). Bidang pelayanan social, e). Bidang Ekonomi. Proyek-proyek tersebut di atas dilaksanakan sesuai dengan urutan prioritas dan alternatif yang paling memungkinkan bagi penggunaan dana zakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Pengentasan dan Penanggulangan Kemiskinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sejak digulirkannya seruan Presiden SBY tentang perlunya merevitalisasi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah dalam acara pembukaan Festival Ekonomi Syariah (FES) tanggal 4 Februari 2009, yang kemudian diikuti wacana tentang perlunya merevisi UU No 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, perlunya pemberian sanksi kepada muzaki yang tidak mau berzakat, pengintegrasian LAZ ke dalam BAZ, serta usul agar zakat dapat mengurangi besarnya pajak, yang disampaikan oleh menteri agama di depan panitia ad hoc III DPD RI tanggal 24 Februari 2009, telah muncul sambutan dan tanggapan dari berbagai pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Awalnya menteri agama sudah pernah mengeluarkan Peraturan Menteri Agama No 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan BAZ desa/kelurahan dan BAZ kecamatan sebagai koordinatornya, tetapi atas petunjuk Presiden Soeharto pembentukan BAZ tersebut ditunda pelaksanaannya melalui Instruksi Menteri Agama No 1 Tahun 1969. Berdirinya BAZIS dan BAZ di beberapa provinsi sejak awal 1970-an, walaupun dengan SK Gubernur tidak atas prakarsa pemerintah pusat, tapi atas prakarsa masyarakat. Dalam SKB Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama No 29 Tahun 1991 dan No 47 Tahun 1991 tentang Pembinaan BAZIS, secara tegas dinyatakan bahwa BAZIS dan BAZ adalah lembaga swadaya masyarakat. Badan Amil Zakat (BAZ) baru dibentuk oleh pemerintah setelah keluarnya Undang-Undang No 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. BAZNAS dibentuk untuk pertama kalinya dengan Keputusan Presiden No 8 Tahun 2001 tanggal 17 Januari 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sejak kapan lembaga amil zakat (LAZ) dibentuk oleh masyarakat di Tanah Air kita ini? LAZ, sebagai institusi pengelolaan zakat yang sepenuhnya dibentuk atas prakarsa masyarakat dan oleh masyarakat, sebenarnya telah ada sejak zaman kolonial. Biasanya bersifat sementara/temporer, berupa kepanitiaan yang dibentuk oleh pengurus masjid, umumnya di bulan Ramadhan. Sedang LAZ yang dimiliki ormas Islam, seperti Muhammadiyah, NU, dan Persis, biasanya bersifat permanen dan menjadi bagian dari organisasinya. LAZ-LAZ tersebut dibentuk untuk menghimpun dana dari anggota masing-masing guna menghidupi dan membiayai jalannya organisasi dan kegiatannya di bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan kemaslahatan umat Islam. Akan tetapi, LAZ-LAZ kelas kakap (mohon maaf), seperti 4 LAZ yang menanggapi wacana menteri agama tersebut di atas, muncul di awal 1990-an. Yaitu, usai ditolaknya pembentukan BAZIS Nasional oleh Presiden Soeharto, yang diusulkan oleh peserta Mudzakarah Nasional Zakat, pada bulan Maret 1992 melalui menteri dalam negeri dan menteri agama. Dirjen Bimas Islam, usai mudzakarah nasional tersebut, mengumpulkan pimpinan BABINROHIS seluruh instansi pemerintah tingkat pusat, untuk menginformasikan hasil mudzakarah dan sekaligus meminta masing-masing membentuk unit pengumpul zakat (UPZ) dari BAZIS Nasional yang akan dibentuk di instansi masing-masing. Ternyata, permohonan pembentukan BAZIZ Nasional ditolak oleh Presiden Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sementara itu, di beberapa instansi pemerintah tingkat pusat (terutama di BUMN-BUMN) sudah dibentuk unit pengumpul zakat yang dipesan oleh Dirjen Bimas Islam. Akhirnya, UPZ-UPZ yang dibentuk oleh BABINROHIS tersebut tidak hanya mengumpulkan zakat, tapi juga menyalurkannya sesuai selera masing-masing dan menjadi LAZ yang namanya juga berbeda-beda. Fenomena inilah yang mendorong dibentuknya LAZ oleh lembaga-lembaga lainnya, seperti 4 LAZ tersebut di atas. Semuanya kemudian, pada tahun 1997, terhimpun dalam suatu asosiasi yang diberi nama Forum Zakat (FOZ). Ketua FOZ pertama adalah Pak Eri Sudewo, salah seorang perintis dan pendiri Dompet Dhuafa Republika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Setelah dibentuk BAZNAS dengan Keputusan Presiden No 8 Tahun 2001, LAZ-LAZ yang berdiri setelah ditolaknya pembentukan BAZIS Nasional oleh Presiden Soeharto pada 1992, seharusnya dikembalikan kepada cita-cita semula, yaitu menjadi UPZ dari BAZNAS. Pengintegrasian LAZ ke dalam BAZ yang diwacanakan oleh menteri agama, bukan sentralisasi karena lawan sentralisasi adalah desentralisasi. Mungkin istilah yang tepat adalah merger, yang biasa dilakukan dalam dunia usaha untuk tercapainya efisiensi. Jadi, 18 LAZNAS yang sudah dikukuhkan oleh menteri agama diintegrasikan (dimerger) menjadi satu ke dalam BAZNAS, apakah sebagai UPZ BAZNAS atau UPZ BAZ Provinsi, atau masuk dalam kepengurusan BAZNAS atau BAZ Provinsi. Demikian pula, LAZ-LAZ yang sudah dikukuhkan di daerah. Dengan cara demikian, pengelolaan zakat tentu akan lebih efisien karena tidak akan terjadi lagi persaingan dalam pengumpulan zakat dan tidak akan terjadi lagi overlapping dalam pendistribusian zakat. Selain itu, juga tidak akan terjadi kebingunan pada muzaki, kepada petugas zakat yang mana dia harus menyetorkan zakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Demikian pula, bagi para mustahik, karena di setiap desa/kelurahan tempat kediaman/tempat tinggal mereka sudah ada petugas zakat yang berkewajiban mengurusi kepentingan masing-masing. Dalam RUU tentang Perubahan Atas Undang-Undang No 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, yang sudah disiapkan oleh tim yang diangkat oleh Pemerintah c.q. Departemen Agama, BAZ desa/kelurahanlah yang akan menjadi ujung tombak dalam memerangi kemiskinan di negara kita. BAZ desa/kelurahanlah yang mengetahui dan bisa berhubungan langsung dengan muzaki dan mustahik yang berdomisili di desa/kelurahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Merekalah yang mengumpulkan ZIS di wilayah masing-masing sesuai lingkup kewenangan yang sudah ditentukan dan mereka pulalah yang menyalurkan, mendistribusikan, dan mendayagunakannya sesuai ketentuan agama serta aturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila hasil pengumpulan zakat di suatu desa/kelurahan sudah dapat menanggulangi dan memenuhi kebutuhan fakir miskin di wilayah masing-masing, dan masih ada sisa, sisa tersebut bisa disetorkan ke BAZ kecamatan untuk disumbangkan kepada fakir miskin di desa/kelurahan tetangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ancaman hukuman bagi muzaki yang tidak mau membayar zakat, dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 180 dinyatakan bahwa harta yang tidak dikeluarkan zakatnya itu kelak akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat.&lt;br /&gt;Dalam surat At-Taubah ayat 34 dan 35 dinyatakan bahwa harta yang tidak dikeluarkan zakatnya itu kelak akan dipanaskan dalam api neraka jahanam lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung mereka, dan punggung mereka. Dalam surat Fushshilat ayat 6 dan 7 disebutkan bahwa neraka wail (kecelakaan besarlah) bagi mereka yang mempersekutukan (Nya), yaitu mereka yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sanksi pidana berupa denda hanya sebesar zakat yang wajib ditunaikannya, yaitu 2,5 persen zakat hartanya yang harus dibayarkan ke BAZ ditambah 2,5 persen dendanya yang harus disetorkan ke kas negara, tidak saja mereduksi ancaman hukuman dari Allah, tapi justru membebaskan mereka dari ancaman yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah maupun masyarakat. Kemiskinan sebagai bentuk ancaman merupakan paradigma yang telah ada sejak beridirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kemudian dalam perkembangannya dampak krisis moneter pada tahun 1997 semakin memperparah perekonomian Indonesia. Sejak tahun inilah krisis moneter sebagai pintu gerbang dari segala permasalahan kompleks yang terjadi di Indonesia ke arah kondisi yang paling buruk. Inflasi melonjak ke level yang tinggi, pengaruhnya adalah bahan kebutuhan masyarakat melejit sampai pada tingkat di luar batas kemampuan daya beli sebagian besar masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sontak angka kemiskinan di Indonesia melonjak tajam. dari ±200 juta jiwa penduduk Indonesia 60% nya hidup dalam garis kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa angka kemiskinan di Indonesia sangat fluktuatif. Pada tahun 1976 angka kemiskinan Indonesia berkisar 40% dari jumlah penduduk, tahun 1996 angka kemiskinan turun menjadi 11% dari total penduduk. Pada saat krisis moneter tahun 1997/1998 penduduk miskin Indonesia mencapai 24%. Tahun 2002 mengalami penurunan menjadi 18 % dari total penduduk, angka kemiskinan pada 2003 sebesar 17,4%, pada tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 14 %. Akan tetapi angka resmi BPS berdasarkan sensus kemiskinan tahun 2005 mencapai 35.1 juta jiwa atau 14,6 % dari jumlah penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Data BPS 2006 mencatat penduduk miskin Indonesia mencapai 39,05 juta jiwa.  Sementara itu bank dunia (World Bank) menyatakan bahwa, angka kemiskinan di Indonesia mencapai 120 juta jiwa dengan asumsi mereka yang hidup di bawah dua dolar sehari. Kemiskinan merupakan bahaya besar bagi umat manusia dan tidak sedikit umat yang jatuh peradabannya hanya karena kefakiran. Karena itu seperti sabda Nabi yang menyatakan bahwa kefakiran itu mendekati pada kekufuran. Islam sebagai Ad-diin telah menawarkan beberapa doktrin bagi manusia yang berlaku secara universal dengan dua ciri dimensi, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia serta kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di akhirat. Salah satu cara menanggulangi kemiskinan adalah dukungan orang yang mampu untuk mengeluarkan harta kekayaan mereka berupa dana zakat kepada mereka yang kekurangan. Zakat merupakan salah satu dari lima nilai instrumental yang strategis dan sangat berpengaruh pada tingkah laku ekonomi manusia dan masyarakat serta pembangunan ekonomi umumnya. Tujuan zakat tidak sekedar menyantuni orang miskin secara konsumtif, tetapi mempunyai tujuan yang lebih permanen yaitu mengentaskan kemiskinan.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Semangat terhadap nilai-nilai Islam yang dimuat dalam hukum-hukum positif seharusnya mendapat apresiasi oleh seluruh masyarakat muslim Indonesia. Apresiasi tersebut dapat dilakukan dengan menjadi muzakki yang aktif, tidak hanya dalam proses aktifitasnya sebagai seorang muzakki yang mengeluarkan hartanya, tapi apresiasi tersebut juga dapat diwujudkan dengan ikut berperan dalam pengawasan secara langsung atau tidak langsung terhadap pengelola zakat, yang dalam hal ini adalah Badan Amil Zakat menuju badan yang professional. Semoga dengan cara demikian, akan terjadi revolusi menjadi penyalura zakat yang tangguh, amanah, professional, dan produktif serta kreatif. Dan hasil akhir dari tujuan pengentasan kemiskinan mestinya menjadi perioritas yang utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Kolom "ARTIKEL" BIMAS ISMALAM KEMENAG RI, Diakses tanggal 29 Juli 2010 dari http://bimasislam.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=2049:peran-strategis-pengelolaan-zakat-upaya-pengentasan-dan-penanggulangan-kemiskinan&amp;catid=49:artikel&amp;Itemid=92&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Kader Mufassir Pusat Studi al-Qur’an (PKM-PSQ), Dosen Fakultas Syariah IAIN Raden Intan, Lampung &amp; Kandidat Doktor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Menyelesaikan S-1 dan S-2 nya di kampus yang sama, dalam bidang Tafsir Hadis. &lt;br /&gt;Email elhasan_ahsyamsun@yahoo.co.id &lt;br /&gt;Bisa dikunjungi di web www.hasanibanten.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-1279156282698847002?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://bimasislam.kemenag.go.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=2049:peran-strategis-pengelolaan-zakat-upaya-pengentasan-dan-penanggulangan-kemiskinan&amp;catid=49:artikel&amp;Itemid=92' title='Peran Strategis Pengelolaan Zakat: Upaya Pengentasan dan Penanggulangan Kemiskinan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/1279156282698847002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=1279156282698847002' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1279156282698847002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/1279156282698847002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/07/peran-strategis-pengelolaan-zakat-upaya.html' title='Peran Strategis Pengelolaan Zakat: Upaya Pengentasan dan Penanggulangan Kemiskinan'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-4158468663669663436</id><published>2010-07-28T20:23:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T20:23:23.734-07:00</updated><title type='text'>Meninjau Ulang Kenaikan TDL</title><content type='html'>Copyright � 2003 Lampung Post. All rights reserved.&lt;br /&gt;Selasa, 20 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninjau Ulang Kenaikan TDL&lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Pengajar IAIN Raden Intan Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apa boleh dikata ibarat pepatah "nasi sudah menjadi bubur", begitulah ibarat buat pemegang kebijakan dalam hal ini pemerintah yang telah menaikkan tarif dasar listrik (TDL). Akan tetapi bukan berarti kebijakan ini tidak bisa diubah untuk selanjutnya direvisi atau bisa jadi ditinjau ulang, atau bahkan dijadikan evaluasi perbaikan untuk mengeluarkan kebijakan yang “tak bijak” ke depan. Yang menarik, kenaikan TDL dilakukan pemerintah di balik berita yang menirani kenaikan TDL sehingga seolah-olah luput dari sorotan media. Akibatnya, seolah-olah masyarakat mengamini kebijakan yang tidak prorakyat ini.&lt;br /&gt; Sebuah kenicayaan, di tengah kemelut ekonomi yang belum pulih, belum lagi semakin merosotnya dan memburuknya pelayanan pemerintah terhadap masyarakat luas sehingga lagi-lagi yang selalu memikul berat beban pemerintah adalah wong cilik lagi. Opini publik tentang kenikan tarif dasar listrik dibungkam oleh pemberitaan yang mempunyai rating tinggi. Di mulai dari karut-marutnya polemik perjudian yang berusaha dilegalkan, kasus Ariel-Luna-Cut Tari, kasus rekening gendut Polri versus ICW, mempersenjatai Pol. PP, dan lain-lain. Terlepas apakah ini ada dalang pengaburan berita, kemudian sudah muncul berita kenaikan TDL. Berita ini tentunya mencengangkan bagi masyarakat kecil dan perusahaaan kecil menengah.&lt;br /&gt; Ada beberapa tinjauan yang ingin saya kemukakan. Pertama, kerancuan sistem yang diatur. Kedua, timing-nya tidak tepat di saat waktu masuk sekolah dan sebentar lagi masuk puasa dan Lebaran. Ketiga, keputusannya mestinya dilakukan oleh presiden, bukan oleh menteri. Analisis ini juga dilontarkan oleh mantan Menteri Perekonomian Kwik Kian Gie. Perlu dijelaskan yang dimaksud kerancuan sistem di sini adalah subsidi yang tidak efektif dan efisien. Hal ini misalnya terlihat dari input-nya tidak tepat sasaran dan lain-lain. Selain itu, kepenting masytarakat sering diperjualbelikan untuk membuat kebijakan sehingga selalu kebijakan itu mengatasnamakan subsidi. Untuk itu, mestinya dipertegas kembali makna subsidi yang dimaksud oleh pemerintah.&lt;br /&gt;Kenaikan TDL Jerat Masyarakat Bawah&lt;br /&gt; Disadari atau tidak imbas kenaikan TDL akan memusingkan para pelaku pasar tradisional, khususnya usaha kecil menengah. Pada gilirannya, yang dikhawatirkan adalah pengurangan hasil produksi dan lebih dari itu, pada gilirannya akan ada PHK yang akan menambah lagi pengangguran. Walaupun belum sampai pada dampak yang signifikan, kejadian itu bisa saja akan terjadi pada ranah paling gawat bagi pelaku usaha kecil menengah. Kekhawatiran ini sesuatu hal yang wajar, bagaimana tidak, hal yang tidak pernah dialami oleh para pengambil kebijakan atau dalam hal ini Pemerintah Pusat pemegang kebijakan. Hal yang menarik dari beberapa waktu yang lalu saya menyaksikan anggota DPR dan menteri terjun langsung ke pasar tradisional yang memulai dialog dan melakukan sidak langsung ke pasar induk Jakarta. Mestinya, hal ini tidak hanya dalam waktu tertentu atau sesaat saja, tapi bisa dirancang berkelanjutan. Karena dengan begitu pemerintah langsung menyaksikan bagaimana jeritan dan penderitaan rakyat bawah.&lt;br /&gt; Analisis ini memungkinkan untuk dijadikan pengambilan kebijakan untuk selanjutnya. Bukan malah memolitisasi untuk menenangkan masyarakat bawah sejenak agar tidak terjadi gejolak sesaat. Hasilnya memang cukup efektif, lepas dari sorotan para pengkritik pemerintah. Namun mestinya tidak demikian, kontrol terhadap kebijakan pemerintah juga perlu untuk melihat lajunya kepemimpinan saat ini agar pengambilan kebijakan tepat waktu dan sasaran. Selama ini, income masyarakat jauh di atas negara-negara lain, bahkan negara tetangga sekalipun, akan tetapi kebijakannya ingin memosisikan dan mensejajarkan dengan negara lain. Para intelektual sering mengungkapkan, seandainya pengelolaan sumber daya alam di Indonesia ini dilakukan secara baik dan benar, mestinya tidak akan ada berita kekurangan pasokan listrik, dan berita lain yang mengerdilkan negaranya sendiri. Para ahli mestinya saling bahu-membahu dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat dari SDA yang dimiliki, bukan malah mengeksploitasi alam. Sungguh pun demikian keadaannya, sejatinya harus adanya kesadaran dari masing-masing pribadi sebagai warga negara untuk menjaga dan meningkatkan kualitas serta memikirkan bangsa ke depan sampai anak cucu generasi penerus selanjutnya.&lt;br /&gt; Meskipun dampaknya tidak terlalu banyak tersorot, mestinya kebijakan dilakukan dengan pertimbangan yang matang dan pada waktu yang tepat. Beberapa saat lagi akan masuk Ramadan, belum lama ini mulai masa masuk sekolah, kemudian momen Lebaran, Natal, dan tahun baru. Pendek kata, sudah saatnyalah kebijakan yang tidak populis dikesampingkan dahulu dengan melihat waktunya yang tepat. Efektif dan efisienkan dana-dana yang lain yang tidak produktif untuk menutupi “kerugian” walaupun belum melalui penelitian dan kajian mendalam.&lt;br /&gt; Semoga dengan cara demikian, bukan hanya pemerintah yang diuntungkan dengan kebijakan yang akan mendukung lancarnya kegiatan masyarakat, tetapi masyarakat luas juga tidak keberatan karena nilai income sudah standar dan mencukupi bagi diri dan keluarganya. Mestinya ini yang dipikirkan dan diperjuangkan, bukan bagaimana mendapatkan keuntungan dari jerih payah rakyatnya.&lt;br /&gt;Diambil dari :&lt;br /&gt;http://www.lampungpost.com/cetak/cetak.php?id=2010072006122652&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-4158468663669663436?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/4158468663669663436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=4158468663669663436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/4158468663669663436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/4158468663669663436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/07/meninjau-ulang-kenaikan-tdl.html' title='Meninjau Ulang Kenaikan TDL'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-2561331114295470322</id><published>2010-07-28T19:04:00.000-07:00</published><updated>2010-07-28T19:04:28.771-07:00</updated><title type='text'>“BOM WAKTU” TABUNG GAS</title><content type='html'>“BOM WAKTU” TABUNG GAS&lt;br /&gt;Oleh Hasani Ahmad Said*&lt;br /&gt;Dimuat di kolom “Opini” Kabar Banten (dulu Fajar Banten), Senin, 26 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kabar meletusnya tabung gas, kian hari kian bertambah. Entah sudah berapa puluh orang yang menjadi korban akibat ganasnya ledakan tabung gas elpiji. Hampir setiap hari menyaksikan di media jatuh korban, baik yang luka ringan, berat sampai cacat permanen. Di Banten tabung gas meledak meledak hanguskan pabrik otomotif (Radar Banten, 16 juli 2010). Saling tuding pun terus digelontorkan baik yang pro pemerintah maupun dengan penentang kebijakan. Alih-alih, kebijakan yang sudah meracuni sebagian kecil masyarakat ini, bak “bom waktu” yang menjadi momok menakutkan bagi warga masyarakat, bahkan kapan saja saatnya akan meledak akibat ketidak beresan dalam pengurusannya. Porsoalan ini memang tidak cukup hanya didiskusikan, seminarkan, workshop dan diwacanakan, pada intinya harus cepat dilakukan langkah seribu untuk meredam jatuhnya korban yang tidak bersalah kemudian. Meskipun kebijakan demi kebijakan telah digelontorkan, toh belum ada yang mampu mengecilkan dampaknya. Baik misalnya disimak sekaligus dilakukan kebijakan pemerintah provinsi banten mengantisipasi pengamanan kegunaan komponen-komponen telah diterbitkan surat peringatan nomor: 001-SP/Dagri?IV/2010 dan surat no 510/1647-Perindag/2010 tanggal 02 Juli 2010, dengan memperhatikan surat peraturan perindustrian no 85/-IND/PER/11 2008 (Kabar banten, 22 Juli 2010).&lt;br /&gt;  Subsidi pemerintah lewat konversi minyak tanah ke gas sejatinya menjadi solusi terhadap penghematan anggaran pemerintah, selain lebih memudahkan masyarakat terhadap urusan “dapur”nya. Tapi ironis, hampir setiap hari menyaksikan terjadinya kebakaran akibat tabung gas, yang kian hari korbannya kian bertambah. Pertanyaannya kemudian adalah ini salah siapa? Pemerintahkah sebagai pengambil tampuk kebijakan? Atau terjadinya akibat human error? Memang tidak tepat kiranya hanya mencari “kambing hitam” yang lebh bijak adalah barangkali sama-sama melakukan introspeksi diri demi perbaikan sekarang dan yang akan datang. Gambaran masyarakat yang kita saksikan selama ini adalah saling menuding mencari siapa yang salah tanpa mengambil solusi yang terbaik. Memang kebijakan pemerintah yang baik, tanpa dilakukan sosialisasi yang tepat dalam artian sosialisasi sampai pada masyarakat di tingkat pedesaan, maka kebijakan yang baik itu akan terhapus dengan kejadian-kejadian merajalelanya gas meledak yang terjadi beberapa kali di beberapa tempat. &lt;br /&gt; Kepala pusat laboratorium dan forensik Brigjenpol Budiono memberikan analisa bahwa ada beberapa indikasi terjadinya meledaknya tabung gas. Pertama, perangkat tabung banyak yang rusak, kerusakan pada karet perekat udara, dan peralatan logam rusak. Penemuan Puslabfor ini sangat memiriskan hati, betapa tidak di tengah gencarnya subsidi tabung gas. Sementara itu, tanpa dikomando minyak tadinya yang sudah lekat dengan masyaraka kecil dan mudah untuk mendapatkannya, tiba-tiba menghilang ditelan bumi dan sulit untuk didapat. Meskipun ada, namun harganya sangat mahal dan sangat terbatas. Sehingga, masyarakat enggan untuk membeli, dan seolah “dipaksa” beralih ke gas. Bagai “bom waktu”, tanpa diprediksi leih awal ternyata peralihan minyak tanah ke gas menyisakan banyak persoalan. Mulai dari kebakaran rumah, sampai memakan korban nyawa. Yang terjadi sekarang adalah masyarakat mulai “fobia” terhadp penggunaan gas elpiji. Lebih miris lagi kebanyakan korbannya adalah masyarakat kecil sebagai pemakai gas, tanpa diikuti dengan pengetahuan yang cukup tentang perawatan dan pemakaian gas secara baik dan benar.&lt;br /&gt; Hal senada juga diungkapkan oleh Husna Zahir, salah seorang anggota YLKI bahwa kejadian meledaknya tabung gas lebih kepada banyak perangkat paket tabung tidak memenuhi standar. Bagaimana mungkin program nasional yang melibatknan seluruh lapisan masyaakat kecil bisa terjadi salah setting? Sekali lagi, tidak terlalu penting mencari siapa yang salah, tetapi lebih penting lagi saat ini bagaimana menciptakan dan melakukan inovasi baru dalam menanggulangi problem sosial yang sudah banyak menelan banyak korban. Gagasan dan terobosan baru inilah yang sedang dilakukan oleh Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT). Arya Rezavidi, direktur teknologi BPPT mengkritisi design kompor dan tabung gas yang dirancang oleh pemerintah dalam hal ini Pertamina. Dia menganggap bahwa desain yang dilakukan pemerintah antara komponen yang satu denga komponen yang lain dilakukan terpisah-pisah, dalam artian tabung, kompor gas, dan selang penghubung antara keduanya terpisah. Model seperti inilah disinyalir oleh BPPT sebagai salah satu pemicu terjadi peledakan tabung gas. Belum lagi minimnya pengetahuan masyarakat akan tabung dan kompor gas. Idealnya, perangkat yang menghubungkan semisal selang, karet perekat dalam tabung diganti secara berkala dan senantiasa dalam pengawasan. Sedang inovasi yang dilakukan BPPT lebih kepada menyatukan ketiga komponen desain yang disebut tadi yaitu tabung, kompor langsung terhubung/terpasang disertai pula dengan penutup tabung dan kompor. Sehingga, pola ini dianggap oleh BPPT, sebagai pola aman bagi para konsumen.&lt;br /&gt; Bahkan, sebelum BPPT melakukan inovasi seperti itu, banyak inovasi-inovasi yang aman karena lebih memanfaatkan alam. Sebut misalnya kotoran hewan disulap dan diulah menjadi gas. Penyelarasan anatara sumber daya manusia dan upaya inovasi baru sangat dibutuhkan agar mencegah atau paling tidak mengurangi korban dan kecemasan masyarakat. Selanjutnya, bagi pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah, kalau memang konversi minyak tanah ke gas itu lebih ekonomis, sejatinya dilakukan dengan keterbukaan dan sertai dengan standarisasi keamanan. Tidak usah misalnya begitu sosialisasi program yang “dicap” ekonomis, tidak serta merta memberangus program yang sudah ada kalau memang pemanfaatannya masih dibutuhkan. Meskipun program konversi minyak tanah ke gas lebih baik, maka kekurangan-kekurangan yang selama ini dikeluhkan masyarakat, sebaiknya cepat ditangani. Bukan justru malah sebaliknya, seolah-olah tidak ada orang yang bertanggung jawab atas semua ini. Saatnya pemeritah tegas memberantas mavia-mavia pengoplos gas, pengurangan takaran dalam tabung, sampai kepada permainan harga yang tidak menentu, dan yang tak kalah penting adalah lebih ditingkan lagi fungsi pengawasan dan selalu dilakukan evaluasi. Bukan malah bagaimana menaikkan harga gas, BBM ataupun TDL, dengan dalih pemerintah merugi. &lt;br /&gt; Saatnya pemerintah memulihkan stigma miring tentang kabar meledaknya gas saat ini dan masa yang akan datang. Satu contoh misalnya, di Nunukan Kaltim tengah menggunakan gas Petronas produk Negara Jiran, Malaysia. Gas ini dianggap oleh penggunanya sebagai produk gas yang aman dan mudah didapat di daerah tersebut. Kalau sudah begini, pemerintah juga yang rugi atas ketidakpercayaan masyarakat. Memang tidak cukup hanya pemerintah saja yang memulai tanpa didukung dengan kesadaran masyarakat. Bagi pemerintah dan masyarakat sebaiknya bahu membahu memperbaiki pola pengurusannya, dan bagi masyarakat sebagai konsumen harus mawas diri sebelum datang musibah. Pendek kata, dari unsur pengambil kebijakan sampai konsumen di tingkat bawah tidak ada problem, kecuali ada pemecahannya. Semoga tidak akan ada lagi korban berjatuhan berikutnya akibat buruknya desain  tabung dan lemahnya kesadaran pengguna tabung gas. [*]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cilegon, Sabtu, 24 Juli 2010&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*Penulis adalah Kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullaj Jakarta &amp; Dosen IAIN Raden Intan Lampung, Tinggal di Pabean, purwakarta, Cilegon. hp. 085216099379. E-mail elhasan_ahsyamsun@yahoo.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-2561331114295470322?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/2561331114295470322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=2561331114295470322' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2561331114295470322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2561331114295470322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/07/bom-waktu-tabung-gas.html' title='“BOM WAKTU” TABUNG GAS'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-7358933126181941056</id><published>2010-07-28T18:58:00.001-07:00</published><updated>2010-07-28T18:58:39.273-07:00</updated><title type='text'>BATIK LERENG LESUNG CILEGON</title><content type='html'>BATIK LERENG LESUNG CILEGON&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik merupakan warisan dan identitas bangsa Indonesi yang telah mendapatkan pengakuan oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 yang lalu. Jika mendenger batik, pasti langsung tertuju ke daerah jawa. Namun kini perkembangan batik telah meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Begitu pun Kota Cilegon yang memiliki batik Lereng Lesung sebagai ciri khasnya. Untuk mendapatkan batik lereng lesung bisa berkunjung ke Galeri Batik Dekranasda Kota Cilegon di lantai dasar Plaza Cilegon Mandiri, Jl. S.A Tirtayasa, Cilegon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal kemunculan batik lereng lesung bermula pada Lomba Desain Batik Cilegon 2006 yang diadakan Bidang Pariwisata dan Budaya Despindak. Agus Patria akhirnya lolos sebagai juara satu dengan desain batik lesungnya. Hingga akhirnya batik lesung diproduksi dan dipatenkan oleh Wali Kota Cilegon sebagai batik khas Cilegon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi dalam desain batik lereng lesung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol ”rumput laut” yang di padu dengan ”isem-isem cecek krambyang” menggambarkan letak geografis Kota Cilegon yang dibatasi oleh garis pantai yang penuh dengan interaksi sebagai kota yang dinamis bagai air laut terus bergerak menghasilkan gelombang dan riaknya, hingga menjadikan kota ini serat dengan dinamika kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol ”Lesung” diangkat dari salah satu seni budaya tradisional Kota Cilegon yakni Bandrong Lesung yang merupakan seni budaya yang berkembang dalam masyarakat Kota Cilegon, sekaligus merupakan kristalisasi dari nilai-nilai budaya, estetika, sikap, dan tata kehidupan masyarakat Kota Cilegon. Selain itu simbol lesung berfungsi simbol kembar (lesung = kapal) dan rantai tali jangkar kapal yang melambangkan Kota Cilegon sebagai Kota Pelabuhan, dimana Kota Cilegon mempunyai pelabuhan Merak dan Cigading yang juga merupakan salah satu motor penggerak perekonomian dan pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik 2Simbol ”Kuba Masjid” merupakan gambaran tentang kepercayaan adat istiadat dan agama di Kota Cilegon sebagai manifestasi dan komunikasi masyarakat Kota Cilegon yang bernuansa religius/agamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol ”Bunga Melati, Mawar, dan Rumput laut” adalah simbol keadaan alam flora dan fauna Kota Cilegon yang memberikan gambaran bahwa masyarakat Kota Cilegon penuh kasih, cinta, dan ramah tama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol desain Motor Elektronik” merupakan gambaran bahwa Kota Cilegon dikenal sebagai kota industri baik secara skala nasional maupun internasional, dan terbuka untuk infestor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik Lereng Lesung terdapat enam jenis warna, yaitu merah, kuning, hijau, biri, coklat, dan ungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya menurut Samani, bagian Pengadaan Oprasional Galeri Batik Dekranasda Kota Cilegon (25/11), Batik Lereng Lesung belum bisa diproduksi di Cilegon, melainkan di laur kota. Karena belum ada tenaga akhli dan tempat untuk memproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galeri Batik Dekranasda Kota Cilegon yang di buka sejak empat bulan yang lalu cukup banyak yang berkunjung, terutama para PNS dan pegawai suasta. Dimana setiap hari jumat diwajibkan untuk para PNS dan beberapa pegawai perusahaan suasta untuk mengenakan batik. Harga batik cukup terjangkau dengan harga bahan Rp. 20 ribu permeter atau harga batik kemeja siap jadi mulai dari kisaran harga Rp. 50 ribu hingga Rp. 150 ribu, tergantung warna dan jenis kain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuru Alfi bagian pemasaran, peminat batik Lereng Lesung kebanyakan orang dewasa. ”Biasanya yang laku kemeja untuk orang kantoran atau PNS, dan sepasang pakaian mama-papa untuk pasangan suami istri,” jelasnya. Alfi menambahkan, untuk para remaja belum ada respon yang baik, karena stok yang ada belum ada pakain batik modifikasi dengan segmen pakaian remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinas Kebudaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cilegon sudah menggencarkan promosi batik Lereng Lesung dengan melalui berbagai event dan pameran-pameran baik di dalam daerah maupun luar daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekertaris Dinas Disbudpar Kota Cilegon, Heni Anita Susila  saat ditemi di kantor dinasnya yang baru pindah di lantai 2 Plaza Cilegon Mandiri oleh wartawan www.rumahdunia.com mengungkapkan harapannya terhadap Batik Lereng Lesung, ”semoga batik Lereng Lesung menjadi identitas Kota Cilegon. Biarpun saat ini masih dikalangan PNS dan pegawai suasta lainnya, tapi juga bisa menyentu masyarakat umum.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diakses dari http://rumahdunia.com/isi/category/c1-wisata-banten/, 29 Juli 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-7358933126181941056?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/7358933126181941056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=7358933126181941056' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7358933126181941056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7358933126181941056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/07/batik-lereng-lesung-cilegon.html' title='BATIK LERENG LESUNG CILEGON'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-7522091642676350461</id><published>2010-07-08T01:32:00.000-07:00</published><updated>2010-07-08T01:32:27.488-07:00</updated><title type='text'>Meledaknya Tabung Gas</title><content type='html'>OPINI&lt;br /&gt;Dimuat di Radar Lampung,Kamis, 8 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meledaknya Tabung Gas&lt;br /&gt;Hasani Ahmad Said&lt;br /&gt;Dosen IAIN Raden Intan, Lampung, Kandidat Doktor UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsidi pemerintah lewat konversi minyak tanah ke gas sejatinya menjadi solusi terhadap penghematan anggaran pemerintah, selain lebih memudahkan masyarakat terhadap urusan "dapur"-nya. Tapi ironis, hampir setiap hari menyaksikan terjadinya kebakaran akibat tabung gas, yang kian hari korbannya kian bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya kemudian adalah ini salah siapa? Pemerintahkah sebagai pengambil tampuk kebijakan? Atau terjadinya akibat human error? Memang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak tepat kiranya hanya mencari "kambing hitam" yang lebIh bijak adalah barangkali sama-sama melakukan introspeksi diri demi perbaikan sekarang dan yang akan datang. Gambaran masyarakat yang kita saksikan selama ini adalah saling menuding mencari siapa yang salah tanpa mengambil solusi yang terbaik. Memang kebijakan pemerintah yang baik, tanpa dilakukan sosialisasi yang tepat dalam artian sosialisasi sampai pada masyarakat di tingkat perdesaan, kebijakan yang baik itu akan terhapus dengan kejadian-kejadian merajalelanya gas meledak yang terjadi beberapa kali di beberapa tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Pusat Laboratorium dan Forensik Brigjen Pol. Budiono memberikan analisis bahwa ada beberapa indikasi terjadinya meledaknya tabung gas. Pertama, perangkat tabung banyak yang rusak, kerusakan pada karet perekat udara, dan peralatan logam rusak. Penemuan Puslabfor ini sangat memiriskan hati, betapa tidak di tengah gencarnya subsidi tabung gas. Sementara itu, tanpa dikomando, minyak tadinya yang sudah lekat dengan masyarakat kecil dan mudah untuk mendapatkannya, tiba-tiba menghilang ditelan bumi dan sulit untuk didapat. Meskipun ada, harganya sangat mahal dan sangat terbatas. Sehingga, masyarakat enggan untuk membeli dan seolah "dipaksa" beralih ke gas. Bagai "bom waktu", tanpa diprediksi leih awal ternyata peralihan minyak tanah ke gas menyisakan banyak persoalan. Mulai dari kebakaran rumah, sampai memakan korban nyawa. Yang terjadi sekarang adalah masyarakat mulai "fobia" terhadap penggunaan gas elpiji. Lebih miris lagi kebanyakan korbannya adalah masyarakat kecil sebagai pemakai gas, tanpa diikuti dengan pengetahuan yang cukup tentang perawatan dan pemakaian gas secara baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husna Zahir dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan kejadian meledaknya tabung gas lebih kepada banyak perangkat paket tabung tidak memenuhi standar. Bagaimana mungkin program nasional yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat kecil bisa terjadi salah setting?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, tidak terlalu penting mencari siapa yang salah, tetapi lebih penting lagi saat ini bagaimana menciptakan dan melakukan inovasi baru dalam menanggulangi problem sosial yang sudah banyak menelan banyak korban. Gagasan dan terobosan baru inilah yang sedang dilakukan oleh Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT). Arya Rezavidi, direktur teknologi BPPT mengkritisi desain kompor dan tabung gas yang dirancang oleh pemerintah dalam hal ini Pertamina. Dia menganggap bahwa desain yang dilakukan pemerintah antara komponen yang satu dengan komponen yang lain dilakukan terpisah-pisah, dalam artian tabung, kompor gas, dan selang penghubung antara keduanya terpisah. Model seperti inilah disinyalir oleh BPPT sebagai salah satu pemicu terjadi peledakan tabung gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi minimnya pengetahuan masyarakat akan tabung dan kompor gas. Idealnya, perangkat yang menghubungkan semisal slang, karet perekat dalam tabung diganti secara berkala dan senantiasa dalam pengawasan. Sedangkan inovasi yang dilakukan BPPT lebih kepada menyatukan ketiga komponen desain yang disebut tadi yaitu tabung, kompor langsung terhubung/terpasang disertai pula dengan penutup tabung dan kompor. Sehingga, pola ini dianggap oleh BPPT, sebagai pola aman bagi para konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sebelum BPPT melakukan inovasi seperti itu, banyak inovasi-inovasi yang aman karena lebih memanfaatkan alam. Misalnya, kotoran hewan disulap dan diulah menjadi gas. Penyelarasan anatara sumber daya manusia dan upaya inovasi baru sangat dibutuhkan agar mencegah atau paling tidak mengurangi korban dan kecemasan masyarakat. Selanjutnya, bagi pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintah, kalau memang konversi minyak tanah ke gas itu lebih ekonomis, sejatinya dilakukan dengan keterbukaan dan sertai dengan standarisasi keamanan. Tidak usah, misalnya, begitu sosialisasi program yang "dicap" ekonomis, tidak serta merta memberangus program yang sudah ada kalau memang pemanfaatannya masih dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun program konversi minyak tanah ke gas lebih baik, kekurangan-kekurangan yang selama ini dikeluhkan masyarakat, sebaiknya cepat ditangani. Bukan justru malah sebaliknya, seolah-olah tidak ada orang yang bertanggung jawab atas semua ini. Saatnya pemeritah tegas memberantas mafia-mafia pengoplos gas, pengurangan takaran dalam tabung, sampai kepada permainan harga yang tidak menentu, dan yang tak kalah penting adalah lebih ditingkatkan lagi fungsi pengawasan dan selalu dilakukan evaluasi. Bukan malah bagaimana menaikkan harga gas, BBM ataupun TDL, dengan dalih pemerintah merugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya pemerintah memulihkan stigma tentang kabar meledaknya gas saat ini dan masa yang akan datang. Satu contoh di Nunukan, Kaltim, tengah menggunakan gas Petronas produk negara jiran, Malaysia. Gas ini dianggap oleh penggunanya sebagai produk gas yang aman dan mudah didapat di daerah tersebut. Kalau sudah begini, pemerintah juga yang rugi atas ketidakpercayaan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak cukup hanya pemerintah saja yang memulai tanpa didukung dengan kesadaran masyarakat. Bagi pemerintah dan masyarakat sebaiknya bahu-membahu memperbaiki pola pengurusannya, dan bagi masyarakat sebagai konsumen harus mawas diri sebelum datang musibah. Pendek kata, dari unsur pengambil kebijakan sampai konsumen di tingkat bawah tidak ada problem, kecuali ada pemecahannya. Semoga tidak akan ada lagi korban berjatuhan berikutnya akibat buruknya desain tabung dan lemahnya kesadaran pengguna tabung gas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-7522091642676350461?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/7522091642676350461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=7522091642676350461' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7522091642676350461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7522091642676350461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/07/meledaknya-tabung-gas.html' title='Meledaknya Tabung Gas'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3279221411593158063</id><published>2010-07-02T18:46:00.000-07:00</published><updated>2010-07-02T18:46:43.435-07:00</updated><title type='text'>Sportivitas Politik: Berlaga di Kancah Pilkada</title><content type='html'>Sportivitas Politik: Berlaga di Kancah Pilkada&lt;br /&gt;Dimuat di rubrik, Opini Radar Lampung&lt;br /&gt;Rabu, 30 Juni 2010 | 05:47 WIB&lt;br /&gt;Oleh: Hasani Ahmad Said | Kandidat Doktor UIN Jakarta &amp; Dosen IAIN Raden Intan Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEMAM piala dunia telah banyak menyisahkan karakter terhadap seseorang maupun kelompok. Sekian hari, sekian banyak pula peserta bertumbangan. Dari tim laga Asia, sampai mancanegara. Menarik untuk dicermati dari sekian banyak peserta yang berguguran adalah mereka semua menjunjung tinggi nilai sportivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian ini menarik untuk dikupas sekaligus dijadikan bahan analisa dalam laga politik kita yang kian hari kian menunjukkan keberingasannya. Terlebih, maraknya, pilkada di beberapa daerah yang menyisahkan banyak persoalan dan persengketaan yang belum terselesaikan. Sehingga, beritanya terus seru dan sayang untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan yang berbuntut saling menyerang yang dikabarkan terjadi akibat kurang puasnya dengan layanan publik dan tatanan yang berlaku. Belum lagi politik uang (money politic) yang mewabah dan menggejala, yang mengakibatkan mati surinya demokrasi, seolah-olah suara hanya milik orang yang ber-uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan meletakkan sportivitas, maka daya tarik dan pikat kepada pemilihnya mestinya akan mencuat. Sekarang bukan zaman lagi dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih memikat lagi, daya tawar masyarakat mestinya sudah mengacu kepada kekuatan program-program apa yang ditawarkan. Tentunya program sesuai dengan pro-rakyat dan lebih mengedepankan pencerdasan masyarakat dibanding program yang hanya membikin ’’bodoh” publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis ini bisa saja dituangkan oleh para kandidat yang akan berlaga di ranah politik praktis menuju kursi kepemimpinan. Kalau sudah demikian paradigm dan pola pikirnya, harapan mencipyakan pemeritah yang baik (good governance) agar segera terlaksana. Dimulai dari perekrutan sampai kemudian terpilih dengan nilai kualifikasi yang baik dan membanggakan di mata masyarakat. Bukan hanya kebahagiaan ’’sesaat” yang dirasahan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah peran panwas, KPU, sampai di tingkat KPPS mempunyai iktikad baik dalam menegakkan dan menciptakan pemeritah yang baik. Dalam mewujudkan ini semua memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi paling tidak adanya keinginan yang kuat dari masing-masing pemilih akan menegaakkan cita-cita mulia itu. Tidak jarang tujuan pragmatis dari oknum yang tidak bertanggung jawab bisa menjungkirbalikkan fakta di masyarakat. Kalupun demikian, dibutuhkan kesadaran yang tinggi untuk menjunjung tinggi nilai demokratisasi, bukan malah memangkas demokrasi demi kepentingan pribadi dan golaongan. Maka semboyan jujur dan adil dalam setiap pemilu senantiasa didengung-dengungkan. Reformasi yang telah selama ini diperjuangkan menuntut adanya keterbukaan dalam lini apa pun. Keterbukaan mengeluarkan pendapat, keterbukaan informasi yang pada akhirnya melerai persengketaan menuju kesepahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui keragaman suku, bangsa dan agama di Indonesia, terkadang memicu dan memacu perselisihan dan gesekan antar sesama. Namun para pejuang setengah abad yang lalu telah merumuskan bahwa keragaman tapi satu jua (Bhineka Tunggal Ika). Kita harus akui pula, bahwa setiap warga Negara mempunyai kedudukan yang untuk memilih dan dipilih. Tetapi bukan berarti memilih yang asal-asalan. Memilih juga harus mempunyai seni, dilihat dari kemampuan dan keikhlasan yang dipilih. Begitupun sebaliknya bukan berarti semuanya boleh maju tanpa memiliki kapabilitas dibidangnya, akan tetapi yang berhak dipilih adalah orang-orang pilihan yang memiliki kredibilitas dan skill yang cukup. Maka, dari pemahaman itu, terlahir jiwa-jiwa yang handal, bukan jiwa yang kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memenuhi persyaratan di atas, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah sportivitas . Hal ini penting, ternyata jiwa ksatria dalam berlaga di kancah politik adalah siap kalah dan siap menang. Kalau belum siap kalau, maka tidak usah mencalonkankan diri. Sikap inilah yang bisa jadi selama ini menimbulkan pengakhiran yang tidak baik. Sehingga, rusuh dimana-mana, pembakaran karena calonnya tidak masuk verifikasi calon, dan bermacam-macam alasannya, selain karena boleh cerdasnya masyarakat dalam berpolitik. Buktinya mudah tersulut dengan emosi. Yang dikedepankan adalah otot, bukan otak. Demikianlah halnya pendewasaan pola pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan akhir dari sebuah perlagaan adalah di awali dengan yang baik, peng-akhirannyapun baik pula. Demikian tata karma dalam berbangsa dan bernegara. Pendek kata, sportivitas ini diperlukan dalam hal papun. Dalam berpolitik, dalam berkarir, berkarya, dan lain-lain. Tanpa sportivitas, maka akan terjadi sikut-sikutan. Karena sudah tidak ada teposaliro. Pemimpin ke epan butuh pemimpin yang menjunjung tinggi sportivitas, salah dibilang salah, benar dibilang benar, kalah menjunjung tinggi yang menang, kalau yang menang merangkul yang kalah. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3279221411593158063?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.radarlampung.co.id' title='Sportivitas Politik: Berlaga di Kancah Pilkada'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3279221411593158063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3279221411593158063' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3279221411593158063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3279221411593158063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/07/sportivitas-politik-berlaga-di-kancah.html' title='Sportivitas Politik: Berlaga di Kancah Pilkada'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-2179679379222888633</id><published>2010-05-14T20:03:00.001-07:00</published><updated>2010-05-14T20:03:40.357-07:00</updated><title type='text'>Info Beasiswa</title><content type='html'>BEASISWA DAN BIAYA PENDIDIKAN BAGI CALON MAHASISWA&lt;br /&gt;DARI KELUARGA YANG KURANG MAMPU SECARA EKONOMI&lt;br /&gt;DAN BERPRESTASI (BIDIK MISI)&lt;br /&gt;A. Persyaratan&lt;br /&gt;1. Siswa SMA/SMK/MA/MAK/Pesantren atau sederajat yang dijadwalkan lulus pada tahun&lt;br /&gt;2010;&lt;br /&gt;2. Berprestasi dan orang tua/wali-nya kurang mampu secara ekonomi;&lt;br /&gt;3. Calon penerima beasiswa mempunyai prestasi akademik/kurikuler, ko-kurikuler maupun&lt;br /&gt;ekstra kurikuler yang diketahui oleh Kepala Sekolah/ Pimpinan Unit Pendidikan Masyarakat&lt;br /&gt;(Dikmas) Kabupaten/Kota. Adapun prestasi akademik/kurikuler yang dimaksud adalah&lt;br /&gt;peringkat 25 persen terbaik di kelas, sedangkan prestasi pada kegiatan ko-kurikuler dan/atau&lt;br /&gt;ekstrakurikuler minimal peringkat ke-3 di tingkat Kabupaten/Kota dan harus sesuai dengan&lt;br /&gt;program studi yang dipilih.&lt;br /&gt;B. Dana Beasiswa&lt;br /&gt;Dana beasiswa dan biaya pendidikan yang diberikan adalah sebesar Rp 5.000.000 (lima juta&lt;br /&gt;rupiah) per mahasiswa per semester yang diprioritaskan untuk biaya hidup.&lt;br /&gt;1. Besarnya dana biaya hidup setiap penerima beasiswa adalah sebesar Rp 500.000 (lima&lt;br /&gt;ratus ribu rupiah) sampai dengan Rp 700.000 (tujuh ratus ribu rupiah) per bulan.&lt;br /&gt;2. Besarnya bantuan biaya pendidikan yang dialokasikan kepada setiap penerima beasiswa&lt;br /&gt;adalah sebesar Rp 800.000 (delapan ratus ribu rupiah) sampai dengan Rp 2.000.000 (dua juta&lt;br /&gt;rupiah) per semester.&lt;br /&gt;1 / 7&lt;br /&gt;Info Beasiswa&lt;br /&gt;C. Jangka Waktu Pemberian Beasiswa&lt;br /&gt;Beasiswa diberikan sejak calon mahasiswa dinyatakan diterima di perguruan tinggi selama 8&lt;br /&gt;(delapan) semester dengan ketentuan penerima beasiswa berstatus mahasiswa aktif.&lt;br /&gt;D. Pogram Studi untuk Beasiswa Bidik Misi di UIN Jakarta&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Fakultas&lt;br /&gt;Program Studi&lt;br /&gt;Kuota&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Fakultas Ushuluddin&lt;br /&gt;2 / 7&lt;br /&gt;Info Beasiswa&lt;br /&gt;1. Tafsir Hadits&lt;br /&gt;2. Perbandingan Agama&lt;br /&gt;3. Akidah dan Filsafat&lt;br /&gt;20 orang&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Fakultas Syariah dan Hukum&lt;br /&gt;1. Madzhab dan Hukum&lt;br /&gt;2. Jinayah Siyasah&lt;br /&gt;20 orang&lt;br /&gt;3 / 7&lt;br /&gt;Info Beasiswa&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;Fakultas Dirasat Islamiyah&lt;br /&gt;Dirasah Islamiyah&lt;br /&gt;20 orang&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;Fakultas Ilmu Dakwah dan&lt;br /&gt;Ilmu Komunikasi&lt;br /&gt;1. Manajemen Dakwah&lt;br /&gt;2. Bimbingan dan Penyuluhan Islam&lt;br /&gt;4 / 7&lt;br /&gt;Info Beasiswa&lt;br /&gt;20 orang&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;Fakultas Adab dan Humaniora&lt;br /&gt;1. Sejarah dan Kebudayaan Islam&lt;br /&gt;2. Tarjamah&lt;br /&gt;3. Bahasa dan Sastra Arab&lt;br /&gt;20 orang&lt;br /&gt;E. Tata Cara Pendaftaran&lt;br /&gt;1. Setiap calon mahasiswa dapat memilih maksimal dua program studi, baik dalam satu&lt;br /&gt;perguruan tinggi atau di dua perguruan tinggi yang berbeda.&lt;br /&gt;2. Kepala Sekolah/Pesantren dari siswa yang memenuhi persyaratan melakukan pendaftaran&lt;br /&gt;5 / 7&lt;br /&gt;Info Beasiswa&lt;br /&gt;secara kolektif, untuk siswa/peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya kepada Rektor&lt;br /&gt;dengan melampirkan berkas sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Berkas-berkas yang dilengkapi oleh siswa:&lt;br /&gt;1) Formulir pendaftaran yang telah diisi oleh siswa yang bersangkutan dan dilengkapi dengan&lt;br /&gt;pasfoto ukuran 3x4 sebanyak 3 (tiga) lembar. Formulir pendaftaran dapat diunduh di alamat w&lt;br /&gt;ww.dikti.go.id&lt;br /&gt;dan/atau&lt;br /&gt;www.kelembagaan.dikti.go.id&lt;br /&gt;;&lt;br /&gt;2) Fotokopi Kartu Tanda Siswa (KTS) atau yang sejenis sebagai bukti siswa aktif;&lt;br /&gt;3) Fotokopi rapor semester 1 s/d 5 disertai surat keterangan tentang peringkat siswa di kelas&lt;br /&gt;dan bukti pendukung prestasi lain di bidang keilmuan/akademik yang disahkan (legalisasi) oleh&lt;br /&gt;kepala sekolah/pesantren;&lt;br /&gt;4) Fotokopi Kartu Keluarga Miskin. Bagi keluarga yang tidak memiliki kartu Keluarga Miskin,&lt;br /&gt;harus menyertakan Surat Keterangan Penghasilan Orang tua/wali atau Surat Keterangan Tidak&lt;br /&gt;Mampu yang dapat dibuktikan kebenarannya, yang dikeluarkan oleh kepala desa/kepala&lt;br /&gt;dusun/instansi tempat orang tua bekerja/tokoh masyarakat;&lt;br /&gt;5) Fotokopi Kartu Keluarga;&lt;br /&gt;6) Menyertakan fotokopi pembayaran rekening listrik bulan terakhir (apabila tersedia aliran&lt;br /&gt;listrik) dan PBB dari orang tua/wali-nya.&lt;br /&gt;6 / 7&lt;br /&gt;Info Beasiswa&lt;br /&gt;Keterangan lengkap silakan hubungi Bagian Kemahasiswaan di Gedung Akademik Lantai II.&lt;br /&gt;Telp. (021) 7401925 Ext 1840 atau www.kelembagaan.dikti.go.id&lt;br /&gt;7 / 7&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-2179679379222888633?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/2179679379222888633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=2179679379222888633' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2179679379222888633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/2179679379222888633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/05/info-beasiswa.html' title='Info Beasiswa'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-7045045269304139163</id><published>2010-05-14T08:10:00.001-07:00</published><updated>2010-05-14T08:10:33.002-07:00</updated><title type='text'>BEASISWA BANTUAN PENULISAN TESIS/DISERTASI PROGRAM MITRA BAHARI - COREMAP</title><content type='html'>BEASISWA BANTUAN PENULISAN TESIS/DISERTASI PROGRAM MITRA BAHARI - COREMAP TA 2009    Cetak&lt;br /&gt;Berita - Serba Serbi&lt;br /&gt;Senin, 06 April 2009 15:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coral Reef Rehabilitation Management Program phase II (COREMAP) , merupakan program yang diinisiasi oleh multi donor (GEF, World Bank, dan ADB ) bersama Pemerintah Indonesia, bertujuan untuk merehabilitasi kondisi terumbu karang Indonesia dan menyusun format pengelolaan ekosisistem terumbu karang nasional yang implementatif dan berkelanjutan. Salah satu programnya adalah Program Mitra Bahari (PMB) yaitu program pengembangan kemitraan antara Departemen Kelautan dan Perikanan dengan Perguruan Tinggi dan berbagai pihak dalam rangka mengakselerasi pembangunan kelautan dan perikanan dalam bentuk peningkatan kapasitas kelembagaan dan sumberdaya manusia kelautan di daerah, alih teknologi dan pengetahuan dan menyuluhkannya kepada kelompok masyarakat pesisir menuju revolusi biru sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi pesisir. Untuk Tahun Anggaran 2009 , PMB-COREMAP II menyediakan beasiswa bantuan penulisan tesis/disertasi yang topik utama penelitiannya mengenai terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya. Calon penerima diprioritaskan (tapi tidak terbatas) bagi mereka yang melakukan penelitian di wilayah COREMAP II-WB atau berafiliasi dengan lembaga/instansi di wilayah tersebut. Untuk bantuan penulisan tesis, diberikan kepada 50 tesis terpilih dengan besaran beasiswa sebesar Rp 7.500.000,-/ tesis, sedangkan bantuan penulisan disertasi adalah 35 disertasi terpilih dengan besaran beasiswa sebesar Rp 9.500.000,-/ disertasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSYARATAN :&lt;br /&gt;Mengisi formulir pendaftaran dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Melampirkan foto copy Kartu Tanda Penduduk, Kartu Pegawai (PNS/Swasta) dan foto diri 4X6 cm&lt;br /&gt;   2. Melampirkan foto copy transkrip dan Ijasah S1 (bagi program S2) dan ijasah S2 ( bagi program S3) yang dilegalisir oleh Universitas, dengan IPK minimum 2,75 untuk S2 dan 3,5 untuk S3 (dalam skala 4,0).&lt;br /&gt;   3. Melampirkan transkrip nilai S2 dan S3 minimum pada 2 (dua) semester untuk S2, dan 4(empat) semester untuk S3 yang ditandatangani oleh Pimpinan Fakultas Pascasarjana ( nama, tandatangan dan stempel)&lt;br /&gt;   4. Melampirkan surat Rekomendasi dari dua orang Komisi Pembimbing dan Ketua Program Studi.&lt;br /&gt;   5. Melampirkan Proposal Penelitian yang halaman/lembar pengesahannya telah ditandatangani oleh Komisi Pembimbing , Ketua Program Studi dan Pimpinan Pasca Sarjana (tanda tangan , nama, tanggal dan cap stempel).&lt;br /&gt;   6. Melampirkan Surat pernyataan tidak mendapatkan beasiswa serupa (bantuan penulisan tesis/disertasi) dari sumber lain yang ditandatangani diatas meterai Rp 6000,- oleh pengusul, dan diketahui oleh ketua Program Studi (nama, tandatangan dan stempel Program Studi)&lt;br /&gt;   7. Topik penelitiannya relevan dengan upaya pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya.&lt;br /&gt;   8. Bersedia menandatangani kesediaan untuk mendukung misi program COREMAP II sesuai dengan kapasitas masing-masing setelah beasiswa berakhir diatas meterai Rp 6.000,- dan apabila memungkinkan akan ditempatkan di lokasi COREMAP II selama minimum 3 (tiga) bulan.&lt;br /&gt;   9. Melampirkan surat rekomendasi dari ketua Konsorsium Mitra Bahari SULSEL (UNHAS), SULTRA (UNHALU), NTT (UNDANA), Papua Barat (UNIPA) dan Papua (UNCEN). Bilamana pengusul bukan berasal dari wilayah COREMAP II_WB (Sulsel, Sultra, NTT, Papua dan Papua Barat), maka pengusul harus tetap melampirkan surat rekomendasi dari Konsorsium Mitra Bahari wilayah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSEDUR PENDAFTARAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Setiap pengusul hanya boleh memasukkan satu formulir pendaftaran. Formulir pendaftaran bisa diakses di : www.coremap.or.id&lt;br /&gt;   2. Setiap formulir pendaftaran yang dikirim harus disertai dengan dokumen pendukung; kekurangan dokumen pendukung pada saat pengiriman tidak akan diproses lebih lanjut atau langsung dinyatakan gugur.&lt;br /&gt;   3. Setiap formulir pendaftaran harus disertai pas photo diri , dengan background berwarna biru.&lt;br /&gt;   4. Formulir Pendaftaran dan seluruh dokumen pendukung harus sudah diterima panitia selambatnya: 30 Juni 2009. Melewati tanggal itu dokumen pendukung tidak akan diproses lebih lanjut atau langsung dinyatakan gugur. Bagi pengusul yang sudah dinyatakan LULUS oleh universitasnya sebelum tanggal 30 Juni 2009 maka akan dinyatakan gugur dan panitia tidak akan memproses lebih lanjut.&lt;br /&gt;   5. Seleksi akan dilakukan dalam 2 (dua) tahap, yaitu seleksi administrasi/verifikasi data dan seleksi proposal oleh tim akhli Program Mitra Bahari-COREMAP&lt;br /&gt;   6. Seleksi administrasi/verifikasi akan dilakukan mulai tanggal 1-30 Juli 2009. Bagi yang tidak lulus dalam seleksi administrasi, proposal penelitiannya tidak akan diseleksi lebih lanjut. Seleksi proposal akan dilakukan pada tanggal 31 Juli 2009.&lt;br /&gt;   7. Bagi yang lulus seleksi , nama-nama calon penerima beasiswa akan diusulkan untuk disahkan dengan Surat Keputusan Dirjen KP3K, dan akan diumumkan pada website : www.coremap.or.id&lt;br /&gt;   8. Penerima beasiswa wajib menyerahkan 1 buah copy asli tesis/disertasi dan soft copynya setelah dinyatakan lulus oleh Universitas tempat belajar.&lt;br /&gt;   9. Panitia tidak akan melayani pertanyaan melalui telpon atau sms. Untuk informasi lebih lanjut hubungi panitia di spp.coremap2@gmail.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya ,&lt;br /&gt;  10. Formulir pendaftaran dan seluruh dokumen pendukung diserahkan ke :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKRETARIAT MITRA BAHARI – COREMAP II&lt;br /&gt;Jalan Tebet Raya 67 C&lt;br /&gt;Jakarta 12820&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-7045045269304139163?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/7045045269304139163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=7045045269304139163' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7045045269304139163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/7045045269304139163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/05/beasiswa-bantuan-penulisan.html' title='BEASISWA BANTUAN PENULISAN TESIS/DISERTASI PROGRAM MITRA BAHARI - COREMAP'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3643924085388070339</id><published>2010-05-14T08:09:00.001-07:00</published><updated>2010-05-14T08:09:23.816-07:00</updated><title type='text'>Program Hibah Penelitian Disertasi Doktoral FULBRIGHT</title><content type='html'>Program Hibah Penelitian Disertasi Doktoral FULBRIGHT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program hibah penelitian ini memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian di  Amerika Serikat bagi kandidat doktor perguruan tinggi Indonesia yang sedang dalam tahap akhir penulisan disertasi. Durasi hibah untuk jangka waktu enam bulan. Pemohon harus memiliki skor TOEFL minimum 575 untuk berpartisipasi dalam program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA MENDAFTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon harus melengkapi formulir aplikasi yang sesuai. Formulir yang tersedia di Kantor AMINEF, Gedung Balai Pustaka, 6th floor, Jl. Gunung Sahari Raya 4, Jakarta 10720.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelengkapan administrasi yg dibutuhkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Formulir aplikasi yang telah diisi termasuk tulisan ringkas tentang tujuan studi.&lt;br /&gt;* Copy hasil tes TOEFL paling baru, kurang dari dua tahun,.&lt;br /&gt;* Satu surat rekomendasi, baik dari pimpinan saat ini atau dosen sebelumnya.&lt;br /&gt;* Fotokopi transkrip akademik (terjemahan bahasa Inggris).&lt;br /&gt;* Fotokopi kartu identitas (KTP atau paspor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Kontak&lt;br /&gt;Pertanyaan spesifik tentang proses aplikasi dapat diatasi melalui e-mail ke alamat berikut: infofulbright_ind@aminef.or.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminef tidak menerima aplikasi email. Hard copy yang harus dikirim atau disampaikan ke American Indonesian Exchange Foundation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEADLINE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas waktu untuk pengajuan permohonan bahan untuk semua program adalah 30 April 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Persyaratan program dapat berubah tanpa pemberitahuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3643924085388070339?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3643924085388070339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3643924085388070339' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3643924085388070339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3643924085388070339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/05/program-hibah-penelitian-disertasi.html' title='Program Hibah Penelitian Disertasi Doktoral FULBRIGHT'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-6463717041522105299</id><published>2010-05-14T08:08:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T08:08:22.794-07:00</updated><title type='text'>Beasiswa</title><content type='html'>Guys,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada pertanyaan soal beasiswa penulisan skripsi, semoga beasiswa di&lt;br /&gt;bawah ini masih berlaku, silakan tanya ke alamat mereka langsung, bukan ke&lt;br /&gt;saya. Via telpon aja, lihat di bawah. Info ini saya kutip dari koleksi info&lt;br /&gt;beasiswa saya. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Pangesti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------&lt;br /&gt;Pernerbit Mizan memberikan kesempatan kepada mahasiswa di seluruh Indonesia&lt;br /&gt;memperoleh Beasiswa Mizan untuk program penelitian tugas akhir (skripsi,&lt;br /&gt;tesis, disertasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMA PENELITIAN:&lt;br /&gt;Harus bertemakan studi ke-Islam-an ditinjau dari berbagai aspek (sosial,&lt;br /&gt;politik, ekonomi, n\budaya, teknologi, sains, dll)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat:&lt;br /&gt;- WNI&lt;br /&gt;- Melaksanakan tugas akhir&lt;br /&gt;- Mengirimkan proposal penelitian (yg masuk, menjadi milik panitia)&lt;br /&gt;- IPK: min 2, 75 bagi mhs S1 dan min 3,00 bagi S2 dan S3 dibuktikan dengan&lt;br /&gt;transkrip terakhir&lt;br /&gt;- Rekomendasi dari PR I untuk S1 dan rekomendasi dari Direktur PPS bagi S2&lt;br /&gt;dan S3&lt;br /&gt;- Menyerahkan daftar riwayat hidup lengkap&lt;br /&gt;- Belum pernah mendapatkan Beasiswa Mizan sebelumnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEASISWA&lt;br /&gt;S1 -&gt; 2 orang 1) Rp 3.000.000, 2) Rp 2.250.000&lt;br /&gt;S2 -&gt; 2 orang 1) Rp 4.000.000, 2) Rp 3.000.000&lt;br /&gt;S3 -&gt; 2 orang 1) Rp 5.000.000, 2) Rp 3.750.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALAMAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia Beasiswa Mizan&lt;br /&gt;Jl. Jodkali No. 16 Bandung 40124&lt;br /&gt;Tel: (022) 720 0931 Faks: (022) 720 7038&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cantumkan kode BEASISWA MIZAN dan program strata yang diikuti pada SUDUT&lt;br /&gt;KIRI AMPLOP (tak ada keterangan atas atau bawah, jadi tulis saja, asal di&lt;br /&gt;kiri, mungkin atas lebih pas ya!)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-6463717041522105299?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/6463717041522105299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=6463717041522105299' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6463717041522105299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6463717041522105299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/05/beasiswa.html' title='Beasiswa'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-6799068776312693155</id><published>2010-05-11T22:48:00.001-07:00</published><updated>2010-05-11T22:48:14.837-07:00</updated><title type='text'>INFO BEASISWA KHUSUS MAHASISWA ASAL BANTEN</title><content type='html'>Persyaratan Administrasi Permohonan Bantuan Biaya Pendidikan/Beasiswa D3/S1/S2/S3 APBD 2010:&lt;br /&gt;1. Surat permohonan beasiswa dari pemohon, ditujukan untuk Gubernur Banten melalui Kepala Dinas Pendidikan Prov. Banten;&lt;br /&gt;2. Daftar Riwayat Hidup ( cantumkan no. telp/HP);&lt;br /&gt;3. Surat rekomendasi asli dari piminan perguruan tinggi negeri yang menerangkan bahwa pemohon LAYAK mendapatkan bantuan pendidikan/beasiswa.&lt;br /&gt;4. Surat pernyataan dari pemohon yang menyatakan belum pernah mendapatkan bantuan pendidikan dari pihak manapun ( bermaterai Rp. 6000,- )&lt;br /&gt;5. Fotocopy transkip IPK MIN 2,75 dari semester 2 terakhir yang dilegalitas sebanyak 1 lembar.&lt;br /&gt;6. Bantuan biaya pendidikan diperuntukan bagi mahasiswa asal banten yang dibuktikan dengan Fotocopy KTP yang berdomisili di Prov. Banten 1 lembar/ fotocopy akta kelahiran.&lt;br /&gt;7. Fotocopy Kartu Tanda Mahasiswa 1 Lembar.&lt;br /&gt;8. Fotocopy berwarna 3×4 1 lembar.&lt;br /&gt;9. Bantuan pendidikan juga diperuntukan bagi mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir dengan melampirkan proposal laporan skripsi/tesis/disertasi.&lt;br /&gt;10. Fotocopy buku tabungan rekening Bank Jabar Banten atas nama pemohon beasiswa.&lt;br /&gt;11. Berkas permohonan dimasukkan ke dalam map buffalo : Jenjang D3 warna merah; Jenjang S1 warna biru, Jenjang S2 warna kuning; Jenjang S3 warna hijau&lt;br /&gt;12. Besarnya beasiswa pertahun: D3 Rp. 3.000.000,-, S1 Rp.4.000.000 ,-; S2 dan S3 lebih dari Rp. 5.000.000,-&lt;br /&gt;13. Berkas permohonan diserahkan ke Dinas Pendidikan Prov. Banten paling lambat tanggal 31 Mei 2010 ( tidak boleh diwakilkan/datang langsung ke kantor Diknas Banten).&lt;br /&gt; Alamat Kantor Dinas Pendidikan Propinsi Banten : Kawasan Pusat Pemerintahan Propinsi Banten Jl. Syech Nawawi Al-Bantani, Palima-Serang telp. (0254) 267064 / 267066 / 267067&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-6799068776312693155?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/6799068776312693155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=6799068776312693155' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6799068776312693155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6799068776312693155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/05/info-beasiswa-khusus-mahasiswa-asal.html' title='INFO BEASISWA KHUSUS MAHASISWA ASAL BANTEN'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-8606320422942814854</id><published>2010-02-26T00:53:00.001-08:00</published><updated>2010-02-26T00:54:22.974-08:00</updated><title type='text'>WUJUDKAN CINTAMU KEPADA RASUL DENGAN MEMBACA KARYA INI  DAPATKAN SEGERAAA</title><content type='html'>WUJUDKAN CINTAMU KEPADA RASUL DENGAN MEMBACA KARYA INI&lt;br /&gt;DAPATKAN SEGERAAA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah bentuk kesusastraan yang paling tua. Karya besar dunia yang bersifat monumental ditulis dalam bentuk puisi. Karya-karya pujangga banyak ditulis dalam bentuk puisi. Nyanyian-nyanyian yang diperdengarkan tidak semata-mata karena irama mempesona yang dilantunkan dengan suara merdu, tetapi isi kandungan dan corak puisinya mampu menghibur manusia. Puisi-puisi cinta banyak didendangkan dan diperdengarkan para penyanyi dan pujangga dalam berbagai kurun waktu. Hebatnya, puisi-puisi semacam itu tidak pernah pudar dan membosankan.&lt;br /&gt;Puisi atau syair merupakan karya sastra yang sangat urgen dan besar pengaruhnya terhadap sikap, tindak, dan kehidupan manusia. Allah SWT menaruh perhatian khusus dengan mencantuman dalam al-Qur’an satu surat yang ke-26 dengan nama al-Syu’ara&gt; (اَلشُّعَرَاء). Disebut demikian karena Allah menyanggah orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penyair dan yang dibawanya adalah syair. Muh}ammad Ali&gt; al-S{a&gt;bu&gt;ny mengatakan :&lt;br /&gt;سُمِّيَت سُوْرَةُ الشُّعَرَاء ِلأَنَّ اللهَ تَعَالَى ذَكَرَ فِيْهَا أَخْبَارَ الشُّعَرَاء رَدًّا عَلَى المُشْرِكِيْنَ فَزَعْمُهُم أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ كَانَ شَاعِرًا وَ أَنَّ مَا جَاءَ بِهِ إِنَّمَا هُوَ مِنْ قَبِيْلِ الشِّعْرِ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِمْ هَذَا الكَذِبَ وَ البُهْتَانَ بِقَوْلِهِ" وَ الشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الغَاوُوْنَ، أَلمَ تَرَ أَنَّهُمْ فِى كُلٍّ وَادٍ يَهِيمُون. وَ أَنَّهُم يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ" &lt;br /&gt;Dinamai surat al-Syu‘ara&gt; karena Allah menyebut di dalamnya berita tentang para penyair sekaligus menyanggah tuduhan orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penyair dan yang dibawanya adalah syair. Maka Allah pun menyanggah kebohongan dan kepalsuan itu dengan ayat yang artinya “Dan penyair-penyair itu, diikuti oleh orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di lembah-lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)”? &lt;br /&gt;Sanggahan Allah terhadap tuduhan orang-orang musyrik Arab pada waktu itu tergambar dalam ayat sebagai berikut:&lt;br /&gt;وَ الشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الغَاوُوْنَ، أَلمَ تَرَ أَنَّهُمْ فِى كُلٍّ وَادٍ يَهَيمُون. وَ أَنَّهُم يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ (الشعراء 224-226)&lt;br /&gt;Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di lembah-lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?  &lt;br /&gt;Penamaan surat ini ditandai dengan disebutnya kata-kata اَلشُُّعَرَاءُ pada bagian akhir surat, tepatnya ayat 224, ketika Allah secara khusus menyebutkan kedudukan para penyair. Para penyair pada zaman itu [Jahiliyah] mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan rasul. Mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan suka memutarbalikkan lidah, tidak mempunyai pendirian. Perbuatan mereka tidak sesuai dengan ucapan. Sifat-sifat yang demikian itu tidak terdapat pada diri rasul. Oleh karena itu, tidak patut bila Nabi Muhammad saw dianggap sebagai penyair dan al-Qur’an ditengarai sebagai syair. Al-Qur’an adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.  Al-Qur’an bukan syair dan bukan pula prosa. Gaya bahasa dan sastra al-Qur’an berbeda dengan gaya bahasa biasa. Gaya bahasa dan gaya sastra al-Qur’an adalah gaya bahasa dan gaya sastra al-Qur’an itu sendiri. &lt;br /&gt;Pernyataan Allah bahwa Nabi Muhammad saw bukan penyair dan bahwa al-Qur’an merupakan peringatan dan kitab pemberi penerangan, ditegaskan dalam ayat yang berbunyi :&lt;br /&gt;وَ مَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَ مَا يَنْبَغِى لَهُ، إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ وَ قُرْآنٌ مُبِيْنٌ ( يس29)&lt;br /&gt;Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidak layak baginya, al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan penyair yang gemar memutar balikkan lidah, tidak mempuyai pendirian, dan perbuatannya tidak sesuai dengan ucapan adalah penyair Jahiliyah, bukan penyair Muslim. Penyair Muslim tidak demikian, hal ini dijelaskan dalam ayat berikut :&lt;br /&gt;إلاَّ الذِيْنَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَ ذَكَرُوا اللهَ كَثِيرًا وَ انْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا (الشعراء 227)&lt;br /&gt;Kecuali orang-orang [penyair-penyair] yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.  &lt;br /&gt;Berdasarkan ayat di atas jelas bahwa penyair Muslim tidak melakukan apa yang dilakukan penyair Jahiliyah (non Muslim). Bagi orang Arab, syair mempunyai kedudukan yang tinggi dan peranan yang besar. Ah{mad al-Iskandary dan Mus}t}afa&gt; Ina&gt;ny mengatakan bahwa syair adalahدِيوَانُ العَرَب   [buku catatan bangsa Arab].  Artinya bahwa semua aspek kehidupan yang berkembang pada masa tertentu, tercatat dan terrekam dalam syair-syair Arab. Dengan syair, orang-orang Arab dapat memelihara, mencatat, menjaga kehidupan, dan mempertahankan kehormatan. Satu kabilah Arab tidak akan mendapat kehormatan bahkan akan mendapatkan cemoohan, manakala tidak seorangpun di kalangan mereka yang tampil sebagai penyair yang dapat mewakili kabilahnya. Syair dan penyair bagi orang Arab merupakan kebanggaan. Ah}mad al-Iskandary dan Mus}t}afa&gt; Ina&gt;ny mengatakan bahwa kabilah Arab akan merasa sangat bahagia manakala mendapatkan tiga macam kelahiran. Kelahiran seorang anak laki-laki, kelahiran (penobatan) penyair, dan kelahiran anak kuda.  &lt;br /&gt;Ketika seorang penyair muncul (dinobatkan sebagai penyair), mereka mengadakan pesta besar-besaran untuk menyambutnya. Pesta itu mereka lakukan melebihi pesta perkawinan. Mereka menari, menyanyi, dan menyantap macam-macam hidangan mewah. Ah}mad al-Iskandary dan Mustafa&gt; Ina&gt;ny mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَ كَانَت القَبَائِلُ مِن العَرَبِ إِذَا نَبَغَ فِيهَا شَاعِرٌ أتَتِ القَبَائِلُ فَهَنَّأَتْهَا وَ صَنَعَتِ الأَطْعِمَةَ وَ أَتَتِ النِّسَاءُ يَلْعَبْنَ بِالمَزَامِرِ كَمَا صَنَعْنَ بِالأَعْرَاسِ ، وَ يَتَبَاشَرْنَ الرِّجَالَ وَ الوِلْدَانَ ، لأَنَّهُ حِمَايَةٌ ِِلأَعْرَاضَهِمْ ، وَ ذَبّ عَنْ حِيَاضِهِمْ ، و تَخلِيْدٌ لِمُفْتَخَرِهِمْ ، وَ إِشَادَةٌ بِذِكْرِهِمْ ، وَ كَانُوا َلا يَهْنَئُوْنَ إِلاَّ بِغُلامٍ يُوْلَدُ أَوْ شَاعِرٌ يَنْبَغُ أَوْ فَرَسٌ تُنْتَجُ. &lt;br /&gt;Manakala di kalangan kabilah Arab muncul seorang penyair, berdatanganlah kabilah-kabilah lain mengucapkan selamat. Mereka membuat bermacam makanan mewah dan berdatangan pula wanita-wanita (penyanyi) untuk memainkan seruling (alat musik tiup). lni mereka lakukan sebagaimana mereka merayakan pesta perkawinan. Laki-laki, perempuan, muda-mudi berbaur menjadi satu untuk merayakannya. Kelahiran seorang penyair merupakan kehormatan bagi mereka. Seorang penyair adalah pahlawan keluarga dan pembela bangsa. Mereka akan sangat bangga dan bahagia manakala di kalangan mereka lahir seorang anak laki-laki, lahir seorang penyair, dan lahir seekor anak kuda.  &lt;br /&gt;Rasulullah saw adalah sosok manusia yang mencintai seni dan menggemari syair. Beliau mendorong sahabatnya untuk menyusun dan melantunkan syair. Beliau bangga kalau syair dijadikan alat berdakwah dan sarana untuk membukukan ajaran Islam. Beliau mendorong para sahabatnya untuk menjadikan syair sebagai senjata ampuh melawan musuh Islam. Hal ini dilakukan agar umat Islam mendapatkan motivasi dan semangat tinggi dalam menjalankan tugas sucinya, berjihad.  Beliau pernah berkata kepada sahabatnya Hassa&gt;n ibn S|a&gt;bit. (w 54 H)  agar ia membalas celaan orang-orang musyrik, musuh Islam, dengan lidahnya [syairnya] beliau bersabda :&lt;br /&gt;اُهْجُ المُشْرِكِيْنَ وَ جِبْرَائِيْلُ مَعَكَ، إِذَا حَارَبَ أَصْحَابِي بِالسِّلاَحِ فَحَارِبْ أَنْتَ بِاللِّسَانِ (رواه الخطيب وابن عساكر)&lt;br /&gt;Balaslah (wahai H{assa&gt;n) celaan orang-orang musyrik itu, Jibril pasti bersamamu. Kalau sahabat-sahabatku berperang dengan senjata, maka  berperanglah kamu dengan lidahmu (syairmu). (HR Al-Khati&gt;b dan Ibn Asa&gt;kir).&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang akan membela Islam dan kehormatan orang-orang yang beriman?” Ka‘ab ibn Zuhair menjawab “Aku wahai Rasulullah yang akan membelanya”, Jawab Nabi; “Ya Engkau adalah seorang penyair”. Dalam hal ini Hassa&gt;n ibn S|a&gt;bit berkata, “Aku wahai Rasulullah yang akan membelanya”, Nabi pun menjawab Hassa&gt;n ibn S|a&gt;bit “Ya, balaslah ejekan kaum musyrik itu semoga Jibril menyertaimu”.&lt;br /&gt;Syair-syair Arab klasik (syair Jahili) banyak digunakan untuk tujuan gazal (الغَزل = cinta), risā (الرِثَاء  = ratapan), hija&gt; (الِهجَاء = ejekan), madh} (اَلمدْح = pujian), mufākharah (المُفَاخَرَة = kebanggaan), h}ikmah (الحِكْمَةِ = kata mutiara), mas|al (المَثَل= peribahasa) ‘itiz|a&gt;r (الاِعْتِذَار = berdalih / permobonan maaf), dan lain-lain. &lt;br /&gt;Setelah Islam datang, syair-syair Arab banyak digunakan untuk tujuan keagamaan, seperti sarana dakwah, penyebaran aqidah Islamiyah, sebagai alat kodifikasi ajaran dan ilmu agama Islam,  untuk membangkitkan motivasi umat Islam dan untuk beramal saleh, menyampaikan mauizah h}asanah, dan memuji Rasulullah saw.   &lt;br /&gt;Syair madh} (شِعرُالَمدحِ) dalam bahasa Indonesia disebut syair pujian, merupakan bentuk syair yang banyak mendapat perhatian para penyair. Syair ini di samping untuk mengungkapkan rasa senang dan cinta terhadap orang yang pernah berjasa atau yang sangat dihormati, merupakan sarana untuk mencari kehidupan (tujuan komersil). Tidak sedikit di antara para penyair yang sengaja menggubah syair madhnya untuk mengharapkan imbalan.  Di zaman khilafah Dinasti Umayyah (661-750 M) dan Abbasiyah (132-656 H/750-1258 M), tidak sedikit di antara penyair yang mampu mengambil hati para khalifah sehingga mereka tidak segan-segan memberikan sejumlah imbalan berupa uang, emas, dan benda berharga lainnya. Bahkan di antara mereka ada yang menerima hadiah berupa ja&gt;riyah (جََاِريَة = gadis). Dengan syair madh{, para penyair banyak yang menjadi kaya, dan bahkan menjadi pejabat tinggi kerajaan setingkat menteri.  &lt;br /&gt;Syair madh} merupakan ungkapan rasa cinta seseorang terhadap siapa saja yang disenangi dan dicintainya. Syair-syair Rabiah al-Adawiyah (135 H/752 M) merupakan model syair madh} yang mengungkap rasa cintanya kepada Allah yang begitu mendalam. Rasa cintanya kepada Allah diungkapkan melalui syair-syair madh}-nya yang begitu lembut, indah, dan menarik. Ia mengungkapkan betapa mendalam cintanya kepada Allah, ia berkata:&lt;br /&gt;أُحِبُّك حُبَّينِ حُبَّ  الهَـوَى    وَ حُبًّـا   ِلأَنـَّكَ  أَهْلٌ  لِذَاكَ&lt;br /&gt;فَأَمَّا  الّذِى هُوَ حُبُّ  الهَوَى   فَشُغْلِى   بِذِكْرِكَ  عَمَّنْ  سِوَاكَ&lt;br /&gt;وَ أَمَا  الَّذِى أَ نْتَ  أَ هْلٌ لَهُ     فَكَشْفُكَ لِى الحَجْبَ حَتَّى أَرَاكَ&lt;br /&gt;فَلاَ الحَمْدُ  فِى ذَا أَوْ ذَاكَ لِي   وَ لَكِنْ  لَكَ  الحَمْدُ ذَا  وَ ذَاكَ &lt;br /&gt;Ku cintai Kau dengan dua macam cinta&lt;br /&gt;Cinta yang murni dan cinta karena Engkaulah yang patut dicintai&lt;br /&gt;Mengenai cinta  murni ialah karena aku senantiasa mengingat-Mu&lt;br /&gt;Dan tak ada yang kuingat selain-Mu&lt;br /&gt;Adapun cinta karena Engkau yang patut dicintai….&lt;br /&gt;Karena Engkau telah mengungkapkan tabir bagiku hingga Engkau dapat kulihat&lt;br /&gt;Baik untuk ini, maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku&lt;br /&gt;Tapi hanya Eugkaulah yang berhak atas pujian itu&lt;br /&gt;Pujian Rabiah al-Adawiyah yang diungkapkan melalui cintanya kepada Allah bukan untuk mendapatkan harta benda sebagaimana penyair-penyair lain. Ia memuji-Nya karena harapan agar ia senantiasa berada di sisi-Nya. Berada di sisi Allah merupakan tujuan utama para sufi.  Syair-syair madh} Rabiah berupa h}ubb ila&gt;hy (cinta Tuhan) yang bercorak sufi. Syair-syair madh} dapat menghilangkan rasa dendam atau benci dan menghibur hati yang sedih. Syair-syair madh} juga dapat menenangkan pikiran yang kusut dan menghibur hati yang kalut. Rasulullah saw pernah mengampuni seseorang yang telah diancam hukuman mati. Ini beliau lakukan karena penyair itu telah melewati batas mencela Islam dan mengejek Rasulullah saw. Ia adalah Ka’ab ibn Zuhair (w. 26 H/645 M). &lt;br /&gt;Ketika Islam datang, Bujer (saudara kandung Ka’ab) masuk Islam. Mendengar berita ini, Ka’ab melarangnya masuk Islam dan bahkan mengejek Rasulullah saw serta mencela Islam. Mendengar perilaku dan tindakan Ka’ab, Rasulullah saw mengancam dengan menghalalkan darahnya. Lalu Ka’ab diperingatkan saudaranya, Bujer, akan adanya ancaman Rasulullah saw, kecuali ia menghadap beliau untuk masuk Islam dan bertaubat. Hal ini sangat menakutkan Ka’ab. Ia berusaha mencari orang yang dapat melindunginya. Akan tetapi usahanya itu sia-sia. Tidak seorangpun di kalangan orang Arab pada waktu itu yang mau mendampingi dan melindunginya. Bahkan sempat tersebar isu bahwa ia telah terbunuh. Karena sangat ketakutan, ia akhirnya datang kepada Abu Bakar al-Shiddiq agar beliau berkenan mendampinginya menghadap Rasulullah saw untuk bertaubat dan masuk Islam. Dengan didampingi Abu Bakar al-Shiddiq dan disaksikan para sababat lainnya Ka’ab ibn Zuhair meminta maaf kepada Rasulullah saw dan bertaubat lalu ia pun masuk Islam.  Permohonan maaf yang disampaikannya kepada Rasulullah saw tertuang dalam kasidah yang dibacakan dihadapan beliau, antara lain berbunyi:&lt;br /&gt;أُبْـئِتُ  أَنَّ  رَسُوْلَ  اللهِ  أَوْعَدَنِى     وَ العَفْوُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ مَأْمُوْلٌ&lt;br /&gt;مَهْلاً هَدَاكَ الَذِى أَعْطَاكَ نَافِلَةَ الْـ    قُرْآنِ فِيْهَا مَوَاعِيْظُ وَ تَفْصِيْلُ &lt;br /&gt;Ku dengar selembar kabar&lt;br /&gt;Rasulullah telah mengancam &lt;br /&gt;Maaf untukku darinya   &lt;br /&gt;Sangat kuharapkan  &lt;br /&gt;Tenanglah tenang&lt;br /&gt;Allah telah memberimu petunjuk &lt;br /&gt;Berupa Nafilah Kitab al-Qur’an &lt;br /&gt;Mengandung nasihat petunjuk rinci&lt;br /&gt;Rasulullah saw sangat tertarik oleh kasidah yang dipersembahkannya ini. Seketika, beliau bangkit lalu memberinya hadiah berupa burdah بُرْدَة (semacam baju jubah yang dapat dipakai sebagai selimut).  Karena peristiwa ini, kasidah tersebut diberi nama kasidah Burdah, sebagai tanda penghormatan dan kenangan atas hadiah Rasulullah saw kepadanya. Nama lain kasidah ini adalah بَانَتْ سُعَادُ. Sebuah nama yang diambil dari kata awal bait pertama kasidah tersebut yang berbunyi:&lt;br /&gt;بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِى اليَوْمَ مَتْبُوْلٌ  مُتَيّمٌ إثْرَهَا لمَ ْيُفْدَ مَكْبُوْلُ &lt;br /&gt;Kekasihku Su’ad telah pergi&lt;br /&gt;Risau dan sakit hatiku kini&lt;br /&gt;Sakit yang tak dapat terobati&lt;br /&gt;Terbelenggu rasanya hatiku ini &lt;br /&gt;Kasidah lain yang berjudul Burdah adalah karya penyair yang hidup di akhir masa Dinasti Ayyu&gt;biyah dan awal Dinasti Mama&gt;li&gt;k yang berkuasa selama 266 tahun [648-922 H/ 1250-1517 M].  Penyair tersebut bernama Syarafuddi&gt;n Abu&gt; Abdilla&gt;h Muh}ammad ibn Sa’i&gt;d al-Bu&gt;si&gt;ry, lahir di Dalla&gt;s pada 608 H dan hidup hingga dewasa di daerah Bu&gt;si&gt;r. Karena hidup di Bu&gt;si&gt;r inilah kemudian ia dikenal dengan nama al-Bu&gt;si&gt;ry,  dinisbatkan kepada daerah Bu&gt;si&gt;r. Kasidah Burdah yang satu ini merupakan karya sastra yang sangat populer, selalu dibaca dan dikumandangkan di mana-mana, dan mendapat perhatian para pengkaji sastra Arab dan seniman. Kasidah ini banyak diterjemahkan, disadur, dan dikaji orang. Ibra&gt;hi&gt;m al-Ba&gt;ju&gt;ry mengatakan bahwa kasidah Burdah telah disyarah dalam bahasa Arab oleh tujuh belas ulama antara lain :&lt;br /&gt;1. Syaikh Ali&gt; ibn Muh}ammad al-Bust}a&gt;my&lt;br /&gt;2. Badruddi&gt;n Muh}ammad ibn Muh}ammad al-Ghazzy&lt;br /&gt;3. Muh}yiddi&gt;n Muhammad Musta&gt;&lt;br /&gt;4. Bah}r ibn Rai&gt;s ibn al-Hārūn al-Ma&gt;liky&lt;br /&gt;5. Abdulla&gt;h ibn Ya’qu&gt;b al-Ghifa&gt;ry&lt;br /&gt;6. Abdulla&gt;h ibn Ya’qu&gt;b al-Sha&gt;wy&lt;br /&gt;7. Dan lain-lain &lt;br /&gt;Sedangkan di Indonesia terdapat empat buah karya para ulama yang menulis Burdah, baik berupa saduran, terjemahan, maupun pengantar, mereka adalah :&lt;br /&gt;1. KH. Dr. Idham Chalid, dengan judul Burdah al-Madi&gt;h} al-Muba&gt;rakah&lt;br /&gt;2. Abu Farid ibn Umar, dengan judul Burdah Nan Indah&lt;br /&gt;3. Dr. Talhah Mansur, SH, berjudul Al-Burdah, Al-Kawa&gt;kib al-Durriyyah fi&gt; Madh} Khairil Bariyyah&lt;br /&gt;4. Ahmad Makky, berjudul Penjelasan Kasidah Burdah&lt;br /&gt;Ah}mad Syauqy Bek, penyair kontemporer Mesir menyusun kasidah dengan corak yang sama atau mirip dengan kasidah Burdah. Ini ia lakukan karena keterpengaruhannya oleh kasidah Burdah. Kasidah yang ia susun berjudul Nahjul Burdah (نَهْجُ البرْدَةِ).  Nahjul Burdah mengandung arti bahwa kasidah ini bercorak/bermetode Burdah. Di Indonesia kasidah Burdah senantiasa dibaca dan dikumandangkan, baik di pesantren, masjid, majelis taklim, madrasah, maupun rumah-rumah penduduk. Di pesantren dan majelis taklim, kasidah Burdah dijadikan literatur pokok. &lt;br /&gt;Secara inklusif, kasidah Burdah menyatu dengan kitab Barzanjy (tentang maulid Nabi Muhammad saw). Perayaan peringatan maulid Nabi Muhammad saw dirasa kurang sempurna manakala tidak dibaca atau tidak didendangkannya kasidah Burdah. Selamatan bayi yang baru lahir dirayakan dengan pembacaan kitab Barzanjy  yang senantiasa dilengkapi dengan kasidah Burdah.&lt;br /&gt; Di Jawa Timur dan daerah-daerah lainnya di Indonesia, kasidah Burdah merupakan literatur pokok para kiai, ustadz, dan santri. Dapat dipastikan, bahwa sebagian besar keluarga Muslim memiliki kitab Barjanzy yang secara inklusif mengandung kasidah Burdah. Kitab Barzanjy dengan kasidah Burdahnya mereka miliki sebagaimana mereka memiliki kitab suci al-Qur’an. Banyak di antara seniman Muslim yang menjadikan kasidah Burdah sebagai lirik-lirik lagu Arab, seperti kasidahan, orkes gambus, dan lain-lain. Syaikh Ali&gt; al-Minyawy, penyair Mesir, menerbitkan kaset lagu berirama Timur Tengah dengan lirik-liriknya diambil dari kasidah Burdah.  Di awal ataupun akhir pengajian majelis taklim, kasidah Burdah dibacakan bersama-sama di bawah bimbingan guru/ ustadz.  Kasidah Burdah juga menjadi bacaan [wiridan] sehari-hari. &lt;br /&gt;Sebagai karya sastra kasidah Burdah pernah ditampilkan dalam festival antar pesantren se-Jawa Timur. Acara ini diselenggarakan Yayasan Hibatullah pimpinan Sofyan bekerjasama dengan harian pagi Memorandum, Surabaya. Menurut informasi, festival tersebut cukup berhasil dan mendapat perhatian besar dari para pencinta seni bercorak Islam.  &lt;br /&gt;Kasidah Burdah disusun al-Bu&gt;si&gt;ry, dengan tujuan memuji dan menyanjung Rasulullah saw. Ini ia lakukan karena kecintaannya kepada beliau (ِحُبُّ الرَسُوْل ) yang sangat mendalam melebihi cintanya kepada siapapun. Kasidah ini disusun ketika ia menderita sakit yang sangat berat (sebelah tubuhnya lumpuh). Dalam keadaan sakit ia menyusun kasidah yang isinya memuji dan menyanjung Rasulullah saw. Di suatu malam, dalam tidurnya ia mimpi bertemu beliau. Dalam mimpinya ini, beliau memberinya Burdah (بُرْدَة), baju lapang yang bisa dijadikan selimut. Ketika terbangun, ternyata sakit yang selama itu ia alami hilang dan ia pun sehat walafiat seperti semula. Untuk mengenang hadiah dari Rasulullah saw, ia memberi judul kasidah yang disusunnya itu dengan nama Burdah (بُرْدَةْ)  Kasidah Burdah karya al-Bu&gt;-si&gt;ry merupakan karya sastra yang begitu baik, indah, dan mendapat perhatian masyarakat. &lt;br /&gt;Pengaruh kasidah Burdah di Indonesia merupakan wujud nyata adanya pengaruh sastra atau pun syair-syair Arab terhadap sastra dan puisi Indonesia. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa sastra dan bahasa Arab sangat besar peranannya dalam membesarkan dan mengembangkan sastra dan bahasa Indonesia. Pengaruh sastra dan bahasa Arab seperti ini tidak lepas dari pengaruh agama Islam yang secara inklusif bahasa Arab adalah bahasa agama Islam. Tanpa Islam, sastra dan bahasa Arab tidak akan ada dan tidak akan berkembang pengaruhnya dalam bahasa Indonesia. Pengaruh sastra Arab terhadap sastra Indonesia mencakup struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik sastra adalah bahasa. Sedangkan struktur batin sastra adalah isi atau pesan sastra. Sebagai contoh, perhatikan puisi berikut ini:&lt;br /&gt;Sealir Do’a &lt;br /&gt;Ya Rabbi&lt;br /&gt;Betapa hina diri ini&lt;br /&gt;Di depan keagungan-Mu&lt;br /&gt;Betapa papa jasad ini&lt;br /&gt;di depan kunci gudang kekayaan-Mu&lt;br /&gt;Dan betapa kotor hati ini&lt;br /&gt;di depan kesucian-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabbi&lt;br /&gt;Tlah lama kusadari&lt;br /&gt;Akan tebalnya lapisan dosa&lt;br /&gt;noda dan aibku ini&lt;br /&gt;Dan tlah jauh hati kuyakini&lt;br /&gt;Luasnya hamparan permadani kedustaan&lt;br /&gt;keangkuhan dan keteledoranku&lt;br /&gt;Karenanya aku malu menghadap-Mu&lt;br /&gt;Namun di hati masih tersisa&lt;br /&gt;Keyakinan hati yang terpatri&lt;br /&gt;Akan maha luas dan dalamnya&lt;br /&gt;Samudra kasih&lt;br /&gt;dan anggapan-Mu, Ya Rabbi&lt;br /&gt;yang tidak bertepi&lt;br /&gt;apa lagi berdasar pasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabbi&lt;br /&gt;Biarkanlah dosa kebusukanku&lt;br /&gt;terbawa hanyut&lt;br /&gt;gelombang samudra kasih dan ampunan-Mu&lt;br /&gt;   (Nusar Azhar)&lt;br /&gt;Dilihat dari segi struktur fisik (bahasa), puisi Nusar Azhar dengan juduI Sealir Do’a ini sangat nampak keterpengaruhannya oleh sastra/bahasa Arab. Kita lihat kata Rabbi dalam puisi tersebut terucap sampai empat kali dan kata yakin (keyakinan, kuyakini)  terucap dua kali dan kata aib (aibku) terucap satu kali. Dilihat dari struktur batin (isi/pesan sastra) puisi Nusar Azhar ini terpengaruh sastra Arab/Islam. Isi/pesan sastra dalam puisi tersebut berupa keagamaan/keislaman.&lt;br /&gt;Buku ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut: &lt;br /&gt;Siapakah al-Bu&gt;s}i&gt;ry? Apa saja karya-karyanya? Apa itu kasidah Burdah dan bagaimana latar belakang penyusunannya ? Mengapa syair-syair kasidah Burdah memfokuskan pujian kepada Rasulullah saw? Apa yang menyebabkannya menjadi terkenal? Mengapa dikeramatkan orang? Corak sastra apa yang mewarnainya? Apa isi kandungan, ide, dan pesannya? Bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan sastra/syair Arab pada umumnya dan bagaimana perhatian masyarakat pada khususnya?&lt;br /&gt;Permasalahan pokok buku ini adalah corak sastra apakah yang mewarnai kasidah Burdah al-Bu&gt;s}i&gt;ry sehingga menjadi terkenal?  Ini akan menjawab beberapa pertanyaan kita;&lt;br /&gt;a. Apa yang melatarbelakangi penyusunan kasidah Burdah? &lt;br /&gt;b. Sejauh mana imajinasi dan emosi yang terkandung di dalamnya?&lt;br /&gt;c. Apa dan bagaimana ide/pesan serta pikiran yang terkandung di dalamnya? &lt;br /&gt;d. Bagaimana struktur fisik (الصُوْرَة) yang meliputi stilistika (الأُسْلُوْب), kata-kata (الأَلْفَاظ), aliran (المَذْهَب), keseimbangan pola nada/irama (الوَزْن) dan sajak (القَافِيَة), &lt;br /&gt;e. Sejauh mana pengaruhnya terhadap perkembangan sastra, dan respons kaum Muslim terhadapnya.&lt;br /&gt;Buku ini dimaksudkan untuk mengetahui dan mengkaji Islam (bidang bahasa dan sastra Arab) dengan mengungkap corak sastra kasidah Burdah karya al-Būsi&gt;ry. Bentuk struktur fisik dan batin kasidah Burdah dianggap sakral dan mempunyai khasiat-khasiat tertentu. Adapun manfaatnya antara lain : &lt;br /&gt;1. Pelestarian kebudayaan dan apresiasi seni &lt;br /&gt;2. Pembinaan perkembangan ilmu dan teori sastra &lt;br /&gt;3. Pembinaan dan pengembangan sastra sebagai media penyiaran agama Islam dan alat kodifikasi ajaran Islam.&lt;br /&gt;Syair merupakan karya sastra yang identik dengan kehidupan keagamaan yang selalu berkembang sejak munculnya agama Islam. Kasidah Burdah berisi syair-syair sanjungan dan pujian kepada Rasulullah saw, maka dijuluki sebagai pemuji nabi dan penyanjung Rasulullah saw.  &lt;br /&gt;Kecintaan al-Bu&gt;s}i&gt;ry kepada Rasulullah saw melebihi cintanya kepada orang lain, sekalipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Ia hidup jauh setelah Rasulullah saw tiada. Cintanya kepada beliau lebih disebabkan oleh iman dan ketaatannya kepada Islam. Al-Bu&gt;si&gt;ry hanya menyusun syair yang berkenaan dengan keagamaan, pujaan, dan pujian kepada Rasulullah saw. Ini terlihat dalam karya-karya syairnya yang terhimpun dalam di&gt;wa&gt;n-nya. Buku ini akan mengulas kasidah Burdah yang merupakan karya sastra/syair puisi lirik. Dalam istilah sastra Arab disebutاَلشِعْرُ الغِنَائِي  yaitu syair yang dapat dijadikan sebagai larik-larik dan lirik-lirik lagu atau dapat dideklamasikan seperti puisi.  Dari segi struktur fisik (stilistika), kasidah Burdah yang berbentuk puisi ini menggunakan bah}r basi&gt;t} (البَحْرُالبَسِيْط). Basi&gt;t} adalah nada dasar yang cocok untuk syair-syair pujian (شِعْرُالمَدْح) syair cinta (شِعْرُالغَزل) dan syair ratap (شُِْعْرُ الرِثَاء ). &lt;br /&gt;Dari segi sajak, kasidah Burdah menggunakan sajak mim (القَافِيَةالمِيْمِيَّة) yaitu huruf-huruf akhir (الرَوِِي) yang terdapat pada setiap baitnya adalah huruf mim. Sementara isi kandungan kasidah Burdah (struktur batin) berupa keislaman yaitu pujian kepada Rasulullah saw yang meliputi :&lt;br /&gt;1. Nostalgia penyair&lt;br /&gt;2. Peringatan terhadap bahaya hawa nafsu&lt;br /&gt;3. Pujian kepada Rasulullah saw&lt;br /&gt;4. Maulid Nabi Muhammad saw&lt;br /&gt;5. Mukjizat Nabi Muhammad saw&lt;br /&gt;6.  Keagungan kitab suci al-Qur’an&lt;br /&gt;7.  Isra dan mi’raj&lt;br /&gt;8.  Perjuangan Nabi Muhammad saw&lt;br /&gt;9.  Permohonan maaf kepada Rasulullah saw&lt;br /&gt;10.Sebuah harapan&lt;br /&gt;Di antara bait-bait syair kasidah Burdah yang populer di masyarakat Indonesia adalah:&lt;br /&gt;34 - مُحَمَّدٌ  سَيِّدُ  الكَوْ نَيْنِ وَالثَّقَلَـ   يْنِ وَالفَرِيقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِن عَجَمِ&lt;br /&gt;35- نَبِيُّنَا  الآمِرُ  النَّاهِى  فَلاَ  أَحَـدٌ    أَبَرُّ   فِى   قَولِ  لاَ مِنهُ  وَ لاَ نَعَم&lt;br /&gt;36 - هُوَ الحَبِيبُ الَذِى تُرجَى شَفَاعَتُهُ   لِكُلِّ  هَولٍٍٍ  مِنَ  الأَهوَالِ  مُقتَحِمِ&lt;br /&gt;37 - دَعَا إِلَى اللهِ فَالمُسْتَمْسِكُونَ بِهِ    مُسْتَمْسِكُونَ بِحَبْلٍ غَيْرَ مُنفَصِمِ    &lt;br /&gt;Muhammad pemimpin dunia dan akhirat&lt;br /&gt;Muhammad pemimpin jin dan manusia&lt;br /&gt;Muhammad pemimpin dua bangsa &lt;br /&gt;Bangsa Arab dan bangsa Ajam&lt;br /&gt;Muhammad Nabi kita ... merintah ‘kan kebaikan&lt;br /&gt;Muhammad Nabi kita ... melarang ’kan kejahatan&lt;br /&gt;Tiada orang yang paling bijak&lt;br /&gt;Ketika berkata..ya..ataupun.. tidak.&lt;br /&gt;Muhammad kekasih Allah&lt;br /&gt;Syafaatnya selalu diharapkan&lt;br /&gt;Di hari yang sangat mencekam&lt;br /&gt;Hari kiamat hari yang menakutkan&lt;br /&gt;Ia ajak orang-orang ‘tuk kembaadali kepada Allah&lt;br /&gt;Maka, barang siapa berpegang kepada-Nya&lt;br /&gt;Berarti ia ia berpegang pada seutas tali &lt;br /&gt;Yang selamanya tak ‘kan terputus &lt;br /&gt;Kasidah Burdah mengandung 160 bait syair yang diawali dengan pernyataan cinta penyairnya. Cinta kepada kekasihnya yang tinggal di lembah Z|i&gt; Salam dekat kota Mekah. Kecintaannya yang begitu mendalam menjadikannya selalu ingat kepadanya. Sang kekasih yang senantiasa ia rindukan dalam kasidah ini menurut sebagian para pakar adalah Nabi Muhammad saw, ia mengungkapkan :&lt;br /&gt;1- أَ مِنْ تَذَكُّرِجِيرَانٍ بِِذِي سَـلَمٍٍٍٍٍ  مَزَجْتَ  دَمْعًا  جَرَى مِنْ مُقلَةٍ بِدَمِ&lt;br /&gt;2-أَم هَبَّتِ الرِّيحُ مِن تِلقَاءِ كَاظِمَةٍ  وَأَوْمَضَ البَرْقُ فِى الظَلمَاءِ مِنْ إِضَمِ &lt;br /&gt;Apakah karena mengenang kekasih &lt;br /&gt;Yang tinggal di lembah Z|i-Salam&lt;br /&gt;Kau campurkan airmatamu dengan darah&lt;br /&gt;Mengalir dari kelopak matamu?&lt;br /&gt;Ataukah karena angin menghembus&lt;br /&gt;    Dari arah gunung Ka&gt;zimah?&lt;br /&gt;Ataukah karena kilat menyambar dari Idami?&lt;br /&gt;Di  kegelapan malam hari?&lt;br /&gt;Kasidah Burdah diakhiri dengan bait syair yang mengekspresikan permohonan penyairnya agar Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad saw selama angin timur masih menerpa daun-daun pohon Ban, dan selama kafilah unta masih melangkahkan kaki-kakinya dengan diiringi dendang lagu para penggiringnya. Penulis mengakhiri kasidahnya: No. 159-160&lt;br /&gt;وَأذَن لِسُحْبِ صَلاَةٍ مِنْكَ دَائِمَةٍ   عَلَى  النَّبِىِّ  بِمُنهَلٍ  وَ  مُنْسَـجِمِ&lt;br /&gt;مَارَنحَّتْ عَذَبَاتِ البَانِ رِيحُ صَبَا   وَأَطْرَبَ العِيْسَ حَادِى العِيْسِ بِالنَّغَمِ  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ya Allah Ya Tuhanku.. !]&lt;br /&gt;Perintahkanlah selalu awan rahmat-Mu&lt;br /&gt;Tuk mencurah bagaikan hujan deras&lt;br /&gt;Pada [Muhammad] Nabi [Kekasih-Mu]&lt;br /&gt;[Curahkanlah]..selama angin timur&lt;br /&gt;Menerpa ranting-ranting pohon Ba&gt;n&lt;br /&gt;Dan [selama] penggiring unta&lt;br /&gt;Mendendangkan lagu tuk menghiburnya&lt;br /&gt;Analisis buku ini menggunakan pendekatan struktural (objektif, formal, dan analitis) dengan konsepsi dan kriteria berikut:&lt;br /&gt;a. Karya sastra dipandang dan diperlakukan berdiri sendiri, mempunyai dunia, rangka, dan bentuknya sendiri.&lt;br /&gt;b. Memberi penilaian terhadap keserasian di semua komponen yang membentuk keseluruhan struktur. Mutu karya sastra ditentukan oleh kemampuan menjalin hubungan-hubungan antar komponen tersebut sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna dan bernilai estetik.&lt;br /&gt;c. Memberikan penilaian terhadap keberhasilan penulis menjalin hubungan harmonis antara isi dan bentuk karena amat penting dalam menentukan mutu karya sastra. Ini menghendaki analisis yang objektif sehingga perlu dikaji [diteliti] setiap unsur yang terdapat dalam karya sastra itu. Ia harus berlaku adil terhadap karya sastra dengan cara hanya menganalisis karya sastra tanpa mengikutsertakan hal-hal yang berada di luarnya.&lt;br /&gt;d. Kajian isi struktur adalah pemikiran, falsafah, cerita, pusat pengisahan, dan tema. Sedangkan bentuk adalah alur [plot], bahasa, sistem penulisan, dan perangkat perwujudan sebagai karya tulis. &lt;br /&gt;Buku ini didasarkan pada karya-karya al-Bu&gt;s}i&gt;ry yang terhimpun dalam Di&gt;wān al-Būs}i&gt;ry Syarafuddin Abu&gt; Abdulla&gt;h  Muh}ammad ibn Sa’i&gt;d. Di&gt;wa&gt;n ini diterbitkan Dār al-Kutub al-Ilmiyah pada 1995, disyarah Ahmad Hasan Basj. Sumber lainnya adalah karya Ibra&gt;hi&gt;m al-Ba&gt;ju&gt;ry, Syarh al-Burdah li al-Ima&gt;m al-Bu&gt;si&gt;ry, karya Abdul al-Hama&gt;misy, Al-Bu&gt;si&gt;ry Ma&gt;dih} al-Rasu&gt;l al-A‘zam, Umar Muh}ammad al-Mirgany, Al-Adab fi ‘Asr al-Mama&gt;li&gt;k wa al-Atra&gt;k al-Us|ma&gt;niyyi&gt;n wa al-As}r al-H}adi&gt;s| (Cairo: Mat}ba’ah Al-Azhar, 1955), dan Abdul Lat}i&gt;f Hamzah, Al-Adab al-Misry min  Qiya&gt;m al-Daulah al-Ayyu&gt;biyyah ila&gt; Maji&gt;’i al-H}amlah al-Faransiyah (Cairo: al-Nahd}ah al-Misriyyah, tth.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-8606320422942814854?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/8606320422942814854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=8606320422942814854' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8606320422942814854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/8606320422942814854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/02/wujudkan-cintamu-kepada-rasul-dengan.html' title='WUJUDKAN CINTAMU KEPADA RASUL DENGAN MEMBACA KARYA INI  DAPATKAN SEGERAAA'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-4889000312669260066</id><published>2010-02-26T00:53:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T20:43:15.710-08:00</updated><title type='text'>WUJUDKAN CINTAMU KEPADA RASUL DENGAN MEMBACA KARYA INI  DAPATKAN SEGERAAA</title><content type='html'>WUJUDKAN CINTAMU KEPADA RASUL DENGAN MEMBACA KARYA INI&lt;br /&gt;DAPATKAN SEGERAAA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi adalah bentuk kesusastraan yang paling tua. Karya besar dunia yang bersifat monumental ditulis dalam bentuk puisi. Karya-karya pujangga banyak ditulis dalam bentuk puisi. Nyanyian-nyanyian yang diperdengarkan tidak semata-mata karena irama mempesona yang dilantunkan dengan suara merdu, tetapi isi kandungan dan corak puisinya mampu menghibur manusia. Puisi-puisi cinta banyak didendangkan dan diperdengarkan para penyanyi dan pujangga dalam berbagai kurun waktu. Hebatnya, puisi-puisi semacam itu tidak pernah pudar dan membosankan.&lt;br /&gt;Puisi atau syair merupakan karya sastra yang sangat urgen dan besar pengaruhnya terhadap sikap, tindak, dan kehidupan manusia. Allah SWT menaruh perhatian khusus dengan mencantuman dalam al-Qur’an satu surat yang ke-26 dengan nama al-Syu’ara&gt; (اَلشُّعَرَاء). Disebut demikian karena Allah menyanggah orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penyair dan yang dibawanya adalah syair. Muh}ammad Ali&gt; al-S{a&gt;bu&gt;ny mengatakan :&lt;br /&gt;سُمِّيَت سُوْرَةُ الشُّعَرَاء ِلأَنَّ اللهَ تَعَالَى ذَكَرَ فِيْهَا أَخْبَارَ الشُّعَرَاء رَدًّا عَلَى المُشْرِكِيْنَ فَزَعْمُهُم أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمْ كَانَ شَاعِرًا وَ أَنَّ مَا جَاءَ بِهِ إِنَّمَا هُوَ مِنْ قَبِيْلِ الشِّعْرِ، فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِمْ هَذَا الكَذِبَ وَ البُهْتَانَ بِقَوْلِهِ" وَ الشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الغَاوُوْنَ، أَلمَ تَرَ أَنَّهُمْ فِى كُلٍّ وَادٍ يَهِيمُون. وَ أَنَّهُم يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ" &lt;br /&gt;Dinamai surat al-Syu‘ara&gt; karena Allah menyebut di dalamnya berita tentang para penyair sekaligus menyanggah tuduhan orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah penyair dan yang dibawanya adalah syair. Maka Allah pun menyanggah kebohongan dan kepalsuan itu dengan ayat yang artinya “Dan penyair-penyair itu, diikuti oleh orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di lembah-lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)”? &lt;br /&gt;Sanggahan Allah terhadap tuduhan orang-orang musyrik Arab pada waktu itu tergambar dalam ayat sebagai berikut:&lt;br /&gt;وَ الشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الغَاوُوْنَ، أَلمَ تَرَ أَنَّهُمْ فِى كُلٍّ وَادٍ يَهَيمُون. وَ أَنَّهُم يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ (الشعراء 224-226)&lt;br /&gt;Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di lembah-lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)?  &lt;br /&gt;Penamaan surat ini ditandai dengan disebutnya kata-kata اَلشُُّعَرَاءُ pada bagian akhir surat, tepatnya ayat 224, ketika Allah secara khusus menyebutkan kedudukan para penyair. Para penyair pada zaman itu [Jahiliyah] mempunyai sifat-sifat yang jauh berbeda dengan rasul. Mereka diikuti oleh orang-orang yang sesat dan suka memutarbalikkan lidah, tidak mempunyai pendirian. Perbuatan mereka tidak sesuai dengan ucapan. Sifat-sifat yang demikian itu tidak terdapat pada diri rasul. Oleh karena itu, tidak patut bila Nabi Muhammad saw dianggap sebagai penyair dan al-Qur’an ditengarai sebagai syair. Al-Qur’an adalah wahyu Allah, bukan buatan manusia.  Al-Qur’an bukan syair dan bukan pula prosa. Gaya bahasa dan sastra al-Qur’an berbeda dengan gaya bahasa biasa. Gaya bahasa dan gaya sastra al-Qur’an adalah gaya bahasa dan gaya sastra al-Qur’an itu sendiri. &lt;br /&gt;Pernyataan Allah bahwa Nabi Muhammad saw bukan penyair dan bahwa al-Qur’an merupakan peringatan dan kitab pemberi penerangan, ditegaskan dalam ayat yang berbunyi :&lt;br /&gt;وَ مَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَ مَا يَنْبَغِى لَهُ، إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرٌ وَ قُرْآنٌ مُبِيْنٌ ( يس29)&lt;br /&gt;Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidak layak baginya, al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan penyair yang gemar memutar balikkan lidah, tidak mempuyai pendirian, dan perbuatannya tidak sesuai dengan ucapan adalah penyair Jahiliyah, bukan penyair Muslim. Penyair Muslim tidak demikian, hal ini dijelaskan dalam ayat berikut :&lt;br /&gt;إلاَّ الذِيْنَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَ ذَكَرُوا اللهَ كَثِيرًا وَ انْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا (الشعراء 227)&lt;br /&gt;Kecuali orang-orang [penyair-penyair] yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.  &lt;br /&gt;Berdasarkan ayat di atas jelas bahwa penyair Muslim tidak melakukan apa yang dilakukan penyair Jahiliyah (non Muslim). Bagi orang Arab, syair mempunyai kedudukan yang tinggi dan peranan yang besar. Ah{mad al-Iskandary dan Mus}t}afa&gt; Ina&gt;ny mengatakan bahwa syair adalahدِيوَانُ العَرَب   [buku catatan bangsa Arab].  Artinya bahwa semua aspek kehidupan yang berkembang pada masa tertentu, tercatat dan terrekam dalam syair-syair Arab. Dengan syair, orang-orang Arab dapat memelihara, mencatat, menjaga kehidupan, dan mempertahankan kehormatan. Satu kabilah Arab tidak akan mendapat kehormatan bahkan akan mendapatkan cemoohan, manakala tidak seorangpun di kalangan mereka yang tampil sebagai penyair yang dapat mewakili kabilahnya. Syair dan penyair bagi orang Arab merupakan kebanggaan. Ah}mad al-Iskandary dan Mus}t}afa&gt; Ina&gt;ny mengatakan bahwa kabilah Arab akan merasa sangat bahagia manakala mendapatkan tiga macam kelahiran. Kelahiran seorang anak laki-laki, kelahiran (penobatan) penyair, dan kelahiran anak kuda.  &lt;br /&gt;Ketika seorang penyair muncul (dinobatkan sebagai penyair), mereka mengadakan pesta besar-besaran untuk menyambutnya. Pesta itu mereka lakukan melebihi pesta perkawinan. Mereka menari, menyanyi, dan menyantap macam-macam hidangan mewah. Ah}mad al-Iskandary dan Mustafa&gt; Ina&gt;ny mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَ كَانَت القَبَائِلُ مِن العَرَبِ إِذَا نَبَغَ فِيهَا شَاعِرٌ أتَتِ القَبَائِلُ فَهَنَّأَتْهَا وَ صَنَعَتِ الأَطْعِمَةَ وَ أَتَتِ النِّسَاءُ يَلْعَبْنَ بِالمَزَامِرِ كَمَا صَنَعْنَ بِالأَعْرَاسِ ، وَ يَتَبَاشَرْنَ الرِّجَالَ وَ الوِلْدَانَ ، لأَنَّهُ حِمَايَةٌ ِِلأَعْرَاضَهِمْ ، وَ ذَبّ عَنْ حِيَاضِهِمْ ، و تَخلِيْدٌ لِمُفْتَخَرِهِمْ ، وَ إِشَادَةٌ بِذِكْرِهِمْ ، وَ كَانُوا َلا يَهْنَئُوْنَ إِلاَّ بِغُلامٍ يُوْلَدُ أَوْ شَاعِرٌ يَنْبَغُ أَوْ فَرَسٌ تُنْتَجُ. &lt;br /&gt;Manakala di kalangan kabilah Arab muncul seorang penyair, berdatanganlah kabilah-kabilah lain mengucapkan selamat. Mereka membuat bermacam makanan mewah dan berdatangan pula wanita-wanita (penyanyi) untuk memainkan seruling (alat musik tiup). lni mereka lakukan sebagaimana mereka merayakan pesta perkawinan. Laki-laki, perempuan, muda-mudi berbaur menjadi satu untuk merayakannya. Kelahiran seorang penyair merupakan kehormatan bagi mereka. Seorang penyair adalah pahlawan keluarga dan pembela bangsa. Mereka akan sangat bangga dan bahagia manakala di kalangan mereka lahir seorang anak laki-laki, lahir seorang penyair, dan lahir seekor anak kuda.  &lt;br /&gt;Rasulullah saw adalah sosok manusia yang mencintai seni dan menggemari syair. Beliau mendorong sahabatnya untuk menyusun dan melantunkan syair. Beliau bangga kalau syair dijadikan alat berdakwah dan sarana untuk membukukan ajaran Islam. Beliau mendorong para sahabatnya untuk menjadikan syair sebagai senjata ampuh melawan musuh Islam. Hal ini dilakukan agar umat Islam mendapatkan motivasi dan semangat tinggi dalam menjalankan tugas sucinya, berjihad.  Beliau pernah berkata kepada sahabatnya Hassa&gt;n ibn S|a&gt;bit. (w 54 H)  agar ia membalas celaan orang-orang musyrik, musuh Islam, dengan lidahnya [syairnya] beliau bersabda :&lt;br /&gt;اُهْجُ المُشْرِكِيْنَ وَ جِبْرَائِيْلُ مَعَكَ، إِذَا حَارَبَ أَصْحَابِي بِالسِّلاَحِ فَحَارِبْ أَنْتَ بِاللِّسَانِ (رواه الخطيب وابن عساكر)&lt;br /&gt;Balaslah (wahai H{assa&gt;n) celaan orang-orang musyrik itu, Jibril pasti bersamamu. Kalau sahabat-sahabatku berperang dengan senjata, maka  berperanglah kamu dengan lidahmu (syairmu). (HR Al-Khati&gt;b dan Ibn Asa&gt;kir).&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kalian yang akan membela Islam dan kehormatan orang-orang yang beriman?” Ka‘ab ibn Zuhair menjawab “Aku wahai Rasulullah yang akan membelanya”, Jawab Nabi; “Ya Engkau adalah seorang penyair”. Dalam hal ini Hassa&gt;n ibn S|a&gt;bit berkata, “Aku wahai Rasulullah yang akan membelanya”, Nabi pun menjawab Hassa&gt;n ibn S|a&gt;bit “Ya, balaslah ejekan kaum musyrik itu semoga Jibril menyertaimu”.&lt;br /&gt;Syair-syair Arab klasik (syair Jahili) banyak digunakan untuk tujuan gazal (الغَزل = cinta), risā (الرِثَاء  = ratapan), hija&gt; (الِهجَاء = ejekan), madh} (اَلمدْح = pujian), mufākharah (المُفَاخَرَة = kebanggaan), h}ikmah (الحِكْمَةِ = kata mutiara), mas|al (المَثَل= peribahasa) ‘itiz|a&gt;r (الاِعْتِذَار = berdalih / permobonan maaf), dan lain-lain. &lt;br /&gt;Setelah Islam datang, syair-syair Arab banyak digunakan untuk tujuan keagamaan, seperti sarana dakwah, penyebaran aqidah Islamiyah, sebagai alat kodifikasi ajaran dan ilmu agama Islam,  untuk membangkitkan motivasi umat Islam dan untuk beramal saleh, menyampaikan mauizah h}asanah, dan memuji Rasulullah saw.  	&lt;br /&gt;Syair madh} (شِعرُالَمدحِ) dalam bahasa Indonesia disebut syair pujian, merupakan bentuk syair yang banyak mendapat perhatian para penyair. Syair ini di samping untuk mengungkapkan rasa senang dan cinta terhadap orang yang pernah berjasa atau yang sangat dihormati, merupakan sarana untuk mencari kehidupan (tujuan komersil). Tidak sedikit di antara para penyair yang sengaja menggubah syair madhnya untuk mengharapkan imbalan.  Di zaman khilafah Dinasti Umayyah (661-750 M) dan Abbasiyah (132-656 H/750-1258 M), tidak sedikit di antara penyair yang mampu mengambil hati para khalifah sehingga mereka tidak segan-segan memberikan sejumlah imbalan berupa uang, emas, dan benda berharga lainnya. Bahkan di antara mereka ada yang menerima hadiah berupa ja&gt;riyah (جََاِريَة = gadis). Dengan syair madh{, para penyair banyak yang menjadi kaya, dan bahkan menjadi pejabat tinggi kerajaan setingkat menteri.  &lt;br /&gt;Syair madh} merupakan ungkapan rasa cinta seseorang terhadap siapa saja yang disenangi dan dicintainya. Syair-syair Rabiah al-Adawiyah (135 H/752 M) merupakan model syair madh} yang mengungkap rasa cintanya kepada Allah yang begitu mendalam. Rasa cintanya kepada Allah diungkapkan melalui syair-syair madh}-nya yang begitu lembut, indah, dan menarik. Ia mengungkapkan betapa mendalam cintanya kepada Allah, ia berkata:&lt;br /&gt;أُحِبُّك حُبَّينِ حُبَّ  الهَـوَى 	  وَ حُبًّـا   ِلأَنـَّكَ  أَهْلٌ  لِذَاكَ&lt;br /&gt;فَأَمَّا  الّذِى هُوَ حُبُّ  الهَوَى	  فَشُغْلِى   بِذِكْرِكَ  عَمَّنْ  سِوَاكَ&lt;br /&gt;وَ أَمَا  الَّذِى أَ نْتَ  أَ هْلٌ لَهُ  	  فَكَشْفُكَ لِى الحَجْبَ حَتَّى أَرَاكَ&lt;br /&gt;فَلاَ الحَمْدُ  فِى ذَا أَوْ ذَاكَ لِي	  وَ لَكِنْ  لَكَ  الحَمْدُ ذَا  وَ ذَاكَ &lt;br /&gt;Ku cintai Kau dengan dua macam cinta&lt;br /&gt;Cinta yang murni dan cinta karena Engkaulah yang patut dicintai&lt;br /&gt;Mengenai cinta  murni ialah karena aku senantiasa mengingat-Mu&lt;br /&gt;Dan tak ada yang kuingat selain-Mu&lt;br /&gt;Adapun cinta karena Engkau yang patut dicintai….&lt;br /&gt;Karena Engkau telah mengungkapkan tabir bagiku hingga Engkau dapat kulihat&lt;br /&gt;Baik untuk ini, maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku&lt;br /&gt;Tapi hanya Eugkaulah yang berhak atas pujian itu&lt;br /&gt;Pujian Rabiah al-Adawiyah yang diungkapkan melalui cintanya kepada Allah bukan untuk mendapatkan harta benda sebagaimana penyair-penyair lain. Ia memuji-Nya karena harapan agar ia senantiasa berada di sisi-Nya. Berada di sisi Allah merupakan tujuan utama para sufi.  Syair-syair madh} Rabiah berupa h}ubb ila&gt;hy (cinta Tuhan) yang bercorak sufi. Syair-syair madh} dapat menghilangkan rasa dendam atau benci dan menghibur hati yang sedih. Syair-syair madh} juga dapat menenangkan pikiran yang kusut dan menghibur hati yang kalut. Rasulullah saw pernah mengampuni seseorang yang telah diancam hukuman mati. Ini beliau lakukan karena penyair itu telah melewati batas mencela Islam dan mengejek Rasulullah saw. Ia adalah Ka’ab ibn Zuhair (w. 26 H/645 M). &lt;br /&gt;Ketika Islam datang, Bujer (saudara kandung Ka’ab) masuk Islam. Mendengar berita ini, Ka’ab melarangnya masuk Islam dan bahkan mengejek Rasulullah saw serta mencela Islam. Mendengar perilaku dan tindakan Ka’ab, Rasulullah saw mengancam dengan menghalalkan darahnya. Lalu Ka’ab diperingatkan saudaranya, Bujer, akan adanya ancaman Rasulullah saw, kecuali ia menghadap beliau untuk masuk Islam dan bertaubat. Hal ini sangat menakutkan Ka’ab. Ia berusaha mencari orang yang dapat melindunginya. Akan tetapi usahanya itu sia-sia. Tidak seorangpun di kalangan orang Arab pada waktu itu yang mau mendampingi dan melindunginya. Bahkan sempat tersebar isu bahwa ia telah terbunuh. Karena sangat ketakutan, ia akhirnya datang kepada Abu Bakar al-Shiddiq agar beliau berkenan mendampinginya menghadap Rasulullah saw untuk bertaubat dan masuk Islam. Dengan didampingi Abu Bakar al-Shiddiq dan disaksikan para sababat lainnya Ka’ab ibn Zuhair meminta maaf kepada Rasulullah saw dan bertaubat lalu ia pun masuk Islam.  Permohonan maaf yang disampaikannya kepada Rasulullah saw tertuang dalam kasidah yang dibacakan dihadapan beliau, antara lain berbunyi:&lt;br /&gt;أُبْـئِتُ  أَنَّ  رَسُوْلَ  اللهِ  أَوْعَدَنِى    	وَ العَفْوُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ مَأْمُوْلٌ&lt;br /&gt;مَهْلاً هَدَاكَ الَذِى أَعْطَاكَ نَافِلَةَ الْـ   	قُرْآنِ فِيْهَا مَوَاعِيْظُ وَ تَفْصِيْلُ &lt;br /&gt;Ku dengar selembar kabar&lt;br /&gt;Rasulullah telah mengancam &lt;br /&gt;Maaf untukku darinya   &lt;br /&gt;Sangat kuharapkan  &lt;br /&gt;Tenanglah tenang&lt;br /&gt;Allah telah memberimu petunjuk &lt;br /&gt;Berupa Nafilah Kitab al-Qur’an &lt;br /&gt;Mengandung nasihat petunjuk rinci&lt;br /&gt;Rasulullah saw sangat tertarik oleh kasidah yang dipersembahkannya ini. Seketika, beliau bangkit lalu memberinya hadiah berupa burdah بُرْدَة (semacam baju jubah yang dapat dipakai sebagai selimut).  Karena peristiwa ini, kasidah tersebut diberi nama kasidah Burdah, sebagai tanda penghormatan dan kenangan atas hadiah Rasulullah saw kepadanya. Nama lain kasidah ini adalah بَانَتْ سُعَادُ. Sebuah nama yang diambil dari kata awal bait pertama kasidah tersebut yang berbunyi:&lt;br /&gt;بَانَتْ سُعَادُ فَقَلْبِى اليَوْمَ مَتْبُوْلٌ 	مُتَيّمٌ إثْرَهَا لمَ ْيُفْدَ مَكْبُوْلُ &lt;br /&gt;Kekasihku Su’ad telah pergi&lt;br /&gt;Risau dan sakit hatiku kini&lt;br /&gt;Sakit yang tak dapat terobati&lt;br /&gt;Terbelenggu rasanya hatiku ini &lt;br /&gt;Kasidah lain yang berjudul Burdah adalah karya penyair yang hidup di akhir masa Dinasti Ayyu&gt;biyah dan awal Dinasti Mama&gt;li&gt;k yang berkuasa selama 266 tahun [648-922 H/ 1250-1517 M].  Penyair tersebut bernama Syarafuddi&gt;n Abu&gt; Abdilla&gt;h Muh}ammad ibn Sa’i&gt;d al-Bu&gt;si&gt;ry, lahir di Dalla&gt;s pada 608 H dan hidup hingga dewasa di daerah Bu&gt;si&gt;r. Karena hidup di Bu&gt;si&gt;r inilah kemudian ia dikenal dengan nama al-Bu&gt;si&gt;ry,  dinisbatkan kepada daerah Bu&gt;si&gt;r. Kasidah Burdah yang satu ini merupakan karya sastra yang sangat populer, selalu dibaca dan dikumandangkan di mana-mana, dan mendapat perhatian para pengkaji sastra Arab dan seniman. Kasidah ini banyak diterjemahkan, disadur, dan dikaji orang. Ibra&gt;hi&gt;m al-Ba&gt;ju&gt;ry mengatakan bahwa kasidah Burdah telah disyarah dalam bahasa Arab oleh tujuh belas ulama antara lain :&lt;br /&gt;1.	Syaikh Ali&gt; ibn Muh}ammad al-Bust}a&gt;my&lt;br /&gt;2.	Badruddi&gt;n Muh}ammad ibn Muh}ammad al-Ghazzy&lt;br /&gt;3.	Muh}yiddi&gt;n Muhammad Musta&gt;&lt;br /&gt;4.	Bah}r ibn Rai&gt;s ibn al-Hārūn al-Ma&gt;liky&lt;br /&gt;5.	Abdulla&gt;h ibn Ya’qu&gt;b al-Ghifa&gt;ry&lt;br /&gt;6.	Abdulla&gt;h ibn Ya’qu&gt;b al-Sha&gt;wy&lt;br /&gt;7.	Dan lain-lain &lt;br /&gt;Sedangkan di Indonesia terdapat empat buah karya para ulama yang menulis Burdah, baik berupa saduran, terjemahan, maupun pengantar, mereka adalah :&lt;br /&gt;1.	KH. Dr. Idham Chalid, dengan judul Burdah al-Madi&gt;h} al-Muba&gt;rakah&lt;br /&gt;2.	Abu Farid ibn Umar, dengan judul Burdah Nan Indah&lt;br /&gt;3.	Dr. Talhah Mansur, SH, berjudul Al-Burdah, Al-Kawa&gt;kib al-Durriyyah fi&gt; Madh} Khairil Bariyyah&lt;br /&gt;4.	Ahmad Makky, berjudul Penjelasan Kasidah Burdah&lt;br /&gt;Ah}mad Syauqy Bek, penyair kontemporer Mesir menyusun kasidah dengan corak yang sama atau mirip dengan kasidah Burdah. Ini ia lakukan karena keterpengaruhannya oleh kasidah Burdah. Kasidah yang ia susun berjudul Nahjul Burdah (نَهْجُ البرْدَةِ).  Nahjul Burdah mengandung arti bahwa kasidah ini bercorak/bermetode Burdah. Di Indonesia kasidah Burdah senantiasa dibaca dan dikumandangkan, baik di pesantren, masjid, majelis taklim, madrasah, maupun rumah-rumah penduduk. Di pesantren dan majelis taklim, kasidah Burdah dijadikan literatur pokok. &lt;br /&gt;Secara inklusif, kasidah Burdah menyatu dengan kitab Barzanjy (tentang maulid Nabi Muhammad saw). Perayaan peringatan maulid Nabi Muhammad saw dirasa kurang sempurna manakala tidak dibaca atau tidak didendangkannya kasidah Burdah. Selamatan bayi yang baru lahir dirayakan dengan pembacaan kitab Barzanjy  yang senantiasa dilengkapi dengan kasidah Burdah.&lt;br /&gt;	Di Jawa Timur dan daerah-daerah lainnya di Indonesia, kasidah Burdah merupakan literatur pokok para kiai, ustadz, dan santri. Dapat dipastikan, bahwa sebagian besar keluarga Muslim memiliki kitab Barjanzy yang secara inklusif mengandung kasidah Burdah. Kitab Barzanjy dengan kasidah Burdahnya mereka miliki sebagaimana mereka memiliki kitab suci al-Qur’an. Banyak di antara seniman Muslim yang menjadikan kasidah Burdah sebagai lirik-lirik lagu Arab, seperti kasidahan, orkes gambus, dan lain-lain. Syaikh Ali&gt; al-Minyawy, penyair Mesir, menerbitkan kaset lagu berirama Timur Tengah dengan lirik-liriknya diambil dari kasidah Burdah.  Di awal ataupun akhir pengajian majelis taklim, kasidah Burdah dibacakan bersama-sama di bawah bimbingan guru/ ustadz.  Kasidah Burdah juga menjadi bacaan [wiridan] sehari-hari. &lt;br /&gt;Sebagai karya sastra kasidah Burdah pernah ditampilkan dalam festival antar pesantren se-Jawa Timur. Acara ini diselenggarakan Yayasan Hibatullah pimpinan Sofyan bekerjasama dengan harian pagi Memorandum, Surabaya. Menurut informasi, festival tersebut cukup berhasil dan mendapat perhatian besar dari para pencinta seni bercorak Islam.  &lt;br /&gt;Kasidah Burdah disusun al-Bu&gt;si&gt;ry, dengan tujuan memuji dan menyanjung Rasulullah saw. Ini ia lakukan karena kecintaannya kepada beliau (ِحُبُّ الرَسُوْل ) yang sangat mendalam melebihi cintanya kepada siapapun. Kasidah ini disusun ketika ia menderita sakit yang sangat berat (sebelah tubuhnya lumpuh). Dalam keadaan sakit ia menyusun kasidah yang isinya memuji dan menyanjung Rasulullah saw. Di suatu malam, dalam tidurnya ia mimpi bertemu beliau. Dalam mimpinya ini, beliau memberinya Burdah (بُرْدَة), baju lapang yang bisa dijadikan selimut. Ketika terbangun, ternyata sakit yang selama itu ia alami hilang dan ia pun sehat walafiat seperti semula. Untuk mengenang hadiah dari Rasulullah saw, ia memberi judul kasidah yang disusunnya itu dengan nama Burdah (بُرْدَةْ)  Kasidah Burdah karya al-Bu&gt;-si&gt;ry merupakan karya sastra yang begitu baik, indah, dan mendapat perhatian masyarakat. &lt;br /&gt;Pengaruh kasidah Burdah di Indonesia merupakan wujud nyata adanya pengaruh sastra atau pun syair-syair Arab terhadap sastra dan puisi Indonesia. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa sastra dan bahasa Arab sangat besar peranannya dalam membesarkan dan mengembangkan sastra dan bahasa Indonesia. Pengaruh sastra dan bahasa Arab seperti ini tidak lepas dari pengaruh agama Islam yang secara inklusif bahasa Arab adalah bahasa agama Islam. Tanpa Islam, sastra dan bahasa Arab tidak akan ada dan tidak akan berkembang pengaruhnya dalam bahasa Indonesia. Pengaruh sastra Arab terhadap sastra Indonesia mencakup struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik sastra adalah bahasa. Sedangkan struktur batin sastra adalah isi atau pesan sastra. Sebagai contoh, perhatikan puisi berikut ini:&lt;br /&gt;Sealir Do’a &lt;br /&gt;Ya Rabbi&lt;br /&gt;Betapa hina diri ini&lt;br /&gt;Di depan keagungan-Mu&lt;br /&gt;Betapa papa jasad ini&lt;br /&gt;di depan kunci gudang kekayaan-Mu&lt;br /&gt;Dan betapa kotor hati ini&lt;br /&gt;di depan kesucian-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabbi&lt;br /&gt;Tlah lama kusadari&lt;br /&gt;Akan tebalnya lapisan dosa&lt;br /&gt;noda dan aibku ini&lt;br /&gt;Dan tlah jauh hati kuyakini&lt;br /&gt;Luasnya hamparan permadani kedustaan&lt;br /&gt;keangkuhan dan keteledoranku&lt;br /&gt;Karenanya aku malu menghadap-Mu&lt;br /&gt;Namun di hati masih tersisa&lt;br /&gt;Keyakinan hati yang terpatri&lt;br /&gt;Akan maha luas dan dalamnya&lt;br /&gt;Samudra kasih&lt;br /&gt;dan anggapan-Mu, Ya Rabbi&lt;br /&gt;yang tidak bertepi&lt;br /&gt;apa lagi berdasar pasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabbi&lt;br /&gt;Biarkanlah dosa kebusukanku&lt;br /&gt;terbawa hanyut&lt;br /&gt;gelombang samudra kasih dan ampunan-Mu&lt;br /&gt;   (Nusar Azhar)&lt;br /&gt;Dilihat dari segi struktur fisik (bahasa), puisi Nusar Azhar dengan juduI Sealir Do’a ini sangat nampak keterpengaruhannya oleh sastra/bahasa Arab. Kita lihat kata Rabbi dalam puisi tersebut terucap sampai empat kali dan kata yakin (keyakinan, kuyakini)  terucap dua kali dan kata aib (aibku) terucap satu kali. Dilihat dari struktur batin (isi/pesan sastra) puisi Nusar Azhar ini terpengaruh sastra Arab/Islam. Isi/pesan sastra dalam puisi tersebut berupa keagamaan/keislaman.&lt;br /&gt;Buku ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut: &lt;br /&gt;Siapakah al-Bu&gt;s}i&gt;ry? Apa saja karya-karyanya? Apa itu kasidah Burdah dan bagaimana latar belakang penyusunannya ? Mengapa syair-syair kasidah Burdah memfokuskan pujian kepada Rasulullah saw? Apa yang menyebabkannya menjadi terkenal? Mengapa dikeramatkan orang? Corak sastra apa yang mewarnainya? Apa isi kandungan, ide, dan pesannya? Bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan sastra/syair Arab pada umumnya dan bagaimana perhatian masyarakat pada khususnya?&lt;br /&gt;Permasalahan pokok buku ini adalah corak sastra apakah yang mewarnai kasidah Burdah al-Bu&gt;s}i&gt;ry sehingga menjadi terkenal?  Ini akan menjawab beberapa pertanyaan kita;&lt;br /&gt;a.	Apa yang melatarbelakangi penyusunan kasidah Burdah? &lt;br /&gt;b.	Sejauh mana imajinasi dan emosi yang terkandung di dalamnya?&lt;br /&gt;c.	Apa dan bagaimana ide/pesan serta pikiran yang terkandung di dalamnya? &lt;br /&gt;d.	Bagaimana struktur fisik (الصُوْرَة) yang meliputi stilistika (الأُسْلُوْب), kata-kata (الأَلْفَاظ), aliran (المَذْهَب), keseimbangan pola nada/irama (الوَزْن) dan sajak (القَافِيَة), &lt;br /&gt;e.	Sejauh mana pengaruhnya terhadap perkembangan sastra, dan respons kaum Muslim terhadapnya.&lt;br /&gt;Buku ini dimaksudkan untuk mengetahui dan mengkaji Islam (bidang bahasa dan sastra Arab) dengan mengungkap corak sastra kasidah Burdah karya al-Būsi&gt;ry. Bentuk struktur fisik dan batin kasidah Burdah dianggap sakral dan mempunyai khasiat-khasiat tertentu. Adapun manfaatnya antara lain : &lt;br /&gt;1.	Pelestarian kebudayaan dan apresiasi seni &lt;br /&gt;2.	Pembinaan perkembangan ilmu dan teori sastra &lt;br /&gt;3.	Pembinaan dan pengembangan sastra sebagai media penyiaran agama Islam dan alat kodifikasi ajaran Islam.&lt;br /&gt;Syair merupakan karya sastra yang identik dengan kehidupan keagamaan yang selalu berkembang sejak munculnya agama Islam. Kasidah Burdah berisi syair-syair sanjungan dan pujian kepada Rasulullah saw, maka dijuluki sebagai pemuji nabi dan penyanjung Rasulullah saw.  &lt;br /&gt;Kecintaan al-Bu&gt;s}i&gt;ry kepada Rasulullah saw melebihi cintanya kepada orang lain, sekalipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Ia hidup jauh setelah Rasulullah saw tiada. Cintanya kepada beliau lebih disebabkan oleh iman dan ketaatannya kepada Islam. Al-Bu&gt;si&gt;ry hanya menyusun syair yang berkenaan dengan keagamaan, pujaan, dan pujian kepada Rasulullah saw. Ini terlihat dalam karya-karya syairnya yang terhimpun dalam di&gt;wa&gt;n-nya. Buku ini akan mengulas kasidah Burdah yang merupakan karya sastra/syair puisi lirik. Dalam istilah sastra Arab disebutاَلشِعْرُ الغِنَائِي  yaitu syair yang dapat dijadikan sebagai larik-larik dan lirik-lirik lagu atau dapat dideklamasikan seperti puisi.  Dari segi struktur fisik (stilistika), kasidah Burdah yang berbentuk puisi ini menggunakan bah}r basi&gt;t} (البَحْرُالبَسِيْط). Basi&gt;t} adalah nada dasar yang cocok untuk syair-syair pujian (شِعْرُالمَدْح) syair cinta (شِعْرُالغَزل) dan syair ratap (شُِْعْرُ الرِثَاء ). &lt;br /&gt;Dari segi sajak, kasidah Burdah menggunakan sajak mim (القَافِيَةالمِيْمِيَّة) yaitu huruf-huruf akhir (الرَوِِي) yang terdapat pada setiap baitnya adalah huruf mim. Sementara isi kandungan kasidah Burdah (struktur batin) berupa keislaman yaitu pujian kepada Rasulullah saw yang meliputi :&lt;br /&gt;1.	Nostalgia penyair&lt;br /&gt;2.	Peringatan terhadap bahaya hawa nafsu&lt;br /&gt;3.	Pujian kepada Rasulullah saw&lt;br /&gt;4.	Maulid Nabi Muhammad saw&lt;br /&gt;5.	Mukjizat Nabi Muhammad saw&lt;br /&gt;6. 	Keagungan kitab suci al-Qur’an&lt;br /&gt;7. 	Isra dan mi’raj&lt;br /&gt;8. 	Perjuangan Nabi Muhammad saw&lt;br /&gt;9. 	Permohonan maaf kepada Rasulullah saw&lt;br /&gt;10.Sebuah harapan&lt;br /&gt;Di antara bait-bait syair kasidah Burdah yang populer di masyarakat Indonesia adalah:&lt;br /&gt;34 - مُحَمَّدٌ  سَيِّدُ  الكَوْ نَيْنِ وَالثَّقَلَـ  	يْنِ وَالفَرِيقَيْنِ مِنْ عُرْبٍ وَمِن عَجَمِ&lt;br /&gt;35- نَبِيُّنَا  الآمِرُ  النَّاهِى  فَلاَ  أَحَـدٌ  	 أَبَرُّ   فِى   قَولِ  لاَ مِنهُ  وَ لاَ نَعَم&lt;br /&gt;36 - هُوَ الحَبِيبُ الَذِى تُرجَى شَفَاعَتُهُ  	لِكُلِّ  هَولٍٍٍ  مِنَ  الأَهوَالِ  مُقتَحِمِ&lt;br /&gt;37 - دَعَا إِلَى اللهِ فَالمُسْتَمْسِكُونَ بِهِ  	 مُسْتَمْسِكُونَ بِحَبْلٍ غَيْرَ مُنفَصِمِ    &lt;br /&gt;Muhammad pemimpin dunia dan akhirat&lt;br /&gt;Muhammad pemimpin jin dan manusia&lt;br /&gt;Muhammad pemimpin dua bangsa &lt;br /&gt;Bangsa Arab dan bangsa Ajam&lt;br /&gt;Muhammad Nabi kita ... merintah ‘kan kebaikan&lt;br /&gt;Muhammad Nabi kita ... melarang ’kan kejahatan&lt;br /&gt;Tiada orang yang paling bijak&lt;br /&gt;Ketika berkata..ya..ataupun.. tidak.&lt;br /&gt;Muhammad kekasih Allah&lt;br /&gt;Syafaatnya selalu diharapkan&lt;br /&gt;Di hari yang sangat mencekam&lt;br /&gt;Hari kiamat hari yang menakutkan&lt;br /&gt;Ia ajak orang-orang ‘tuk kembaadali kepada Allah&lt;br /&gt;Maka, barang siapa berpegang kepada-Nya&lt;br /&gt;Berarti ia ia berpegang pada seutas tali &lt;br /&gt;Yang selamanya tak ‘kan terputus &lt;br /&gt;Kasidah Burdah mengandung 160 bait syair yang diawali dengan pernyataan cinta penyairnya. Cinta kepada kekasihnya yang tinggal di lembah Z|i&gt; Salam dekat kota Mekah. Kecintaannya yang begitu mendalam menjadikannya selalu ingat kepadanya. Sang kekasih yang senantiasa ia rindukan dalam kasidah ini menurut sebagian para pakar adalah Nabi Muhammad saw, ia mengungkapkan :&lt;br /&gt;1- أَ مِنْ تَذَكُّرِجِيرَانٍ بِِذِي سَـلَمٍٍٍٍٍ  مَزَجْتَ  دَمْعًا  جَرَى مِنْ مُقلَةٍ بِدَمِ&lt;br /&gt;2-أَم هَبَّتِ الرِّيحُ مِن تِلقَاءِ كَاظِمَةٍ  وَأَوْمَضَ البَرْقُ فِى الظَلمَاءِ مِنْ إِضَمِ &lt;br /&gt;Apakah karena mengenang kekasih &lt;br /&gt;Yang tinggal di lembah Z|i-Salam&lt;br /&gt;Kau campurkan airmatamu dengan darah&lt;br /&gt;Mengalir dari kelopak matamu?&lt;br /&gt;Ataukah karena angin menghembus&lt;br /&gt;    Dari arah gunung Ka&gt;zimah?&lt;br /&gt;Ataukah karena kilat menyambar dari Idami?&lt;br /&gt;Di  kegelapan malam hari?&lt;br /&gt;Kasidah Burdah diakhiri dengan bait syair yang mengekspresikan permohonan penyairnya agar Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad saw selama angin timur masih menerpa daun-daun pohon Ban, dan selama kafilah unta masih melangkahkan kaki-kakinya dengan diiringi dendang lagu para penggiringnya. Penulis mengakhiri kasidahnya: No. 159-160&lt;br /&gt;وَأذَن لِسُحْبِ صَلاَةٍ مِنْكَ دَائِمَةٍ  	عَلَى  النَّبِىِّ  بِمُنهَلٍ  وَ  مُنْسَـجِمِ&lt;br /&gt;مَارَنحَّتْ عَذَبَاتِ البَانِ رِيحُ صَبَا  	وَأَطْرَبَ العِيْسَ حَادِى العِيْسِ بِالنَّغَمِ  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ya Allah Ya Tuhanku.. !]&lt;br /&gt;Perintahkanlah selalu awan rahmat-Mu&lt;br /&gt;Tuk mencurah bagaikan hujan deras&lt;br /&gt;Pada [Muhammad] Nabi [Kekasih-Mu]&lt;br /&gt;[Curahkanlah]..selama angin timur&lt;br /&gt;Menerpa ranting-ranting pohon Ba&gt;n&lt;br /&gt;Dan [selama] penggiring unta&lt;br /&gt;Mendendangkan lagu tuk menghiburnya&lt;br /&gt;Analisis buku ini menggunakan pendekatan struktural (objektif, formal, dan analitis) dengan konsepsi dan kriteria berikut:&lt;br /&gt;a.	Karya sastra dipandang dan diperlakukan berdiri sendiri, mempunyai dunia, rangka, dan bentuknya sendiri.&lt;br /&gt;b.	Memberi penilaian terhadap keserasian di semua komponen yang membentuk keseluruhan struktur. Mutu karya sastra ditentukan oleh kemampuan menjalin hubungan-hubungan antar komponen tersebut sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna dan bernilai estetik.&lt;br /&gt;c.	Memberikan penilaian terhadap keberhasilan penulis menjalin hubungan harmonis antara isi dan bentuk karena amat penting dalam menentukan mutu karya sastra. Ini menghendaki analisis yang objektif sehingga perlu dikaji [diteliti] setiap unsur yang terdapat dalam karya sastra itu. Ia harus berlaku adil terhadap karya sastra dengan cara hanya menganalisis karya sastra tanpa mengikutsertakan hal-hal yang berada di luarnya.&lt;br /&gt;d.	Kajian isi struktur adalah pemikiran, falsafah, cerita, pusat pengisahan, dan tema. Sedangkan bentuk adalah alur [plot], bahasa, sistem penulisan, dan perangkat perwujudan sebagai karya tulis. &lt;br /&gt;Buku ini didasarkan pada karya-karya al-Bu&gt;s}i&gt;ry yang terhimpun dalam Di&gt;wān al-Būs}i&gt;ry Syarafuddin Abu&gt; Abdulla&gt;h  Muh}ammad ibn Sa’i&gt;d. Di&gt;wa&gt;n ini diterbitkan Dār al-Kutub al-Ilmiyah pada 1995, disyarah Ahmad Hasan Basj. Sumber lainnya adalah karya Ibra&gt;hi&gt;m al-Ba&gt;ju&gt;ry, Syarh al-Burdah li al-Ima&gt;m al-Bu&gt;si&gt;ry, karya Abdul al-Hama&gt;misy, Al-Bu&gt;si&gt;ry Ma&gt;dih} al-Rasu&gt;l al-A‘zam, Umar Muh}ammad al-Mirgany, Al-Adab fi ‘Asr al-Mama&gt;li&gt;k wa al-Atra&gt;k al-Us|ma&gt;niyyi&gt;n wa al-As}r al-H}adi&gt;s| (Cairo: Mat}ba’ah Al-Azhar, 1955), dan Abdul Lat}i&gt;f Hamzah, Al-Adab al-Misry min  Qiya&gt;m al-Daulah al-Ayyu&gt;biyyah ila&gt; Maji&gt;’i al-H}amlah al-Faransiyah (Cairo: al-Nahd}ah al-Misriyyah, tth.)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-4889000312669260066?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/4889000312669260066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=4889000312669260066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/4889000312669260066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/4889000312669260066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/02/wujudkan-cintamu-kepada-rasul-dengan_26.html' title='WUJUDKAN CINTAMU KEPADA RASUL DENGAN MEMBACA KARYA INI  DAPATKAN SEGERAAA'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-6571122930586031869</id><published>2010-02-26T00:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T00:48:28.422-08:00</updated><title type='text'>SYAIR-SYAIR CINTA RASUL  Studi Tahlili atas Corak Sastra Kasidah Burdah Karya Al-Busyiry</title><content type='html'>DAPATKAN SEGERA BUKU BARU YANG MENGUNGKAP SYAIR-SYAIR SEBAGAI WUJUD KECINTAAN TERHADAP RASULULLAH; DITULIS OLEH GURU BESAR BAHASA DAN SASRTRA ARAB &lt;br /&gt;HANYA DG 40.000&lt;br /&gt;HUB. 085216099379 / 7419033&lt;br /&gt;DAPATKAN SEGERA persediaan terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYAIR-SYAIR CINTA RASUL&lt;br /&gt;Studi Tahlili atas Corak Sastra Kasidah Burdah Karya Al-Busyiry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. H. Fathurrahman Rauf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puspita Press © 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYAIR-SYAIR CINTA RASUL :&lt;br /&gt;Studi Tahlili atas Corak Sastra Kasidah Burdah &lt;br /&gt;Karya Al-Bu&gt;s}i&gt;ry&lt;br /&gt;©Fathurrahman Rauf&lt;br /&gt;Hak cipta dilindungi undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katalog Dalam Terbitan&lt;br /&gt;viii hlm +  305 hlm. ;  14 x 21 cm&lt;br /&gt;1. Sastra,          Islam   code.....&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-19164-1-7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyunting	: H. Nurhasan, MA&lt;br /&gt;Setting Lay-out	: Feri Cahyadin, SPdI&lt;br /&gt;	  Cecep Nana Supriatna, SHum&lt;br /&gt;Design Cover	: Fathul Ghofur, SE&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penerbit:&lt;br /&gt;Puspita Press&lt;br /&gt;Jl. Ibnu Rusd II No. 157&lt;br /&gt;Pisangan 15419, Ciputat, Tanggerang Selatan&lt;br /&gt;Telp.  : 021.7419033 – 08129177881&lt;br /&gt;E-mail: prof_fathurrahman_rauf@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cet. I :  Ramad}lan 1429 H / September 2008 M &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYAIR-SYAIR CINTA RASUL&lt;br /&gt;Studi Tahlili atas Corak Sastra Kasidah Burdah Karya Al-Bu&gt;s}i&gt;ry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الإهداء : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	لأجل من علّمنى كيف أ مشى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولأجل من علّمنى كيف أقرأ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;) الكا تب(	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buku inI&lt;br /&gt;kupersembahkan kepadA&lt;br /&gt;ibunda dan ayahanda yang telaH&lt;br /&gt;mengajariku Bagaimana cara berjalaN&lt;br /&gt;dan bagaimana cara membacA			&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Terima Kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بسم الله الرّحمن الرّحيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bimbingan, taufiq dan hidayat Allah swt buku yang berjudul SYAIR-SYAIR CINTA RASUL Studi Tahlili Atas Corak Sastra Kasidah Burdah Karya Al-Bu&lt;s{i&lt;ry ini telah tersusun. Buku yang ada di hadapan pembaca budiman ini, berisi mengenai cinta seorang penyair Arab; Al-Bu&gt;s{i&gt;ry, yang dituangkan kedalam syair-syairnya. Pada mulanya buku ini berupa disertasi S3 Pascasarjana UIN Syarif Hidayatllah Jakarta. Karena banyak para pemerhati sastra khususnya sastra Arab dan banyak mahasiswa yang datang kepada penulis untuk mendapatkan informasi ilmiyah mengenai syair-syair Arab khususnya syair-syair Al-Bu&gt;s}i&gt;ry, disertasi ini diupayakan untuk segera dipublikasikan. Dan bertepatan bulan Ramadlan 1429 buku ini terbit, dengan harapan dapat bermanfaat khususnya bagi para pemerhati sastra dan agama. &lt;br /&gt;Untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih atas amal baik para ilmuan yang telah banyak membantu penulis dalam penyelesaian karya ini, terkhusus kepada Prof. Dr. H. Bustami A. Gani, Prof. Dr. Harun Nasution,   Prof. Dr. H. M. Yusuf Adisasmita, M. Pd., dan Prof. Dr. H. Chatibul Umam. Do’a kami semoga amal baik mereka diterima oleh Allah swt. Amin ya Rabbal’alamin.&lt;br /&gt;Kepada H. Nurhasan, MA penulis juga menyampaikan banyak terimakasih atas upanyanya menyunting buku ini, semoga amal baiknya mendapat balasan yang setimpal dari Allah saw. Tak lupa kepada Sdr. Feri Cahyadin, SPdI, Cecep Nana Supriatna, SHum, dan Sdr. Fathul Ghafur yang telah berupaya menerbitkan buku ini. &lt;br /&gt;    Akhirnya, kepada Allah jualah penulis menyampaikan syukur atas segala nikmat dan karuniaNya, dan kepadaNya pula penulis mohon petunjuk dan ridaNya dalam segala tindakan. Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;					Penulis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Isi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Terima Kasih		&lt;br /&gt;Daftar Isi 	 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kesatu &lt;br /&gt;Pendahuluan 	&lt;br /&gt;Latar Belakang 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kedua 	 &lt;br /&gt;Suasana Kehidupan di masa Al-Bu&gt;s}i&gt;ry 	&lt;br /&gt;Kehidupan Politik 	&lt;br /&gt;Kehidupan Agama 	&lt;br /&gt;Kehidupan Ilmu Pengetahuan 	&lt;br /&gt;Kehidupan Sastra 		&lt;br /&gt;Kehidupan Pemikiran 	 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Ketiga &lt;br /&gt;Riwayat Hidup Al-Bu&gt;s}i&gt;ry 	&lt;br /&gt;Kelahiran dan Asal Usul 	&lt;br /&gt;Latar Belakang Keluarga 		&lt;br /&gt;Pendidikan 		&lt;br /&gt;Keagamaan 		&lt;br /&gt;Tasawuf 	 &lt;br /&gt;Karakter 	&lt;br /&gt;Karya Sastra 	&lt;br /&gt;Akhir Hayat 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;Corak Sastra 	&lt;br /&gt;Pengertian Sastra 	&lt;br /&gt;Aliran-Aliran Sastra 	&lt;br /&gt;Macam-Macam Sastra 	&lt;br /&gt;Syair 	&lt;br /&gt;Prosa 	&lt;br /&gt;Sejarah Sastra 	&lt;br /&gt;Unsur-Unsur Sastra 	&lt;br /&gt;Fungsi Sastra 	&lt;br /&gt;Isi Kandungan Sastra 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;Analisis Kasidah Burdah/Syair-Syair Cinta Rasul 	&lt;br /&gt;Latar Belakang Penulisan Kasidah Burdah 	&lt;br /&gt;Aliran dan Fungsi Kasidah Burdah 	&lt;br /&gt;Ide-Ide Kasidah Burdah 	&lt;br /&gt;Struktur Gaya Kasidah Burdah 	&lt;br /&gt;Pengaruh dan Apresiasi Kasidah Burdah 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian Keenam&lt;br /&gt;Kesimpulan 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka 	248&lt;br /&gt;Lampiran-Lampiran:&lt;br /&gt;Lampiran 1: Naskah Kasidah Burdah &lt;br /&gt;                      dan terjemahannya 	.....&lt;br /&gt;Lampiran 2: Transliterasi Arab-Latin	.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi Penulis	.....&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-6571122930586031869?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/6571122930586031869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=6571122930586031869' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6571122930586031869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/6571122930586031869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/02/syair-syair-cinta-rasul-studi-tahlili.html' title='SYAIR-SYAIR CINTA RASUL  Studi Tahlili atas Corak Sastra Kasidah Burdah Karya Al-Busyiry'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-3032228744736960720</id><published>2010-02-25T20:02:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T20:03:26.132-08:00</updated><title type='text'>TEOLOGI MAULID</title><content type='html'>TEOLOGI MAULID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Maulid&lt;br /&gt; Maulid secara generik bermakna kelahiran seorang manusia yang bernama Muhammad di Arab pada abad ke-6 M. Jika demikian, Maulid merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja, tidak memiliki nilai lebih. Sekalipun ia sering diperingati oleh umat Islam, namun tak lebih dari pesta, festival, kemegahan dan kemerihaan. Maulid menjadi semacam ritual yang tidak memiliki pesan dan makna apa-apa. Ia ibaratnya sebuah pesta ulang tahun yang dirayakan setiap tahun. Tak ada makna yang cukup signifikan.&lt;br /&gt; Akan tetapi, jika kita teliti lebih mendalam, sebenarnya ada sejuta makna yang terkandung dalam peristiwa ini. Yakni merefleksikan kembali kehidupan Muhammad, tingakh laku beliau, sumbangan-sumbangan beliau pada dunia, perubahan serta perjuangannya yang selalu setia digaris perjuangan rakyat. Dunia tidak akan seperti yang kita alami sekarang tanpa ada kelahiran seorang Muhammad.&lt;br /&gt; Jika mengikuti cerita pendek diatas, hikmah yang dapat diambil dari cerita diatas adalah-salah satunya–tabah dan sabarnya menahan segala cobaan. Meskipun ia hidup yatim, namun sikapnya selalu menjadi contoh dan suri tauladan (uswatun hasanah). Bahkan kejujuran yang dimilikinya membuat beliau sukses dalam bisnis. Ini barangkali yang membedakan dengan masa sekarang. Pada masa sekarang, untuk meraup hasil atau laba yang banyak, mereka harus mempromosikan dengan menggombal dan berbohong kepada konsumen. Muhammad justru karena kejujurannya mampu menarik konsumen sebanyak mungkin.&lt;br /&gt; Selain itu, Muhammad adalah orang yang tekun dan kreatif. Meskipun yatim, namun beliau cukup kreatif, produktif. Dengan penuh semangat dan tanpa mengenal lelah, beliau membantu pamannya mencari penghidupan. Semangat hidup mandiri mulai muncul sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Tradisi Maulid&lt;br /&gt; Untuk pertama kalinya peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW diperkenalkan oleh seorang penguasa dinasti Fatimiyyah (909- 1170 M). Mauludan diselenggarakan secara massal, meriah dan semarak di berbagai masjid belahan negeri itu. Peringatan ini awalnya bertujuan politis, yakni menegaskan kepada khalayak bahwa penguasa dinasti Fatimiyyah betul-betul keturunan ahl bait Rasulullah SAW. Bagi dinasti tersebut, penegasan genealogis ini penting untuk mengeliminasi pihak-pihak yang ingin merebut kembali kekuasaannya.&lt;br /&gt; Mauludan sejak awal memang sarat muatan politik karena didukung fakta terjadinya perebutan pengaruh dan kekuasaan antara kaum Sunni dan Syiah. Mauludan dijadikan sebagai alat politik untuk menanamkan doktrin bahwa Fatimiyyah adalah dinasti yang cinta nabi dan keturunan nabi sehingga sah sebagai pemegang kekuasaan umat Islam.&lt;br /&gt; Peringatan ini sudah memantik kontroversi sejak mula. Banyak sekali ulama yang mendukung ritus ini, namun tidak sedikit pula yang menolaknya. Yang menerima atau menolak sama-sama memperkuat pendapatnya melalui dalil yang diyakini keabsahannya. Dalil naqli (nash Alquran dan hadits) dibeber, dalil aqli juga dikemukakan. Oleh penguasa berikutnya, peringatan ini dilarang karena menimbulkan pro dan kontra serta membelah masyarakat menjadi dua kubu. Pokok kontroversinya terletak pada legitimasi teologis bahwa peringatan Maulid tidak pernah dianjurkan oleh Alquran maupun hadits.&lt;br /&gt; Larangan penguasa dan pengharaman oleh ulama tidak malah meredupkan peringatan Maulid. Justru sebaliknya, maulid berubah menjadi perayaan besar yang diselenggarakan hampir di seluruh dunia Islam. Gubernur wilayah Irbi di masa pemerintahan Salahuddin al- Ayyubi, yang bernama Abu Sa"id al-Kokburi telah berjasa mempopularkan kembali tradisi Maulid. Tujuannya untuk membangkitkan pan-Islamisme dan semangat keagamaan umat Islam yang sedang terancam serangan tentara Salib.&lt;br /&gt; Tahun 1099 M, tentara Salib berhasil merebut Yerussalem dan menyulap masjid al-Aqsa menjadi gereja. Umat Islam kehilangan semangat berjuang dan ukhuwah juga menurun. Secara politik, kekuasaan umat Islam terpecah menjadi dinasti- dinasti kecil. Kata Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan mereka pada nabinya. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar 12 Rabi"ul Awwal, hari lahir Nabi Muhmmad, agar dirayakan secara massal.&lt;br /&gt; Pada musim haji tahun 579 H (1183 M), Salahuddin sebagai penguasa Haramain mengeluarkan instruksi kepada jama"ah haji yang pulang ke kampung halaman untuk menyosialisasi perayaan maulid ini. Sejak tahun 580 H (1184 M), 12 Rabi"ul Awwal dijadikan awal peringatan maulid secara massal dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.&lt;br /&gt; Gagasan Salahuddin ditentang banyak ulama. Ulama mengatakan, peringatan seperti itu tak pernah ada contohnya dalam sejarah Nabi. Lagi pula, hari raya resmi umat Islam hanya dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Tapi Salahudin bergeming bahwa Maulid hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan ritual. Sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai bid"ah yang terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda pandangan: Menyikapi dengan Arif&lt;br /&gt; Tradisi Maulid telah melahirkan kontroversi sejak awal. Di masa perjuangan Indonesia, tradisi ini juga memantik pro dan kontra antara Islam modern dan Islam tradisional. Ketegangan sempat meredup cukup lama, namun sekarang kembali muncul ketika beberapa ormas Islam yang baru lahir menjadikan masalah khilafiyyah ini sebagai target dakwah.&lt;br /&gt; Dukungan atas peringatan maulid berasal dari kalangan Syafi "iyyah. Al-Suyuti misalnya, menulis buku berjudul Husn al- Maqsid fi "Amal al-Maulid untuk mengesahkan maulid. Yang promaulid sadar bahwa peringatan ini jelas tidak memiliki dasar hukum dalam Alquran dan tidak pula dicontohkan oleh Rasulullah. Maulid adalah tradisi yang menggabungkan antara nilai-nilai agama dan budaya masyarakat. Karena cintanya sehingga mereka selalu memuji dan bershalawat kepada nabinya. Inti dari peringatan maulid dan bacaan al-Barjanzi sebenarnya adalah salawat itu sendiri.&lt;br /&gt; Jika demikian, tradisi maulid - yang di dalamnya berisi pujian kepada Rasulullah- sebenarnya berakar pada perintah Allah SWT untuk bersalawat kepada nabi-Nya (al-Ahzab:56). Embrio tradisi ini telah diperkenalkan oleh tiga penyair resmi Rasulullah, yaitu Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah dan Ka"ab bin Malik. Diriwayatkan bahwa Nabi sangat terkesan setelah menderngar pujian yang disampaikan Ka"ab. Kemudian Rasulullah menghadiahkan burdahnya dan mengalungkan ke pundak Ka"ab sebagai apresiasi kepadanya.&lt;br /&gt; Pujian-pujian, baik dalam bentuk syair maupun prosa, melahirkan genre sastra yang unik dengan karakter ritme persajakan yang dalam sastra Arab disebut al-madaih alnabawiyyah. Sanjungan kepada nabi diungkapkan dengan bahasa metaforik, simbolik dan berkarakter seni tinggi. Pujian dan sanjungan kepada nabi dalam al-Barjanzi, al- Diba atau al-Burdah, meliuk penuh majaz, ritmis dan tentu sangat indah bagi yang memahami. Tetapi inti dari dukungan terhadap peringatan maulid sebenarnya terletak pada konsep syafa"at (pertolongan) Nabi Muhammad kelak di hari akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulid dalam Tradisi Awal&lt;br /&gt; Nabi telah lahir, namun disayangkan, Allah swt telah dengan cepat memanggil para agamawan yang menjadi â€œsaksi pentingâ€? kebenaran Muhammad s.a.w ke sisi-Nya. Seolah-olah sebuah drama yang penuh liku, sedikit demi sedikit, para agamawan yang diharapkan kesaksiannya telah wafat. Tidak bisa dibayangkan, andaikata para agamawan ini, dan segenap murid serta keturunannya, masih hidup serta senantiasa mengikuti perkembangan bayi Nabi Muhammad saw hingga pada usia-usia dewasa dan kenabian, tentu sejarah akan berbicara lain. Diriwayatkan oleh Umar bin Khatthab r.a., beliau berkata : saya bersama Rasulullah s.a.w sedang duduk-duduk. Rasul s.a.w. bertanya kepada para sahabat, "Katakan kepadaku, siapakah yang paling besar imannya?" Para sahabat menjawab; 'Para malaikat, wahai Rasul'. Nabi s.a.w bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. Sahabat menjawab, “Para Nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah s.w.t, wahai Rasul”. Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. Sahabat menjawab lagi, “Para syuhada yang ikut bersyahid bersama para Nabi, wahai Rasul”. Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. &lt;br /&gt;“Lalu siapa, wahai Rasul?”, tanya para sahabat.&lt;br /&gt;Lalu Nabi s.a.w. bersabda, “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman”. [Musnad Abî Ya’lâ, hadits nomor 160].&lt;br /&gt; Waktu yang ditunggu-tunggu itu belum datang juga, namun beberapa orang masih terus mencari. Mereka menelusuri ujung-ujung kota Mekkah. Dari satu tempat ke tempat lain, orang-orang yang merindukan kehadiran seorang pembebas itu tak lupa bertanya kepada orang-orang yang mereka jumpai di setiap tempat. Mereka bertanya begini kepada setiap orang, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Namun tak seorang pun mengiyakan pertanyaannya. Orang awam tentu tidak memahami maksud pertanyaan itu, namun orang-orang itu tidak juga berhenti untuk mencari dan menanyakan dimana gerangan bayi laki-laki yang dilahirkan. Semuanya ini dilakukan untuk membuktikan kepercayaan yang selama ini diyakininya. Bahwa dunia yang telah rusak sedang menanti kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu pagi. &lt;br /&gt; Sebagaimana aktifitas yang telah diberlakukan semenjak zaman nabi Ibrahim a.s, setiap bayi yang lahir pada saat itu segera di-thawaf-kan. Ini tidak lain untuk mendapatkan hidup yang penuh barokah, yakni bertambahnya kebaikan lahir dan batin, serta mengharapkan kemuliaan dan petunjuk dari Allah s.w.t. Tidak terkecuali bagi seorang sayyid Abdul Muththalib, yang terkenal masih bersih dalam urusan teologi. Begitu mengetahui cucu laki-lakinya lahir, maka segeralah beliau membawa bayi itu menuju Ka’bah, lalu Thawaf, membawa bayi itu mengelilingi Ka’bah tujuh kali sambil berdoa kepada Allah s.w.t.&lt;br /&gt; Tepat sesaat setelah sayyid Muththalib memasuki rumah setelah men-thawaf-kan cucunya, lewatlah seseorang yang selama beberapa hari ini mencari kelahiran seorang bayi laki-laki. Saat itu, orang yang sudah cukup tua tersebut masih menanyai kepada setiap orang yang dia temui, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Pada saat itulah sayyid Muththalib menyadari ada seorang tua yang mencari bayi laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipanggilnya orang tua itu, lalu beliau berkata kepadanya, “Saya punya bayi laki-laki, tapi, tolong katakan, apa kepentingan anda mencari bayi laki-laki?”.&lt;br /&gt; “Saya ingin melihat bayi laki-laki yang baru lahir. Itu saja”, jawab orang tua tersebut yang sekonyong-konyong muncul semangat baru dalam dirinya. Tanpa memberikan kesulitan apapun, sayyid Muththalib mempersilahkan orang tua itu masuk ke rumahnya untuk melihat bayi yang dimaksud.&lt;br /&gt; Apa yang terjadi saat orang tua itu melihat bayi yang ditanyakannya, adalah hal yang tidak pernah dibayangkan oleh sayyid Muththalib. Sang sayyid memang tidak pernah berpikir apa pun. Sebagai layaknya seorang kakek yang berbahagia mempunyai cucu, beliau cukup bersyukur sang cucu dilahirkan dalam keadaan sehat wal afiat. Namun, bagi orang tua yang sedang mencari sesuatu itu tidak demikian. Begitu melihat bayi dan menemukan ciri-ciri sebagaimana disebutkan dalam kitab yang dia baca, serta informasi dari orang-orang terdahulu, orang tua itu berseru, “Benar, benar sekali ciri-cirinya, inilah bayi yang akan menjadi Nabi akhir zaman kelak…”. Dalam kebengongan sayyid Muththalib, pingsanlah orang tua yang selama ini mencari-cari bayi laki-laki tersebut, lalu wafat pada saat itu juga. &lt;br /&gt; Orang-orang yang mencari bayi laki-laki saat itu, termasuk seorang tua yang akhirnya mendapatkannya dan pingsan, adalah para agamawan yang meyakini akan kehadiran seorang Nabi akhir zaman. Mereka sangat teguh memegang berita akan kemunculan nabi akhir zaman ini. Semakin kuat keyakinan mereka, semakin mereka meninggalkan urusan-urusan dunianya guna menanti atau mencari nabi akhir zaman itu. Penantian nabi akhir zaman itu, selain berkat informasi dari kitab-kitab mereka, saat itu, mereka juga sangat merasakan bahwa keadaan membutuhkan kehadiran sang Nabi. &lt;br /&gt; Sedang sang bayi yang ditunggu adalah bayi Muhammad Shalla-llâhu ‘alayhi wa sallama, bayi yang kelak menjadi nabi terakhir.&lt;br /&gt; Demikianlah, akhir dari kisah pencarian pendeta-pendeta serta segenap agamawan pada zaman pra Nabi Muhammad s.a.w. Pencarian atas apa yang diisyaratkan dalam kitab-kitab mereka, bahwa akan diutusnya nabi akhir zaman untuk meluruskan kembali aqidah-aqidah yang telah bengkok. &lt;br /&gt; Dari kisah ini, kita mengetahui betapa pada waktu itu masyarakat mengelu-elukan kehadiran Nabi Muhammad s.a.w. ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128). Hampir setiap kaum tahu bahwa ketika situasi sudah sangat rusak, nabi akhir zaman akan muncul. Namun, dari mana dia lahir, hal itu yang tidak pernah diketahui secara pasti. Yang diketahui pada saat itu adalah ciri-ciri tempat, posisi bintang, ciri-ciri bayi, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt; Dalam kitab-kitab lama, ciri-ciri tersebut ditulis secara jelas. Hingga masyarakat yang membaca kitab-kitab itu pun akan mengetahui pula. Tidak sekedar mengetahui, tapi mereka juga berkeinginan untuk dekat dengan nabi akhir zaman tersebut. &lt;br /&gt; Salah satu yang diimpikan oleh berbagai kaum saat itu, adalah harapan agar nabi akhir zaman itu muncul dari keturunannya. Hal demikian tentu sangat manusiawi. Maka, untuk mewujudkan impian itu, banyak kaum yang melakukan migrasi dari kampung halamannya, untuk mencari tempat yang disebutkan ciri-cirinya oleh kitab-kitab lama. &lt;br /&gt; Ada beberapa tempat yang saat itu menjadi pilihan para pencari nabi akhir zaman. Tempat-tempat itu antara lain adalah Mekkah, Madinah (Yathrib) serta Yaman. Salah satu dari tiga tempat itu diyakini menjadi tempat nabi akhir zaman dilahirkan. Banyak juga para agamawan yang menduga nabi akhir zaman masih akan muncul dari kawasan Jerusalem atau Damaskus.&lt;br /&gt; Untuk kasus Mekkah, orang-orang atau kaum non Quraisy yang minoritas adalah kaum pendatang yang sengaja tinggal di Mekkah untuk menanti kedatangan nabi akhir zaman. Sedangkan kasus migrasi di Madinah, orang-orang Yahudi-lah yang banyak menempati kota tersebut waktu itu. Suku bangsa seperti Bani Nadhir, Quraizah, Qainuqa’ dan suku-suku kecil lainnya, yang sering muamalahnya menghiasi sejarah Islam dan târîkh Nabi s.a.w, adalah keluarga-keluarga Yahudi yang bermigrasi dari berbagai kawasan, baik dari Jerusalem, Yaman, maupun yang lainnya, ke daerah Madinah untuk menanti nabi akhir zaman. Migrasi-migrasi itu terjadi dengan harapan nabi akhir zaman muncul dari keturunan mereka, selain, tentunya, mengharapkan barokah tadi. Migrasi ke Madinah ini dilakukan sudah cukup lama, setidaknya mereka telah mendiami Madinah sekitar 100 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad s.a.w.&lt;br /&gt; Banyak sekali suku-bangsa yang percaya akan datangnya nabi akhir zaman. Mulai dari Ethiopia (Al-Habsyi) hingga Damaskus (Dimasyqa), serta dari Yaman hingga negeri-negeri Rusia. Semuanya menanti kedatangannya.&lt;br /&gt; Sang nabi akhir zaman itu telah lahir. Namun, sangat disayangkan, Allah s.w.t telah dengan cepat memanggil para agamawan yang menjadi “saksi kunci” kebenaran Muhammad s.a.w ke sisi-Nya. Seolah-olah sebuah drama yang penuh liku, sedikit demi sedikit, para agamawan yang diharapkan kesaksiannya telah wafat. Tidak bisa dibayangkan, andaikata para agamawan ini, dan segenap murid serta keturunannya, masih hidup serta senantiasa mengikuti perkembangan bayi Nabi Muhammad s.a.w. hingga pada usia-usia dewasa dan kenabian, tentu sejarah akan berbicara lain. &lt;br /&gt; Memang, kasus-kasus wafatnya para agamawan setelah melihat tanda-tanda adanya kenabian, seperti yang terjadi pada orang tua itu, bukanlah yang pertama kali. Dalam rekaman sejarah, banyak sekali informasi yang membahasnya, bahkan sejak zaman sayyid Abdullah—ayahanda Nabi Muhammad s.a.w.—belum menikah dengan sayyidah Aminah, dan juga pada masa-masa dalam kandungan sayyidah Aminah. Hingga pada suatu waktu di kemudian hari, tepatnya 40 tahun setelah kelahiran nabi, sejarah juga kehilangan seorang agamawan-monotheis yang informasi spiritualnya sangat berharga bagi keberlangsungan keyakinan terhadap adanya nabi akhir zaman.&lt;br /&gt; Dalam hadits yang diriwayatkan sayyidah ‘Aisyah r.a. disebutkan bahwa setelah mendapatkan wahyu, sayyidah Khadîjah r.a.—bersama nabi—mendatangi pamannya, Waraqah bin Naufal, untuk meminta advis atas apa yang baru saja terjadi pada nabi. Waraqah bin Naufal adalah seorang agamawan ahli kitab suci. &lt;br /&gt; Setelah Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan semua yang terjadi kepada beliau—di gua hira itu—langsung saja Waraqah terperanjat dan menjawabnya,”Itu adalah Namûs yang diturunkan Allah s.w.t. kepada Musa a.s. Ya Tuhan, semoga saja aku masih hidup ketika orang-orang mengusir nabi ini…”. &lt;br /&gt; Waraqah tahu, bahwa yang menemui Nabi Muhammad s.a.w adalah Namûs, alias malaikat Jibril a.s., yang pernah menemui Nabi Musa a.s. dulu. Pengakuan Waraqah ini mirip dengan peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemudian, saat Nabi Muhammad s.a.w. membacakan ayat al-Qur’an di hadapan jin, maka jin itu berkomentar, “Mereka berkata, ’Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (yaitu al-Qur'an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. [QS. 46:30]. &lt;br /&gt; Dan Waraqah tahu, bahwa yang ada di depannya saat itu adalah seorang nabi, yang di kemudian hari akan diusir oleh kaumnya sendiri dari tanah kelahirannya. Tapi, harapan Waraqah untuk menjadi saksi perilaku orang-orang terhadap Nabi Muhammad s.a.w. tidak kesampaian. Beberapa hari setelah itu, beliau wafat. Untuk ke sekian kalinya, Allah s.w.t memanggil hambanya yang bisa menjadi “saksi spritiual” atas kenabian Muhammad s.a.w. Tapi, itulah, Allah s.w.t tentu memiliki kehendak-kehendak tersendiri yang tidak pernah kita ketahui. &lt;br /&gt; Dengan wafatnya beberapa agamawan yang menjadi saksi kebenaran kelahiran sang nabi, terputus pula informasi-informasi ini. Situasi informasi tentang nabi akhir zaman kembali ke titik nol. Namun inti berita yang ada dalam kitab-kitab tentang akan diutusnya nabi akhir zaman saat itu masih ada. Karena realitas teologis memang membutuhkannya. Hanya berita ini yang telah diketahui oleh para agamawan di berbagai tempat, sebagaimana berita akan kelahirannya. Dan mereka hanya bisa memegang keyakinannya, tanpa ada kemampuan untuk mencarinya, sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka menemukan waktu saat-saat dilahirkannya Nabi Muhammad s.a.w. Nampaknya, agamawan yang baru membaca kitab-kitab suci itu lebih percaya bahwa nabi akhir zaman sudah benar-benar lahir di dunia ini. &lt;br /&gt; Memang banyak ditemukan beberapa anak laki-laki yang memiliki nama Ahmad atau Muhammad pada masa pra kenabian. Menamakan Ahmad atau Muhammad karena orang tuanya sangat berharap anaknya menjadi nabi. Tetapi, para agamawan tentu sudah memiliki wasilah atau cara tersendiri untuk menentukan “validitas stempel” yang ada pada seorang nabi, apa lagi nabi akhir zaman. Maka, mereka tinggal menanti detik-detik kedatangan risalah dan deklarasi kenabian sang nabi akhir zaman itu. &lt;br /&gt; Secara umum, bisa dikatakan bahwa kebanyakan para agamawan saat itu sudah mengetahui bahwa nabi akhir zaman akan diturunkan dari keluarga tertentu, dan di tempat tertentu. Ada saja yang mengetahui, atau setidaknya meyakini, bahwa nabi akhir zaman itu muncul dari keluarga Bani Hasyim, di daerah Mekkah, dan lain sebagainya. Ini misalnya terjadi kepada seorang pedagang dari Mekkah yang berjulukan Atîq, saat berdagang ke Yaman. Sebagai pedagang yang juga intelektual, kemana pun pergi beliau tidak lupa untuk berkunjung ke kalangan agamawan. &lt;br /&gt; Saat beliau menemui seorang agamawan di Yaman, dan beliau ditanya tentang asal daerah serta dari keluarga apa, maka setelah mendapatkan jawaban, sang agamawan itu menyatakan, “Nanti akan ada nabi akhir zaman dari daerah kamu dan dari keluarga kamu”. Beliau—Atîq—percaya atas informasi yang disampaikan agamawan Yaman itu. Begitu sang nabi muncul dan mendakwahkan kembali ajaran-ajaran Tauhîd [monotheisme] yang hilang, dia –Atîq– pun segera bersaksi atas kebenaran ajaran itu. Beliau menjadi laki-laki pertama yang membenarkan risalah yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Saat masuk Islam itu, beliau mengganti nama menjadi Abû Bakar, yang kelak menjadi sahabat utama sang nabi akhir zaman dan mendapatkan gelar Ash-Shiddîq, yang senantiasa membenarkan. Ini adalah jawaban atas pertanyaan, kenapa Abû Bakar r.a. selalu saja membenarkan kebenaran Muhammad.&lt;br /&gt; Dalam al-Qur’an, Allah s.w.t. berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?". Mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. [QS. 3:81]&lt;br /&gt; Para nabi berjanji kepada Allah s.w.t. bahwa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya. Namun, manusia selalu melakukan penentangan terhadap keputusan-keputusan Allah s.w.t. Para manusia itu ingkar, sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an, “Dan setelah datang kepada mereka Al Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka—maksudnya kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya—, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”.(QS. 2:89)&lt;br /&gt; Itulah manusia yang sangat tidak beruntung dengan melakukan penolakan terhadap kenabian Muhammad s.a.w. Maka, sangat tepat jika Nabi Muhammad s.a.w. bersabda dalam hadits yang penulis nukil pada permulaan di atas. Bahwa orang yang menjadi saudara Nabi s.a.w. adalah orang yang tidak pernah melihat Nabi s.a.w. namun percaya akan kenabian dan selalu membenarkan sabda-sabda beliau. Orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi s.a.w. tapi selalu membenarkan beliau itulah yang merupakan orang-orang paling utama di antara orang-orang beriman. Ya Allah, tetapkanlah kami untuk selalu beriman kepada-Mu dan kepada Nabi-Mu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9032071408640911084-3032228744736960720?l=hasanibanten.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hasanibanten.blogspot.com/feeds/3032228744736960720/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9032071408640911084&amp;postID=3032228744736960720' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3032228744736960720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9032071408640911084/posts/default/3032228744736960720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hasanibanten.blogspot.com/2010/02/teologi-maulid.html' title='TEOLOGI MAULID'/><author><name>DR. Hasani Ahmad Said, M.A.</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12261166952990981295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_gExn6YE0pPc/Sjhn1RQiBkI/AAAAAAAAABM/JgZTyCjhSQM/S220/10112007(004)-001.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9032071408640911084.post-1189899309720623653</id><published>2010-02-24T16:59:00.000-08:00</published><updated>2010-02-24T17:01:02.977-08:00</updated><title type='text'>Mengenal terminologi Manhaj Salaf, salafi dan salafiyah</title><content type='html'>Mengenal terminologi Manhaj Salaf, salafi dan salafiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yeng telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membangkitkan para sahabat sebagai pendamping dan pembela dakwah beliau. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad, keluarga dan para pengikutnya yang setia hingga akhir masa. Amma ba’du. Kaum muslimin sekalian, semoga Allah melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita. Seringkali masyarakat dibingungkan oleh sebuah istilah yang belum mereka mengerti dengan baik. Nah, dibangun di atas kebingungan inilah kemudian muncul berbagai persangkaan dan bahkan tuduhan bukan-bukan kepada sesama saudara seiman. Perlu kita ingat bersama bahwa cek dan ricek merupakan bagian dari keindahan ajaran Islam yang harus kita jaga. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman jika orang fasik datang kepada kalian membawa berita maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al Hujuraat: 6) (Silakan baca penjelasan ayat ini di dalam rubrik Tafsir Majalah As Sunnah Edisi 01/Thn X/1427 H/2006 M, hal. 11-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara sekalian, di hadapan kita ada sebuah istilah yang cukup populer namun sering disalahpahami oleh sebagian orang. Istilah yang dimaksud adalah kata salaf atau salafi dan salafiyah. Menimbang pentingnya hakikat permasalahan ini untuk diungkap dan dijelaskan maka kami memohon pertolongan kepada Allah ta’ala untuk turut berpartisipasi mengurai “benang kusut” ini. Semoga Allah menjadikan amal-amal kita ikhlas untuk mengharapkan wajah-Nya semata. Wallahu waliyyut taufiiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Salim Al Hilaly -salah satu murid senior Ahli Hadits abad ini Syaikh Al Albani- hafizhahullah telah membeberkan perkara ini dengan gamblang dalam buku beliau Limadza Ikhtartul Manhaj Salafy yang sudah diterjemahkan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. hafizhahullah dengan judul Mengapa Memilih Manhaj Salaf penerbit Pustaka Imam Bukhari, Solo. Kami sangat menganjurkan kepada para pembaca sekalian untuk memiliki atau membaca langsung buku tersebut. Orang bilang, “Tak kenal maka tak sayang…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman yang Benar dan Niat Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal risalah ini kami ingin menukilkan sebuah perkataan berharga dari Imam Ibnul Qayyim demi mengingatkan kaum muslimin sekalian agar menjaga diri dari dua bahaya besar, yaitu kesalah pahaman dan niat yang buruk. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (adh dhaalliin) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim…” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu di sini kami katakan: Hendaknya kita semua berusaha seoptimal mungkin untuk memahami persoalan yang kita hadapi ini sebaik-baiknya dengan dilandasi niat yang baik yaitu untuk mencari kebenaran dan kemudian mengikutinya. Hal ini sangatlah penting. Karena tidak sedikit kita saksikan orang-orang yang memiliki niat yang baik namun karena kurang bisa mencermati hakikat suatu permasalahan akhirnya dia terjatuh dalam kekeliruan, sungguh betapa banyak orang semacam ini… Di sisi lain adapula orang-orang yang apabila kita lihat dari sisi taraf pendidikan atau gelar akademis yang sudah didapatkannya (meskipun itu bukan menjadi parameter pemahaman) adalah termasuk golongan orang yang ‘mengerti’, namun amat disayangkan ilmu yang diperolehnya tidak melahirkan ketundukan terhadap manhaj salaf yang haq ini. Sehingga kita temui adanya sebagian da’i yang lebih memilih manhaj/metode selain manhaj salaf, padahal ia termasuk lulusan Universitas Islam Madinah Saudi Arabia (Ini sekaligus mengingatkan bahwa tempat sekolah seseorang bukanlah ukuran kebenaran). Bahkan ada di antara mereka yang berhasil mendapatkan predikat cum laude di sana, namun tatkala pulang ke Indonesia, kembalilah dia ke pangkuan hizbiyyah (kepartaian) dan larut dalam kancah politik ala Yahudi, ikut berebut kursi dan memperbanyak jumlah acungan jari… Wallahul musta’aan. Semoga Allah mengembalikan mereka kepada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita ingat sebuah ayat yang sangat indah yang akan menunjukkan jalan untuk memecahkan segala macam masalah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Ulul amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu urusan maka kembalikanlah pemecahannya kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya.” (QS. An Nisaa’: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud ulul amri adalah mencakup umara’ (penguasa/pemerintah) dan juga ulama (ahli ilmu agama). Beliau juga menjelaskan bahwa makna taatilah Allah artinya ikutilah Kitab-Nya (Al Qur’an). Sedangkan makna taatilah Rasul adalah ambillah ajaran (Sunnah) beliau. Adapun makna ketaatan kepada ulul amri adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah bukan dalam hal maksiat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesungguhnya ketaatan itu hanya boleh dalam perkara ma’ruf (bukan kemungkaran).” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Kalimat tersebut maknanya adalah kembali merujuk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, demikianlah tafsiran Mujahid dan para ulama salaf yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia yang berkaitan dengan permasalahan pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya hendaknya perselisihan tentang hal itu harus dikembalikan kepada Al Kitab dan As Sunnah. Ini sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan apa saja yang kalian perselisihkan maka keputusannya kembali kepada Allah.” (QS. Asy Syuura: 10). Maka segala keputusan yang diambil oleh Al Kitab dan As Sunnah serta dipersaksikan keabsahannya oleh keduanya itulah al haq (kebenaran). Dan tidak ada sesudah kebenaran melainkan kesesatan…” (lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, II/250).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Salaf Secara Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaf secara bahasa artinya orang yang terdahulu, baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa kebaikan. Seorang pakar bahasa Arab Ibnu Manzhur mengatakan, “Kata salaf juga berarti orang yang mendahului kamu, yaitu nenek moyangmu, sanak kerabatmu yang berada di atasmu dari sisi umur dan keutamaan. Oleh karenanya maka generasi awal yang mengikuti para sahabat disebut dengan salafush shalih (pendahulu yang baik).” (Lisanul ‘Arab, 9/159, dinukil dari Limadza, hal. 30). Makna semacam ini serupa dengan kata salaf yang terdapat di dalam ayat Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya di laut dan Kami jadikan mereka sebagai salaf (pelajaran) dan contoh bagi orang-orang kemudian.” (QS. Az Zukhruf: 55-56). Artinya adalah: Kami menjadikan mereka sebagai pelajaran pendahulu bagi orang yang melakukan perbuatan sebagaimana perbuatan mereka supaya orang sesudah mereka mau mengambil pelajaran dan mengambil nasihat darinya. (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian kita bisa serupakan makna kata salaf ini dengan istilah nenek moyang dan leluhur dalam bahasa kita. Dalam kamus Islam kata ini bukan barang baru. Akan tetapi pada jaman Nabi kata ini sudah dikenal. Seperti terdapat dalam sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada puterinya Fathimah radhiyallahu ‘anha. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik salafmu adalah aku.” (HR. Muslim). Artinya sebaik-baik pendahulu. (lihat Limadza, hal. 30, baca juga Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah, hal. 7). Oleh sebab itu secara bahasa, semua orang terdahulu adalah salaf. Baik yang jahat seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal maupun yang baik seperti Nabi-Nabi, para syuhada dan orang-orang shalih dari kalangan sahabat, dll. Adapun yang akan kita bicarakan sekarang bukanlah makna bahasanya, akan tetapi makna istilah. Hal ini supaya jelas bagi kita semuanya dan tidak muncul komentar, “Lho kalau begitu JIL juga salafi dong..! Mereka kan juga punya pendahulu”. Maaf, Mas… bukan itu yang kami maksudkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian apabila muncul pertanyaan “Kenapa harus disebutkan pengertian secara bahasa apabila ternyata pengertian istilahnya menyelisihi pengertian bahasanya?”. Maka kami akan menjawabnya sebagaimana jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan, “Faidahnya adalah supaya kita mengetahui keterkaitan makna antara objek penamaan syari’at dan objek penamaan lughawi (menurut bahasa). Sehingga akan tampak jelas bagi kita bahwasanya istilah-istilah syari’at tidaklah melenceng secara total dari sumber pemaknaan bahasanya. Bahkan sebenarnya ada keterkaitan satu sama lain. Oleh sebab itulah anda jumpai para fuqaha’ (ahli fikih atau ahli agama) rahimahumullah setiap kali hendak mendefinisikan sesuatu maka mereka pun menjelaskan bahwa pengertiannya secara etimologi (bahasa) adalah demikian sedangkan secara terminologi (istilah) adalah demikian; hal ini diperlukan supaya tampak jelas bagimu adanya keterkaitan antara makna lughawi dengan makna ishthilahi.” (lihat Syarh Ushul min Ilmil Ushul, hal. 38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Salaf di Kalangan Para Ulama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila para ulama akidah membahas dan menyebut-nyebut kata salaf maka yang mereka maksud adalah salah satu di antara 3 kemungkinan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Shahabat dan murid-murid mereka (tabi’in).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Shahabat, tabi’in dan juga para Imam yang telah diakui kredibilitasnya di dalam Islam yaitu mereka yang senantiasa menghidupkan sunnah dan berjuang membasmi bid’ah (lihat Al Wajiz, hal. 21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah menerangkan, “Adapun secara terminologi kata salaf berarti sebuah karakter yang melekat secara mutlak pada diri para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Adapun para ulama sesudah mereka juga tercakup dalam istilah ini karena sikap dan cara beragama mereka yang meneladani para sahabat.” (Limadza, hal. 30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql mengatakan, “Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, -red). Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di sepanjang masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka.” (Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, hal. 5-6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qalsyani mengatakan di dalam kitabnya Tahrirul Maqalah min Syarhir Risalah, “Adapun Salafush shalih, mereka itu adalah generasi awal (Islam) yang mendalam ilmunya serta meniti jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan senantiasa menjaga Sunnah beliau. Allah ta’ala telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Para imam umat ini pun merasa ridha kepada mereka. Mereka telah berjihad di jalan Allah dengan penuh kesungguhan. Mereka kerahkan daya upaya mereka untuk menasihati umat dan memberikan kemanfaatan bagi mereka. Mereka juga mengorbankan diri demi menggapai keridhaan Allah…” ( lihat Limadza, hal. 31). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang adalah di jamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga Rasul beserta para sahabatnya adalah salaf umat ini. Demikian pula setiap orang yang menyerukan dakwah sebagaimana mereka juga disebut sebagai orang yang menempuh manhaj/metode salaf, atau biasa disebut dengan istilah salafi, artinya pengikut Salaf. Adapun pembatasan istilah salaf hanya meliputi masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in adalah pembatasan yang keliru. Karena pada masa itupun sudah muncul tokoh-tokoh pelopor bid’ah dan kesesatan. Akan tetapi kriteria yang benar adalah kesesuaian akidah, hukum dan perilaku mereka dengan Al Kitab dan As Sunnah serta pemahaman salafush shalih. Oleh karena itulah siapapun orangnya asalkan dia sesuai dengan ajaran Al Kitab dan As Sunnah maka berarti dia adalah pengikut salaf. Meskipun jarak dan masanya jauh dari periode Kenabian. Ini artinya orang-orang yang semasa dengan Nabi dan sahabat akan tetapi tidak beragama sebagaimana mereka maka bukanlah termasuk golongan mereka, meskipun orang-orang itu sesuku atau bahkan saudara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Al Wajiz, hal. 22, Limadza, hal. 33 dan Syarah Aqidah Ahlus Sunnah, hal. 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-Contoh Penggunaan Kata “Salaf”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata salaf sering digunakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya. Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, “Rasyid bin Sa’ad berkata: Para salaf menyukai kuda jantan. Karena ia lebih lincah dan lebih berani.” Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menafsirkan kata salaf tersebut, “Maksudnya adalah para sahabat dan orang sesudah mereka.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (oleh Rasyid) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum. Karena Rasyid bin Sa’ad adalah seorang tabi’in (murid sahabat), sehingga orang yang disebut salaf olehnya adalah para sahabat tanpa ada keraguan padanya.” Demikian pula perkataan Imam Bukhari, “Az Zuhri mengatakan mengenai tulang bangkai semacam gajah dan selainnya: Aku menemui sebagian para ulama salaf yang bersisir dengannya (tulang) dan menggunakannya sebagai tempat minyak rambut. Mereka memandangnya tidaklah mengapa.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (dengan salaf di sini) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum, karena Az Zuhri adalah seorang tabi’in.” (lihat Limadza, hal. 31-32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata salaf juga digunakan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Di dalam mukaddimahnya Imam Muslim mengeluarkan hadits dari jalan Muhammad bin ‘Abdullah. Ia (Muhammad) mengatakan: Aku mendengar ‘Ali bin Syaqiq mengatakan: Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak mengatakan di hadapan orang banyak, “Tinggalkanlah hadits (yang dibawakan) ‘Amr bin Tsabit. Karena dia mencaci kaum salaf.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum.” (Limadza, hal. 32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata salaf juga sering dipakai oleh para ulama akidah di dalam kitab-kitab mereka. Seperti contohnya sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Al Ajurri di dalam kitabnya yang berjudul Asy Syari’ah bahwa Imam Auza’i pernah berpesan, “Bersabarlah engkau di atas Sunnah. Bersikaplah sebagaimana kaum itu (salaf) bersikap. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Tahanlah dirimu sebagaimana sikap mereka menahan diri dari sesuatu. Dan titilah jalan salafmu yang shalih. Karena sesungguhnya sudah cukup bagimu apa yang membuat mereka cukup.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud adalah sahabat ridhwanullahi ‘alaihim.” (lihat Limadza, hal. 32) Hal ini karena Al Auza’i adalah seorang tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerancuan Seputar Istilah Salafiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan yang dimaksud dengan salafiyah adalah penyandaran diri kepada kaum salaf. Sehingga bukanlah makna salafiyah sebagaimana yang disangka sebagian orang sebagai aliran pesantren yang menggunakan metode pengajaran yang kuno. Yang dengan persangkaan itu mereka anggap bahwa salafiyah bukan sebuah manhaj (metode beragama) akan tetapi sebagai sebuah sistem belajar mengajar yang belum mengalami modernisasi. Dan yang terbayang di pikiran mereka ketika mendengarnya adalah sosok para santri yang berpeci hitam dan memakai sarung kesana kemari dengan menenteng kitab-kitab kuning. Sebagaimana itulah kenyataan yang ada pada sebagian kalangan yang menisbatkan pondoknya sebagai pondok salafiyah, namun realitanya mereka jauh dari tradisi ilmiah kaum salaf. Syaikh Salim mengatakan, “Adapun salafiyah adalah penisbatan diri kepada kaum salaf. Ini merupakan penisbatan terpuji yang disandarkan kepada manhaj yang lurus dan bukanlah menciptakan sebuah madzhab yang baru ada.” (lihat Limadza, hal. 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dan tidaklah tercela bagi orang yang menampakkan diri sebagai pengikut madzhab salaf, menyandarkan diri kepadanya dan merasa mulia dengannya. Bahkan wajib menerima pengakuannya itu dengan dasar kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.” (Majmu’ Fatawa, 4/149, lihat Limadza, hal. 33). Maka sungguh aneh apabila ada orang zaman sekarang ini yang menggambarkan kepada umat bahwasanya salafiyah adalah sebuah aliran baru yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah yang ‘memberontak’ dari tatanan yang sudah ada dengan berbagai aksi penghancuran dan pengkafiran yang membabi buta. Sehingga apabila mereka mendengar istilah salafiyah maka yang tergambar di benak mereka adalah kaum Wahabi yang suka mengacaukan ketentraman umat dengan berbagai aksi penyerangan dan tindakan-tindakan tidak sopan. Atau ada lagi yang menganggap bahwa salafiyah adalah gerakan reformasi dakwah yang dipelopori oleh Jamaluddin Al Afghani bersama Muhammad ‘Abduh pada era penjajahan Inggris di Mesir. Padahal ini semua menunjukkan bahwa mereka itu sebenarnya tidak paham tentang sejarah munculnya istilah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Salim mengatakan, “Orang yang mengeluarkan pernyataan semacam ini atau yang turut menyebarkannya adalah orang yang tidak mengerti sejarah kalimat ini menurut tinjauan makna, asal-usul dan perjalanan waktu yang hakikatnya tersambung dengan para salafush shalih. Oleh karena itu sudah menjadi kebiasaan para ulama pada masa terdahulu untuk mensifati setiap orang yang mengikuti pemahaman sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam hal akidah dan manhaj sebagai seorang salafi (pengikut Salaf). Lihatlah ucapan seorang ahli sejarah Islam Al Hafizh Al Imam Adz Dzahabi di dalam kitabnya Siyar A’laamin Nubalaa’ (16/457) ketika membawakan ucapan Al Hafizh Ad Daruquthni, “Tidak ada yang lebih kubenci selain menekuni ilmu kalam/filsafat.” Maka Adz Dzahabi pun mengatakan (dengan nada memuji, red), “Orang ini (Ad Daruquthni) belum pernah terjun dalam ilmu kalam sama sekali begitu pula tidak menceburkan dirinya dalam dunia perdebatan (yang tercela) dan beliau juga tidak ikut meramaikan perbincangan di dalam hal itu. Akan tetapi beliau adalah seorang salafi.” (Limadza, hal. 34-35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita ketahui bersama bahwa Imam Ad Daruquthni yang disebut sebagai ’salafi’ oleh Imam Adz Dzahabi di atas hidup pada tahun 306-385 H. Sedangkan Ibnu Taimiyah hidup pada tahun 661-728 H. Adapun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidup pada tahun 1115-1206 H. Nah, pembaca bisa menyaksikan sendiri siapakah yang lahir terlebih dahulu. Apakah Ibnu Taimiyah atau bahkan Muhammad bin Abdul Wahhab itu lahir sebelum Ad Daruquthni sehingga beliau layak untuk disebut sebagai pengikut mereka berdua. Apakah dengan penukilan semacam ini kita akan menafsirkan bahwa Imam Ad Daruquthni adalah pengikut Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahhab?? Jawablah wahai kaum yang berakal… Anak kelas 5 SD pun (bukan bermaksud meremehkan, red) tahu kalau yang namanya pengikut itu adanya sesudah keberadaan yang diikuti, bukan sebaliknya. Wallaahul musta’aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penamaan Salafiyah Bukan Bid’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafiyah adalah istilah bid’ah karena ia tidak digunakan pada masa sahabat radhiyallahu’anhum. Maka jawabannya ialah: Kata salafiyah memang belum digunakan oleh Rasul dan para sahabat karena pada saat itu hal ini belum dibutuhkan. Pada saat itu kaum muslimin generasi awal masih hidup di dalam pemahaman Islam yang shahih sehingga tidak dibutuhkan penamaan khusus seperti ini. Mereka bisa memahami Islam dengan murni tanpa perlu khawatir akan adanya penyimpangan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di antara mereka. Hal ini sebagaimana mereka mampu berbicara dengan bahasa Arab yang fasih tanpa perlu mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Apakah ada di antara para ulama yang membid’ahkan ilmu-ilmu tersebut karena semata-mata tidak ada di zaman Nabi ?! Oleh karena itulah tatkala muncul berbagai kekeliruan dan penyimpangan dalam penggunaan bahasa Arab maka muncullah ilmu-ilmu bahasa Arab tersebut demi meluruskan kembali pemahaman dan menjaga keutuhan bahasa Arab. Maka demikian pula dengan istilah salafiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat sekarang ini ketika sekian banyak penyimpangan pemahaman bertebaran di udara kaum muslimin maka sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang jelas demi mengembalikan pemahaman Islam kepada pemahaman yang masih murni dan lurus. Apalagi mayoritas kelompok yang menyerukan pemahaman yang menyimpang itu juga mengaku sebagai pengikut Al Qur’an dan As Sunnah. Berdasarkan realita inilah para ulama bangkit untuk berupaya memisahkan pemahaman yang masih murni ini dengan pemahaman-pemahaman lainnya dengan nama pemahaman ahli hadits dan salaf atau salafiyah (lihat Limadza, hal. 36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun masih ada orang yang tetap ngotot mengingkari istilah ini maka kami akan katakan kepadanya: Kalau dia konsekuen dengan pengingkaran ini maka dia pun harus menolak penamaan lainnya yang tidak ada di zaman Nabi seperti istilah Hanbali (pengikut fikih Ahmad bin Hanbal), Hanafi (pengikut fikih Abu Hanifah), Nahdhiyyiin (pengikut Nahdhatul Ulama), dll. Kalau dia mengatakan, “Oo, kalau ini berbeda…!” Maka kami katakan: Baiklah, anggap istilah salafiyah berbeda dengan istilah-istilah itu, namun kami tetap mengatakan bahwa penamaan salafiyah lebih layak untuk dipakai daripada istilah Hanbali, Hanafi atau Nahdhiyyiin. Alasannya adalah karena salafiyah adalah penisbatan kepada generasi Shahabat yang sudah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya dan terjaga secara umum dari bersepakat dalam kesalahan. Adapun Hanbali, Hanafi dan Nahdhiyyiin adalah penisbatan kepada individu dan kelompok yang tidak terdapat dalil tegas tentang keutamaannya serta tidak terjamin dari kesalahan mereka secara kelompok. Maka bagaimana mungkin kita bisa menerima penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang tidak ma’shum (terpelihara dari kesalahan) dan justru menolak penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang ma’shum…?? Laa haula wa laa quwwata illa billaah… (lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 66-67 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah, silakan baca juga fatwa para ulama tentang wajibnya berpegang teguh dengan manhaj Salaf di dalam Rubrik Fatwa, Majalah Al Furqan Edisi 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427 H/April 2006 M hal. 51-53. Bacalah…!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Salaf Berarti Meninggalkan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya: Kenapa harus menamakan diri dengan salafiyah? Apakah ia sebuah dakwah yang menyeru kepada partai, kelompok atau madzhab tertentu. Ataukah ia merupakan sebuah firqah (kelompok) baru di dalam Islam? Maka beliau rahimahullah menjawab, “Sesungguhnya kata Salaf sudah sangat dikenal dalam bahasa Arab. Adapun yang penting kita pahami pada kesempatan ini adalah pengertiannya menurut pandangan syari’at. Dalam hal ini terdapat sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau berkata kepada Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha di saat beliau menderita sakit menjelang kematiannya, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Dan sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu)mu adalah aku.” Begitu pula para ulama banyak sekali memakai kata salaf. Dan ungkapan mereka dalam hal ini terlalu banyak untuk dihitung dan disebutkan. Cukuplah kiranya kami bawakan sebuah contoh saja. Ini adalah sebuah ungkapan yang digunakan para ulama dalam rangka memerangi berbagai macam bid’ah. Mereka mengatakan, “Semua kebaikan ada dalam sikap mengikuti kaum salaf… dan semua keburukan bersumber dalam bid’ah yang diciptakan kaum khalaf (belakangan).” …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh melanjutkan penjelasannya, “Akan tetapi ternyata di sana ada orang yang mengaku dirinya termasuk ahli ilmu; ia mengingkari penisbatan ini dengan sangkaan bahwa istilah ini tidak ada dasarnya di dalam agama, sehingga ia mengatakan, “Tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengatakan saya adalah seorang salafi.” Seolah-olah dia ini mengatakan, “Seorang muslim tidak boleh mengatakan: Saya adalah pengikut salafush shalih dalam hal akidah, ibadah dan perilaku.” Dan tidak diragukan lagi bahwasanya penolakan seperti ini -meskipun dia tidak bermaksud demikian- memberikan konsekuensi untuk berlepas diri dari Islam yang shahih yang diamalkan oleh para salafush shalih yang mendahului kita yang ditokohi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disinggung di dalam hadits mutawatir di dalam shahihain dan selainnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah di zamanku (sahabat), kemudian diikuti orang sesudah mereka, dan kemudian sesudah mereka.” Oleh sebab itu maka tidaklah diperbolehkan bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari menisbatkan dirinya kepada salafush shalih. Berbeda halnya dengan penisbatan (salafiyah) ini, seandainya dia berlepas diri dari penisbatan (kepada kaum atau kelompok) yang lainnya niscaya tidak ada seorang pun di antara para ulama yang akan menyandarkannya kepada kekafiran atau kefasikan…” (Al Manhaj As Salafi ‘inda Syaikh Al Albani, hal. 13-19, lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 65-66 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta Salaf Berarti Cinta Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya salaf atau para sahabat adalah generasi pilihan yang harus kita cintai. Sebagaimana kita mencintai Nabi maka kita pun harus mencintai orang-orang pertama yang telah mengorbankan jiwa, harta dan pikiran mereka untuk membela dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itulah para sahabat yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Inilah akidah kita, tidak sebagaimana akidah kaum Rafidhah/Syi’ah yang membangun agamanya di atas kebencian kepada para sahabat Nabi. Imam Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan di dalam kitab ‘Aqidahnya yang menjadi rujukan umat Islam di sepanjang zaman, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah satu di antara mereka. Dan kami juga tidak berlepas diri dari seorangpun di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan kami juga membenci orang yang menceritakan mereka dengan cara tidak baik. Kami tidak menceritakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul ‘Aqidah, hal. 488). Pernyataan beliau ini adalah kebenaran yang dibangun di atas dalil-dalil syari’at, bukan sekedar omong kosong dan bualan belaka sebagaimana akidahnya kaum Liberal. Marilah kita buktikan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini dalil-dalil hadits yang menunjukkan bahwa mencintai kaum Anshar adalah tanda keimanan seseorang. Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam kitabul Iman di kitab Shahihnya dengan judul ‘Bab tanda keimanan ialah mencintai kaum Anshar’. Kemudian beliau membawakan sebuah hadits dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (Bukhari no. 17). Imam Muslim juga mengeluarkan hadits ini di dalam Kitabul Iman dengan lafazh, “Tanda orang munafik adalah membenci Anshar. Dan tanda orang beriman adalah mencintai Anshar.” (Muslim no. 74) di dalam bab Fadha’il Anshar (Keutamaan kaum Anshar). Imam bukhari juga membawakan hadits Barra’ bin ‘Azib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum Anshar, tidak ada orang yang mencintai mereka kecuali orang beriman.” Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir lantas membenci kaum Anshar.” (Muslim no. 77). Dalam riwayat lain dikatakan, “Tidaklah mencintai mereka kecuali orang beriman dan tidaklah membenci mereka kecuali orang munafik. Barangsiapa yang mencintai mereka maka Allah mencintainya. Dan barangsiapa yang membenci mereka maka Allah juga membencinya.” (Muslim no. 75). Begitu pula Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Abu Sa’id di dalam Musnadnya, bahwa Nabi bersabda, “Mencintai kaum Anshar adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan.” (lihat Fathul Bari, 1/80, Syarah Muslim, 2/138-139).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan sebagian hadits di atas mengatakan, “…Makna hadits-hadits ini adalah barangsiapa yang mengakui kedudukan kaum Anshar, keunggulan mereka dalam hal pembelaan terhadap agama Islam, upaya mereka dalam menampakkannya, dan melindungi umat Islam (dari serangan musuhnya), dan juga kesungguhan mereka dalam menunaikan tugas penting dalam agama Islam yang dibebankan kepada mereka, kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kecintaan Nabi kepada mereka, kesungguhan mereka dalam mengerahkan harta dan jiwa di hadapan beliau, peperangan dan permusuhan mereka terhadap semua umat manusia (yang menentang dakwah Nabi, red) demi menjunjung tinggi Islam….maka ini semua menjadi salah satu tanda kebenaran iman dan ketulusannya dalam memeluk Islam…” (Syarah Muslim, 2/139).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu dalil-dalil dari Al Qur’an juga lebih jelas lagi menunjukkan kepada kita bahwa mencintai para sahabat adalah bagian keimanan yang tidak bisa dipisahkan. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Para sahabat adalah generasi terbaik, ini berdasarkan sabda Nabi ‘alaihis shalatu was salam, “Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku. Kemudian orang-orang yang mengikuti sesudah mereka. Dan kemudian generasi berikutnya yang sesudah mereka.” Maka mereka itu adalah kurun terbaik karena keutamaan mereka dalam bersahabat dengan Nabi ‘alaihish shalatu was salam. Sehingga mencintai mereka adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “…Supaya Allah membuat orang-orang kafir benci dengan adanya mereka (para sahabat).” (QS. Al Fath: 29). Maka kewajiban seluruh umat Islam adalah mencintai keseluruhan para sahabat dengan dalil tegas dari ayat ini. Karena Allah ‘azza wa jalla sudah mencintai mereka dan juga kecintaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka. Dan juga karena mereka telah berjihad di jalan Allah, menyebarkan agama Islam ke berbagai belahan timur dan barat bumi, mereka muliakan Rasul dan beriman kepada beliau. Mereka juga telah mengikuti cahaya petunjuk yang diturunkan bersamanya. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.” (Syarah ‘Aqidah Thahawiyah, hal. 489-490).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kita perhatikan riwayat yang dibawakan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di atas yaitu hadits yang bunyinya, “Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku dst” dengan lafazh khairul quruun…. Syaikh Salim Al Hilaly mengatakan, “Hadits ini tersebar di dalam banyak kitab dengan lafazh khairul quruun (sebaik-baik masa). Saya (Syaikh Salim) katakan: Lafazh ini tidak terpelihara keotentikannya. Adapun yang benar adalah yang sudah kami sebutkan (yaitu Khairunnaas; sebaik-baik manusia, red).” (lihat Limadza Ikhtartul Manhaj Salafi, hal. 87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benci Salaf Berarti Benci Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath: 29). Di dalam ayat ini disebutkan bahwa salah satu ciri para sahabat yaitu membuat jengkel dan marah orang-orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir mengatakan di dalam tafsirnya terhadap ayat yang mulia ini, “Dan berdasarkan ayat inilah Imam Malik rahimahullah menarik sebuah kesimpulan hukum sebagaimana tertera dalam salah satu riwayat darinya untuk mengkafirkan kaum Rafidhah (bagian dari Syi’ah) yang membenci para sahabat radhiyallahu’anhum. Beliau (Imam Malik) mengatakan, “Hal itu karena mereka (para sahabat) membuat benci dan jengkel mereka (kaum Rafidhah). Barangsiapa yang membenci para sahabat radhiyallahu’anhum maka dia telah kafir berdasarkan ayat ini.” Dan sekelompok ulama radhiyallahu’anhum pun ikut menyetujui sikap beliau ini…” (lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7/280).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkataan Imam Malik dan penjelasan Imam Ibnu Katsir ini teranglah bagi kita bahwasanya konflik yang terjadi antara kaum Syi’ah (yang dulu maupun para pengikut Khomeini yang ada sekarang ini) dengan Ahlus Sunnah/Sunni bukanlah konflik politik atau perebutan kekuasaan yang diselimuti dengan jubah agama sebagaimana yang dikatakan oleh Gus Dur -semoga Allah memberinya petunjuk-, Kyai ini mengatakan di dalam sebuah wawancaranya dengan JIL (yang sama-sama suka menebarkan syubhat kepada umat Islam), “Konflik itu (maksudnya antara Syi’ah dan Sunni, red) muncul akibat doktrin agama yang dimanipulasi secara politis. Sejarah mengabarkan pada kita, dulu muncul peristiwa penganiyaan terhadap menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya. Keluarga inilah yang disebut Ahlul Bayt, dan mereka memiliki pendukung fanatik. Pendukung atau pengikut di dalam bahasa Arab disebut syî’ah. Selanjutnya kata syî’ah ini menjadi sebutan dan identitas bagi pengikut Ali yang pada akhirnya menjadi salah satu firkah teologis dalam Islam. Sedangkan pihak yang menindas Ali dan pengikutnya dikenal dengan sebutan Sunni. Persoalan sesungguhnya waktu itu adalah tentang perebutan kekuasaan atau persoalan politik. Namun doktrin agama dibawa-bawa.” (wawancara JIL dengan Gus Dur tentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi) Ini adalah kedustaan… !!! (silakan baca tulisan Ustadz Abdul Hakim Abdat dalam Al Masaa’il jilid 3 Masalah 66, hal 42-72 yang membongkar kedok kaum Syi’ah dengan menyertakan fatwa-fatwa para ulama tentang Rafidhah/Syi’ah. Baca juga Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V/Muharram 1427 dengan tema Agama Syi’ah Semoga Allah memberikan ganjaran yang besar kepada ustadz-ustadz kita karena jasa mereka ini. Bacalah!!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir juga mengatakan, “…Para sahabat itu memiliki keutamaan lebih, begitu pula lebih dahulu (berjasa bagi umat Islam) dan lebih sempurna, yang tidak ada seorangpun di antara umat ini yang mampu menyamai kehebatan mereka, semoga Allah meridhai mereka dan aku pun ridha kepada mereka. Allah telah menyiapkan surga-surga Firdaus sebagai tempat tinggal mereka, dan Allah telah menetapkan hal itu. (Imam) Muslim mengatakan di dalam shahihnya: Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya ada salah seorang di antara kalian yang berinfak emas sebesar Gunung Uhud niscaya itu tidak bisa mencapai (pahala) satu mud sedekah mereka, bahkan setengahnya juga tidak.” (HR. Muslim dalam Fadha’il Shahabah, diriwayatkan juga Al Bukhari dalam kitab Al Manaaqib no. 3673).” (lihat Tafsir Ibnu Katsir 7/280).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Meridhai Salaf dan Para Pengikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat yang lain Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100). Di dalam ayat ini Allah memuji tiga golongan manusia yaitu: kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka kita katakan bahwa Muhajirin dan Anshar itulah generasi salafsuh shalih. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik itulah yang disebut sebagai salafi. Al Ustadz Abdul Hakim Abdat hafizhahullah mengatakan, “Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat yang menjelaskan kepada kita pujian dan keridhaan Allah kepada para Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Bahwa Allah ‘azza wa jalla telah ridha kepada para Shahabat dan mereka pun ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Dan Allah ‘azza wa jalla juga meridhai orang-orang yang mengikuti perjalanan para Shahabat dari tabi’in, tabi’ut tabi’in dan setrusnya dari orang alim sampai orang awam di timur dan di barat bumi sampai hari ini. Mafhum-nya, mereka yang tidak mengikuti perjalanan para Shahabat, apalagi sampai mengkafirkannya, maka mereka tidak akan mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.” (Al Masaa’il jilid 3, hal. 74).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah ta’ala mengabarkan bahwa keridhaan-Nya tertuju kepada orang-orang yang terlebih dahulu (masuk Islam) yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Sedangkan bukti keridhaan-Nya kepada mereka adalah dengan mempersiapkan surga-surga yang penuh dengan kenikmatan serta kelezatan yang abadi bagi mereka…” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/140). Imam Al Alusi menerangkan bahwa yang dimaksud dengan As Saabiquun adalah seluruh kaum Muhajirin dan Anshar (Ruuhul Ma’aani, Maktabah Syamilah). Imam Syaukani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan, “Orang-orang yang mengikuti” di dalam ayat ini adalah orang-orang sesudah mereka (para sahabat) hingga hari kiamat. Adapun kata-kata, “dengan baik” merupakan ciri pembatas yang menunjukkan jati diri mereka. Artinya mereka adalah orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan senantiasa berpegang teguh dengan kebaikan dalam hal perbuatan maupun perkataan sebagai bentuk peniruan mereka terhadap As Sabiquunal Awwaluun, tafsiran serupa juga disampaikan oleh Syaikh As Sa’di di dalam tafsirnya (Lihat Fathul Qadir dan Taisir Karimir Rahman, Maktabah Syamilah). Imam Ibnu Jarir Ath Thabari mengatakan di dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan “Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik” di dalam ayat ini adalah: Orang-orang yang meniti jalan mereka dalam beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berhijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam dalam rangka mencari keridhaan Allah..” (Tafsir Ath Thabari, Maktabah Syamilah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy Syinqithi rahimahullah mengatakan, “(Ayat) Ini merupakan dalil tegas dari Al Qur’an yang menunjukkan bahwasanya barangsiapa mencaci mereka (para sahabat) dan membenci mereka maka dia adalah orang yang sesat dan menentang Allah jalla wa ‘ala, dimana dia telah berani membenci suatu kaum yang telah diridhai Allah. Dan tidak diragukan lagi bahwa kebencian kepada orang yang sudah diridhai Allah merupakan sikap penentangan kepada Allah jalla wa ‘ala, tindakan congkak dan melampaui batas.” (lihat Adhwaa’ul Bayaan, Maktabah Syamilah). Masih dalam konteks penafsiran ayat ini Imam Ibnu Katsir rahimahullah memberikan sebuah komentar pedas yang akan membakar telinga ahlul bid’ah pencela shahabat. Beliau mengatakan, “Duhai alangkah celaka orang yang membenci atau mencela mereka (semua sahabat), sungguh celaka orang yang membenci atau mencela sebagian mereka…” Setelah memberitakan sikap orang-orang Rafidhah yang memusuhi, membenci dan mencela orang-orang terbaik sesudah Nabi (diantaranya Abu Bakar dan ‘Umar) Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Sikap ini (yaitu permusuhan, kebencian dan celaan kaum Rafidhah atau Syi’ah) menunjukkan bahwa akal mereka sudah terbalik dan hati mereka juga sudah terbalik. Lalu dimanakah letak keimanan mereka terhadap Al Qur’an sehingga berani-beraninya mereka mencela orang-orang yang telah diridhai oleh Allah?…” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/140) Maka hanguslah telinga-telinga ahlul bid’ah;… mereka yang membenci dan mencaci maki para shahabat; generasi terbaik yang pernah hidup di permukaan bumi ini, radhiyallahu ‘anhum wa ardhaahum (Allah ridha kepada mereka dan saya pun ridha kepada mereka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman Salaf Adalah Jalan Keluar Perselisihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Naajih ‘Irbadh bin Saariyah radhiyallahu’anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah nasihat kepada kami dengan nasihat yang membuat hati bergetar dan air mata bercucuran. Maka kamipun mengatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah. Seolah-olah ini merupakan nasihat dari orang yang hendak berpisah. Maka sudilah kiranya anda memberikan wasiat kepada kami”. Beliau pun bersabda: “Aku wasiatkan kepad
